
Vivi membuka pintu kulkas. Ia mengeluarkan bahan-bahan makanan. Karena ia cuma tinggal sendirian saja, Vivi memasak menu sarapan yang sederhana. Ia meletakkan sekotak susu, roti, telur, dan sayuran—yang kemudian ia cuci lebih dulu sebelum mengolah bahan-bahan tersebut.
Selesai membuat roti lapis, serta menuang susu ke dalam gelasnya. Vivi membawa menu makanan di atas meja.
Baru saja Vivi akan duduk di kursi makan, ia mendengar suara ponselnya berdering di dalam kamarnya.
Vivi urung duduk dan makan. Ia masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya lebih dulu.
Dari layar ponselnya yang menyala terang, Vivi menemukan satu nama pria—alasan Vivi banyak tersenyum sejak satu minggu terakhir.
"Pagi," sapa pria itu.
Nero, adalah alasan Vivi lebih semangat dalam menjalani hidup. Hubungan Vivi dan pria itu berada di jenjang yang berbeda dari sebelumnya. Jika kemarin mereka adalah psikiater dan pasien di rumah sakit jiwa, maka sekarang sudah berbeda.
Mereka sekarang telah menjadi pasangan kekasih. Vivi tersenyum lebar, begitu pun Nero di layar.
"Kamu sedang apa pagi-pagi begini? Kamu baru bangun?" tanya Nero lewat panggilan video.
Wajah pria itu terpampang jelas di layar ponsel Vivi. "Aku baru selesai memasak," jawabnya. Kemudian ia mengubah kamera fitur belakang agar bisa memamerkan menu sarapannya hari ini.
"Wah, sepertinya kelihatan enak!" puji Nero.
Vivi duduk di kursinya. Ia mengembalikan fitur kamera depan. Meletakkan benda persegi itu bersandar ke gelas susunya. "Jangan sok memuji. Makanan yang aku buat bisa dibikin oleh siapa saja."
"Aku dengan tulus memujinya, lho." Nero menahan tawa.
"Lalu kenapa kamu tertawa kalau begitu?!" sungut Vivi.
"Siapa yang tertawa? Aku cuma tersenyum karena bisa melihat wajahmu lebih sering."
Vivi memalingkan wajahnya. Diam-diam wanita itu mengulum senyum mendengar kalimat manis dari Nero baru saja.
"Oh, ya. Kamu tidak pergi bekerja? Ini sudah jam berapa," gumam Vivi. Ia menggerakkan leher menatap jam di dinding.
"Sebentar lagi aku akan berangkat." Vivi melihat Nero sedang merapikan kerah kemejanya. "Nanti sepulang dari rumah sakit, aku akan mampir. Kamu ingin makan sesuatu?"
Vivi mengunyah makanan di dalam mulutnya. Ia sedang berpikir makanan apa yang ingin ia makan hari ini. "Apa, ya ...," gumamnya.
Nero menunggu jawaban Vivi dengan dahi berkerut. Vivi kemudian mengatakan Nero bisa membawa apa pun yang pria itu mau. Vivi akan memakan makanan apa saja yang dibawa oleh kekasihnya.
"Ya sudah kalau begitu." Nero menyambar tas kerjanya. "Aku akan hubungi kamu ketika sampai di apartemen, ya?"
"Iya." Vivi tersenyum lebar.
Sambungan telepon itu berakhir. Nero harus berangkat kerja, sementara Vivi tidak mungkin menahan pria itu agar terus mengobrol dengannya lewat panggilan video.
Vivi meletakkan ponsel miliknya ke atas meja makan. Ia melanjutkan sarapannya. Hubungan asmara di antara mereka telah terjalin satu minggu.
Nero selalu menyempatkan dirinya datang ke apartemen Vivi. Tidak hanya membawakan Vivi makanan berbagai macam. Dari yang manis hingga gurih. Tapi Nero juga membawakan kekasihnya sebuket bunga.
Ia menggigit roti lapisnya. Sembari mengunyah makanannya, Vivi tidak berhenti tersenyum. Nero telah berhasil membuat Vivi merasakan jatuh cinta setelah kepergian Azzam dua tahun yang lalu.
Dalam hati Vivi berbisik, "Aku mencintai Nero, Azzam. Tapi kamu harus tahu, kamu juga masih tersimpan di hatiku. Kalian sama-sama istimewa, dan punya tempat masing-masing."
***
"Baik, Dok." Perawat tersebut mengangguk.
Perawat wanita tadi izin pamit kepada Nero. Ia menganggukkan kepalanya ringan. Saat ia akan kembali ke ruangannya, Nero berpapasan dengan Ronald.
"Mau ke mana? Padahal aku menghampirimu untuk menyapa," gumam Ronald dengan ekspresi mengejek.
Nero tertawa kecil. "Kamu berniat mentraktirku makan?" godanya. "Sebentar lagi makan siang. Baiklah, aku tidak akan menolak traktiran darimu."
"Pintar sekali. Kamu tahu kalau aku sedang penasaran sesuatu denganmu." Ronald mencibir temannya.
Kedua pria itu berjalan beriringan di lorong rumah sakit. Sesekali mereka membalas sapaan para perawat yang berpapasan.
Nero menjejalkan tangannya ke saku jasnya. "Kamu penasaran soal apa lagi, sih." Pria itu menyampingkan posisinya sebentar.
"Kamu benar-benar membuatku takut. Tiba-tiba menghilang, murung, sekarang kamu seperti orang yang paling bahagia di dunia ini." Ronald mendesah panjang. "Atau terjadi sesuatu yang baik denganmu?" tebaknya.
Seketika Nero terbayang wajah Vivi. "Itu cuma perasaanmu saja. Sudahlah. Kalau kamu tidak mau mentraktirku, aku akan kembali ke ruanganku." Nero menepuk punggung Ronald sedikit keras.
Ronald memekik, ia kemudian menunjuk punggung temannya. "Hei, aku belum selesai bicara!"
Tanpa memutar badannya, Nero melambaikan tangannya ke udara. Membuat Ronald mengomel di sepanjang lorong rumah sakit.
***
"Terima kasih."
Vivi mendongakkan wajah, lalu berterima kasih kepada Nero yang baru saja menarik salah satu kursi untuk dirinya.
Malam ini Nero mengajak Vivi makan malam di luar—berdua saja. Pria itu telah memesan tempat itu dari beberapa hari yang lalu, dan baru bisa hari ini pergi mengajak Vivi.
"Kamu suka dengan tempatnya?" tanya Nero.
Dua orang pelayan mengantar minuman dan makanan ke meja mereka. Vivi tampak takjub dengan restoran yang ia datangi bersama Nero. Selain makanannya yang kelihatan enak, dan juga hiburan musik dari band-band lokal.
Vivi menikmati suasana seperti ini. Ia terhanyut dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh band di restoran itu.
"Seharusnya kamu tidak perlu sampai memesan tempat di restoran mahal begini," ujar Vivi. "Aku bersedia makan di mana saja, selama tempat itu bersih."
Nero menggeleng cepat. "Mungkin, aku tidak bisa membawamu kemari. Tapi aku ingin menunjukkan kamu adalah orang yang spesial," kata Nero.
Wanita di depannya tersenyum. Ia menggenggam tangan Nero sembari menatapnya. "Tidak perlu dijelaskan. Karena aku sudah tahu," bisiknya. "Tapi ... terima kasih. Aku menyukainya."
Selesai makan malam bersama, Nero mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Vivi menatap Nero bingung. Pria itu tiba-tiba berada di depannya, kemudian duduk berjongkok sembari menyodorkan sebuah cincin.
"Vivi, maukah kamu menikah denganku?"
Sepasang mata Vivi, serta bibir wanita itu dengan kompak membulat. Tidak percaya kalau Nero akan melamarnya malam ini.
Tanpa Vivi ketahui, tangan Nero terasa dingin, terasa gemetaran. Nero mulai bertanya-tanya. Apakah Vivi akan menerima lamarannya?
Vivi tidak langsung menjawab. Wanita itu butuh waktu untuk berpikir. Ia takut ini cuma khayalannya saja. Ia dan Nero baru satu minggu menjalin asmara sebagai pasangan kekasih. Apakah ini tidak terlalu cepat bagi mereka berdua?