
Tanpa terasa usia pernikahan Vivi dan Nero telah berlangsung selama satu tahun. Kini pasangan itu sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Prediksi Dokter mengatakan Vivi akan melahirkan dalam minggu-minggu ini.
Vivi sudah menyiapkan perlengkapan Ibu dan bayi ke dalam satu tas. Berjaga-jaga kalau Vivi bisa saja melahirkan secara tiba-tiba. Bisa lebih cepat dari prediksi Dokter, atau bahkan melewati prediksi itu. Yang penting Vivi sudah menyiapkan semua.
"Aduh ..." Vivi meremas bajunya. "Akh ... sakit," ringis wanita itu.
Nero menengok kepada sang istri. Ia berada di sebelah Vivi persis, sedang mengunyah sepotong buah melon. "Kenapa, Vi? Perut kamu kenapa?!" Nero menyampingkan duduk. Ikut menyentuh perut istrinya.
Kening dan leher Vivi sudah dibasahi oleh keringat. Vivi terus meremas bajunya, kemudian pindah ke lengan Nero—hampir mencakar lengan suaminya. Lantas wanita itu tiba-tiba berteriak.
"Nero! Sepertinya aku mau melahirkan!" teriak Vivi tidak kuat lagi menahan sakit di perutnya.
Sepasang mata Nero membeliak lebar. "Apa? Bukannya ..., kata Dokter—"
Vivi semakin kuat mencengkram lengan Nero. Kuku-kuku wanita itu hampir menembus kulit suaminya. "Jangan pikirkan soal prediksi Dokter, Nero! Aku sudah kesakitan! Cepat bawa aku pergi ke rumah sakit!" jerit Vivi hampir menangis.
"Iya! Tunggu, Vi. Tunggu, aku akan ambil tas yang telah kamu siapkan di kamar," kata Nero. Pria itu berlari menuju ke kamarnya bersama Vivi.
"Cepat, Nero! Jangan lama-lama!" seru Vivi menengok kan kepalanya ke belakang.
Vivi menggigit bawah bibirnya. Menunggu Nero sedang mengambil tas dengan tidak sabaran. Perutnya seperti dicengkram sangat kuat, rasanya mulas sekali.
"Nerooo!" teriak Vivi lagi.
***
"Vi, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," bisik Nero lembut di telinga sang istri.
Vivi tidak berhenti menjerit menahan sakit di perutnya. Vivi mengeluh kapan mobil mereka akan sampai di rumah sakit. Sedangkan Vivi sudah tidak tahan lagi dengan sakit yang ia rasakan.
Nero menggenggam tangan Vivi, mencoba memberi kekuatan agar Vivi tetap kuat sampai mobil mereka tiba. Vivi mendesah, sebagian tubuhnya telah dibasahi oleh keringat dingin.
"Vi, jangan pejamkan mata kamu, Vi. Kita sudah sampai, Sayang," bujuk Nero.
Kedua mata Vivi sudah terasa berat. Ditambah rasa mulas, sakit, semua menjadi satu. Vivi berkata jujur, ia benar-benar kesakitan sekarang.
Nero melepaskan tangannya dari genggaman Vivi untuk sementara saja. Ia membuka sabuk pengamannya, lantas melompat turun dari mobil. Ia membukakan pintu untuk sang istri, lantas menggendong tubuh Vivi menuju ke dalam rumah sakit.
Tubuh Vivi diletakkan di atas brangkar. Dokter, perawat, serta Nero yang selalu setia menggenggam tangan Vivi, tidak berusaha melepaskan sekali pun. Nero meminta kepada Dokter agar ia diperbolehkan menemani Vivi di ruang bersalin.
Nero tidak ingin meninggalkan Vivi sendirian di ruang bersalin. Berjuang sendiri melahirkan anak pertama mereka. Tidak, Nero bersikeras ikut ke dalam walau Dokter telah meyakinkan berulangkali.
"Ayo, Vi. Berjuang," bisik Nero di telinga Vivi. "Kamu tidak sendiri. Ada aku di sini. Aku yakin kamu kuat, kamu bisa, Sayang." Nero membawa tangan Vivi, lantas ia menciumi punggung tangan sang istri berulangkali.
"Sakit, Nero ... aku tidak kuat." Vivi meringis panjang. "Aku minta maaf kalau selama ini aku membuat kamu kesal. Aku sadar selama menjadi istri, aku memiliki banyak kekurangan," ujar Vivi di tengah persalinan.
Nero menggeleng cepat. Satu tangannya lagi letakkan di atas kepala sang istri. "Kamu tidak memiliki kekurangan. Kamu istri yang hebat. Aku bangga denganmu. Sekarang, kita berjuang bersama-sama, ya?" pinta Nero sungguh-sungguh.
Jantung Nero berdebaran hebat selama proses persalinan berlangsung. Nero bahkan tidak berani melepaskan genggaman tangannya barang sedetik pun. Nero terus-menerus membisikkan perasaan sayang, cinta, serta rasa bersyukurnya karena memiliki Vivi di sampingnya. Nero tidak pernah menyesal atas pilihannya menikahi Vivi.
Tiga tahun yang lalu, Nero memiliki pengalaman pahit. Ia harus kehilangan dua orang yang paling ia cintai. Di saat Vivi sedang melahirkan, ada saja yang mampir di kepalanya. Rasa takut akan kehilangan orang tersayang kembali mampir, membuat Nero tidak berhenti berdoa kepada Tuhan. Semoga, istri dan bayinya dalam kondisi selamat.
"Selamat, Pak Nero, Bu Vivi." Dokter tersenyum lega. "Anak-anak kalian lahir dengan selamat. Mereka kembar. Laki-laki dan perempuan," ujar Dokter memberi selamat.
Nero mematung, tidak berkata apa-apa saat ini. Cuma air mata bahagia yang menjadi perwakilan. Nero tidak akan malu mengaku kalau ia menangis setelah melihat bayinya.
Nero menundukkan punggung. Ia mencium kening Vivi sangat lama. Tidak bosan-bosannya Nero mengatakan kalau ia sangat mencintai Vivi.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak. Aku sangat mencintai kamu," bisik Nero, tulus.
***
"Selamat! Sekarang kalian sudah resmi menjadi Ayah dan Ibu."
Nero dan Vivi tidak henti-hentinya mendapat ucapan selamat atas kelahiran bayi kembar mereka. Kedua orang tua Nero, serta Vivi tentu tidak perlu menunggu berhari-hari untuk datang dan menjenguk cucu pertama mereka.
"Kami senang, kamu dan bayi kembar kalian baik-baik saja. Semuanya selamat, dan sehat. Kami tidak sabar bertemu dengan cucu kami. Pasti mereka sangat cantik, dan tampan," puji ibunya Nero. Yang lain pun mengangguk setuju.
"Kami tidak dapat mengatakan apa-apa lagi sekarang. Kami sangat bersyukur. Terima kasih atas perjuangan kamu, Vi. Kami bangga sekali," ujar Ayah Vivi tidak kalah sumringah dengan besannya.
"Terima kasih semuanya. Ini semua berkat doa kalian semua. Dan, Nero," gumam Vivi menyambut tangan suaminya. Mereka saling melempar tatap dan tersenyum satu sama lain.
Sepasang bayi kembar itu dibawa ke ruangan Vivi. Semua orang menyambut bayi-bayi Nero dan Vivi dengan perasaan penuh suka cita. Para orang tua berebut ingin menggendong bayi kembar Nero dan Vivi.
"Benar kata saya, kan." Ibu Nero mencium pipi cucunya. "Mereka sangat cantik dan tampan. Mirip sekali dengan orang tuanya," puji Ibu Nero lagi.
"Kalian sudah mendapatkan nama untuk cucu kami?" tanya Ayah Vivi.
"Sudah," jawab Vivi dan Nero dengan kompak.
"Siapa?" sahut Dina, Ibu tiri Vivi.
Nero dan Vivi saling menatap lagi. "Azzam dan Azzura." Lagi-lagi mereka menjawab sangat kompak.
Kedua orang tua Vivi dan Nero kelihatan bingung pada awalnya. Namun setelah itu suasana kembali mencair.
Ya, mereka sepakat menamai sepasang bayi kembar mereka dengan nama Azzam dan Azzura. Nama orang terkasih mereka yang telah pergi.
Nero tidak dapat mengungkapkan banyak hal. Karena pria itu sangat bahagia sekarang. Kehadiran Vivi, serta bayi kembar mereka yang baru lahir menambah kebahagiaan. Tidak hanya mereka berdua selaku orang tua Azzura dan Azzam. Tapi dua keluarga itu saling bersuka cita menyambut kelahiran si kembar.
Nero merangkul bahu Vivi, mencium pipi, lantas kening istrinya sangat lama. "Terima kasih karena sudah hadir di kehidupan aku, Vi. Aku sangat mencintai kamu. Selamanya," bisik Nero.
Vivi membalas dengan senyum tulus di wajahnya. "Aku juga, Nero. Aku juga mencintaimu, selamanya."
TAMAT