SECOND LOVE

SECOND LOVE
Foto Kenangan



“Apa?” Pierre terbelalak tak percaya.


“Ya, Pierre," balas Arcelio tetap terlihat tenang, meski dalam hati ada gemuruh luar biasa. Bagaimanapun juga, Arcelio harus melawan hati nuraninya, saat mengatakan kejujuran itu di hadapan sahabat lamanya tersebut.


"Aku yang berada di dalam ruang apartemen Samantha malam itu. Karena itulah kenapa dia tak memperbolehkanmu masuk. Aku bersembunyi di balik pintu saat kau mengambil kunci mobilmu,” tutur Arcelio dengan intonasi yang tetap terkendali.


“Kau!” Pierre mengepalkan kedua tangan erat-erat sampai ototnya terlihat. “Dasar brengsek!” Tanpa diduga, dokter anak yang selalu bersikap ramah dan hangat pada siapa pun itu melayangkan satu pukulan kencang ke wajah tampan Arcelio. Pukulan itu mengenai pelipis, hingga kulit Arcelio sobek dan mengeluarkan darah.


“Arcelio!” Samantha menghambur ke arah sang mantan tunangan yang sempat terjengkang ke belakang. Dia segera memeluk erat Arcelio agar tak terjatuh di trotoar.


“Kalian berdua memang cocok, sama-sama pengkhianat!” umpat Pierre. “Kau juga, Sam!” Pria tampan berambut pirang itu mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah cantik Samantha. “Kau membuatku tampak bodoh! Ah, mungkin memang benar! Aku terlalu bodoh karena jatuh cinta padamu, sehingga membuatku selalu memercayai dan mendukungmu! Namun, ternyata seperti ini balasannya! Aku sungguh kecewa!"


“Pierre ....” Samantha menggeleng pelan sambil terisak.


“Kita akhiri saja semuanya, Sam! Kuputuskan hubungan kita sekarang juga!” Pierre meludah ke samping, kemudian berlalu meninggalkan Samantha dan Arcelio begitu saja. Mereka baru sadar bahwa kericuhan yang ditimbulkan oleh Pierre tadi, telah memancing perhatian banyak orang di sekitar lokasi club malam tersebut. Antara sedih dan malu, Samantha mengeratkan pelukannya pada tubuh tegap Arcelio.


“Sudahlah, Sayang. Tidak apa-apa,” hibur Arcelio. “Kita pulang sekarang. Anak-anak sudah menunggu,” ajaknya.


Samantha mengangguk tanpa bersuara. Dia lalu berjalan mengikuti langkah Arcelio hingga ke tepi jalan. Beruntung, sebuah taksi melintas tepat di depan dua sejoli itu. Arcelio segera menghentikannya. Dia mengabaikan luka di pelipis. Arcelio sigap membantu Samantha agar masuk dan duduk lebih dulu di kursi penumpang.


Suasana begitu hening di dalam taksi. Hanya deru mesin halus terdengar di atas aspal, saat melintasi lalu lintas Kota Paris yang tak pernah sepi. Samantha menangis pelan sambil mengusap darah yang terus menetes dari pelipis Arcelio menggunakan sapu tangan, sehingga kain persegi berwarna putih itu berubah warna menjadi merah.


“Maafkan aku, Sam. Akan tetapi, lebih cepat Pierre mengetahui hal ini maka akan jauh lebih baik,” ucap Arcelio menenangkan.


“Aku tidak bisa berpikir lagi, Arcelio. Aku sangat lelah,” desah Samantha lirih.


“Semua akan baik-baik saja, Sayang." Arcelio merengkuh pundak Samantha, lalu mengarahkan kepala wanita itu agar bersandar di bahunya. Adegan tadi terus berlangsung hingga taksi yang mereka tumpangi tiba di depan gedung apartemen.


Setelah membayar ongkos taksi, Arcelio menuntun Samantha keluar. Mereka langsung berjalan menuju lift. Begitu pintu lift terbuka di lantai yang dituju, Arcelio tak juga melepaskan tangan Samantha. Dia bermaksud mengajak wanita itu masuk ke apartemen miliknya.


“Menginaplah di tempatku, Sayang. Akan lebih baik jika kau tak melewati malam ini sendirian,” bujuk Arcelio. “Lagi pula, Chrissy ada di dalam,” imbuhnya sembari membuka pintu.


Samantha tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, saat Arcelio membawanya masuk.


Brigitte yang saat itu sedang menonton televisi di ruang tengah, segera berdiri saat mengetahui bahwa Arcelio telah datang. Dia begitu terkejut, saat melihat pria rupawan itu terluka. “Astaga! Apa yang terjadi, Tuan Lazzaro?” tanyanya seraya berjalan mendekat.


“Tidak ada, Nona Colbert. Aku hanya terjatuh dan kepalaku terbentur,” sahut Arcelio, sebelum Samantha menjawab pertanyaan pengasuh Aurora tersebut.


“Biar kubantu, Tuan." Brigitte berniat untuk ikut menuntun Arcelio ke arah sofa.


Namun, ayahanda Aurora dan Chrissy itu menolak. “Tidak usah, Nona Colbert. Pulanglah. Ini sudah malam,” ujar Arcelio. Dia lalu menaypu pandangan ke seluruh ruangan. “Di mana anak-anak?” tanyanya.


“Ah, syukurlah. Mereka tak perlu melihat betapa kacaunya kita,” ujar Samantha seraya tertawa getir. Dia langsung terdiam saat Brigitte menoleh ke arahnya. “Oh, ya. Ini untukmu, Nona Colbert." Samantha mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus Euro pada Brigitte. “Ini bonus dariku. Nanti Arcelio juga akan memberikan bagianmu secara khusus.”


“Ini terlalu banyak, Nyonya.” Brigitte terpaku melihat sejumlah uang yang ada dalam genggamannya.


“Tidak. Itu setimpal dengan bantuanmu selama ini." Samantha mendorong tangan Brigitte yang berusaha mengembalikan uang tadi.


“Ambil dan pulanglah, Nona Colbert. Sekarang sudah terlalu larut,” ucap Arcelio. “Aku akan menransfer uang langsung ke rekeningmu nanti,” lanjutnya.


“Baiklah, kalau begitu." Brigitte mengangguk ragu. “Terima kasih, Tuan dan Nyonya. Aku permisi dulu,” pamitnya sopan, sebelum meninggalkan apartemen Arcelio.


Arcelio mengembuskan napas berat seraya melepaskan ikatan rambut. Dia membiarkannya tergerai. Arcelio lalu mengempaskan tubuhnya ke sofa.


Sedangakan, Samantha melemparkan clutch bag-nya begitu saja ke kursi yang lain. Dia bergegas mengambil kotak P3K, lalu duduk di dekat Arcelio. Dengan telaten, Samantha membersihkan luka, lalu menempelkan plester obat di sana.


“Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apakah ada yang terluka.” Arcelio mendekatkan diri, lalu memeriksa tangan dan lengan Samantha.


“Aku tidak apa-apa, Arcelio. Sungguh." Samantha segera menangkup paras tampan Arcelio. Sentuhan telapak tangan yang lembut, langsung dapat menenangkan hati dan pikiran ayah dua anak tersebut.


“Aku tak akan melepaskanmu, Samantha. Apapun akan kulakukan agar tak kehilanganmu lagi,” ucap Arcelio penuh keyakinan.


“Aku mungkin akan dibenci oleh semua orang yang kukenal di sini. Terutama Pierre dan keluarga besarnya,” keluh Samantha pelan.


“Tidak apa-apa.” Arcelio meraih kedua tangan Samantha yang masih menempel di pipinya. Dia mere•mas jemari lentik itu lembut seraya menatap lekat pada iris mata abu-abu milik sang kekasih. “Kita akan menghadapi semua ini bersama,” hiburnya.


Samantha mengangguk, lalu tersenyum lebar. “Badanku lengket. Aku akan pulang sebentar untuk membersihkan diri,” ujarnya.


“Di sini saja. Aku akan mengambilkan peralatan mandi dan baju ganti. Berikan kuncimu.” Arcelio menyodorkan tangan dengan telapak menghadap ke atas. Tangannya sempat menggantung sampai beberapa menit, ketika Samantha tak langsung mengiyakan. Wanita cantik itu tampak berpikir.


“Ah, sudahlah. Aku akan menginap di sini lagi,” putus Samantha. Dia berdiri dan mengambil kunci dari dalam clutch bag, lalu memberikannya pada Arcelio.


“Baiklah. Tunggu sebentar." Arcelio bergegas keluar menuju apartemen Samantha.


Sembari menunggu, Samantha melihat keadaan Aurora dan Chrissy di kamar. Mantan aktris terkenal itu tersenyum samar, melihat kedekatan dua gadis kecil yang tidur lelap dalam posisi saling berhadapan. Chrissy terlihat memakai piyama milik Aurora.


Sementara, Arcelio sudah selesai mengumpulkan peralatan mandi Samantha. Setelah itu, dia membuka walk in closet dan mencari baju ganti yang sesuai untuk kekasihnya.


Arcelio sempat tersenyum saat membuka rak pakaian dalam. Dia memilih satu pasang, sebelum beralih ke lemari baju. Dia mengambil piyama secara acak dari tumpukan, hingga tanpa sengaja dirinya menjatuhkan selembar foto yang terselip di antara baju-baju tadi.


Arcelio memungut foto tersebut dan memperhatikannya. Seulas senyuman menawan tersungging dari wajah pria itu. Samantha ternyata masih menyimpan foto mereka berdua, ketika baru berkenalan beberapa tahun yang lalu.