SECOND LOVE

SECOND LOVE
Dua Gadis Kecil



Arcelio seketika berdiri, melihat sosok yang telah meninggalkannya tanpa kabar beberapa tahun silam. Sulit dipercaya, ketika dirinya sudah membulatkan tekad untuk melangkah meninggalkan masa lalu, dia justru dipertemukan kembali dengan bayang-bayang indah yang selalu mengusiknya tersebut.


“Mama!” panggil gadis kecil berambut gelap, yang tadi bermain dengan Aurora. Anak itu berlari ke arah wanita yang berdiri terpaku menatap Arcelio.


“Mama?” Arcelio menggumam pelan, lalu tersenyum kelu. “Kau sudah menjadi ibu, Samantha?” Arcelio tak percaya, bahwa dirinya akan menyebutkan nama itu di hadapan orangnya langsung.


Samantha masih berdiri terpaku dengan raut tak percaya. Terlebih, setelah Aurora mendekat kepada Arcelio. “Apa kita akan pulang sekarang, Papa?” tanya gadis kecil itu.


“Papa?” Kini, giliran Samantha yang memasang mimik seperti Arcelio tadi. Namun, belum sempat dirinya melanjutkan kata-kata, suara lain lebih dulu menyela.


“Kita pulang sekarang … astaga! Arcelio?” Arcelio dan Samantha seketika menoleh, ketika sosok Pierre mendekat kepada mereka. “Baru sehari di Paris, dan kau sudah berjalan-jalan hingga kemari,” ujar pria berambut pirang itu seraya merengkuh pundak Samantha. “Bagaimana bisa kebetulan seperti ini?” pikirnya.


“Jadi, ini yang kau ceritakan padaku tadi siang?” Arcelio segera menguasai diri. Dia bersikap biasa saja. Senyuman kalem terlukis di paras tampan pelukis berambut gondrong tersebut. Arcelio mengalihkan perhatian kembali pada Samantha. “Hai. Namaku Arcelio Lazzaro. Aku adalah teman lama Tuan Pierre Laurent. Ini putriku. Namanya Aurora Stellina Lazzaro ….”


“Ini anjingku. Namanya Ollie,” sela Aurora ramah. Dia tersenyum manis kepada Samantha. Sementara, Arcelio hanya tersenyum seraya mengelus pucuk kepala gadis kecilnya.


Akan tetapi, raut wajah Samantha tampak begitu tegang saat melihat Aurora. Kembali terbayang olehnya wajah eksotis Delanna, yang begitu melekat dalam paras menggemaskan gadis kecil itu. Samantha hanya menyunggingkan senyuman kecil. “Aku Samantha Bellucci. Ini putriku Beatrice Chrislaure ….”Samantha tidak melanjutkan menyebut nama belakang putrinya. Terlebih, karena anak itu lebih dulu menyela.


“Panggil aku Chrissy.” Gadis kecil yang terlihat sangat lincah itu sedikit maju. Dia mendekati Arcelio, lalu menyodorkan tangan mungilnya.


“Hai, Chrissy. Namaku Arcelio,” ucap Arcelio memperkenalkan diri. Pria tampan itu membungkuk, kemudian menyambut dan mencium punggung tangan Chrissy selayaknya memperlakukan wanita dewasa dengan sopan.


Melihat hal itu, Samantha hanya terpaku. Wanita yang terlihat semakin cantik, dengan rambut pirang bercahaya tersebut menyunggingkan senyuman kelu, diiringi sorot mata yang sulit diartikan.


“Hey, Sayang.” Pierre yang melihat sikap aneh Samantha, tiba-tiba mencium pipi ibu satu anak tersebut untuk mencairkan suasana. Setelah itu, dokter spesialis anak tadi tertawa pelan. Sekali lagi, dia mengecup pipi mantan aktris ternama Italia tersebut.


Adegan manis itu tak luput dari perhatian Arcelio, yang memang berada tepat di hadapan pasangan kekasih tadi. Arcelio sempat menahan napas untuk mengurangi rasa perih yang tiba-tiba menyerang dadanya. Pria dengan gaya rambut man bun tersebut kembali tersenyum kalem. Dia tetap bersikap tenang, walaupun dalam hatinya kepanasan seperti berada di dalam neraka.


Sementara, Samantha terus memperhatikan sikap serta bahasa tubuh Arcelio. Setitik rasa kecewa hadir, saat melihat bahwa Arcelio sama sekali tampak tidak terganggu dengan kemesraannya bersama Pierre. Samantha dapat memastikan, bahwa mantan tunangannya tersebut sudah hidup berbahagia bersama Delanna.


“Papa, kenapa kita diam saja di sini?” Aurora memecahkan suasana canggung dengan menarik-narik celana Arcelio.


“Ah, iya. Maafkan aku, Sayang," ucap Arcelio.


"Aku harus pulang sekarang. Putriku sudah lelah. Sepertinya dia kelaparan,” pamit Arcelio diiringi senyuman. Sesekali, akor matanya mengarah kepasa Chrissy yang tak bisa diam. Gadis kecil itu mencolek-colek Ollie sambil tertawa cekikikan.


“Kenapa kita tidak pulang bersama-sama saja? Sekalian aku akan mengantar Sam pulang,” ujar Pierre.


“Memangnya, kekasihmu tinggal di mana?” tanya Arcelio dengan dada berdebar.


“Di gedung apartemen yang sama dengan tempat tinggalmu. Aku sengaja memilihkan apartemen yang tak jauh dari tempat tinggal Sam. Dengan begitu, akan jauh lebih mudah bagiku untuk mendatangi teman, sekaligus mengunjungi kekasihku,” jawab Pierre diakhiri tawa lebar.


“Kita pulang sambil jalan kaki saja. Lagi pula, letak gedungnya tak begitu jauh,” cetus Pierre.


“Lihatlah! Putrimu dan calon putriku sudah terlihat sangat akrab,” tunjuknya pada dua gadis kecil yang berjalan mendahului mereka. Dokter muda itu bicara sembari merengkuh pinggang ramping Samantha, bertepatan dengan Chrissy yang menoleh ke belakang.


“Jangan sentuh ibuku seperti itu, Paman! Aku tidak suka! Menjauhlah darinya!" larang Chrissy dengan nada bicara yang sedikit nyaring.


“Hentikan, Chrissy! Jangan bersikap tidak sopan seperti itu,” tegur Samantha.


“Sudahlah. Tidak apa-apa, Sayang." Pierre tersenyum kecut melihat penolakan Chrissy secara terang-terangan. Mereka akhirnya berjalan dalam kebisuan, sampai Arcelio tiba lebih dulu di depan apartemennya.


"Lihat itu, Arcelio. Nomor 472 adalah tempat tinggal kekasihku," tunjuk Pierre ke pintu apartemen yang berjarak hanya satu ruangan saja dari apartemen Arcelio.


"Ah, baiklah." Arcelio tersenyum sambil terus berjuang memendam perasaan tak karuan, yang sejak tadi menderanya.


"Aku ...." Pierre tak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba telepon genggam pria berambut pirang itu berdering. "Astaga. Aku mendapat panggilan dari rumah sakit. Aku harus pergi," ujarnya seraya berbalik ke arah Samantha. Pierre mencium wanita cantik yang masih berdiri di sampingnya tersebut. Dia sama sekali tak peduli, meskipun Chrissy memandangnya dengan sorot protes.


"Aku pergi dulu. Kutitipkan dua bidadari cantik ini padamu, Arcelio." Pierre melangkah tergesa-gesa sambil melambaikan tangan. Sesaat kemudian, dia menghilang di balik pintu lift meninggalkan Arcelio dan Samantha yang masih terpaku di tempatnya masing-masing.


"Apa kabarmu, Sayang ... um ... maksudku, Nona Belucci?" Arcelio tergagap. Dia merutuki diri sendiri di dalam hati, karena salah memanggil Samantha. "Ma-maaf, aku dulu terbiasa memanggilmu dengan sebutan itu," ucapnya terbata.


"Tidak apa-apa." Samantha mengangguk. Dia hendak berlalu menuju apartemennya. "Ayo, Chrissy," ajak Samantha. Sementara, Chrissy malah asyik bermain bersama Aurora dan Ollie.


Arcelio terpaku beberapa saat. Ada dorongan kuat dalam dirinya, untuk mencegah agar wanita itu tak pergi ke manapun. "Wajah Chrissy begitu mirip denganmu. Berapa usianya?" tanyanya.


Samantha tak langsung menjawab. Dia menatap tegang ke arah Arcelio. "Empat bulan lalu, putriku berulang tahun yang kelima," jawabnya beberapa saat kemudian.


"Kebetulan sekali. Aurora juga berulang tahun yang kelima, lima bulan yang lalu," sahut Arcelio. "Putriku dan putrimu hanya selisih sebulan saja," desisnya.


"Kau tak perlu memamerkan kehidupanmu yang bahagia bersamanya, Arcelio!" sentak Samantha sambil mundur beberapa langkah. Sontak suara kencang wanita cantik itu menarik perhatian dua gadis kecil yang asyik bermain bersama anjing.


"Di mana dia? Apa kau datang bersamanya?" tanya Samantha dengan tubuh gemetaran, saat mengingat sosok Delanna. Namun, dia langsung menguasai diri, saat menyadari bahwa Aurora dan Chrissy memperhatikannya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Nona Belucci," ujar Arcelio kalem. "Kita sedang membahas umur putrimu. Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanyanya lembut.


"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu. Aku juga tidak peduli! Ayo, Chrissy!" Samantha menarik paksa lengan Chrissy, lalu membawa anak itu.


"Apakah dia putriku, Sam?" tanya Arcelio setengah berseru, karena Samantha sudah membuka pintu ruang apartemennya dan hampir masuk.


Samantha menoleh, tapi tak memberikan jawaban apapun.