
Keesokan harinya, Nero bersama dengan keluarganya datang ke rumah Vivi untuk melamar wanita itu. Psikiater tampan itu sudah yakin dan mantap untuk mempersunting Vivi menjadi istrinya. Kehadiran keluarga Nero disambut hangat oleh kedua orang tua Vivi.
"Silakan duduk!" Jordy tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya saat ada sebuah keluarga datang ke rumahnya.
"Terima kasih, Pak," sahut ayah Nero sambil tersenyum.
Jordy langsung menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuat minuman dan membawakan makanan ke ruang tamu.
Saat ini Nero tampak gugup saat akan menyampaikan maksud dan tujuannya datang. Memang ini bukanlah pengalaman yang pertama baginya, tapi tetap saja sekujur tubuhnya terasa panas dingin. Namun, saat melihat Vivi yang duduk di hadapannya, ia pun menjadi sedikit lebih tenang.
"Jadi, saya dan keluarga ke sini berniat untuk melamar Vivi. Apakah diizinkan, Om?" tanya Nero. Sepertinya ia memang tak mau berbasa-basi lagi dan langsung pada intinya saja.
Kedua mata Jordy berbinar cerah saat mendengar niat mulia yang dikemukakan oleh Nero. Ia menoleh ke arah putrinya dengan mata berkaca-kaca karena ia sangat bahagia.
"Tentu saja! Saya sangat setuju. Kapan rencana tanggal pernikahannya?" tanya Jordy to the point.
"Iya, saya juga tidak ingin lama-lama. Bagaimana kalau tanggal lima bulan depan saja?" celetuk ayah Nero memberi saran. Ternyata pria paruh baya itu juga sudah tidak sabar melihat putranya menikah lagi dan hidup bahagia.
"Saya setuju itu. Satu bulan sudah cukup untuk mempersiapkan semuanya," balas Jordy bersemangat.
Nero dan Vivi hanya diam saja, keduanya malah saling pandang serta melemparkan senyum satu sama lain. Keduanya sangat senang karena kedua orang tua mereka sangat antusias dengan rencana pernikahan mereka.
"Bagaimana, Nero ... Vivi ... apa kalian berdua setuju kalau satu bulan lagi pernikahan akan digelar?" tanya ibu Nero. Wanita paruh baya itu sedari tadi memperhatikan kedua pasangan yang sedang kasmaran itu hanya saling pandang.
"Eh, iya ... kalau aku setuju," sahut Nero.
"Aku juga setuju," timpal Vivi.
Semuanya tampak sangat lega dan senang karena kedua calon pengantin sudah setuju jika acara pernikahan akan diadakan sebulan ke depan.
"Sudah fix bulan depan ya?"
Suara wanita paruh baya terdengar dari arah dalam. Ternyata itu adalah ibu tiri Vivi—Dina. Ia datang sambil membawa nampan berisi makanan diikuti dengan asisten rumah tangganya yang membawa minuman.
"Iya, Ma. Vivi dan Nero akan segera menikah bulan depan," sahut Jordy.
"Baguslah kalau begitu. Semakin cepat maka akan semakin baik," tanggal Dina sambil tersenyum. Saat ini ia sudah mulai membuka hatinya untuk menerima Vivi sebagai anaknya. Meski awalnya terpaksa, akhirnya lama-lama bisa juga.
"Nah ini silakan dicicipi. Kebetulan saya tadi siang sempat membuat kue brownies. Semoga saja rasanya enak ya," tawar Dina.
Mereka semua pun larut dalam kebahagian dan saling mengobrol sambil menikmati hidangan. Tentunya yang paling bahagia di sini adalah Nero dan Vivi. Wajah keduanya terlihat sangat semringah karena tak bisa menutupi perasaan mereka.
***
Malam harinya setelah pertemuan keluarga usai, Nero mengajak Vivi untuk makan malam romantis. Pria tampan itu sengaja mempersiapkan segalanya dengan sangat detail sehingga membuat Vivi menjadi terharu. Nero sengaja memesan satu restoran yang ada di rooftop sebuah hotel agar makan malam mereka terasa lebih romantis.
"Setangkai mawar merah untuk wanita yang paling aku cintai," ucap Nero sambil menyodorkan setangkai mawar merah pada Vivi.
"Terima kasih. Bunganya cantik dan harum sekali," sahut Vivi sembari mencium kelopak bunga mawar yang baru saja diberikan oleh Nero.
Vivi menggeleng. "Tidak tahu. Memangnya kenapa?"
"Itu karena cintaku padamu sangat membara," jawab Nero.
Mendengar jawaban Nero yang terdengar meyakinkan membuat Vivi terkekeh. Namun, ia sangat bahagia sekali karena bisa merasakan suasana romantis yang berusaha diciptakan oleh Nero untuknya.
"Kamu bisa saja, tapi aku sangat senang sekali. Semuanya terasa romantis dan membuat jantungku berdebar lebih kencang," sahut Vivi.
"Kamu akan lebih berdebar lagi saat mencicipi menu khusus yang aku pesan." Nero tersenyum sangat manis pada Vivi.
Tak berapa lama, datanglah waiters yang membawa makanan yang dipesan oleh Nero. Ternyata menunya adalah steak dengan saus yang dibentuk seperti hati di atas piring sajinya. Di saat yang bersamaan, terdengar juga suara alunan musik merdu dari pemain biola yang berdiri di salah satu sudut restoran.
"Kamu suka, Sayang?" tanya Nero.
"Suka! Aku sangat suka sekali. Aku tidak menyangka jika kamu memiliki sisi romantis seperti ini," jawab Vivi dengan sorot mata berbinar cerah.
"Ini belum seberapa. Nanti aku akan menunjukkan sisi romantisku yang lebih dalam lagi kepadamu." Nero menggenggam erat jari jemari lentik Vivi. Ia sungguh sangat mencintai wanita yang duduk di hadapannya itu.
***
Setelah makan malam, rupanya Nero sengaja memesan satu kamar hotel untuk mereka menginap. Vivi tentunya tidak menolak karena ia juga sangat menginginkan terus berduaan dengan pria yang dicintainya itu.
"Pemandangannya bagus bukan? Dari sini kita bisa melihat hiruk-pikuk kehidupan malam kota."
Saat ini mereka berada di balkon kamar hotel. Nero memeluk Vivi dari belakang dengan mesra sambil sesekali mencium tengkuk wanita itu.
"Geli tahu! Kamu kok suka sekali cium di bagian situ?" protes Vivi.
"Apa kamu mau dicium di bagian yang lain?" Nero memutar tubuh Vivi hingga mereka berdua saling berhadapan.
Keduanya saling menatap dalam satu garis lurus tanpa berkedip. Sejurus kemudian, Nero malah merendahkan kepalanya lalu melayangkan sebuah ciuman di bibir Vivi. Untuk beberapa menit keduanya terlibat dalam pertukaran saliva yang begitu menggairahkan.
Napas keduanya tersengal karena mulai kekurangan pasokan oksigen. Ciuman mereka pun terlepas, tapi keduanya masih saling tatap penuh damba.
"Sayang, apakah malam ini aku boleh memilikimu seutuhnya?" bisik Nero dengan suara yang sangat terdengar seksi di telinga Vivi.
Wajah Vivi bersemu merah. Sekujur tubuhnya terasa panas dingin karena ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi nanti padanya dan Nero. Namun, pada akhirnya ia mengangguk pelan menyetujui permintaan Nero.
Tak mau membuang waktu, Nero langsung menggendong Vivi untuk dibawa ke atas ranjang. Hasratnya sudah sangat menggebu-gebu untuk merasakan surga dunia bersama dengan kekasihnya itu.
"Apa kamu siap, Sayang? Aku sepertinya tidak bisa menahan lebih lama lagi," tanya Nero sesaat setelah membaringkan Vivi.
Vivi tiba-tiba saja mengalungkan kedua tangannya ke leher Nero. Alhasil mereka berdua pun kembali melakukan ciuman yang sangat menggelora di atas ranjang.
Malam itu keduanya menghabiskan malam panas bersama. Bersatu dalam lengketnya peluh dan perasaan cinta mendalam. Lagi pula mereka pikir tak ada salahnya karena sebentar lagi hubungan mereka akan segera diresmikan ke jenjang pernikahan.