SECOND LOVE

SECOND LOVE
Senja di Kota Paris



“Apa Ibu akan pergi lama?” tanya Chrissy. Dia yang tengah melompat-lompat di kasur, berhenti sejenak untuk melihat sang ibu dari pantulan cermin rias.


“Tidak, Chrissy. Ini jadwal latihan terakhir. Paling hanya sekitar tiga sampai empat jam,” jawab Samantha setelah bersiap-siap. Dia membalikkan badan sehingga jadi menghadap kepada putrinya. “Bukankah, dengan begitu kau bisa bermain sepuasnya bersama Aurora? Aku akan bicara pada ayahmu … um … maksudku ayah Aurora. Aku akan menitipkanmu lagi padanya,” ralat Samantha. Dia selalu kehilangan konsentrasi, setiap kali membahas Arcelio. Gara-gara ciuman yang dilakukannya kemarin malam, wanita itu jadi merasa tak karuan.


“Hore!” Chrissy melompat lebih kencang di kasur. “Aku akan bermain sepuasnya dengan Aurora dan Ollie!” serunya lagi.


“Ya sudah. Kalau begitu, cepatlah turun.” Samantha memberi isyarat dengan tangannya, agar Chrissy berhenti melompat-lompat.


Beberapa saat kemudian, ibu dan anak itu keluar dari ruang apartemen mereka. Samantha menuntun Chrissy menuju tempat Acelio. Kebetulan, hari ini pria itu tidak ke mana-mana. Arcelio baru ada jadwal mengajar lagi besok. Sementara, Brigitte pun izin tidak masuk karena kondisi badan yang kurang fit.


Arcelio sedang sibuk menyiapkan makanan untuk Ollie saat bel berbunyi. “Sayang, bisakah kau lihat siapa yang datang?” suruh Arcelio.


Aurora yang sedang membuka-buka buku cerita, langsung turun dari sofa. Gadis kecil itu berlari menuju pintu. Namun, begitu pintu terbuka, Aurora langsung terpaku mendapati sosok Samantha di hadapannya. Anak itu baru tersenyum riang, ketika Chrissy menyembulkan kepala dari balik tubuh sang ibu.


“Hallo, Aurora.” sapa Chrissy hangat.


“Hallo, Chrissy,” balas Aurora. Dia langsung berpegangan pada pinggiran celana sang ayah, saat Arcelio menghampiri ke pintu.


“Sam? Ada apa?” tanya Arcelio. Raut wajah pria itu terlihat berseri menatap paras cantik Samantha.


“Hai, Arcelio,” sapa Samantha yang justru tampak kikuk. “Hari ini jadwal latihan terakhir. Jika kau tidak keberatan, aku ingin menitipkan lagi Chrissy di sini."


“Biarkan dia di sini. Aku akan menjaganya,” ucap Arcelio.


Samantha mengembuskan napas lega. Dia juga tersenyum manis kepada Arcelio. “Terima kasih,” ucap wanita itu. “Aku akan pulang pukul empat sore.”


“Kau tidak perlu merasa sungkan. Lagi pula, Chrissy ….” Arcelio menoleh ke dalam. Kedua putrinya tengah asyik bercengkrama sambil bermain bersama. “Lihatlah,” tunjuk Arcelio. Dia tersenyum tulus melihat keakraban kedua putrinya.


Samantha ikut tersenyum, meskipun dirinya masih tetap merasakan sesuatu yang aneh saat melihat Aurora. Namun, dia terus berusaha menghalau perasaan tersebut, karena Samantha sadar bahwa Aurora hanya anak lima tahun yang tidak tahu apa-apa .


“Baiklah, Arcelio. Aku harus segera pergi. Aku tidak boleh terlambat.” Samantha mengangguk pelan. Dia sempat memanggil Chrissy, lalu melambaikan tangan pada anak itu sebelum berlalu dari hadapan Arcelio


Samantha melangkah keluar dari lift. Baru saja dirinya memasuki lobi, Pierre telah siap menyambutnya. Samantha terkejut. Dia juga menjadi salah tingkah, karena ada setitik rasa bersalah terhadap sang kekasih. “Pierre?” sapanya.


“Hai, Sayang.” Pierre tersenyum seraya mendekat. Dia mengecup pipi serta bibir Samantha. “Aku sengaja kemari untuk mengantarmu ke tempat latihan,” ucapnya.


Tak ada alasan bagi Samantha menolak hal itu. Dia mengangguk setuju, lalu melangkah keluar bersama sang dokter anak tersebut.


Selama ini, Pierre selalu memperlakukan Samantha seperti seorang ratu. Sejak awal perjumpaannya sekitar dua tahun yang lalu. Samantha membawa Chrissy yang tidak enak badan untuk diperiksa olehnya, karena kebetulan dokter anak langganan Chrissy ternyata tidak praktik pada hari itu.


“Bagaimana kabarmu hari ini, Sayang?” tanya Pierre berbasa-basi. Sesekali, dia mengalihkan pandangan kepada Samantha, lalu kembali ke lalu lintas Kota Paris yang mulai ramai lancar.


“Kau tahu bahwa akhir pekan ini aku akan tampil. Jadi, aku harus menjaga kondisi badan,” jawab Samantha.


“Iya. Aku sudah mengajak Arcelio untuk menonton pementasanmu, Sayang,” ucap Pierre lagi, yang membuat Samantha kembali salah tingkah. Namun, dia tak sempat menanggapi, karena mereka lebih dulu tiba di tempat tujuan.


Sebelum Samantha keluar dari kendaraan, Pierre sempat menahannya beberapa saat. “Aku sangat mencintaimu,” ucap pria berambut pirang tersebut. “Entah kapan kita bisa mewujudkan pernikahan impian yang sudah dirancang, tapi aku berharap bisa secepatnya. Aku rasa, Chrissy pun pasti akan menerima posisiku sebagai ayahnya.”


Samantha terlihat serba salah. Sebenarnya, ini adalah pembahasan yang paling tidak dia sukai. Samantha memiliki trauma tersendiri dengan kata ‘pernikahan’.


Namun, selama ini Samantha tidak pernah bersikap terbuka tentang masa lalunya kepada Pierre, sehingga pria itu mengira bahwa Samantha merupakan seorang janda. Dua tahun sudah, Pierre menjalani hubungan dalam kebohongan dari wanita yang sangat dicintainya.


Dengan membawa perasaan bersalah, Samantha melangkah masuk ke gedung latihan. Kebimbangan mulai menyelimuti hatinya. Wanita itu kian ragu dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun juga, bayangan serta rasa cinta yang besar terhadap Arcelio terasa begitu membebani hatinya. Terlebih, karena ternyata Arcelio juga masih menyendiri hingga saat ini.


Namun, ketika baru keluar dari gedung latihan, wanita itu dibuat terkejut. Pasalnya, dia mendapati Arcelio bersama Aurora dan Chrissy sudah berada di luar gedung. Pria itu melambaikan tangan diiringi senyum lebar. Sementara, kedua gadis kecil yang dituntun di sebelah kiri dan kanannya melompat-lompat kegirangan. Entah apa yang membuat mereka begitu antusias.


“Kalian?” Samantha berjalan mendekat sambil menautkan alisnya.


“Kami sengaja kemari untuk menjemputmu. Anak-anak ingin menghabiskan sore di taman,” ucap Arcelio tanpa melepas senyum kalemnya.


Samantha tak kuasa menolak. Dia justru merasa senang. Seluruh kegalauan yang tadi mengganggu pikirannya, tiba-tiba sirna seketika. Samantha langsung mengangguk setuju.


Mereka berempat berjalan bersama. Aurora dan Chrissy berada di depan sambil bergandengan tangan. Mereka juga bergantian memegangi tali yang terpasang di leher Ollie. Sementara, Arcelio berdampingan dengan Samantha mengikuti kedua gadis kecil itu. Sebelum ke taman, mereka menyempatkan membeli makanan.


Sore itu, menjadi sore yang paling indah selama lima tahun keberadaan Samantha di Kota Paris. Belum pernah dia merasakan kedamaian seperti saat ini. Tawa ceria Aurora dan Chrissy yang asyik bermain bersama Ollie, kian menambah keindahan tersebut.


“Apa kau tidak merindukan Italia?” tanya Arcelio.


“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku sangat merindukan negara asalku. Aku ingin pulang, tapi ….” Samantha tidak melanjutkan kata-katanya.


“Sudah lima tahun berlalu. Semua orang pasti telah melupakan skandal memalukan yang kubuat, dan berakibat fatal pada nama besarmu,” ujar Arcelio diakhiri senyum kelu.


“Aku semakin tua, Sam. Aku hanya ingin memperbaiki diri secepatnya,” ucap pria itu lagi, sambil terus mengawasi kedua putrinya yang tengah asyik bermain.


“Sangat mudah berkata seperti itu,” ujar Samantha menanggapi.


“Ya, kau benar.” Arcelio mengangguk samar. “Kau tahu? Sebenarnya, aku sudah berniat untuk melajang seumur hidup. Namun, entah mengapa Tuhan justru mempertemukan kita kembali di sini.” Pria tampan itu menatap penuh arti kepada Samantha, yang langsung menoleh ke arahnya.


“Apa hubungannya denganku?” protes Samantha. Mata abu-abunya melotot kepada Arcelio.


Namun, sikap Samantha justru terlihat sangat menggemaskan bagi Arcelio. Jika bukan sedang di tempat umum, dia pasti sudah mengulangi adegan kemarin malam. Arcelio mengembuskan napas panjang. Dia kembali mengarahkan perhatian ke depan, pada dua gadis kecil yang terlihat sangat ceria.


Akan tetapi, tangan kanan Arcelio bergerak nakal menyentuh punggung tangan Samantha, lalu menelusup masuk ke sela-sela jari. Arcelio menggenggam erat tangan Samantha yang ternyata tak menolak.


Samantha justru tersenyum lembut. Meskipun mereka tak saling memandang, tapi getaran itu tetap terasa oleh keduanya lewat sentuhan tangan. Samantha merasakan darahnya berdesir lebih cepat. Dia juga begitu gugup. Ini sama seperti saat pertama kali dirinya berdekatan dengan Arcelio, sepuluh tahun silam.


Senja turun menyelimuti Kota Paris. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Warna jingga pun telah bertahta di angkasa. Arcelio mengajak kedua putrinya kembali ke apartemen tempat tinggal mereka. Kedua anak itu telah puas bermain seharian, sehingga dua gadis kecil tersebut tak menolak saat diajak pulang.


Dengan berjalan kaki, mereka berempat menyusuri jalanan Kota Paris layaknya keluarga kecil yang bahagia dan harmonis. Seperti tengah mengenang masa lalu, Arcelio dan Samantha berbincang hangat. Sesekali, terlihat tawa lebar menghiasi obrolan mereka. Tanpa terasa, perjalanan sekitar lima belas menit itu berakhir saat mereka tiba di halaman depan gedung apartemen.


“Terima kasih untuk sore yang indah ini,” ucap Arcelio, setelah mereka keluar dari lift. Dia menuntun Aurora. Sedangkan, Samantha menuntun Chrissy.


“Kapan kita akan berkemah lagi, Paman?” tanya Chrissy.


“Malam ini juga bisa jika kau mau,” jawab Arcelio.


“Aku mau, Papa!” seru Aurora antusias.


Arcelio tersenyum kalem. Dia menatap penuh isyarat kepada Samantha. Wanita itu sepertinya telah mulai luluh dengan segala perlakuan manis Arcelio.


Samantha balas tersenyum, lalu mengangguk. “Akan kubuatkan makanan untuk berpesta di dalam tenda,” ucapnya, yang langsung berbalas lonjakan kegirangan dari Chrissy. Sementara, Aurora hanya bertepuk tangan.


Kedua gadis kecil tadi terlihat semakin ceria. Begitu juga juga dengan dua orang dewasa berlainan jenis, yang kembali saling pandang dengan sorot penuh makna.