
Aku mendengar suara langkah kecil yang mendekat dari balik selimut. Itu pasti Anya. Beberapa saat lalu dia mencoba membangunkanku, tapi aku menolak untuk bangun.
Setelah kejadian kemarin malam, aku masih tidak ingin bertemu dengan Beny. Perasaanku kini campur aduk terhadapnya. Aku tak tahu harus memasang wajah seperti apa saat menghadapinya nanti.
“Mama, ini Anya bawakan sarapan untuk Mama. Kalau sudah bangun, Mama makan, ya?” ujar Anya padaku dengan berbisik, karena Eric masih tertidur di sampingku.
Aku hanya diam tak merespons. Anya kemudian kembali keluar kamar. Setelah pintu tertutup, aku bangun dan melihat di meja samping ranjang ada nampan yang berisi tiga buah penkuk dan segelas susu.
Pasti Beny yang membuatnya. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena memasak sarapan biasanya menjadi tugasku. Tapi aku justru bersikap kekanakan seperti ini. Bahkan Anya sampai repot-repot membawakan sarapan untukku.
Sebenarnya aku sedang tidak mood makan. Tapi Anya akan sedih jika aku tidak memakannya. Jadi aku memaksakan diri untuk makan beberapa suap.
Jika tidak ingat Anya dan Eric mungkin aku tak akan bangun seharian dan memilih berdiam diri di kamar. Aku sangat lelah. Secara fisik maupun batin. Belum selesai masalah Alan, kini pernyataan Beny menambah beban pikiranku.
Untuk masalah Alan bisa dikesampingkan karena masih belum pasti. Tapi untuk Beny, aku tidak bisa lari lagi. Kami tinggal di rumah yang sama. Mau tidak mau kami pasti akan bertemu secara langsung selama 24/7.
Aku masih belum percaya dengan kejadian kemarin malam. Tak kusangka Beny akan menyatakan perasaannya padaku. Dan dia mencintaiku sejak pertama kami bertemu yang artinya saat itu Beny masih berstatus suami Clara. Aku bisa bayangkan betapa sakit yang Clara rasakan jika dia tahu kenyataan ini. Aku pun merasakannya dulu.
Terlebih akulah yang menyebabkan luka itu tanpa kusadari. Aku tak pernah bermaksud untuk menggoda atau dengan sengaja membuat Beny jatuh cinta padaku. Dia hanya seorang suami dari temanku. Itu saja, tidak lebih. Bahkan saat dia resmi menjadi suamiku, aku masih menganggapnya sebagai suami Clara.
Tapi seiring berjalannya waktu, aku semakin terbiasa dengan kehadirannya di sampingku. Sedikit demi sedikit aku mulai meruntuhkan tembok di antara kami. Berada di dekatnya membuatku merasa nyaman. Begitu pun dengan Anya.
Dia memperlakukan kami dengan baik, sangat baik. Beny begitu perhatian pada Anya yang bukan darah dagingnya sendiri. Perhatian-perhatian yang tidak pernah Anya dapatkan dari Alan. Mereka semakin tampak dekat akhir-akhir ini. Seperti tadi Anya membantu Beny menyiapkan sarapan untukku.
Semenjak kami hidup berdua, aku tak begitu memikirkan diriku. Anya lah yang jadi nomor satu, dalam hal apa pun itu. Anya sudah cukup menderita akibat keegoisanku mempertahan Alan. Aku tak mau dia menderita lebih dari itu. Maka dari itu, jika aku menolak Beny dan pergi, mungkin Anya akan terluka lagi.
Selain itu ada Eric yang masih membutuhkanku. Entah sejak kapan dia jadi tidak bisa terpisahkan dariku. Aku juga menyayanginya seperti anakku sendiri. Tak terbayang olehku jika aku tidak bisa bertemu Eric lagi.
“Ungghh...” Merasa diperhatikan, Eric mulai membuka matanya.
“Oh, Eric sudah bangun,” kuangkat tubuh kecilnya ke atas pangkuanku. Tangannya menggosok-gosok matanya dan kepalanya masih lemas menempel pada dadaku. Lucu sekali.
Tapi dengan menerima perasaan Beny adalah pilihan yang benar? Yang ada justru membuatku semakin merasa bersalah pada Clara. Seakan kami berdua berbahagia atas kematiannya. Aku tak mau seperti itu.
“Mama! Anya mau mandi!”
Lamunanku buyar ketika Anya tiba-tiba masuk ke kamar. Terlalu banyak yang kupikirkan, aku sampai lupa untuk memandikan anak-anak seperti biasanya.
“Ah,iya. Mama siapkan dulu, ya. Kita mandi sama-sama.”
Anya masuk ke dalam kamar mandi sambil bersenandung. Sepertinya dia sedang berbahagia. Walau pun setiap hari dia ceria, tapi ada yang berbeda dengan hari ini.
Saat di kamar mandi pun, Anya tak henti-hentinya bernyanyi sembari memainkan gelembung dari sabun mandinya. Aku pun penasaran kemudian bertanya padanya, “Sepertinya Anya senang sekali. Ada apa?”
“Hmm... Kata Papa, kalau mama sudah nggak capek lagi, kita pergi beli tas untuk sekolahnya Anya!”
Begitu rupanya... Tunggu! Apa dia bilang?
“’Papa’?!” Tanpa sadar aku menaikkan nada bicaraku.
Anya yang mendengarku bersuara keras menjadi sedikit takut, “Ka-Kata Papa, Anya boleh panggil 'Papa' karena Anya juga sekarang jadi anaknya Papa, sama seperti Eric,”
“Anya... Mama 'kan sudah bilang...”
“Tapi, Ma. Anya juga ingin punya papa seperti yang lain. Hiks...”
Bagus. Sekarang malah membuat anakku menangis. Aku pun menyesali kata-kataku barusan padanya. Kuraih tubuhnya dari dalam bak mandi. Tanpa memedulikan pakaianku yang menjadi basah, aku memeluk Anya.
Aku yang terlalu mengkhawatirkan perasaanku sendiri, tanpa sadar telah mengabaikan Anya. Dia juga telah banyak berkorban untukku. Selama ini Anya tak pernah sekali pun bertanya mengenai ayahnya. Aku juga tak pernah bercerita tantang Alan. Tapi aku yakin Anya pasti merindukan sosok seorang ayah. Lalu Beny hadir dalam hidup kami. Dialah orang pertama yang dianggap ayah oleh Anya.
“Maafkan Mama ya, sayang? Mama tidak bermaksud marah sama Anya,” Anya masih sesenggukan di dadaku, “Tapi apa Om Beny yakin bolehin Anya panggil Papa?”
Anya menyeka air matanya dan mendongak padaku, “Iya, Ma. Papa bilang sendiri. Boleh ya, Ma?”
Aku tak mengerti dengan tindakan Beny ini. Apa ini ada hubungannya dengan yang kemarin? Apa ini salah satu upayanya agar aku mau menerima perasaannya? Dia memanfaatkan Anya?
Tapi sesaat kemudian aku menyesal telah berpikiran seperti itu. Walau bagaimana pun, Beny sudah banyak membantu kami. Bahkan sepertinya dia juga sangat sayang pada Anya. Tak pantas bagiku untuk berpikiran buruk tentangnya.
“Senang sekali, Ma! Sekarang ada Mama dan Papa yang Anya sayangi! Ada adik Eric juga. Hehehe...”
Benar. Sebaiknya kukesampingkan perasaan pribadiku terlebih dulu. Anak-anak harus jadi yang utama.
...
Setelah selesai berganti baju, kami bermain di ruang keluarga seperti biasa. Anya bermain dengan bonekanya sedangkan aku mengawasi Eric yang sedang belajar berdiri sendiri dengan berpegangan pada sofa.
Sejak keluar dari kamar, aku belum melihat Beny. Mungkin dia juga menghindariku. Entah lah, yang penting sekarang aku bisa bersantai sejenak dengan anak-anak.
Perhatianku kini kembali pada Eric yang sesekali melangkahkan kakinya walau pun masih tetap berpegangan pada sofa. Dia melangkah ke arahku. Aku pun tersenyum dan menyemangatinya.
“Ayo, Eric. Sedikit lagi!”
“Uwaaaa...” Dia semakin mempercepat langkahnya. Aku pun dengan sigap menangkapnya.
“Eric pintar sekali,” lalu aku menciumi pipi gembulnya. Eric tertawa senang sambil bertepuk tangan.
“Maamaa... Mamama...”
Aku tertegun mendengarnya. Ini adalah kata pertama yang diucapkan Eric. Bahkan Anya yang tadinya sedang asyik bermain sendiri menoleh ke arah kami.
“Ma, tadi adik Eric panggil Mama,” ujar Anya melihatku masih terdiam.
“I-Ini bukan mama, nak. Itu mama Eric di sana,” aku menunjuk pada foto Clara yang menempel pada dinding di hadapan kami.
“Mama... Mamma...” tapi Eric justru menepuk-nepuk dadaku sambil terus memanggilku Mama. Seakan dia memberitahu bahwa mama yang dia maksud adalah aku.
“Bagi Eric, kamu lah mamanya,” suara Beny tiba-tiba menginterupsi. Rupanya dia sudah berdiri di dekat tangga, “Kamu yang selama ini merawatnya dan selalu ada di sampingnya, tak heran jika kata pertamanya adalah Mama dan itu kamu.”
“Ta-Tapi Clara...”
“Eric akan mengerti suatu saat nanti. Sekarang yang dia tahu kamu ibunya.”
Rasa haru seketika memenuhi dadaku. Tanpa sadar aku meneteskan air mata saat melihat Eric.
“Maamma...”
“Iya, sayang. Ini Mama,” aku pun memeluknya dan menciumi kepalanya. Eric balas memeluk leherku dengan erat.
...
“Oh ya, Mas Beny. Terima kasih sudah mengizinkan Anya untuk memanggil Papa. Dia sangat senang.”
Selesai makan siang, kami berempat bermain di taman belakang. Tapi sekarang Anya dan Eric sudah tertidur di pangkuan kami karena kelelahan. Kami duduk di teras sambil menikmati semilir angin.
“Tak masalah. Memang harusnya begitu 'kan?”
Kami kembali terdiam beberapa saat. Kecanggungan jelas tergambar di antara kami. Mau tak mau pikiranku melayang pada kejadian kemarin. Seketika wajahku terasa panas ketika mengingatnya.
“Mungkin aku belum bisa menerima perasaan Mas Beny sekarang. Masih banyak jawaban yang harus kucari, dan aku juga belum siap untuk membina hubungan romantis seperti itu. Terlebih kita juga belum begitu mengenal satu sama lain. Kuharap Mas Beny memakluminya,” setelah merenung semalaman, aku memberikan jawabanku untuk saat ini pada Beny.
“Tapi aku akan berusaha menjadi mama yang baik bagi anak-anak. Jadi, mohon kerja samanya, Papa.” Kataku sedikit menggodanya. Beny tersipu saat aku memanggilnya Papa.
“Ya, tentu saja.”
.
.
.
Bab 13 – ((END))