
“Apa? Kalian akan menikah?” Sara semakin dibuat tak percaya dengan yang didengarnya tadi. Wanita yang selalu setia dengan model rambut pendek tersebut, hanya dapat menggeleng pelan. “Ya sudah. Keputusan ada di tanganmu, Sam. Sebagai sahabat, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik,” ucapnya kemudian.
Kata-kata yang terlontar dari bibir Sara, nyatanya hanya membuat Arcelio merasa muak. Pria itu tersenyum sinis dari balik helm full face yang dia kenakan. “Ayo, Sayang. Anak-anak sudah menunggu kita,” ajak Arcelio. Dia tak tahan berlama-lama mendengar ocehan Sara, yang membuat dirinya merasa ingin muntah.
“Ah, iya.” Samantha mengenakan helmnya, setelah berpelukan dengan Sara. “Aku minta maaf, Sara. Aurora dan Chrissy sudah menunggu kami. Lain kali saja kita lanjutkan.” Samantha naik ke motor Arcelio. Dia duduk manis di belakang pria itu.
“Kalau begitu, datanglah ke apartemenku besok. Aku tidak akan ke mana-mana,” ucap Sara, sebelum Arcelio melajukan kendaraan roda duanya.
“Baiklah. Aku akan mampir besok siang,” balas Samantha. Dia melambaikan tangan, bersamaan dengan motor Arcelio yang bergerak meninggalkan tempat itu. Samantha memeluk erat sang kekasih. Namun, dia merasa heran karena Arcelio tak menyapa Sara sama sekali. Pria itu bahkan tak menoleh kepada sahabat dekatnya tersebut. “Apa kau ada masalah dengan Sara?” tanya Samantha penasaran.
“Tidak ada,” jawab Arcelio singkat.
“Lalu, kenapa kau bersikap seperti tadi di depan dia? Jujur saja, aku tidak nyaman melihatnya,” protes Samantha meski dengan nada bicara yang biasa saja.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya sedang malas berbasa-basi. Kurasa, sebaiknya kau juga mulai menjaga jarak dan tidak terlalu menanggapi ucapan wanita itu,” saran Arcelio, yang justru membuat Samantha menautkan alis karena heran. Dia semakin penasaran dengan sikap dan makna dari ucapan sang kekasih yang terdengar aneh.
“Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku ‘kan, Arcelio?” tanya Samantha dengan nada penuh selidik.
Arcelio tak segera menjawab. Terlebih, karena mereka telah tiba di kediaman milik Paolo. Arcelio memarkirkan kendaraan roda dua 250cc tadi di halaman depan. Sang pelukis tampan tersebut menunggu sampai Samantha turun.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Arcelio?” Rasa penasaran Samantha masih belum terjawab. Setelah melepas helm, wanita cantik bertubuh sintal itu tetap berdiri di dekat Arcelio, yang belum sempat turun dari motor. Ayah dua anak tersebut baru melepas helmnya.
“Sudahlah, Sayang. Rasanya tak penting membahas tentang Sara. Lagi pula, anak-anak sudah menunggu pizza pesanan mereka. Sebaiknya, kita segera masuk.” Arcelio turun dari motor. Dia tak ingin meladeni rasa penasaran Samantha, tentang sikap aneh dirinya terhadap Sara. Bagi Arcelio, masalahnya dengan mantan manager Samantha tersebut hanya akan menjadi kerikil, jika harus diungkapkan kepada sang kekasih.
Arcelio sudah melangkah ke dekat undakan anak tangga menuju teras. Namun, pria itu tertegun, karena Samantha masih tetap berdiri di dekat motor sambil memegangi box pizza. “Apa kau akan terus di situ, Sayang? Apa perlu kugendong masuk?” Arcelio menatap heran kepada kekasihnya.
“Aku tidak akan masuk sebelum kau memberikan penjelasan,” tolak Samantha dengan wajah merengut.
“Astaga.” Arcelio berdecak pelan. Rasa gemas mulai hadir, membuatnya ingin memberikan sedikit pelajaran kepada wanita berambut pirang itu.
Arcelio yang sudah akan meniti undakan anak tangga, kembali ke dekat motor. Dia mengambil box pizza yang sedang dipegang Samantha, lalu meletakkannya antara tanki dan stang. Tanpa diduga, pria itu mengangkat tubuh sang kekasih. Arcelio memanggul Samantha di pundak sebelah kiri. Dia berjalan masuk sambil membawa box pizza tadi.
“Turunkan aku, Arcelio!” Samantha memekik ketakutan, saat berada di atas pundak pria itu.
Namun, Arcelio tak menggubrisnya. Dia terus berjalan masuk, bahkan sempat membuat para pelayan mengulum senyum karena melihat tingkah konyol pasangan tersebut.
“Papa!” seru Aurora yang langsung menyambut kedatangan sang ayah. Begitu juga dengan Chrissy. Mereka berdua tertawa melihat Samantha berada di pundak Arcelio.
“Apa ibuku sakit, Paman?” tanya Chrissy polos.
“Tidak, Sayang. Dia hanya sedikit nakal,” jawab Arcelio sambil memberikan box pizza kepada Paolo, yang datang menghampiri mereka.
“Ada apa ini?” tanya pria paruh baya tersebut. Paolo menggeleng tak mengerti, dengan kelakuan Arcelio dan Samantha yang seperti anak remaja.
“Tidak apa-apa, Paman,” jawab Samantha menahan malu. Dia mendelik kepada Arcelio yang membalasnya dengan senyum kalem.
......................
“Apa rencanamu hari ini, Sayang?” tanya Arcelio sebelum berangkat. Dia merapikan kerah kemeja, lalu melipat bagian lengannya hingga tiga per empat. Tak lupa, Arcelio juga memasang arloji kesayangan di pergelangan kiri, lalu mengenakan jaket kulit hitam.
“Aku akan pergi ke apartemen Sara bersama anak-anak,” jawab Samantha dengan enteng.
Arcelio yang sudah hendak melangkah keluar apartemen sambil menenteng helm, langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik kepada Samantha. “Kau benar-benar akan pergi ke tempatnya?” tanya Arcelio memastikan.
“Sejujurnya, kau sudah membuatku sangat curiga, Arcelio.” Samantha melipat kedua tangan di dada sambil mengetuk-ngetukkan ujung kaki ke lantai.
Arcelio tertawa pelan. Dia tak kuasa menahan gemas atas sikap Samantha. Pria tampan berambut gondrong itu mendekat, lalu mencium bibir sang kekasih tepat di depan Aurora dan Chrissy yang berlari ke arah mereka.
“Kami sudah siap, Ibu peri,” ujar Aurora. Membuat Samantha langsung menghentikan ciumannya. Dia menjauhkan wajah dari ayah dua anak tersebut.
“Kau memang sangat nakal, Arcelio!" gerutu Samantha. Tak ingin memedulikan pria itu lagi, Samantha menuntun dua gadis kecil tadi menuju lift.
“Aku akan menemanimu sampai mendapatkan taksi,” ujar Arcelio. Dia tak peduli meski Samantha tampak keberatan. Pria tampan yang selalu terlihat mempesona dalam segala situasi itu ikut masuk ke lift. Dia menemani Samantha beserta kedua putrinya, hingga taksi yang dipesan datang. Setelah membantu mendudukkan Aurora dan Chrissy dengan nyaman, barulah Arcelio menaiki motornya menuju kantor sang ayah.
Setengah jam berlalu, Samantha sudah tiba di depan apartemen sahabatnya. Sara menyambut dengan hangat dan akrab. Dia mempersilakan Samantha agar masuk. Sara juga menghidangkan makanan yang sengaja disiapkan, demi menjamu sahabat lama beserta kedua putrinya.
“Apa mereka memiliki alergi?” tanya Sara.
“Chrissy tidak memiliki alergi apapun. Entah dengan Aurora.” Samantha tampak ragu. “Akan kutanyakan.” Wanita yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan tersebut, segera menurunkan tubuh di hadapan Aurora.
“Sayang, apakah papamu melarang kau makan sesuatu?” tanya Samantha lembut.
Aurora menggeleng kencang. “Aku boleh memakan apapun,” jawabnya yakin.
“Baiklah." Samantha yang gemas, segera mencium pipi gembul Aurora. Dia juga mengusap-usap pucuk kepala gadis kecil tersebut. “Aman, Sara. Mereka bebas makan sepuasnya di sini,” ujar Samantha sambil mengacungkan ibu jari.
“Ah, syukurlah. Aku senang karena mereka bisa menikmati kudapan yang telah kusiapkan. Dengan begitu, mereka bisa asyik dengan makanan. Sementara, kita bisa leluasa bergosip,” ujar Sara antusias. “Sekarang, ceritakan semuanya padaku. Bagaimana kau bisa bertemu lagi dengan Arcelio?”
Samantha sempat ragu untuk menjawab. Namun, saat melihat ekspresi wajah Sara yang teramat penasaran, wanita cantik itu pun menceritakan semuanya walaupun tidak secara detail. Samantha juga bercerita, bahwa ayah dan ibunya tak merestui pernikahan yang sedang dia dan Arcelio persiapkan.
Ketika Samantha dan Sara asyik berbincang, Aurora dan Chrissy sibuk mencicipi aneka kudapan yang sudah disediakan di meja makan. Akan tetapi, lama-kelamaan Chrissy merasa bosan. Diam-diam, dia keluar dari ruang makan itu.
“Chrissy!" seru Aurora tertahan. “Di sini saja. Nanti ibu peri marah,” ujarnya.
Chrissy yang masih belum begitu memahami apa yang Aurora katakan dalam Bahasa Italia, hanya meringis lucu sambil melambaikan tangan. Dia berlari masuk ke salah satu ruangan, yang ternyata adalah ruang kerja Sara.
Chrissy memang sangat aktif. Dia membuka semua rak dan laci yang ada di sana, termasuk laci meja kerja. Namun, geraknya terhenti, ketika dia menemukan beberapa lembar foto di dalam laci meja teratas.
Perlahan dan tanpa suara, Chrissy mengambil foto-foto itu. Alisnya saling bertaut, ketika Chrissy mengenali sosok dalam potret tersebut. “Bukankah ini paman?” gumamnya pelan.
“Chrissy! Astaga!" Tiba-tiba, terdengar suara Samantha yang berjalan mendekat. “Apa yang kau lakukan di sini? Aku hendak ke kamar mandi. Namun, harus kuurungkan karena tingkahmu,” omelnya.
“Lihatlah apa yang sudah kutemukan, Bu!” Chrissy tak menghiraukan raut marah sang ibu. Dia malah menunjukkan foto-foto Arcelio yang tengah berpose mesra bersama Sara.