
Setelah memandikan Aurora, Arcelio langsung mendirikan tenda di ruang tamu apartemennya. Dia melakukan itu seorang diri, karena Aurora dan Ollie hanya menjadi penonton. Sesekali, anak itu bertepuk tangan, saat melihat sang ayah memamerkan kehebatannya. Aurora tertawa lucu. Dia baru berhenti saat mendengar bel berbunyi. Gadis kecil itu segera berlari ke dekat pintu.
“Hallo, Aurora,” sapa Chrissy. Dia langsung masuk. “Apa tendanya sudah jadi?” tanya putri Samantha tersebut.
“Papaku sangat hebat! Dia membangun tenda itu sendirian!” Aurora berbicara dengan sangat antusias, yang berbalas tepuk tangan dari Chrissy.
“Aku jadi ingin punya ayah seperti papamu,” ujar Chrissy. “Kata ibu, ayahku pergi ke bulan dan tidak pulang lagi.” Wajah mungil Chrissy tiba-tiba berubah murung
“Mamaku juga pergi ke awan,” ucap Aurora, bersamaan dengan Samantha yang datang ke sana. “Dulu, aku ingin punya mama. Sekarang, aku tidak mau. Papa lebih baik. Dia tidak pernah melotot padaku,” ujar anak itu polos.
Samantha tertegun mendengar ucapan Aurora. Dia sadar bahwa dirinya sudah membuat anak itu merasa takut. Terbesit rasa bersalah dalam hati wanita cantik tiga puluh tahun tersebut. “Apa kau suka makanan Perancis, Aurora?” tanya Samantha dalam Bahasa Italia.
Aurora tersentak. Dia beringsut mundur ke belakang tubuh Chrissy. Aurora menatap aneh kepada Samantha. Namun, sesaat kemudian putri Delanna tersebut mengangguk pelan, setelah melihat Samantha tersenyum padanya. “Papa selalu memasak di sini,” jawabnya.
“Oh. baguslah kalau begitu.” Samantha kembali tersenyum lembut. Dia melihat Arcelio yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Tenda sudah berdiri, lengkap dengan segala perlengkapan di dalamnya.
“Ayo,” ajak Samantha. “Sudah waktunya masuk ke tenda.” Dia menggiring kedua gadis kecil itu sambil membawa sesuatu di tangannya. “Kau selalu bisa diandalkan,” sanjung Samantha seraya melirik Arcelio. Pria itu mengembuskan napas panjang, dengan rambut gondrongnya yang tidak terikat.
“Apa yang kau bawa?” tanya Arcelio dengan tatapan menggoda penuh rayuan.
“Makanan untuk menemani berkemah,” jawab Samantha. Dia memperlihatkan yang dibawanya. “Aku membuatnya sendiri,” ujar Samantha bangga.
"Pain au chocolate? Sejak kapan kau jadi pandai membuat makanan seperti ini?” Arcelio yang telah lama mengenal Samantha, menautkan alisnya tak percaya. Selama di Italia, mantan tunangannya tersebut paling malas membuat makanan berjenis roti-rotian.
“Kau lupa bahwa aku sudah lima tahun berada di sini? Kesibukanku hanya di klub teater. Selebihnya, aku menjadi ibu rumah tangga. Seperti yang kuinginkan dulu. Aku memiliki lebih banyak waktu di rumah,” tutur Samantha. Dia melongok ke dalam tenda, lalu menghidangkan makanan yang dibawanya tadi.
“Ah, ya! Banyak sekali yang kulewatkan dari dirimu. Kurasa, kau harus mulai menceritakannya padaku.” Arcelio ikut masuk ke tenda berukuran cukup lebar itu.
“Aku juga tidak tahu apa saja yang kau lakukan selama di Italia. Tentu saja, selain merawat Aurora seorang diri.”
Arcelio kembali menatap Samantha. Sikapnya membuat wanita cantik berambut pirang tersebut menjadi salah tingkah. “Kau ingin tahu?” tanyanya.
“Tidak juga,” jawab Samantha pura-pura tak peduli. Perhatiannya beralih pada Aurora dan Chrissy, yang tengah berceloteh ria bersama Ollie. Chrissy mengatakan bahwa dia bisa bernyanyi. Cita-cita anak itu menjadi astronot, agar dapat menjemput ayahnya yang berada di bulan.
Celotehan Chrissy hanya ditanggapi senyum simpul oleh Samantha. Terlebih, karena Arcelio kembali memandangnya dengan tatapan penuh rayuan.
Setelah Chrissy, Aurora ikut bercerita. Dia mengatakan bahwa dirinya senang melukis seperti sang ayah. Selesai berkata demikian, anak itu langsung mencium pipi Arcelio.
“Apa kau tidak ingin menciumku juga, Chrissy?” tanya Arcelio.
“Bolehkah, Paman?” Mata bulat Chrissy tampak berbinar.
“Biasanya juga kau tidak meminta izin dulu untuk menciumku.” Arcelio menaikkan sebelah alisnya. Pria tampan itu tertawa renyah, ketika Chrissy dan Aurora mencium pipinya secara bersamaan. Sementara, Samantha hanya memperhatikan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Obrolan demi obrolan terus mengalir. Arcelio dan Samantha menjadi pendengar dari celotehan kedua gadis kecil, yang terlihat sangat ceria saat itu. Tak jarang, mereka tertawa bersama sambil menikmati makanan yang dibuat Samantha.
Tanpa terasa, waktu sudah merangkak semakin malam. Samantha melihat jam di ponselnya. “Sudah jam sembilan. Waktunya kalian tidur. Kita lanjutkan lagi ceritanya besok,” ucap wanita itu lembut. Dia membersihkan dulu bagian dalam tenda, sebelum digunakan untuk tempat tidur oleh kedua gadis kecil tadi. Setelah itu, mereka masuk lagi dan langsung berbaring. Tak membutuhkan waktu lama bagi Aurora dan Chrissy. Keduanya sudah terlelap di bawa satu selimut dengan bantal berukuran besar.
“Kau masih minum kopi di malam hari, Arcelio?” Samantha menatap mantan tunangannya sesaat.
“Sulit untuk menghilangkan kebiasaan di masa lalu,” jawab Arcelio. Kata-katanya menyiratkan banyak makna bagi Samantha. “Boleh kutahu sesuatu?” tanya pria tampan tersebut.
“Apa?” Samantha balik bertanya. Dia mengikuti langkah tegap Arcelio menuju dapur.
Arcelio tidak langsung menjawab. Dia mengembuskan napas dalam-dalam. “Apa Pierre tidak pernah bertanya tentang ayah Chrissy?” tanyanya sambil menyiapkan cangkir.
“Dulu, dia pernah bertanya tentang hal itu. Namun, aku tidak mengatakan apapun. Kau tahu bahwa aku tidak suka bercerita tentang masalah pribadi, bahkan terhadap Sara sekalipun.” Samantha menyandarkan sebagian tubuhnya pada counter kitchen, sambil melipat kedua tangan di dada.
Mendengar nama Sara disebut, Acelio langsung terlihat tak nyaman. Dia ingat terakhir kali bertemu dengan wanita yang merupakan mantan kekasihnya tersebut. Sara memintanya agar kembali melanjutkan hubungan mereka, yang telah berakhir sekian lama.
“Apa kau masih berkomunikasi dengannya?” tanya Arcelio.
“Siapa? Sara?”
Arcelio mengangguk sambil mengaduk kopi yang telah selesai dibuat.
“Semenjak pindah ke Paris, aku sudah jarang sekali berkomunikasi dengan siapa pun selain ayah dan ibu. Aku benar-benar ingin ….”
“Kau ingin menghapus semuanya?” sela Arcelio.
“Ya,” jawab Samantha singkat.
“Apa kau berhasil?” tanya Arcelio lagi. Dia tak membiarkan Samantha berpikir terlebih dulu.
“Um … aku ….”
“Aku sudah tahu jawabannya,” ucap Arcelio yakin.
“Jangan sok tahu,” cibir Samantha.
“Jangan membohongi dirimu lagi, Sam.” Arcelio berpindah ke hadapan Samantha. Mereka berdiri dengan jarak yang cukup dekat, Namun, kali ini menjadi tak ada jarak lagi setelah Arcelio maju beberapa langkah.
“Tidak, Arcelio,” tolak Samantha. Dia seakan sudah tahu apa yang akan pria itu lakukan.
“Kenapa? Bukankah kau menyukainya?” Suara Arcelio terdengar dalam dan berat, menandakan bahwa dia mulai melancarkan rayuannya terhadap Samantha.
“Tidak. Kau tahu bahwa aku ….” Ucapan Samantha tertahan, ketika Arcelio menarik tubuhnya agar semakin merapat. “Arcelio ….”
“Ya. Ini aku, Sayang.” Arcelio mendekatkan wajahnya. Dia kembali menikmati bibir polos Samantha untuk beberapa saat. “Menginaplah di sini,” bisik pria itu, yang seketika menghadirkan desiran aneh dalam diri Samantha.
Kenyataannya, Samantha tidak kuasa menolak. Hasrat dalam diri wanita tiga puluh tahun itu terlalu besar. Kerinduan serta rasa haus akan kehangatan Arcelio yang telah sekian lama dirinya lewatkan, membuat akal sehat mantan aktris terkenal Italia tersebut menjadi tumpul. Dia pasrah ketika Arcelio memangku tubuh sintalnya dari dapur menuju kamar tidur, dengan tanpa menghentikan ciuman di antara mereka.
Samantha tersenyum lembut. Tatapan wanita cantik berambut pirang itu kian sayu, ketika Arcelio merebahkannya di tempat tidur. Ibunda Chrissy tersebut lagi-lagi tak menolak dan justru sangat menikmati, saat Arcelio kembali menciumnya.