
Waktu luangku semakin banyak sejak Anya mulai bersekolah. Saat siang hari aku memanfaatkan waktu untuk membersihkan rumah dan sekitarnya, membuat kue, atau berkebun seperti sekarang ini.
Berkebun menjadi kegemaranku akhir-akhir ini. Sebelumnya aku sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai cara merawat tanaman. Terlebih sebagian besar pekerjaan mengenai kebun dikerjakan oleh Mas Beny. Aku hanya membantunya dengan menyapu daun-daun yang gugur dan menyiram tanaman jika ada waktu luang.
Tapi belakangan ini berubah sejak Anya mencoba menanam beberapa bibit tanaman yang ia bawa dari sekolah. Setiap anak diberi tiga bibit tanaman, yang terdiri dari bibit kacang panjang, bibit tomat, dan bibit paprika. Mereka wajib untuk menanam dan merawatnya hingga berbuah. Setiap minggu, mereka harus membuat laporan tentang pertumbuhan bibit-bibit yang ditanam.
Karena membantu Anya dalam mengerjakan tugas ini, aku banyak belajar mengenai cara merawat tanaman. Aku jadi tertarik untuk menanam jenis tanaman lainnya. Saat ini aku sudah berhasil menumbuhkan beberapa jenis sayuran seperti selada, bayam, sawi, dan basil. Walaupun masih dalam bentuk tunas.
Dalam hal ini tentu saja Mas Beny banyak membantu kami. Karena dia yang paling tahu mengenai cara berkebun dan merawat tanaman.
“Sekitar lima sampai tujuh hari lagi baru bisa kita pindahkan ke tempat yang lebih luas. Lebih lama lebih baik supaya akarnya lebih kuat. Jika terburu-buru untuk dipindahkan, tanamannya bisa saja mati.”
“Oh...” aku akan mengingatnya dalam kepalaku.
“Jika masih kecil seperti ini, hanya disemprot air saja sudah cukup. Tidak perlu diberi pupuk,” tunjuknya pada tunas tanamanku, “pemberian pupuk bisa dilakukan jika batangnya sudah agak besar dan daunnya mulai banyak. Tidak perlu terlalu sering, seminggu sekali atau dua kali saja.”
“Bukankah pupuk itu penting untuk pertumbuhan tanaman?”
“Ya, tapi jika berlebihan justru akan menghambat pertumbuhan tanaman.”
Aku mengangguk sebagai respons. Mas Beny kini beralih pada tanaman milik Anya yang kini sudah lebih tinggi. Dia menyemprotkan air pada tanah dan daunnya.
Kuedarkan pandangan ke seluruh sudut taman. Taman yang tidak terlalu luas ini dipenuhi oleh berbagai macam tanaman dari berbagai jenis bunga, ada bunga matahari, bunga anggrek, bunga mawar, bunga bakung, dan yang paling banyak adalah bunga kosmos. Namun saat ini yang bunganya sedang mekar hanya bunga matahari dan kosmos.
Saat datang ke rumah ini, aku terkejut rupanya Mas Beny bisa merawat taman ini dengan baik walaupun Clara sudah tiada. Yang kutahu berkebun memang hobi Clara. Dia sering bercerita padaku tentang bunga-bunganya yang mekar di taman belakang rumah. Tapi aku tak menyangka Mas Beny juga memiliki ketertarikan yang sama.
“Apa dari dulu Mas Beny memang suka berkebun?” tanyaku penasaran.
“Tidak juga. Aku belajar semua ini dari Clara. Dialah yang merawat semua tanaman di rumah ini,” jawabnya dengan mata masih terfokus pada tanaman milik Anya.
“Ah, dia pernah bercerita padaku.”
Mas Beny kemudian meletakkan alat penyemprot di dekat kakinya, matanya melihat ke sekeliling taman ini, “Clara memang tidak terlalu pandai memasak atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tapi dia sangat telaten merawat tanaman-tanaman ini. Dia paling suka menanam bunga, makanya sebagian besar tanaman di rumah ini adalah bunga.”
“Benar. Seandainya semua bunga di taman ini mekar di waktu bersamaan pasti sangat indah,” aku membayangkan taman ini dipenuhi bunga warna-warni bermekaran dengan sangat cantik. Anya pasti suka.
“Dulu saat masih ada Clara, bunga-bunga di sini selalu mekar bersamaan. Membuat taman ini menjadi seperti taman bunga sungguhan. Entah sihir apa yang ia gunakan,” Mas Beny tertawa kecil, tapi matanya menatap kosong, seakan sedang mengingat masa lalu, “sekarang aku hanya bisa merawatnya semampuku.”
Kuperhatikan raut wajahnya, mencoba menerka apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Apakah dia merindukan Clara? Atau merasa bersalah karena tidak bisa merawat bunga-bunga ini seperti yang dilakukan Clara dulu? Atau memikirkan yang lain? Entah lah, aku masih tidak bisa menerka apa yang ada dalam pikiran lelaki ini.
Aku lalu tersenyum untuk menghiburnya, “Tapi Mas Beny sudah merawat taman ini dengan baik. Mereka tetap tumbuh dengan sehat dan berbunga dengan indah.”
“Benarkah?”
“Iya!”
Kami pun tertawa bersama lalu melanjutkan kegiatan kami tadi. Beruntung saat ini Eric sedang tidur, jadi kami bisa berkebun tanpa ada yang mengganggu. Biasanya kami juga mengajak Eric untuk bermain di taman.
Tak beberapa lama, kami sepakat untuk mengakhiri kegiatan ini, karena sudah mendekati waktu untuk menjemput Anya dari sekolah. Mas Beny lah yang bertugas untuk mengantar dan menjemput Anya. Ini merupakan permintaan Anya langsung. Dia ingin diantar dan dijemput oleh papanya.
Saat aku membereskan alat-alat berkebun, tiba-tiba angin berembus cukup kencang hingga menerbangkan daun-daun yang kering.
“Aaww!”
Aku memekik merasakan perih di mataku. Sesuatu masuk ke dalam mataku karena embusan angin tadi. Entah ini potongan daun kering atau tanah. Aku berusaha mengeluarkannya dengan mengucek mataku.
“Irene, ada apa?” aku hanya mendengar suara Mas Beny mendekat, sepertinya dia khawatir.
Tapi Mas Beny memegang tanganku untuk menghentikanku, “Jangan dikucek, nanti matamu bisa terluka. Diamlah sebentar.”
Aku hanya diam mengikuti perintahnya. Kepalaku mendongak dan mataku masih terpejam, karena bergerak sedikit saja terasa perih dan tak nyaman. Kemudian aku merasakan embusan napas di dekat wajahku.
Jangan bilang dia mau meniup mataku! Dalam hati aku berteriak panik. Ya memang apa lagi yang harus dilakukan saat ada seseorang yang matanya kemasukan benda asing? Cara mengeluarkannya tentu saja dengan meniup matanya. Dasar Irene bodoh!
Menyadari hal itu, aku kemudian mencoba menarik diri. Namun Mas Beny mencegahnya dengan memegang daguku.
“Sstt... Tenanglah, Irene. Aku sudah melepas sarung tangan, kok. Tanganku masih bersih,” dia berkata seperti itu dengan tenang.
Padahal bukan itu yang kukhawatirkan. Dasar tidak peka!
Sekarang tangannya berada di pipi kiriku. Spontan aku memejamkan mataku lebih erat. Namun aku merasakan sentuhan lembut di kelopak mataku.
“Jangan memejamkannya terlalu erat. Rileks saja. Aku akan segera mengeluarkannya,”
Kemudian Mas Beny mengangkat kelopak mataku. Pandanganku sedikit buram karena air mata, sehingga tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku bisa melihat siluetnya yang semakin mendekat. Lalu aku merasakan napasnya yang bertiup ke arah mataku.
Dia meniup mataku sebanyak tiga kali. Setelah itu dia melepaskan tangannya dari wajahku. Aku pun akhirnya bisa bernapas lega. Kucoba mengerjapkan mataku beberapa kali. Untunglah sudah tidak terasa perih lagi.
Aku hendak mengucapkan terima kasih pada Mas Beny, namun ternyata wajahnya masih sangat dekat denganku. Dia memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan. Jantungku berdegup sangat kencang karenanya.
Namun bukan hanya aku. Kedua tanganku yang berada di dadanya juga merasakan debaran yang sama. Napasku tercekat ketika pandangan Mas Beny turun ke bibirku. Aku paham apa maksudnya. Aku ingin sekali mendorong tubuhnya menjauh dariku, tapi tubuhku tidak mau menuruti. Aku hanya berdiri bak patung.
Telapak tangannya yang besar dan hangat, menyentuh pipiku lembut. Aku kembali memejamkan mata ketika Mas Beny memiringkan kepalanya dan mulai mendekat.
Aku hanya pasrah, hingga tiba-tiba tanganku terangkat dengan sendirinya menghalangi bibir Mas Beny menyentuh bibirku. Entah kekuatan dari mana, aku sendiri pun terkejut dengan tindakanku. Begitu pula dengan Mas Beny. Matanya membelalak terkejut. Tanganku yang masih berada di atas mulutnya dapat merasakan napasnya yang memburu.
Dengan cepat aku menarik tanganku lalu mundur beberapa langkah darinya. Kepalaku menunduk, tak berani menatap wajahnya.
“A-Aku akan melihat Eric. Mungkin dia terbangun. Mas Beny juga harus menjemput Anya 'kan? Aku masuk dulu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Mas Beny, akh berbalik dan setengah berlari memasuki rumah.
“Irene!”
Aku mendengarnya memanggil namaku. Tapi aku justru mempercepat langkahku. Kuraih gagang pintu kamarku dan membukanya. Teringat bahwa ada Eric yang sedang tidur, aku menutup pintu dengan perlahan.
Saat pintu tertutup, seluruh tubuhku seketika melemas. Aku jatuh terduduk di depan pintu. Kedua tanganku menutupi wajahku yang terasa panas. Jantungku masih berdegup kencang hingga membuatku sulit bernapas.
Apa itu barusan? Kenapa Mas Beny tiba-tiba seperti itu? Apa yang telah kulakukan?
Aku mengerti perasaan Mas Beny padaku. Tapi hatiku belum siap dengan semua ini. Di sisi lain aku merasa bersalah pada Mas Beny. Dia sudah berjuang membuktikan cintanya padaku selama ini. Terlebih bukankah itu juga menjadi kewajiban seorang istri kepada suaminya? Tapi yang kulakukan justru terus melarikan diri.
Kukira tembok yang kubangun di antara kami sudah mulai runtuh. Tapi aku salah. Tembok itu masih kokoh berdiri, menjadi penghalang bagi kami. Aku yang terjebak dalam dilema masih enggan untuk melangkah maju. Aku sendiri lah yang menciptakan situasi ini.
.
.
.
Bab 22 ((END))