SECOND LOVE

SECOND LOVE
Memulai dari Awal



Arcelio duduk terpekur di kursi dekat balkon apartemennya. Dia menopang kepala menggunakan kedua tangan. Helaan napas berat berkali-kali meluncur dari bibir berkumis tipis pria tampan tersebut. Arcelio tak pernah menyangka, bahwa kehidupannya akan kembali ditimpa masalah seperti lima tahun silam.


“Kau belum tidur?” Suara lembut Samantha terdengar bersamaan dengan sentuhan tangannya di pundak Arcelio.


Arcelio mengangkat wajahnya, lalu menoleh. Ayah dua anak itu tersenyum lembut, sembari menyentuh punggung tangan Samantha yang masih berada di pundak. Dia menarik tangan itu perlahan, agar mendekat padanya.


Samantha menurut. Wanita cantik tersebut berjalan ke hadapan Arcelio, tanpa melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. Dia lalu duduk di pangkuan pria yang telah berhasil meraih cintanya kembali. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Samantha seraya duduk menyamping di paha sebelah kiri Arcelio. Ibunda Chrissy tersebut membelai rambut gondrong sang pujaan hati.


“Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak punya pekerjaan lagi di sini. Aku datang kemari karena tawaran menjadi dosen.” Arcelio mengembuskan napas panjang.


“Kenapa kau sebimbang ini, Arcelio? Biasanya, kau selalu tenang dalam menghadapi masalah,” ujar Samantha heran.


“Tidak lagi, Sayangku,” bantah Arcelio diiringi gelengan pelan. “Aku bukan Arcelio yang dulu. Semenjak melakukan tindakan-tindakan konyol saat dilanda cemburu buta terhadapmu, aku sudah kehilangan semua ketenangan itu.”


“Tidak mungkin, Arcelio. Karakter yang sudah melekat pada diri seseorang, akan tetap menjadi milik orang itu. Kau mungkin bisa berpura-pura atau terpengaruh banyak hal. Akan tetapi, aku yakin bahwa sifat aslimu masih tetap ada dan melekat di sini.” Samanta meletakkan telapak tangannya di dada Arcelio.


Arcelio menatap penuh cinta kepada wanita cantik berambut pirang di hadapannya. Satu janji terpatri dalam hati, bahwa dia tak akan pernah melepaskan lagi wanita itu apapun alasannya. “Kau sangat mengenalku, Sayang,” ucap Arcelio lirih.


“Kita sudah saling mengenal, Tuan Lazzaro,” balas Samantha. Dia tersenyum lembut, kemudian menangkup paras tampan ayah dari putrinya. “Kau ingin memulai semua dari awal?” tawar Samantha.


“Ya, tentu,” balas Arcelio seraya mengangguk yakin.


Samantha kembali tersenyum. Dia masih belum menyingkirkan tangannya dari wajah berhiaskan bulu-bulu halus di sekitar dagu Arcelio. “Kalau begitu, mari kita mulai semua dari awal. Aku, kau, dan kedua putri kita,” ucap Samantha.


Arcelio menatap tak percaya kepada Samantha. Sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa, ketika mendengar ucapan manis dari Samantha. “Kau … kau bersedia menerima Aurora?” tanya Arcelio memastikan. Nada pertanyaannya menyiratkan rasa tak percaya.


Samantha mengangguk yakin. Dia kembali tersenyum, lalu mengecup lembut bibir Arcelio. “Tak ada alasan bagiku untuk terus memusuhi anak itu. Makin lama, aku semakin menyadari banyak hal. Maafkan aku, Arcelio.” Samantha melingkarkan tangan di leher sang pelukis tampan. Sementara, Arcelio membalas dengan memeluk erat wanita yang selama ini selalu menjadi ratu di dalam hatinya.


“Aku mencintaimu, Samantha Bellucci. Aku sangat mencintaimu,” ucap Arcelio lirih.


“Kau sudah tahu seperti apa perasaanku, Arcelio. Jadi, aku tak perlu mengatakannya lagi,” balas Samantha pelan.


Keesokan harinya, Samantha tampak merapikan pakaian serta barang-barang penting lain ke dalam koper. Sebelum itu, dia sudah membereskan barang-barang milik Chrissy.


“Apa kita akan pergi ke tempat paman, Bu?” tanya Chrissy. Gadis kecil itu naik ke tempat tidur, lalu duduk dan memperhatikan sang ibu yang baru selesai mengemasi barang.


“Ya, Chrissy. Apa kau senang jika kita tinggal bersama di sana?” Samantha menoleh sesaat kepada putrinya, lalu tersenyum sambil menurunkan koper tadi ke lantai.


“Aku senang! Aku suka, Bu!” seru Chrissy sambil melompat kegirangan di kasur. “Itu artinya, aku bisa bermain dengan Aurora dan Ollie sampai lama. Lama sekali.” Chrissy membentangkan kedua tangannya ke samping hingga benar-benar lurus.


Samantha kembali tersenyum sambil mengangguk. Dia memberi isyarat agar anak itu turun dari tempat tidur. “Ayo. Kita harus segera ke tempat Aurora. Dia pasti sudah menunggumu.” Samantha menggeret koper berukuran besar miliknya dengan satu buah tas jinjing menggunakan tangan kanan. Sementara, tangan kiri menarik koper berukuran lebih kecil milik Chrissy. Dia berjalan keluar dari ruang apartemen, yang sudah ditempatinya selama lima tahun lebih.


Helaan napas berat mengiringi langkah anggun Samantha, setelah wanita itu mengunci pintu apartemen tadi. Dia menuju ruang apartemen yang ditempati Arcelio. Samantha membawa keyakinan dalam dirinya, bahwa kali ini dia mengambil keputusan yang tepat.


“Kau sudah siap, Sayangku?” tanya Arcelio saat menyambut kehadiran Samantha di sana.


“Aku harus siap, Arcelio. Kita sudah mengambil keputusan semalam. Aku tak akan mundur lagi,” jawab Samantha yakin.


Arcelio tersenyum kalem. Dia mengelus lembut pipi Samantha, lalu menciumnya beberapa saat. Sementara, Aurora dan Chrissy hanya saling pandang, karena tak memahami apa yang orang tua mereka lakukan. Namun, kedua gadis kecil itu terlihat sangat ceria, ketika Arcelio mengajak mereka keluar dari sana.


“Memangnya Ibu sudah tidak takut naik pesawat lagi?” tanya Chrissy polos, ketika Arcelio mengatakan bahwa mereka akan berjalan-jalan ke luar negeri dengan menaiki pesawat.


“Tentu saja tidak, Chrissy. Sakit kepalaku sudah hilang. Jadi, aku bisa pergi ke manapun dengan leluasa,” jawab Samantha.


Obrolan ringan terus mengalir sepanjang perjalanan menuju bandara. Sekitar beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di Bandar Udara Internasional Charles de Gaulle. Arcelio sudah memesan tiket secara online semalam, untuk penerbangan menuju Italia.


Sekitar satu jam kemudian, mereka berempat telah tiba di Bandara Internasional Malpensa. Dari sana, Arcelio langsung membawa Samantha beserta kedua putrinya ke apartemen yang belum lama ditinggalkan. Di sana tak ada siapa pun, karena Adelina sudah mengundurkan diri.


“Selamat datang kembali, Sayangku. Ini Italia-mu.” Arcelio memeluk Samantha, ketika mereka baru meletakkan barang-barang. Sementara, Aurora dan Chrissy langsung berlarian, karena apartemen milik Arcelio jauh lebih luas dan mewah dibanding dengan tempat tinggal mereka saat di Paris.


“Rasanya seperti mimpi, Arcelio. Aku tidak percaya ini. Aku kembali ke Italia.” Samantha tidak dapat menahan haru. Air matanya menetes, mengiringi rasa bahagia dan sedih yang bercampur menjadi satu.


“Kita mulai semua dari awal?”


“Ya, Arcelio. Kita mulai semua dari awal,” sahut Samantha.


“Kalau begitu, persiapkan dirimu dan anak-anak. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Arcelio.


“Ke mana?” tanya Samantha penasaran.


“Nanti juga kau akan tahu,” jawab Arcelio diiringi senyum kalem. Setelah mencium Samantha, dia berlalu ke ruangan lain dari apartemennya.


Sementara, Samantha langsung mempersiapkan diri dan kedua putrinya. Ya, dia sudah mengikrarkan bahwa Aurora akan dirinya anggap sebagai putri kandung. Samantha telah menegaskan dalam hati. Dia akan memulai semua dari awal lagi.


Beberapa saat kemudian, Aurora dan Chrissy sudah berganti pakaian. Samantha juga mengepang rambut kedua gadis kecil itu dengan rapi. Ini pertama kalinya bagi Aurora, karena selama ini rambut gadis kecil tersebut hanya cukup dikuncir sederhana.


Setelah semua siap berangkat, Arcelio langsung memesan taksi online. Tak membutuhkan waktu lama, hingga mereka tiba di tempat yang dituju, yaitu kediaman milik Paolo Lazzaro. Arcelio langsung mengajak Samantha beserta kedua putrinya masuk. Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat. Seperti biasa, pelayan tadi langsung mengarahkan mereka ke ruang kerja sang pemilik rumah megah itu.


“Tunggu sebentar, Sayang,” tahan Arcelio. Dia memberi isyarat agar Samantha dan Chrissy menunggu di luar ruang kerja. Sementara, dirinya dan Aurora masuk terlebih dulu.


“Apa kabar, Ayah?” sapa Arcelio. Dia mendekat kepada Paolo, lalu memeluk pria paruh baya tersebut.


“Kau sudah kembali, Arcelio?” tanya Paolo seraya menautkan alisnya. Sekilas, dia menoleh kepada Aurora yang tersenyum sambil melambaikan tangan.


“Ya, Ayah. Aku pulang untuk meminta restu darimu. Aku akan segera menikah.” Arcelio menoleh ke pintu. “Masuklah, Sayang.”