
Arcelio kembali ke dalam ruang apertemennya dengan membawa senyuman cukup lebar. Di kedua tangannya, terdapat barang-barang milik Samantha yang baru dibawa dari ruang apartemen wanita itu.
“Sayang?” panggil Arcelio, ketika sang kekasih tak terlihat di ruang tamu. Dia lalu memeriksa ruangan demi ruangan, hingga berakhir di kamar Aurora.
Samantha tampak tertidur di ujung ranjang, tepat di bawah kaki Aurora dan Chrissy.
“Astaga." Arcelio berdecak pelan. Lembut, tangannya membelai pipi mulus ibunda Chrissy tersebut. Dengan pnenuh kasih, dia membangunkan wanita cantik itu. “Jangan tidur di sini, Sam. Ranjangku sudah menunggumu,” godanya.
“Arcelio." Samantha mengerjap seketika. “Apakah aku tertidur di sini?” tanyanya seraya bangkit dengan terburu-buru.
“Kau terlalu lelah,” ujar Arcelio. Pria itu terus memperhatikan wanita cantik di hadapannya.
“Lelah dan sedih,” sahut Samantha lirih. “Aku sudah menjalin hubungan dengan Pierre selama dua tahun terakhir. Tiba-tiba, kami harus berpisah dengan cara seperti ini. Aku merasa jika ini tidak adil untuknya."
“Kau membuatku cemburu, Sayang,” ucap Arcelio. Pria itu berdecak pelan.
“Seperti itulah kenyataannya,” balas Samantha.
Arcelio tersenyum kalem. “Jika suasana sudah sedikit lebih tenang, aku akan menemanimu untuk menemui Pierre. Kita bisa meminta maaf padanya secara baik-baik,” ucap Arcelio sekadar menenangkan kegundahan Samantha. “Sekarang bersihkan dirimu, lalu beristirahatlah.”
Samantha mengangguk. Dia menuruti kata-kata Arcelio tanpa banyak membantah. Seperti dulu saat dirinya masih berstatus sebagai tunangan pelukis tampan tersebut, Samantha tak pernah membantah apapun keinginan sang kekasih.
Samantha berjalan menuju kamar Arcelio. Dia lalu masuk ke kamar mandi. Tanpa disadari, ternyata Arcelio mengikutinya. Pria itu melepaskan pakaian, bersamaan dengan Samantha yang juga melakukan hal yang sama. Mantan aktris terkenal itu sangat terkejut, ketika tiba-tiba tangan kekar Arcelio melingkar di pinggangnya. “Aku akan memandikanmu,” bisik Arcelio tepat di telinga Samantha.
Ibunda Chrissy tersebut lagi-lagi tak bisa menolak. Samantha menerima setiap perlakuan Arcelio. Waktu mandi yang seharusnya menghabiskan beberapa menit saja, bertambah menjadi satu jam lamanya. Mereka berdua melepaskan segala gundah dalam bathub yang sama.
......................
Pagi datang dengan begitu cepat. Seperti biasa, Arcelio bangun lebih dulu. Dia mematikan alarm yang belum berbunyi, lalu menoleh kepada Samantha yang masih terlelap. Arcelio tersenyum, piyama yang dia ambil dari apartemen kekasihnya itu, ternyata tak terpakai. Setelan tersebut teronggok begitu saja di sudut ranjang.
Arcelio tersenyum lembut, lalu mengecup mesra kening Samantha. Setelah itu, Arcelio beringsut pelan turun dari ranjang. Dia mengambil celana, kemudian memakainya terburu-buru sambil berjalan menuju kamar Aurora dan Chrissy.
Dua gadis kecil itu ternyata masih tidur nyenyak. Arcelio berjalan mendekat. Dia menyentuh kening Aurora dan Chrissy secara bergantian. Pria tampan tersebut bernapas lega, ketika suhu tubuh kedua putrinya masih normal. Itu berarti, mereka berdua hanya kelelahan bermain.
Arcelio sudah berniat hendak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, ketika terdengar ketukan cukup kencang dari pintu depan. Arcelio mengubah tujuan menuju ruang depan. Raut wajahnya berubah tegang saat dia membuka pintu lebar-lebar. Pierre berdiri di hadapannya dengan tatapan penuh selidik. Terlebih, saat itu Arcelio bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana tidur.
“Aku mengetuk pintu apartemen Samantha sampai setengah jam lamanya. Kupikir, dia tak ada di tempatnya. Jadi, aku memutuskan untuk mencarinya kemari,” jelas Pierre tanpa diminta.
“Dia menginap di tempatku semalam,” sahut Arcelio kalem.
“Ah! Luar biasa,” sindir Pierre sambil bertepuk tangan. “Belum ada dua puluh empat jam kami putus, dan kalian sudah tidur bersama.”
“Kami saling mencintai.” Kata-kata yang terlontar dari bibir Arcelio membuat Pierre tertawa terbahak-bahak. “Kau memang tidak tahu malu, Kawan. Inikah balasan dari bantuan yang telah kuberikan padamu?” sentak Pierre.
“Kedua putrimu?” ulang Pierre diiringi tatapan mengejek. “Anak-anak haram itu ….”
“Jaga bicaramu!” Arcelio balas menyentak sembari mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Pierre.
“Ah! Sekarang aku tahu dari mana sifat liar dan pembangkang Chrissy berasal. Anak kecil itu sungguh tak memiliki sopan santun. Dia kasar dan tak dapat diatur. Seperti penghuni kebun binatang ….”
Celaan terjeda, ketika Arcelio menyarangkan tinjunya ke bibir Pierre. Tak puas, Arcelio kembali memukul rahang, dada, serta perut Pierre secara bertubi-tubi, hingga dokter spesialis anak itu terjatuh. Arcelio sudah berniat untuk menduduki perut Pierre dan melanjutkan serangannya, saat terdengar teriakan Samantha.
“Hentikan, Arcelio!” Samantha bergegas menarik tubuh ayah dari putrinya tersebut, hingga menjauh dari Pierre yang sudah tak berdaya. Bersamaan dengan itu, Aurora dan Chrissy tergopoh-gopoh berlari keluar dari kamar.
“Hei, Anak-anak. Ayo, kita bermain di dalam kamar. Ayah kalian sedang berlatih bersama Paman Pierre.” Samantha melepas pegangannya dari Arcelio, kemudian beralih pada Aurora dan Chrissy. Dia mendorong mereka agar masuk kembali ke kamar, lalu menutup pintunya dari dalam.
Arcelio masih berambisi menghajar sahabat lamanya itu. Namun, nuraninya menentang. Pada akhirnya, Arcelio memilih untuk mengembuskan napas panjang berkali-kali, hingga dia berhasil mengendalikan diri. “Kau boleh menghina, menjelek-jelekkan, atau menghajarku habis-habisan, Pierre! Aku akan menerimanya dengan lapang! Akan tetapi, jangan pernah sekalipun kau menyinggung Chrissy. Dia putriku! Tak ada yang boleh menyakiti kedua putriku! Ingat itu!” Suara Arcelio menggelegar, menggema ke setiap sudut ruangan.
Namun, Pierre menanggapi ancaman tersebut dengan tawa mengejek. Susah payah dia bangkit, walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit. “Aku akan mengingat hari ini sampai mati, Arcelio! Hari di mana aku dikhianati oleh kekasih dan sahabat sendiri!” geram Pierre.
“Padahal, tujuanku kemari adalah untuk meminta maaf kepada Samantha dan bermaksud menarik kata-kataku semalam. Aku tidak ingin memutuskan hubungan kami dan berusaha memperbaiki semuanya. Namun, lihatlah yang terjadi. Kalian malah bercinta, seolah tak memikirkan perasaanku sama sekali!" ungkap Pierre dengan suara gemetar.
“Aku benar-benar minta maaf, Pierre. Aku tahu bahwa tindakan kami sangat keliru. Namun, cepat atau lambat, kau harus mengetahuinya,” sesal Arcelio, ketika emosi dalam diri sudah mereda sepenuhnya.
“Kau akan membayarnya, Arcelio!" balas Pierre. Tak ada lagi wajah ramah dan senyum manis dari bibirnya. Pierre terlihat begitu kecewa dan marah. Dia lalu berbalik meninggalkan apartemen Arcelio.
Semenjak saat itu, Pierre seakan menghilang. Sudah seminggu berlalu dari kejadian menggemparkan di pagi hari, Arcelio menjalani aktivitas seperti biasa. Dia mengajar di kampus seni. Namun, hari itu saat dirinya sudah bersiap-siap untuk pulang, salah seorang pembantu dekan menghampiri Arcelio dan memintanya agar menghadap ke ruangan dekan.
Melihat ada gelagat yang tak beres, Arcelio segera menuju tempat yang dimaksud. Di sana, dia disambut oleh seorang pria paruh baya. Pria yang menjabat sebagai dekan tersebut, mempersilakan Arcelio untuk duduk. “Maaf jika panggilan ini mendadak, Tuan Lazzaro. Namun, aku harus secepatnya menyampaikan kepada Anda,” tutur sang dekan.
“Apakah ada masalah, Tuan Lavigne?” tanya Arcelio hati-hati.
“Ya, Tuan Lazzaro. Hal ini menyangkut nama baik fakultas,” jawab Dekan Lavigne, yang membuat Arcelio mengernyit kebingungan.
“Apa maksudnya?” tanya Arcelio tak mengerti.
“Tuan Pierre Laurent membuat laporan resmi pada pihak kampus, bahwa Anda telah melakukan tindak kekerasan padanya. Selain itu, Anda juga dituduh telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan, yaitu berselingkuh dengan calon istrinya,” terang sang dekan.
“Astaga,” gumam Arcelio pelan.
“Pengacara Tuan Laurent sudah menegaskan pada kami, jika pihak kampus tidak memberikan sanksi, maka Tuan Laurent akan membawa masalah ini ke ranah hukum. Tentu ini adalah hal yang sangat tidak baik dan sangat berpengaruh pada nama baik kampus,” sambung sang dekan.
“Lalu, apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semuanya, Tuan Lavigne?” tanya Arcelio lagi.
"Dengan terpaksa, kami harus memberhentikan Anda. Ini semua demi kredibilitas dan nama baik perguruan tinggi," tegas Dekan Lavigne.