
Aku bertemu dengannya dua tahun lalu. Saat itu, istri pertamaku, Clara yang mengenalkan kami. Irene adalah perempuan bertubuh mungil yang lemah lembut dan pemalu. Walau pun dia tak secantik Clara, tapi entah mengapa tak mudah bagiku untuk mengalihkan pandangan darinya.
Setiap gerak-geriknya menarik untuk diperhatikan. Aku berusaha menahan diriku. Aku tahu ini salah. Tidak seharusnya aku memiliki perasaan spesial terhadap wanita lain, terlebih dia adalah teman istriku.
Namun semakin kupendam, semakin besar pula perasaan itu tumbuh. Terlebih beberapa kali Irene berkunjung ke rumah kami bersama putrinya. Saat itu aku mengetahui bahwa dia adalah seorang ibu tunggal yang membesarkan putrinya seorang diri. Rupanya selama ini aku telah meremehkannya, dia adalah wanita kuat.
Meski begitu, aku tak ada niatan sedikit pun untuk menyatakan cinta pada Irene saat Clara masih berstatus sebagai istriku. Aku pun yakin bahwa Irene juga bukan tipe perempuan yang seperti itu. Dia pasti akan membenciku jika aku benar-benar melakukannya.
Aku sudah siap untuk melepaskan perasaan itu ketika Clara memberitahuku bahwa dia tengah mengandung anak kami. Aku sadar bahwa ini bukan lagi saatnya untuk bermain-main. Kini kami punya tanggung jawab baru yang harus kami jalani seumur hidup.
Namun Tuhan punya rencana lain. Clara meninggal setelah melahirkan bayi kami. Dan tanpa sadar orang pertama yang kuhubungi saat itu adalah Irene. Namanya kembali muncul dalam benakku. Pria gila mana yang memikirkan wanita lain saat istrinya sendiri meregang nyawa?
Aku hanya bisa menunduk di samping peti mati Clara. Meminta maaf padanya atas sikapku selama ini. Aku pun masih mencintai Clara hingga akhir hayatnya, meskipun tak seperti dulu lagi.
Bahkan beberapa bulan kemudian, aku melamarnya. Seperti dugaanku, Irene awalnya menolak. Tapi aku berusaha meyakinkannya bahwa pernikahan ini demi anak-anak. Demi Eric dan Anya. Dia kemudian mengiyakan setelah pertimbangan panjang. Kami pun menikah dua minggu setelahnya.
Kami menikah tanpa resepsi. Itu semua atas permintaan Irene. Sebenarnya aku ingin membelikannya gaun yang cantik dan cincin yang indah, namun Irene tak ingin pernikahan kami dirayakan. Karena belum genap setahun Clara meninggal, kami ingin menjaga perasaan keluarganya. Selain itu ini bukan pernikahan pertama kami.
Tak ada yang spesial dari pernikahan kami, tapi dalam hati aku sangat bahagia karena akhirnya aku bisa memiliki wanita yang selama ini diam-diam kuidamkan. Namun di sisi lain, aku merasa bersalah pada Irene karena dengan egoisnya aku menipunya dengan dalih demi anak-anak dan menariknya paksa masuk dalam hidupku.
Aku tahu Irene masih belum nyaman saat bersamaku. Dia masih menganggapku sebagai suami Clara. Tapi aku menghargainya. Aku akan selalu menunggu Irene mau membuka hatinya untukku. Aku berharap perhatian-perhatian kecil yang kuberikan padanya dan Anya bisa meluluhkan hatinya suatu saat.
Walau pun dia tak bisa menerima cintaku, setidaknya dia menganggapku sebagai suaminya, dan aku ingin dia bergantung padaku.
Seperti saat ini. Dia tengah bercerita tentang masa lalunya dengan mantan suaminya. Sepanjang Irene bercerita, aku hanya diam dan mencoba meredam amarahku. Aku marah pada lelaki itu, lelaki brengsek yang dengan tega menelantarkan anak dan istrinya. Irene dan Anya tak pantas untuknya.
Menyebut mantan suami Irene sebagai lelaki brengsek, aku pun tak jauh berbeda dengannya. Aku yang diam-diam bersyukur atas kematian istriku. Lalu tanpa malu memanfaatkan keadaan untuk menika wanita lain.
Tapi tekadku sudah bulat. Aku tak ingin mundur lagi. Aku pasti akan melindunginya. Wanita ini sudah banyak berjuang sendirian. Aku ingin menunjukkan padanya sekarang dia tak sendirian lagi. Ada aku yang bisa dia andalkan, atau hanya sekedar manfaatkan. Apa pun itu aku tak peduli.
“Maaf, Irene. Sebentar saja,” aku pun mengeratkan pelukanku padanya.
Kuhirup dalam-dalam aromanya, kupatrikan dalam ingatanku. Aku berjanji untuk melindunginya dan Anya. Dan tanpa disangka, dia membalas pelukanku lalu kembali menangis.
Kami bertahan dalam posisi ini beberapa saat, sebelum aku melepaskannya. Lalu kuhapus air matanya dengan tanganku, seperti yang pernah kulakukan sebelumnya. Namun kali ini Irene hanya diam dan menerimanya.
“Irene, dengarkan aku baik-baik,” matanya yang masih basah itu kini memandangku. Aku ingin dia melihat ketulusan dalam mataku.
“Selama ini aku mencintaimu, Irene. Sejak kita pertama bertemu,” mendengar penuturanku, Irene terkejut. Dia hendak berbicara tapi aku mendahuluinya.
“Aku tahu aku salah, karena telah mencintaimu pada waktu yang tidak tepat. Secara tidak langsung, aku telah mengkhianati Clara. Bahkan memanfaatkan anak-anak agar kau mau menikah denganku. Aku tidak ada bedanya dengan mantan suamimu,” lanjutku.
“Tapi percayalah, Irene. Sekarang kita sudah terikat dalam pernikahan, aku pasti akan mencintaimu seribu kali lipat dari pada lelaki itu. Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu. Aku juga menyayangi Anya seperti anakku sendiri. Aku mencintai kalian semua,” semua perasaanku telah kuungkapkan di hadapan Irene.
Kuharap dia tak membenciku setelah mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Irene kembali menangis. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu...
PLAK
Menampar pipi kiriku dengan keras. Panas dan perih kurasakan setelahnya.
“Kamu jahat, Mas! Tega-teganya kamu berbuat seperti itu pada Clara,” Irene menjerit sambil memukul-mukul dadaku dengan tangannya.
Aku hanya diam dan menerimanya tanpa perlawanan. Karena memang pantas menerimanya.
“Padahal Clara selalu mencintai Mas Beny. Tapi Mas justru memikirkan yang lain. Seharusnya kita tidak bertemu. Ini semua salahku!”
Aku kembali memeluknya, kali ini Irene berontak. Tapi aku memeluknya lebih erat, tak ingin kulepaskan dia lagi, “Tidak, Irene! Ini bukan salahmu. Aku yang menyeretmu dalam situasi ini tanpa kamu ketahui. Kumohon maafkan aku, beri aku kesempatan.”
Kurasakan perlawanan Irene mulai melemah, aku pun melonggarkan pelukanku dan mengangkat dagunya agar dia mau memandangku.
Akhirnya kulepaskan pelukanku, dan menjauh darinya. Irene hanya menunduk dan masih menangis.
“Tidurlah. Kamu harus istirahat. Selamat malam, Irene.”
Aku berbalik memunggunginya dan bermaksud untuk kembali ke kamarku. Saat itu kudengar tangis Irene semakin kencang.
...
Pagi harinya, seperti dugaanku. Irene tidak ada di dapur. Biasanya saat aku bangun, dia sudah berdiri di sini untuk menyiapkan sarapan. Mungkin dia masih kelelahan dengan kejadian yang begitu menguras emosionalnya kemarin malam, atau dia hanya tidak ingin bertemu denganku.
Aku tersenyum miris. Memangnya apa yang aku harapkan? Dia menyambutku dengan senyum dan pelukan hangat? Tentu saja Irene tak akan mau melihat wajah pria yang telah menipunya ini. Dia berhak untuk marah dan membenciku.
Tapi aku berharap dia mau memaafkanku dan memberiku kesempatan. Aku tak ingin berpisah dengannya lagi.
Sekarang kesampingkan pikiran itu. Aku harus menyiapkan sarapan untuk kami semua. Semoga anak-anak tidak bangun terlalu cepat.
“Om Beny!”
Rupanya Anya yang menghampiriku. Dia masih mengenakan baju tidurnya dan berlari ke arahku dengan wajah yang panik.
“Ada apa, Anya?”
“Om, Mama nggak mau bangun. Padahal alarmnya berbunyi terus. Mama malah menutup wajahnya dengan selimut. Anya sudah bangunkan, tapi tetap nggak mau,” jelas Anya padaku.
Aku hanya tersenyum pada Anya dan mengelus rambutnya, “Tidak apa-apa. Biarkan Mama tidur, dia pasti lelah karena sudah seharian mengurus Anya dan Eric.”
Anya mengangguk sebagai jawaban. Dia hendak kembali ke kamar, namun aku menahannya.
“Anya tunggu sini saja. Setelah masakannya selesai, Anya bisa bawakan ini untuk Mama. Bisa?”
“Bisa, Om! Anya ‘kan sudah besar,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
Aku tersenyum mendengarnya. Lalu aku menyadari sesuatu, “Anya kenapa masih panggil 'Om Beny'? Kenapa tidak panggil ‘Papa’?”
Senyum cerahnya perlahan menghilang. Anya menundukkan kepalanya dan memainkan kedua tangannya. Seperti seorang anak yang ketahuan berbuat nakal.
“Ummm... Kata Mama, Om Beny itu papanya Eric, jadi Anya nggak boleh panggil Om Beny ‘Papa’,”
“Apa Anya ingin panggil Om 'Papa'?”
Anya mengangguk dengan antusias, “Anya pingin punya papa seperti teman-teman lain.”
Mendengar pengakuannya, membuatku terenyuh. Anya pasti merindukan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Sejak kecil dia tak pernah mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya.
“Anya boleh panggil ‘Papa’ kok. Karena sekarang Anya juga anak Om sama seperti Eric. Berarti Om jadi papanya Anya juga.”
Anya terlihat senang mendengarnya. Dia tersenyum lebar lagi, lalu berlari ke arahku. Aku pun berlutut untuk menyesuaikan tinggiku dengan Anya, dia kemudian memeluk leherku.
“Terima kasih, Papa!”
“Sama-sama, Sayang.”
.
.
Bab 12 ((END))