
"Kamu bersedia menyempatkan waktumu sebentar saja, kan?" tanya Nadine penuh harap. "Aku tidak akan lama. Sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan padamu tentang Nero, kakakku."
Hati Vivi terasa berdesir mendengar nama Nero disebut baru saja. Vivi tidak dapat menggambarkan seperti apa perasaannya ketika ada seseorang yang menyebutkan nama pria itu di hadapannya. Senyum Vivi tampak sedih. Ia teringat pertemuan terakhirnya bersama Nero kala mereka bertemu di makam Azzam waktu itu.
"Bagaimana, Vivi?" Nadine menatap penuh harap.
Ia sudah jauh-jauh datang kemari. Pergi ke rumah kedua orang tua Vivi sampai satu minggu penuh hanya untuk bertemu dengan wanita di depannya. Makanya ketika berhasil menemukan Vivi setelah bersusah payah, sampai berbohong kepada dua orang satpam di rumah Vivi, Nadine tidak mau membuang kesempatannya. Ia tidak ingin semua terasa sia-sia.
"Boleh." Vivi akhirnya mengangguk setuju. "Tapi aku tidak bisa membawaku masuk ke unit apartemenku." Nadine menatap Vivi was-was. "Mungkin, akan lebih nyaman saat kita bicara sembari minum kopi?" Vivi menawarkannya kepada Nadine.
Nadine tersenyum senang. Perasaannya lega, karena Vivi tidak berusaha mengusir atau memaki dirinya.
Ada satu hal yang membuat Vivi sangat percaya kalau Nadine adalah adik perempuan Nero. Wanita itu terlihat mirip dengan sosok psikater tampan yang pernah merawat dirinya selama di rumah sakit jiwa. Bukan hanya wajahnya, bentuk matanya, bahkan saat Nadine tersenyum tipis, sangat mirip sekali dengan Nero.
Vivi merekomendasikan sebuah restoran yang tidak jauh dari gedung apartemennya berada. Vivi dan Nadine pergi ke restoran itu dengan berjalan kaki karena sangat dekat. Nadine bilang tidak masalah, asal ia diberi waktu agar bisa bicara dengan Vivi.
Di sepanjang mereka berjalan kaki di atas trotoar, kedua wanita itu sama-sama diam saja. Suasana sangat canggung walau jalanan yang mereka lewati banyak kendaraan yang lalu-lalang. Bahkan sangat bising sekali. Vivi berjalan paling depan karena ia yang tahu persis lokasi restoran yang akan mereka kunjungi.
Nadine berada di belakang punggung Vivi. Sepasang matanya tidak berhenti menatap langkah wanita di depannya. Akhirnya ia berhasil menemukan wanita itu. Apakah benar Vivi seseorang yang sudah membuat sang Kakak tidak bersedih lagi setelah kepergian Azzura dan calon bayinya?
"Kenapa kamu bengong di situ?" Vivi memutar badannya. Ia menyadari kalau Nadine setengah melamun. Sibuk dengan banyak pertanyaan di dalam kepalanya. "Restorannya sudah sangat dekat. Ayo, sebelum kita tidak menemukan tempat duduk."
"Oh, iya!" seru Nadine. Ia mempercepat langkah menghampiri Vivi.
***
"Selamat datang!" sambut seorang perlahan restoran di ambang pintu.
Nadine dan Vivi dengan kompak menganggukkan kepalanya ringan ketika disapa oleh pelayan. Benar kata Vivi, restoran yang mereka datangi sangat ramai sekali. Kursi-kursi dan meja semuanya hampir penuh. Vivi berjalan menyelinap di antara meja-meja di restoran itu. Dan akhirnya mereka menemukan satu meja kosong yang berada di paling ujung restoran.
"Kamu duduk dulu, dan pesan apa pun yang kamu inginkan." Vivi mendorong buku menu ke dekat Nadine.
Nadine melihatnya sekilas. Kedatangannya kemari bukan untuk makan atau minum. Tapi tujuan utamanya adalah berbicara dengan Vivi. Meluruskan masalah di antara Vivi dan Nero.
"Pelayan," panggil Vivi dengan menunjukkan sebuah isyarat dengan dua jarinya.
"Iya, Kak." Seorang pelayan pria mendatangi meja mereka. "Bisa saya bantu? Mau pesan apa?" Pelayan itu mengeluarkan sesuatu dari saku apron-nya.
Vivi menatap menu-menu yang ada di buku. Vivi memilih secangkir kopi dan sepotong kue. Sedangkan Nadine mengatakan hal yang sama. Sejujurnya ia bingung harus memakan apa. Karena tujuan utamanya bukan yang satu itu. Tapi menemui wanita yang kini duduk di hadapannya.
"Sudah, Kak?" tanya pelayan setelah selesai mencatat semua pesanan Vivi dan Nadine. "Atau ada tambahan lain, Kak?"
Vivi menggeleng. "Sudah cukup, Mas." Tatapannya pindah ke Nadine. "Bagaimana denganmu? Apa ada tambahan yang ingin kamu pesan?"
"Baik, Kak." Kemudian pelayan membaca ulang pesanan Vivi dan Nadine sebelum pergi. "Harap ditunggu. Kami akan segera siapkan pesanan Kakak. Terima kasih," ucapnya.
Setelah pelayan itu pergi, tinggal-lah Vivi dan Nadine yang ada di meja itu. Suasana ramai di restoran nampaknya tidak bisa menyelamatkan perasaan canggung di antara kedua wanita itu. Nadine banyak diam padahal selama ini ia selalu cerewet. Sementara Vivi sendiri, ia menunggu sampai Nadine mengungkapkan apa yang ingin dibicarakan wanita itu kepada dirinya.
"Jika aku boleh tahu, di mana kamu mendapatkan alamat apartemenku?" Vivi mengakhiri suasana canggung itu.
Nadine menjawab, "Dari satpam di rumah orang tuamu." Vivi mengangguk kecil. "Aku pergi ke sana mencarimu selama satu minggu penuh. Berharap aku bisa bertemu denganmu. Tapi kata satpam, kamu sudah tidak tinggal di sana lagi."
Ada jeda di antara kedua wanita itu. Tidak lama, karena dua detik berikutnya, Nadine kembali bicara.
"Lebih dari satu minggu Kak Nero mengurung diri di kamar. Dia tidak mau makan dan bicara kepada siapa pun," gumam Nadine.
Jantung Vivi sontak berdebar. Ia menatap Nadine lekat, mencoba mencari tahu lebih banyak lewat suara yang keluar dari mulut Nadine.
"Kak Nero layaknya zombie. Awalnya aku sempat bingung, apa yang terjadi sama Kak Nero. Kenapa dia begini lagi," ujarnya.
"Lagi?" sahut Vivi menaikkan sebelah alisnya.
Nadine mengangguk kecil. "Sebelumnya aku meminta maaf padamu. Aku tidak mengenalmu. Jika bukan karena Kak Nero tiba-tiba berubah, kita tidak akan bisa duduk saling berhadapan seperti ini."
Vivi semakin penasaran. Terlebih penjelasan pertama Nadine tentang kondisi Nero.
"Tolong jangan salahkan Kak Nero atas musibah yang kamu dan tunanganmu alami. Kak Nero tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Dia sama menderitanya seperti kamu. Akibat kecelakaan itu, Kak Nero harus kehilangan istri dan calon bayinya."
"Apa?" desis Vivi terkejut.
Nadine tersenyum sedih. "Aku sudah menduganya. Kamu belum tahu soal fakta ini, kan?" tanyanya.
"Tolong jelaskan semuanya. Apa yang terjadi dengan kecelakaan itu?" desak Vivi tidak sabaran.
Akhirnya, Nadine membuka semua. Tentang kecelakaan yang terjadi dua tahun yang lalu. Selain menewaskan tunangan Vivi, ada dua orang lagi yang menjadi korban. Yaitu Azzura dan calon bayi yang ada di perut istri Nero.
"Bukan maksudku untuk menyudutkan kamu," gumam Nadine. "Jangan pernah merasa kamu-lah yang paling menderita karena kehilangan tunangan kamu. Tapi kakakku juga. Dia hampir gila saat itu," ujarnya, emosional. "Maka dari itu tolong jangan sakiti Kak Nero lagi. Apa lagi membebankan kesedihanmu, rasa bersalahmu, karena kakakku sudah cukup memikul seluruh beban di bahunya."
Jantung Vivi terasa mencelos pada detik itu juga. Ia tidak tahu menahu kalau Nero ikut kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Vivi meremas kesepuluh jarinya di bawah meja. Hatinya mendadak sedih, ia merasa sangat bersalah atas sikapnya kepada pria itu selama ini.
Tidak terasa air matanya berjatuhan di pipi. Setelah Nadine selesai bercerita, air mata Vivi pun pecah. Ia menyesali perbuatannya kepada pria itu.