
Arcelio mengembuskan napas pelan. Dalam hati, pria itu bersorak riang atas apa yang dilakukan Samantha. Namun, dirinya tak boleh berlebihan. Lagi pula, tak ada alasan yang membenarkannya untuk bersikap demikian. Arcelio tetap memperlihatkan sikap biasa saja. Akan tetapi, niat untuk melupakan serta membuang jauh bayangan Samantha, harus tergoda oleh seporsi makanan dalam piring keramik putih.
Arcelio tersenyum kalem, seraya menoleh kepada Brigitte yang berdiri tak jauh darinya. “Terima kasih, Nona Corbert. Tugasmu sudah selesai untuk hari ini. Kau boleh pulang dan beristirahat,” ucap sang pelukis tampan yang kini sudah memiliki profesi baru, yaitu menjadi seorang dosen.
“Baiklah, Tuan. Jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, aku permisi dulu. Besok aku datang lagi kemari pukul delapan untuk les privat Aurora.” Brigitte tersenyum manis. Dia mengarahkan perhatiannya kepada Aurora, yang tengah sibuk bermain jari bersama Chrissy. “Aku pulang dulu, Nona-nona,” pamitnya dengan sikap yang teramat ramah. Brigitte melambaikan tangan sebelum pergi dari sana.
Aurora dan Chrissy menoleh serempak. Mereka tersenyum seraya membalas lambaian tangan dari sang pengasuh, yang kemudian berlalu dari ruang makan. Setelah Brigitte tak terlihat lagi, kedua gadis kecil tadi kembali melanjutkan permainan. Mereka tertawa cekikikan, meski tak jelas hal apa yang dirasa lucu.
Sesaat, Arcelio begitu asyik memperhatikan tingkah kedua gadis kecil yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Mereka tampak sangat akrab, padahal baru bertemu beberapa kali. Selain itu, bahasa keduanya pun kerap saling bertabrakan. Bisa jadi, karena ikatan batinlah yang mungkin membuat mereka menjadi seperti itu.
Arcelio terlalu asyik memperhatikan kedua gadis kecil tadi, hingga dia lupa dengan rasa lapar yang sempat mempermalukan dirinya. Tiba-tiba, terlintas pikiran untuk menemui Samantha. Arcelio bangkit dari tempat duduk. Dia berpesan kepada Aurora dan Chrissy, bahwa dirinya akan keluar sebentar menemui wanita itu. Arcelio beralasan hendak meminta izin, agar Chrissy diperbolehkan menginap di sana.
Chrissy setuju. Gadis kecil berambut gelap itu melonjak kegirangan. “Katakan juga pada ibuku agar tidak menjemput kemari, karena aku sudah dewasa dan bisa pulang sendiri,” pesannya, sebelum Arcelio pergi.
Arcelio menggaruk keningnya. Dia tersenyum kalem. “Tentu, Nona Chrissy,” sahut pria itu. Arcelio mengalihkan perhatian kepada Aurora. “Tetap di tempatmu, Sayang. Jangan ke manapun sampai aku kembali. Aku akan ditangkap polisi jika kalian sampai membuat keonaran di sini,” pesannya tegas.
“Iya, Papa,” sahut Aurora.
Arcelio percaya pada putri Delanna tersebut, karena Aurora memiliki karakter yang tenang dan penurut. Gadis kecil itu terbiasa dengan peraturan ketat yang diterapkan olehnya.
Sementara, dia belum tahu seperti apa cara Samantha dalam mendidik Chrissy.
“Pesan tadi berlaku untuk kalian berdua,” tegas Arcelio lagi. Sebelum keluar, dia memberikan kertas dan crayon kepada Aurora dan Chrissy. Tujuannya adalah agar kedua anak itu memiliki kesibukan. Setelah dirasa cukup, Arcelio keluar untuk menemui Samantha. Tak perlu menunggu lama hingga wanita itu membuka pintu.
“Kupikir kau tidak akan pulang, Chrissy,” ucap Samantha sembari membuka pintu cukup lebar. Raut wajah wanita cantik itu seketika berubah, ketika mendapati Arcelio lah yang berdiri di depan ruang apartemennya. “Kau?” Samantha menatap aneh kepada pria tampan tersebut. Dia sempat melongok ke luar, memastikan keberadaan putrinya. “Di mana Chrissy?” tanya mantan aktris terkenal Italia itu.
“Chrissy sedang menggambar bersama Aurora,” jawab Arcelio kalem. “Aku kemari untuk meminta izin padamu,” ucap pria itu lagi.
“Meminta izin untuk apa?” tanya Samantha seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Rencananya, malam ini kami akan berkemah di tempatku. Chrissy sudah setuju dan sangat antusias akan hal itu. Aku mohon dengan kerendahan hatimu, agar mengizinkannya menginap bersamaku malam ini. Aku janji tak akan mengatakan apapun, atau mencoba memengaruhi pikiran Chrissy dengan sesuatu yang kuinginkan tapi tidak kau kehendaki,” ujar Arcelio tetap terlihat tenang, meskipun raut wajah Samantha sudah menyiratkan keberatan yang sangat besar.
“Astaga! Anak itu!” gerutu Samantha pelan. Dari gerak bibirnya, terlihat jelas bahwa dia merasa gemas dengan sang putri.
“Satu lagi.” Arcelio kembali berbicara, “terima kasih untuk makanan yang kau kirimkan tadi.”
Samantha melipat kedua tangan di dada. Dia memasang ekspresi yang seakan mencibir Arcelio. “Makanan? Oh! Jangan salah paham, Tuan Arcelio Lazzaro. Aku mengirimkan makanan itu, karena Chrissy ada di sana. Dia tidak pulang saat makan siang. Sampai sekarang pun putriku masih di sana bersama anak dari hasil perselingkuhanmu!” Nada bicara Samantha mulai ketus. Kata-kata yang dilontarkannya pun tidak enak untuk didengar.
Arcelio yang tadinya bersikap tenang, mulai bereaksi. Dia maju beberapa langkah, sehingga makin mendekat kepada Samantha yang berdiri di ambang pintu. Sorot mata Arcelio menunjukkan rasa kecewa yang luar biasa. “Ini bukan dirimu, Samantha Bellucci,” ucapnya.
“Apa maksudmu?” Samantha memalingkan muka, karena Arcelio terus menatapnya. Bagaimanapun juga, dia tak ingin terlarut dalam sorot mata yang dulu selalu memandangnya penuh cinta.
“Dengarkan aku, Nona Bellucci.” Arcelio berkata dengan penuh penekanan. “Kau boleh menghinaku sepuas hatimu. Aku juga tak akan membela, jika kau begitu membenci ibunya. Namun, aku tak tak terima apabila Aurora harus disangkut-pautkan dengan kesalahanku dan Delanna. Anak itu suci. Dia adalah pancaran cahaya, di saat aku kehilangan arah dan terpuruk dalam kegelapan. Aurora merupakan teman yang selalu menghiburku dalam kesendirian serta rasa sepi.”
Samantha terdiam. Tatapannya kali ini menyiratkan rasa tidak nyaman atas ucapan Arcelio. Namun, wanita cantik itu tak menanggapi sama sekali.
“Seandainya kau tahu kesulitan yang kualami saat harus merawat Aurora, dari semenjak usianya baru beberapa bulan. Kau mengeluh karena menjalani kehamilan dan melahirkan sendiri tanpa kutemani. Seandainya kau tidak pergi, maka aku akan lebih mengutamakanmu. Namun, ketahuilah bahwa aku juga menjadi ayah tunggal selama lima tahun ini. Aku merawat Aurora seorang diri.” Arcelio tampak begitu emosional, saat menuturkan hal itu di hadapan Samantha.
“Kenapa? Memangnya, ke mana istrimu?” tanya Samantha ketus.
“Istri? Istri yang mana?” Arcelio tersenyum kelu. “Asal kau tahu, Nona Bellucci. Aku dan Delanna tidak pernah terikat pernikahan! Aku hanya bertanggung jawab memberikan yang terbaik selama dia menjalani kehamilan, karena Delanna mengandung anakku! Tidak lebih dari itu! Selama sembilan bulan, aku tak pernah menyentuhnya sama sekali! Delanna menyerahkan Aurora padaku, sebelum dia kembali ke Puerto Rico dan tak pernah kembali hingga saat ini!” tegas Arcelio.
“Siapa yang tahu bahwa kau pergi dalam kondisi tengah hamil? Kedua orang tuamu bahkan tak pernah mengatakan apapun padaku. Lalu, bagaimana caranya aku bisa mempertanggungjawabkan anak yang kau kandung? Karena itulah Nona Bellucci, berikan aku kesempatan untuk menebus segalanya.”
Samantha terpaku tanpa mengatakan apapun. Dia mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang mengganggu pikirannya tadi siang. Jawaban itu bahkan langsung didapatkan dari Arcelio. Sumber yang dapat dipercaya. Walaupun Arcelio pernah mengkhianatinya, tapi Samantha mengenal pria tampan tersebut dalam waktu yang terbilang lama.
Samantha terlihat kikuk. Baru saja wanita itu akan menanggapi, sang mantan aktris cantik tadi harus mengurungkan niat tersebut. Pasalnya, dia mendengar suara Pierre yang menegur mereka berdua.
"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"