SECOND LOVE

SECOND LOVE
Kelahiran Pertama



Sejak saat itu, Delanna tinggal di apartemen milik Arcelio selama menjalani masa kehamilan. Dia menikmati berbagai fasilitas di sana. Adelina pun melayaninya dengan baik. Wanita paruh baya tersebut tak banyak bertanya, meski dia merasa penasaran.


Arcelio menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Dia memberikan perhatian lebih kepada Delanna, baik dari makanan hingga hal lain. Arcelio juga tak pernah absen menemani ibu dari calon bayinya tersebut, setiap kali ada jadwal pemeriksaan ke dokter kandunga.


Namun, nyatanya itu semua tak membuat Delanna merasa jadi seorang ratu. Dia tetap tidak menikmati hari-harinya dengan nyaman, karena Arcelio hanya sekadar memberi perhatian tanpa didasari cinta sedikit pun. Sikap yang ditunjukkan Arcelio masih terkesan dingin dan seperlunya. Hal itu terus berlangsung, hingga kehamilan Delanna telah tiba di minggu-minggu terakhir.


“Bisakah kita bicara sebentar sebelum kau kembali ke studio?” tanya Delanna, setelah mereka kembali ke apartemen sepulang dari rumah sakit.


“Bicaralah,” sahut Arcelio datar. Dia yang tadinya sudah bersiap untuk pergi, mengurungkan niat itu. Arcelio duduk di sofa, yang kemudian diikuti oleh Delanna.


Delanna tak segera mengutarakan maksud hatinya. Wanita yang sebentar lagi akan berulang tahun ke-25 tersebut, tampak berpikir dulu beberapa saat. Sepertinya, dia sedang merangkai kata-kata yang akan disampaikan kepada Arcelio.


“Ada apa?” tanya Arcelio yang tak sabar menunggu terlalu lama. Dia menatap lekat Delanna, dengan perutnya yang sudah membesar.


Sebelum menjawab pertanyaan Arcelio, Delanna merogoh ke dalam saku pakaiannya. Dia mengeluarkan selembar kertas yang tak lain merupakan cek dari Arcelio. Delanna meletakkan cek tadi di atas meja. “Aku belum mencairkannya. Jujur saja, aku tak pernah mendapatkan uang sebanyak ini seumur hidupku.” Delanna tersenyum kelu. “Entah akan digunakan untuk apa uang dengan jumlah fantastis ini. Karena itulah, kukembalikan lagi cek ini padamu.” Delanna tertunduk. Sebisa mungkin, dia menahan perasaan berkecamuk dalam hatinya.


Begitu juga dengan Arcelio. Dia tak mengerti, kenapa Delanna harus mengembalikan cek yang bahkan sudah tak diingat-ingat lagi olehnya. “Kenapa kau mengembalikan ini padaku?” tanya Arcelio masih dengan nada serta raut wajah datar.


“Aku sudah menjelaskannya tadi padamu,” jawab Delanna tanpa mengangkat wajahnya.


“Penjelasan yang sangat tidak masuk akal bagiku,” bantah Arcelio setengah mencibir.


Delanna menggumam pelan. Dia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. “Aku akan menjalani persalinan kurang dari satu minggu lagi. Seperti yang sudah kukatakan dulu, bahwa aku tak akan merawat bayi ini. Aku akan menyerahkannya padamu, setelah diriku melahirkannya,” jelas Delanna pelan. Wanita itu berusaha tetap terlihat tegar di hadapan Arcelio. “Kukembalikan jumlah uang yang pernah kau berikan dulu. Anggaplah sebagai biaya untuk merawat bayiku kelak.”


“Kau tidak perlu melakukannya. Aku masih memiliki sedikit tabungan. Lagi pula, aku juga bekerja dan menghasilkan uang,” tolak Arcelio datar.


Namun, Delanna menggeleng. Dia tak setuju dengan ucapan Arcelio barusan. “Tidak apa-apa, Arcelio. Aku sudah merelakannya. Jika kau memberikan uang itu untukku, maka kuberikan uang tadi sebagai hadiah bagi bayiku nanti. Tolong jangan menolak.” Setelah berkata demikian, Delanna beranjak dari duduknya. Dia berlalu dari hadapan Arcelio, yang terdiam menatap kepergiannya


Arcelio tak ambil pusing lagi. Dia pun beranjak dari sofa menuju lift. Arcelio meninggalkan apartemennya untuk kembali ke studio, karena dia masih memiliki pekerjaan yang belum selesai. Sesuai rencana, dia akan mengadakan pameran tunggal di galeri seni miliknya akhir tahun ini.


Hingga menjelang malam, Arcelio masih berkutat dengan lukisan yang belum rampung. Namun, dering panggilan dari ponselnya terus berbunyi sejak tadi. Arcelio menjadi hilang konsentrasi. Akhirnya, dia meletakkan palet serta kuas yang sedang dipegangnya di atas meja. Arcelio kemudian memeriksa telepon genggam yang masih berdering, dan menampilkan nama Adelina di layar.


“Pronto. Ada apa, Adelina?” tanya Arcelio.


“Memangnya ada apa?” tanya Arcelio lagi.


“Nona Delanna mengalami pendarahan. Sepertinya, dia akan melahirkan,” jawab Adelina kian resah.


“Astaga. Kalau begitu segera hubungi ambulans!” Arcelio pun ikut resah. Dia mondar-mandir tak karuan, kemudian menyambar T-Shirt yang tergeletak begitu saja di atas sofa bed. “Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Arcelio lagi. Dia belum sempat mengenakan baju, yang tanpa sadar hanya disampirkan di pundak kiri.


“Kami sedang dalam perjalanan, tuan. Aku menghubungi anda sejak tadi. Akan tetapi, anda tak juga menjawab panggilanku. Karena itulah, kuputuskan membawa Nona Delanna ke klinik bersalin terdekat.” Adelina menyebutkan nama klinik tempat di mana Delanna akan menjalani persalinan.


“Baiklah. Terima kasih, Adelina. Aku akan segera ke sana.” Arcelio segera berpakaian. Setelah mengenakan T-Shirt dan jaket, dia bergegas mengambil helm lalu keluar dari studio. Arcelio memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan tinggi, menuju klinik yang tadi telah disebutkan oleh Adelina.


Setibanya di klinik yang dimaksud, Arcelio langsung menuju resepsionis. Setelah mendapat jawaban tentang keberadaan Delanna, sang pelukis tampan itu segera menuju ruangan yang disebutkan. Di luar ruangan tadi, dia bertemu dengan Adelina yang tampak gelisah. “Bagaimana keadaan Delanna?” tanya Arcelio dengan raut tegang.


“Nona Delanna sudah mendapat tindakan di dalam,” jawab wanita paruh baya itu resah. Bagaimanapun juga, sudah terjalin kedekatan antara dirinya dengan Delanna dalam waktu beberapa bulan mereka bersama di apartemen milik Arcelio.


Belum sempat Arcelio menanggapi ucapan Adelina, seorang perawat muncul dari ruangan itu. “Apakah suami Nyonya Delanna Verratti sudah tiba?” tanyanya.


Tanpa berpikir panjang, Arcelio langsung menghadap perawat tadi. “Bagaimana keadaannya, Suster?” tanya pria itu khawatir.


“Apakah Anda suaminya?” tanya sang perawat lagi.


“Um … i-iya.” Arcelio mengangguk, meskipun jawabannya terdengar ragu.


“Silakan masuk, Tuan. Istri Anda akan segera melahirkan. Namun, akan lebih baik jika Anda menemaninya," ucap perawat itu lagi. Dia memberikan pakaian serta penutup kepala steril kepada Arcelio, sebelum pria tersebut masuk ke ruang persalinan.


Di dalam sana, Arcelio mendapati Delanna yang sudah bersiap melahirkan. Wanita itu terlihat kesakitan. Peluh telah membasahi sekujur tubuhnya. Dengan perasaan campur aduk, Arcelio berjalan mendekat. “Delanna, aku di sini,” ucapnya. Refleks, dia memegang erat tangan Delanna yang tengah berjuang melahirkan bayi mereka.


Hingga beberapa saat, proses persalinan terus berlangsung. Arcelio tak dapat berkata apa-apa, ketika menyaksikan Delanna yang terus berjuang sekuat tenaga. Pria tampan tersebut tak mengatakan apapun, karena terlalu bingung dengan pengalaman pertama tersebut. Arcelio baru dapat bernapas lega beberapa saat kemudian, setelah terdengar lengkingan suara tangisan bayi.


“Selamat, Tuan. Bayi Anda perempuan,” ucap sang dokter.