
“Jangan, Arcelio,” tolak Samantha. Namun, bahasa tubuhnya bertentangan dengan apa yang diucapkan. Samantha justru menanggapi semua sentuhan menggoda yang Arcelio berikan. Dengan begitu mudah, wanita itu terlena dalam setiap buaian menghanyutkan pelukis tampan tersebut. Samantha terbang sangat tinggi, bersayapkan cumbuan mematikan sang mantan tunangan.
Detik berikutnya, kedua insan yang sama-sama saling merindu itu sudah terlibat dalam pergumulan semakin panas. Satu per satu pakaian yang melekat di tubuh keduanya ditanggalkan, lalu dilempar dengan sembarang ke lantai.
Sekian lama waktu berlalu. Arcelio maupun Samantha sama-sama menutup diri dari aktivitas di tempat tidur. Arcelio fokus menata masa depan bersama Aurora. Sedangkan, Samantha memang belum bisa sepenuhnya melupakan masa lalu, meskipun dia telah menjalin cinta dengan Pierre.
Namun, malam ini sepertinya semua akan berubah. Kehangatan itu kembali hadir. Keintiman yang dulu terjeda hingga bertahun-tahun lamanya, mungkin akan terjalin lagi. Semuanya terlihat jelas dari sikap Samantha yang tak menolak sama sekali, ketika Arcelio menikmati setiap inci dari lekuk indah tubuhnya. Wanita cantik tadi, menyambut hangat penyatuan yang seharusnya tak terjadi di antara mereka.
Kerinduan yang sangat besar akan kebersamaan seperti itu, tumpah-ruah di dalam kamar pribadi Arcelio. Percintaan panas terlarang, mereka lakukan di belakang Pierre yang begitu tergila-gila kepada Samantha. Sesuatu yang tidak pantas dan menjadi dosa besar, ketika keduanya memulai perselingkuhan atas nama cinta lama yang belum usai.
Namun, Arcelio ataupun Samantha seakan tak menghiraukan hal itu. Mereka justru terlihat sangat menikmati setiap detik berbalut desah manja, yang mengiringi kenikmatan atas pergumulan penuh hasrat tadi.
Samantha tersenyum saat merasakan kembali kehebatan Arcelio. Sementara, Arcelio merasa puas ketika dapat menuntaskan segala keresahan hatinya, di dalam diri wanita yang selama ini selalu menjadi ratu teristimewa.
Ciuman mesra menutup penyatuan yang menjadi awal kisah terlarang antara Samantha dan Arcelio. Entah apa yang akan terjadi setelah itu. Satu yang pasti, keduanya saat ini nyaman berada dalam satu selimut, dengan pelukan hangat seakan tak ingin terlepas lagi.
“Ini seperti mimpi,” ucap Arcelio. Dia berkali-kali mengecup lembut kening Samantha.
“Aku tidak percaya.” Samantha menggeleng pelan. Wajah cantiknya memancarkan keresahan yang tak dapat disembunyikan. “Aku sudah menjadi seorang pengkhianat. Apa bedanya antara aku dan dirimu, Arcelio?”
“Kau menyesal?” tanya Arcelio pelan.
Samantha tidak menjawab. Dia hanya menatap paras tampan pria yang baru selesai bercinta dengannya. Samantha tak tahu harus berkata apa. Dia mengakui bahwa dirinya menyukai apa yang telah mereka lakukan tadi. Wanita itu memilih semakin merapatkan tubuhnya kepada Arcelio. Membuat pria tampan tersebut memahami sesuatu.
Arcelio kembali mengecup kening Samantha. “Jangan pikirkan apapun,” ucapnya pelan dan dalam. “Segala hal yang terjadi dalam hidup kita, bukan tanpa adanya campur tangan Tuhan. Aku bukan orang yang religius, tapi diriku sepenuhnya percaya akan hal itu. Lihatlah bagaimana Dia mempertemukan kita lagi setelah lima tahun berlalu. Jika memang harus seperti ini, maka jalani saja. Tak ada yang tahu, ada apa dengan hari esok.”
“Kau semakin dewasa, Arcelio,” ucap Samantha, seraya menyentuh permukaan bibir mantan tunangannya.
“Aku bertambah tua, Sayang,” balas Arcelio diiringi tawa renyah.
“Hey! Usiamu baru tiga puluh lima tahun,” protes Samantha.
“Kau masih ingat?”
“Kenapa tidak kau lihat sendiri. Coba bandingkan perutku saat ini dengan lima tahun yang lalu,” ujar Arcelio. Sorot matanya terlihat sangat nakal.
Samantha menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar ucapan aneh pria itu. Namun, lama-kelamaan dia tersenyum diiringi gelengan pelan, saat Arcelio menyibakkan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. “Astaga.” Samantha berdecak pelan. Dia memahami sesuatu. Samantha mengusap perut sixpack Arcelio. Namun, gerak tangannya tak hanya berhenti di sana.
Sesaat kemudian, terdengar helaan napas berat Arcelio. Pria itu menoleh kepada Samantha yang tersenyum manis. Sorot mata Arcelio mengisyaratkan sesuatu. Tanpa mengatakan apapun, dia dapat membuat Samantha memahami apa yang diinginkannya.
Samantha menurunkan tubuh, seiring dengan helaan napas memburu yang kembali meluncur dari bibir Arcelio. Apa yang mereka lakukan tadi, sepertinya akan kembali diulangi. Terlebih, karena Samantha kali ini sudah duduk di pangkuan Arcelio, dengan posisi menghadap kepada pria itu.
......................
Cahaya matahari menelusup masuk ke celah-celah tirai yang menutupi jendela kaca kamar Acelio. Pria itu terbangun, lalu duduk sebentar untuk mengumpulkan segenap tenaga. Diliriknya ke sebelah, di mana Samantha masih terlelap dengan tubuh yang hanya ditutupi selimut.
Arcelio tersenyum kalem. Dia menyibakkan selimut, lalu turun dari ranjang. Tak lupa, Arcelio mengenakan kembali celana tidur sebelum keluar kamar. Dia harus melihat keadaan kedua putrinya yang berada di dalam tenda. Ternyata, Aurora dan Chrissy sudah bangun sejak tadi. Kedua gadis kecil itu sedang asyik bermain bersama Ollie di dalam sana. Mereka tertawa cekikikan dan terdengar begitu ceria.
“Selamat pagi, Nona-nona,” sapa Arcelio hangat. Dia membuka resleting tenda, lalu melongok ke dalamnya.
“Selamat pagi, Papa. Apa kau baru bangun?” tanya Aurora.
“Kau tidak memakai baju, Paman,” timpal Chrissy sambil tertawa lucu.
Arcelio mengembuskan napas pendek. Belum sempat dia menanggapi ucapan kedua gadis kecil tadi, terdengar bel berbunyi. Arcelio yakin bahwa itu adalah Brigitte, berhubung hari ini dia ada jadwal mengajar. “Tunggu sebentar, Nona-nona,” ucapnya seraya melangkah ke dekat pintu. Ketika dia membukanya, tampaklah paras cantik sang pengasuh dengan senyum manis terkembang.
“Selamat pagi, Tuan Lazzarro,” sapa Brigitte. Dia sedikit salah tingkah, karena melihat Arcelio yang bertelanjang dada dengan rambut gondrong dan wajah lusuh khas bangun tidur. Namun, pria tiga puluh lima tahun tersebut masih tampak sangat tampan dan memesona. Arcelio justru semakin seksi dalam tampilan seperti itu.
“Selamat pagi, Nona Colbert. Masuklah.” Arcelio mempersilakan Brigitte masuk. Dia melangkah kembali ke dekat tenda, sambil sesekali memijat belakang lehernya. “Anak-anak masih di dalam sana. Sepertinya, mereka juga baru bangun.” Arcelio mengarahkan ekor matanya ke tenda, di mana terdengar celotehan lucu Aurora dan Chrissy.
“Apakah Chrissy ada di sini?” tanya Brigitte.
“Ya. Mereka berkemah semalam,” jawab Arcelio. Dia menutup mulutnya saat menguap. Arcelio terlihat sangat kelelahan. Tampak jelas bahwa dia kurang tidur tadi malam.
“Aku akan bersiap-siap dulu,” ucap pria tampan itu lagi. Dia membalikkan badan. Arcelio bermaksud untuk kembali ke kamar. Akan tetapi, langkah tegap pria itu terhenti, ketika tiba-tiba Samantha muncul sambil menggulung rambutnya ke atas. Ibunda Chrissy tersebut, keluar kamar dengan mengenakan kemeja milik Arcelio.