
"Irene, tadi ada pria yang mengaku sebagai mantan suamimu mencari kamu dan Anya ke sini."
"Apa?!"
Spontan aku berteriak karena terkejut. Untungnya Eric dan Anya tidak sampai terbangun karena suaraku. Bajingan itu! Untuk apa dia mencari kami?
“Lalu Nyonya bilang apa?”
“Aku tidak memberitahunya kalau kamu sudah menikah lagi dan tinggal dengan suamimu. Aku hanya bilang kamu dan Anya sudah pindah dari sini dan aku tidak tahu kalian di mana sekarang,” jawaban Ny. Ely membuatku sedikit lega karena dia tak memberitahu keberadaan kami pada lelaki itu.
“Ny. Ely, terima kasih telah mengabari saya dan tidak memberitahu keberadaan kami pada lelaki itu.”
“Sama-sama, Irene. Semoga kamu dan Anya di sana baik-baik saja,” Ny. Ely kemudian menutup sambungan teleponnya.
Aku pun kembali membaringkan tubuhku. Rasa kantukku seketika menghilang. Pikiranku kini dipenuhi dengan kekhawatiran dan kecemasan. Setelah mengabaikan kami bertahun-tahun, untuk apa dia mencari kami lagi?!
Kualihkan pandanganku pada Anya yang sedang terlelap. Aku tak ingin Anya bertemu dengannya. Aku tak peduli jika orang lain berkata aku jahat karena telah dengan sengaja tidak mempertemukan putriku dan mantan suamiku yang notabene adalah ayah kandungnya. Anya lebih baik tidak pernah bertemu dengan lelaki itu.
Lagi pula, sejak awal Alan tak pernah iku andil dalam hidup Anya. Maka dari itu aku sepenuhnya menghilangkan sosok ayah dari ingatan Anya. Aku tak pernah bercerita tentang ayahnya, orang seperti apa dia. Bahkan aku tak pernah menunjukkan fotonya.
Secara fisik, Anya memiliki banyak kemiripan dengan ayahnya. Mata, bentuk hidung dan bibirnya hingga rambut bergelombangnya. Terkadang aku merasa Tuhan tidak adil. Padahal aku yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan berjuang hidup dan mati untuk melahirkannya, tapi Anya justru lebih mirip orang yang jelas-jelas mengabaikannya.
Mantan suamiku, Alan namanya. Dia bahkan tak pernah menganggap Anya ada. Kebahagiaan saat Anya hadir di dunia ini hanya aku yang merasakan. Lalu untuk apa dia mencari aku dan Anya sekarang? Apa dia sudah berubah sekarang dan menyadari kesalahannya? Itu tidak mungkin. Alan bukan tipe orang yang akan merenung dan menyadari kesalahannya. Kalau pun benar, itu sudah sangat terlambat.
Di mana dia saat Anya menangis membutuhkan ayahnya? Atau saat aku kesakitan dan membutuhkan suamiku? Dia tak pernah ada saat kami benar-benar membutuhkannya. Dan sekarang saat kami sudah tak butuh dengannya, dia baru mencari kami.
Aku takut jika Alan masih bersikeras mencari keberadaan kami. Cepat atau lambat dia pasti akan menemukan di mana aku dan Anya berada. Seandainya kami benar-benar bertemu, apa yang akan dia lakukan?
Lamunanku buyar ketika telingaku menangkap suara deru mesin mobil. Kulihat jam menunjukkan pukul sebelas malam, artinya sudah tiga jam sejak Beny pergi. Aku melangkah keluar dari kamar untuk memastikan bahwa itu memang Beny.
Aku berdiri di ruang keluarga ketika pintu rumah terbuka dan menampakkan sosok Beny. Tanpa sadar aku bernapas lega dan kembali merasa aman.
“Irene, belum tidur? Apa Eric rewel lagi?” tanyanya sambil mengunci pintu kembali.
“Oh, tidak. Eric sudah tidur pulas. Aku hanya belum bisa tidur, kok,” sebenarnya kau ingin mengatakan alasanku tidak bisa tidur pada Beny. Tapi kurasa itu tidak perlu. Belum.
“Mau... Kutemani?”
Hah? Temani apa? Dalam hati aku betanya-tanya maksud dari tawarannya barusan. “Ti-Tidak perlu, Mas. Sebentar lagi pasti aku mengantuk. Mas Beny segera istirahat saja.”
Aku bermaksud untuk segera kembali ke kamar, tapi urung ketika Beny memanggil namaku.
“Untuk sekolah Anya, apa kamu sudah menemukan rekomendasi?” Rupanya kali ini tentang sekolah Anya.
“Iya, aku sudah menemukan beberapa rekomendasi sekolah taman kanak-kanak di dekat sini. Mungkin besok bisa kita diskusikan.”
Beny mengangguk, “Baiklah, kita bicarakan lagi besok,” samar-samar aku bisa melihat senyum tipisnya di ruangan gelap ini, “Selamat malam, Irene.”
Jantungku berdetak kencang mendengarnya, “Se-Selamat malam juga, Mas Beny.”
Aku pun kembali ke kamar dengan wajah merah padam.
...
“Ayo, Anya! Semangat, nak!”
Anya sudah menginjak usia sepuluh bulan sekarang. Saat ini dia sedang berlatih untuk berjalan dengan kedua kakinya sendiri. Aku bersorak heboh untuk memberikannya semangat.
Dia sudah bisa berdiri tegak tanpa menggunakan bantuan, tinggal belajar melangkahkan kakinya. Anya tipe anak yang aktif dan pantang menyerah. Walau pun dia sempat terjatuh berkali-kali dia akan kembali berdiri dan mencoba lagi.
Aku duduk di hadapannya memegang boneka dan beberapa mainan kesukaan Anya untuk menarik perhatiannya. Strategiku ternyata berhasil. Setelah berhasil berdiri kembali, perlahan ia melangkahkan kaki kecilnya ke arahku.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Berhasil!
“Yeay! Anya berhasil!”
Dengan sigap aku menangkap tubuh kecilnya yang hampir terjatuh. Anya ikut bertepuk tangan dan tertawa riang dalam pelukanku. Bahagia bercampur haru kurasakan saat melihat langkah pertamanya. Bayi kecilku kini mulai tumbuh. Sayang sekali suamiku tidak bisa melihatnya langsung.
Sebuah ide muncul di kepalaku. Hari ini adalah ulang tahun Alan, aku ingin memberinya kejutan. “Anya, bagaimana kalau kita ke tempat Papa dan memberi dia kejutan? Hari ini Papa ulang tahun loh!”
“Awawa... Mamama...” seakan setuju dengan perkataanku, Anya mengangkat tangan kecilnya ke udara dan tertawa.
Tanpa menunggu lama, aku segera bersiap menuju kafe tempat Alan biasa perform.
Alan berprofesi sebagai anggota band musik, lebih tepatnya sebagai gitaris. Dedikasinya terhadap musik sangat besar. Dia dan teman-temannya membentuk band ini sudah lama, jauh sebelum kami menikah. Dulu aku sering sekali menemaninya tampil di berbagai tempat. Walau pun bukan band besar yang terkenal, tapi mereka dipercaya sebagai pengisi hiburan rutin di berbagai tempat seperti kafe, klub, dan tempat hiburan lainnya.
Aku paham dan selalu mendukung kariernya di dunia musik, meskipun aku harus rela di nomorduakan. Alan jarang pulang karena pekerjaannya. Selain tampil di panggung, dia juga sibuk latihan dan rekaman. Kalau pun dia ada waktu senggang itu hanya untuk tidur.
Sekarang pun begitu. Walau pun hari ini adalah hari ulang tahunnya, sejak kemarin Alan tidak pulang. Dia bilang ada projek baru yang harus segera diselesaikan, jadi dia tidak bisa pulang. Aku berinisiatif untuk memberinya kejutan ulang tahun bersama Anya. Mungkin saja bisa sedikit menghilangkan lelahnya.
Setelah perjalanan 10 menit dengan bus kota. Kami sampai di kafe tempat biasa band Alan tampil di hari rabu. Di perjalanan tadi, aku menyempatkan untuk membeli kue ulang tahun dan beberapa makanan untuk kami.
Kafe ini terbilang masih baru berdiri. Mengutamakan konsep outdor dengan lampu-lampu kecil dan interior yang simpel namun elegan menambah nuansa romantis. Cocok sebagai destinasi makan malam romantis untuk pasangan.
“Aaa... Uuu... Uuu...” Anya yang sedari tadi tenang dalam gendonganku, langsung antusias melihat lampu berkelap-kelip. Tangannya menggapai udara seakan ingin mencoba menangkap lampu-lampu itu.
Kulihat dipanggung sedang tidak ada siapa pun. Tapi alat-alat musiknya sudah tertata rapi dan aku mengenali gitar Alan di sana. Tak salah lagi, Alan sedang di sini.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru tempat. Karena masih belum terlalu malam, kafe ini masih sepi pengunjung. Aku pun melihat salah satu teman Alan yang kukenal yang juga merupakan anggota band. Namanya Gerald, dia adalah vokalis. Aku menghampirinya yang sedang merokok di bagian luar kafe.
“Oh, Hai, Irene. Hai, Anya! Lama tidak ketemu, ya?” sapanya dengan ramah.
“Iya, kalian selalu sibuk.”
“Kalian sedang apa di sini? Mencari Alan?”
“Ah, iya. Kami ingin bertemu Alan. Dia juga di sini kan?”
“Mungkin dia masih di ruang ganti,” Gerald menunjuk ruangan dengan pintu hitam di samping ruang karyawan, “Masuk saja, tidak apa-apa.”
“Terima kasih, Gerald,” setelah itu aku berjalan menuju ruangan itu.
Dari luar aku tak mendengar suara apa pun. Kemudian kuketuk pintu itu, namun tidak ada jawaban. Dengan ragu aku mencoba membukanya, ternyata tidak dikunci. Kudorong pintu itu, aku sudah tersenyum lebar membayangkan Alan akan terkejut melihat aku dan Anya yang datang tiba-tiba tanpa memberitahunya.
Begitu pintu terbuka, akulah yang terkejut setengah mati. Bukan sambutan ramah dan senyum manis yang kudapat. Justru pemandangan yang menghancurkan hatiku.
Tepat di depan mataku, aku melihat suamiku sedang berciuman mesra dengan wanita lain yang tak kukenal. Mereka berciuman sangat intens hingga tak menyadari keberadaan kami. Wanita itu mengenakan busana minim yang memperlihatkan tubuh seksinya. Jari-jari lentiknya meremas rambut Alan. Alan pun tampak menikmati dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang wanita itu.
Air mataku berlinang, hatiku sakit seperti dihujam puluhan pisau melihat pemandangan itu. Sedih, marah, dan kecewa. Aku merasa dikhianati. Kesabaran dan kesetiaanku selama ini berbuah menyakitkan.
Dikuasai emosi, aku melempar kue yang kubeli tadi ke arah mereka. Kue itu mendarat tepat di kepala Alan. Mereka pun terkejut dan menoleh ke arahku. Bukannya merasa bersalah, Alan justru menghampiriku dengan kemarahan.
“Apa yang kau lakukan, hah?!” Dia berteriak tepat di depan wajahku. Aku bisa mencium bau alkohol yang menyengat dari mulutnya. Dia mabuk.
PLAK
Amarah semakin menguasaiku, tanpa sadar aku menampar pipi Alan sekuat tenaga hingga pipi kirinya memerah.
Jika biasanya aku paling takut ketika Alan marah. Aku bahkan tidak berani menatap matanya. Tapi kali ini entah mendapat keberanian dari mana, aku menatapnya tajam, tanpa rasa takut sedikit pun.
“SEHARUSNYA ITU KALIMATKU! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN WANITA ITU?!”
Alan seperti tersadar setelah aku menamparnya. Dia menatapku terkejut. Suara teriakanku sepertinya membuat Anya takut hingga dia menangis sangat kencang. Kegaduhan yang kusebabkan menarik perhatian semua orang yang ada di kafe itu.
Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama, aku lari keluar dari kafe itu. Kudekap Anya seerat-eratnya sambil berlari. Aku terus berlari sambil menangis. Berlari. Berlari. Aku ingin pergi dari dunia ini.
Aku ingin mati! Mati! MATI!
...
“HAH!”
Napasku tersengal saat aku membuka mata. Keringat dingin membajiri tubuhku. Aku mencoba bangun dan melihat sekitar, aku masih berada di kamar tamu rumah Beny. Aku mencoba menenangkan diri. Itu hanya mimpi.
Kejadian bertahun lalu terulang kembali dalam mimpiku. Ini pasti gara-gara telepon kemarin. Aku terlalu memikirkannya hingga terbawa dalam mimpi.
Kulirik Anya dan Eric masih tertidur pulas. Rupanya ini masih pukul enam pagi. Aku tak berniat tidur kembali, jadi kuputuskan untuk keluar kamar dan memulai hari. Mungkin dengan memasak aku bisa sedikit melupakan mimpi tadi.
Namun sepertinya aku bukan orang pertama yang sampai di dapur. Beny lengkap dengan apronnya sedang memasak sesuatu di sana. Dia tengah membelakangiku, aku ragu dia tahu aku ada di sini.
“Mas Beny, selamat pagi,” sapaku. Ia tampak terkejut saat melihatku berdiri tak jauh di belakangnya.
“Ah, selamat pagi, Irene.”
“Tumben Mas Beny sudah bangun jam segini?” tanyaku heran.
Beny mematikan kompor kemudian kembali menoleh padaku, “Aku kira kamu akan bangun sedikit terlambat. Jadi aku berinisiatif untuk memasak sarapan.”
Kegelisahan yang masih menganjal di hatiku seketika menghilang. Perhatian-perhatian kecil yang diberikan Beny membuatku semakin nyaman.
“Umm... Terima kasih. Apa perlu kubantu?”
“Tidak perlu. Kamu duduk saja,” dia mengusirku dengan halus, “Mau kopi? Atau teh?”
“Teh saja,” aku pun menurut dan duduk di mini bar.
Tak butuh waktu lama hingga secangkir teh disajikan di hadapanku. Setelah mengucap terima kasih, aku meminumnya dengan perlahan. Aroma dan kehangatan teh membuat pikiranku semakin tenang dan rileks.
“Irene, kamu habis menangis?”
Beny yang masih belum beranjak dari hadapanku, ternyata diam-diam memperhatikan wajahku. Aku sepertinya menangis dalam tidurku, saat aku terbangun wajahku basah karena air mata. Tapi tak mungkin aku bercerita tentang mimpiku pada Beny, itu akan membuatnya khawatir.
“Tidak, kok, Mas. Mungkin karena aku kurang tidur jadi mataku sembab,” aku tersenyum untuk meyakinkannya.
“Begitu, ya?”
“Ah, aku akan bangunkan anak-anak!” untuk menghindari Beny bertanya lebih jauh, aku berdalih membangunkan anak-anak. Tanpa menunggu jawaban dari Beny aku bergegas menuju kamar.
.
.
.
Bab 7 ((END))