
Samantha segera memanggil Chrissy. Dia mengajak sang putri untuk kembali ke atas. Walaupun Chrissy terlihat kurang suka dan seperti ingin membantah, tapi anak itu tetap menuruti ucapan sang ibu.
"Aku masih ingin bermain di bawah bersama Aurora, Bu." Chrissy sedikit merengek, ketika Samantha menuntunnya menuju lift.
"Ibumu sudah lelah, Nak," sahut Pierre. Dia juga tak mengerti, karena Samantha tiba-tiba bersikap seperti itu. Padahal, wanita cantik tersebut awalnya sangat menikmati festival tadi.
"Sebaiknya kau pulang saja, Pierre. Aku ingin beristirahat," ucap Samantha setelah tiba di depan ruang apartemennya.
"Baiklah, Sayang. Jaga kesehatanmu," ucap Piere sebelum berpamitan. Dia sempat mencium Samantha sebentar.
Samantha duduk sambil bersandar pada kepala tempat tidur. Pikirannya melayang pada beberapa tahun silam, di mana dia menjalani kisah cinta yang indah bersama Arcelio. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, untuk merajut jalinan asmara dalam dunianya yang penuh godaan. Namun, Samantha dan Arcelio apat menjalani hubungan mereka dengan manis.
“Arcelio.” Samantha menyebut nama itu penuh perasaan. Suaranya terdengar begitu lirih. “Seandainya aku tidak pergi, apa kau akan menjadi milikku?” Pertanyaan yang sangat terlambat dan mungkin tak dapat dijawab siapa pun.
Setitik butiran bening yang tadinya hanya menggenang di pelupuk mata, terjatuh membasahi pipi. Dengan segera, wanita cantik itu menyekanya.
Sekian tahun berlalu, Samantha masih seringkali meratapi kehancuran hati karena tak rela melepaskan kekasih tercinta. Begitu besar perasaan yang diberikan Samantha untuk Arcelio, membuatnya kesulitan melupakan segala hal yang berkaitan dengan pelukis tampan berambut gondrong tersebut. Samantha bahkan masih dapat mengingat seperti apa aroma tubuh pria pujaan hatinya, meskipun saat ini dia telah memiliki Pierre yang tak kalah tampan.
“Ibu!” panggil Chrissy nyaring. Dia masuk ke kamar sambil berlari. Anak itu langsung naik ke tempat tidur. “Apa Ibu tahu bahwa Aurora sudah bisa bicara Bahasa Perancis?” tanya anak itu polos.
Aurora? Mendengar nama anak itu, ingatan Samantha langsung tertuju kepada Delanna. Rasa marahnya kembali hadir. Terbayang oleh Samantha, ketika Arcelio bercinta dengan sang wedding planner tersebut, meskipun dirinya tak pernah menyaksikan secara langsung.
“Tidak. Memangnya kenapa?” Samantha berusaha menepiskan kegundahannya di hadapan sang anak.
“Aurora akan bersekolah denganku. Paman berambut gondrong yang mengatakannya,” ujar Chrissy lagi.
Namun, Samantha tak berniat menanggapi pembahasan tentang putri Delanna tersebut. Wanita itu belum bisa berdamai dengan segala rasa sakitnya.
Untung saja, saat itu telepon genggamnya berdering. Nada panggilan khusus dari nomor Pierre masuk ke sana. Samantha segera menjawab panggilan tersebut. “Hallo,” sapanya pelan.
“Hallo, sayang. Aku tadi lupa memberitahumu?” ucap Pierre lembut.
“Tentang apa?” tanya Samantha.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Apa kau lupa bahwa hari ini ibuku berulang tahun? Kami mengadakan acara sederhana untuk merayakannya,” jawab Pierre.
“Astaga!” Samantha terkesiap. Dia baru ingat dengan hal itu. “Maafkan aku, Pierre. Aku benar-benar lupa,” ucap Samantha penuh sesal. “Ya, Tuhan. Aku juga belum menyiapkan hadiah untuk ibumu. Bagaimana ini?” Samantha turun dari tempat tidur. Dia mondar-mandir tak karuan.
Sementara, Chrissy memperhatikannya dengan mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan sesuai gerakan sang ibu.
Setelah mengakhiri panggilan tadi, Samantha bergegas mengambil tasnya. Dia mengajak Chrissy agar ikut dengannya. Samantha hendak ke luar mencari sesuatu yang akan dijadikannya sebagai kado.
“Kita akan ke mana, Bu?” tanya Chrissy, saat sang ibu memakaikannya topi.
“Kita akan berjalan-jalan, Chrissy,” jawab Samantha. Dia keluar dari ruang apartemennya dengan terburu-buru. Sebelum memasuki lift, Arcelio dan Aurora muncul. Mereka akan memakai lift yang sama.
“Hai, Chrissy,” sapa Aurora hangat. Namun, dia segera diam dan semakin merapatkan tubuh kepada sang ayah, ketika Samantha ikut menoleh padanya.
“Kemarilah, Aurora,” ajak Chrissy. Akan tetapi, Aurora menggeleng. Dia tak melepaskan genggaman tangannya dari Arcelio yang segera menggendongnya masuk ke lift. Arcelio baru menurunkan anak itu setelah berada di dalam.
“Kau mau ke mana?” tanya Chrissy yang berdiri di depan Aurora.
“Papa mengajakku jalan-jalan,” jawab Aurora seraya menoleh kepada sang ayah, yang membalasnya dengan senyuman.
“Kau sendiri mau ke mana, Chrissy?” tanya Arcelio.
“Ibu mengajakku jalan-jalan, Paman,” jawab Chrissy. Dia menoleh kepada Samantha. Namun, wanita itu tetap menatap ke depan. Samantha tampaknya tidak berminat untuk terlibat dalam perbincangan ringan tersebut. Dia bahkan langsung menuntun Chrissy keluar dari lift, ketika pintunya telah terbuka. Setelah keluar dari gedung apartemen itu, dia dan Arcelio mengambil arah yang berbeda.
Samantha dan Chrissy baru turun dari taksi yang mengantarkan mereka hingga ke halaman kediaman mewah Keluarga Laurent. Dengan langkah anggun berbalut ankle strap heels berwarna silver, Samantha menuntun Chrissy memasuki bangunan megah dua lantai itu. Dia berjalan mengikuti pelayan yang menyambutnya, menuju ruangan di mana telah berkumpul anggota Keluarga Laurent yang lain.
Namun, langkah percaya diri Samantha seketika terhenti, ketika dirinya melihat sosok yang tak diduga akan hadir juga di sana. Ya. Arcelio membawa serta Aurora menghadiri acara makan malam, untuk merayakan ulang tahun ibunda Pierre.
“Hai, Sayangku,” sambut Pierre. Dia mencium pipi kiri dan kanan Samantha, meski Chrissy langsung mendelik tak setuju ke arahnya. Anak itu bahkan langsung mendorong mundur Pierre, yang bermaksud mencium bibir sang ibu.
“Ah, rupanya Chrissy masih menjadi penjaga setia bagi Samantha,” celetuk Adrianne, adik bungsu Pierre.
“Aku tidak akan menyerah,” balas Pierre. Dia tak menanggapi serius celetukan sang adik. “Kau dengar itu, Chrissy sayangku? Aku akan tetap berusaha mendapatkan hatimu,” ucap dokter spesialis anak tersebut, yang justru berbalas ejekan dari Chrissy. Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya kepada Pierre.
“Jaga sikapmu, Chrissy,” tegur Samantha. Namun, sang putri tak menggubrisnya. Dia lebih tertarik duduk di dekat Aurora, lalu bermain dengan putri Arcelio tersebut.
Perbincangan ringan dan hangat berlangsung di ruangan itu. Arcelio yang memang mengenal Keluarga Laurent, sesekali menimpali percakapan. Namun, dia lebih sering mencuri pandang kepada Samantha yang malam itu terlihat sangat cantik.
Rupanya, Samantha pun demikian. Sesekali, dia melihat kepada Arcelio. Tak jarang, tatapan mereka saling bertemu. Jika hal itu terjadi, keduanya langsung saling menghindar dengan cara mengalihkan perhatian ke arah lain. Namun, tak berselang lama mereka kembali saling beradu pandang meski hanya sekilas.
Adegan seperti itu terus berlangsung hingga ke meja makan. Kenyataannya, Arcelio tak dapat mengalihkan perhatian dari sosok cantik bergaun merah. Kebetulan, Samantha duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya.
Sikap Arcelio yang terus mencuri-curi pandang terhadapnya, tentu saja membuat Samantha menjadi salah tingkah. Dia terlihat gelisah dan menjadi tidak dapat berkonsentrasi. Hal itu terus dirasakannya, hingga acara makan malam berakhir. Aurora dan Chrissy sudah merengek minta pulang.
“Kuantar kalian pulang sekalian,” ucap Pierre. Dia sudah bersiap dengan kunci mobil.
“Tidak usah, Kawan. Aku bisa pulang dengan taksi,” tolak Arcelio halus.
“Jangan begitu, Arcelio. Tujuan kita sama.” Pierre tetap memaksa agar Arcelio ikut ke dalam mobilnya.
“Pierre benar, Arcelio. Lagi pula, kasihan putrimu jika harus menunggu taksi.” Ibunda Pierre turut berkomentar. Membuat Arcelio tak kuasa menolak. Dia pun setuju.
Arcelio duduk di jok belakang bersama Chrissy dan Aurora. Sedangkan, Samantha di jok depan dengan Pierre. Selama berada di perjalanan, Pierre sering sekali melakukan kontak fisik terhadap Samantha.
Sepertinya, Pierre sangat tergila-gila kepada Samantha. Dia tak merasa canggung saat memegang tangan wanita itu, lalu mengecupnya mesra sambil terus mengemudi. Inilah mengapa Arcelio tak ingin menumpang mobil milik sahabat lamanya tersebut.
Sekitar dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di gedung apartemen tempat tinggal Samantha dan Arcelio. Pierre mengantar kekasihnya hingga masuk. Sedangkan, Arcelio langsung ke ruang apartemennya, karena Aurora sudah tertidur lelap.
Arcelio membaringkan tubuh mungil Aurora di tempat tidur dengan hati-hati. Dia sempat menemani sang putri untuk beberapa saat. Namun, bayangan pria itu terus tertuju kepada Samantha, sehingga Arcelio merasa gelisah. Pria tampan tersebut lalu beranjak dari tempat tidur. Sebelum keluar kamar, dia sempat mengecup kening Aurora. “Tidur yang nyenyak, Sayang,” bisiknya lembut.
Setelah menyalakan lampu tidur, Arcelio mematikan lampu utama. Pria itu berjalan sambil melipat lengan kemeja yang belum sempat diganti, hingga menjadi tiga per empat. Dia keluar dari apartemennya. Arcelio melangkah gagah dan penuh percaya diri menuju tempat Samantha.
Dua kali ketukan di pintu, cukup membuat si pemilik ruangan itu untuk membukanya. Tanpa banyak bicara, Arcelio merangsak masuk, lalu menutup pintu rapat-rapat. Dia tak peduli meskipun Samantha menatap protes. Pria itu mendorong pelan tubuh indah Samantha yang juga belum sempat berganti pakaian, hingga merapat ke dinding.
“Jangan kurang ajar, Arcelio!” sergah Samantha. Dia berusaha mendorong tubuh tegap Arcelio agar menjauh darinya.
“Aku tidak akan bersikap kurang ajar padamu, Sam. Aku kemari hanya untuk membuktikan sesuatu,” balas Arcelio dengan napas yang menghangat di wajah Samantha.
“Membuktikan apa?” tanya Samantha yang tengah berusaha menetralkan perasaan tak karuan dalam dada. Sekian lama, dia tak berdekatakan lagi dengan mantan tunangannya tersebut. Samantha tak tahu bahwa getaran itu ternyata masih ada dan terasa begitu hebat.
“Matamu, Sayang. Aku melihatnya. Tatapanmu masih sama seperti dulu. Apakah itu artinya ….”
“Jangan berpikir macam-macam, Arcelio!” sela Samantha dengan segera. Dia membantah ucapan Arcelio dengan tegas, meskipun di relung hati terdalam berkata sebaliknya.
“Jangan berbohong, Samantha Bellucci. Aku sangat mengenalmu dengan baik. Aku tahu makna dari setiap bahasa tubuh yang kau tunjukkan. Kau tak akan bisa mengelabuiku dengan kata-kata penolakan seperti tadi,” tegas Arcelio penuh penekanan. Arcelio merengkuh pinggang ramping Samantha, lalu menariknya hingga semakin merapat.
“Lepaskan aku, Arcelio!” Samantha berontak. Dia berusaha melepaskan diri. Namun, lama-kelamaan wanita itu terdiam. Samantha tidak berkutik lagi, ketika bibirnya kembali merasakan betapa manis dan lembut perlakuan seorang Arcelio Lazzaro.