
Samantha, masuk ke apartemennya dengan pikiran melayang. Dia merasa penasaran, kepada wanita muda yang ada di apartemen Arcelio. Walaupun tak ingin mengingat masa lalu yang buruk, tapi dia tak pernah lupa dengan wajah eksotis Delanna. Samantha yakin jika wanita muda tadi, bukanlah sang wedding planner yang telah menjadi orang ketiga dalam kisah cintanya bersama Arcelio.
Demi menjawab rasa penasaran itu, mantan aktris kenamaan Italia tersebut mendekati Chrissy yang tengah asyik dengan ponselnya. Anak itu sedang bermain game di sana. “Semalam, kau bermain di apartemen Aurora. Apa kau bertemu dengan ibunya?” tanya wanita cantik berambut pirang itu penuh selidik.
Chrissy mengalihkan sejenak perhatiannya kepada sang ibu. Anak itu menggeleng tanpa memberikan jawaban. Sesaat kemudian, gadis kecil berambut gelap tersebut kembali asyik bermain game.
“Apa kau yakin, Chrissy? Kau tidak melihat ada wanita seusiaku di sana? Wanita berambut gelap. Seperti rambut Aurora.” Samantha mempertegas pertanyaannya. Dia merasa kurang yakin dengan tanggapan sang anak.
“Di rumah paman berambut gondrong hanya ada Aurora dan Ollie, Bu,” sahut Chrissy. Tiba-tiba, gadis kecil itu seperti teringat akan sesuatu. Dengan segera, dia meletakkan ponselnya. Padahal, Chrissy termasuk anak yang kecanduan gadget. Dia selalu menghabiskan waktu dengan bermain game atau sekedar menonton video-video lucu.
“Kau mau ke mana, Chrissy?” tanya Samantha setengah berseru, karena sang putri sudah berlalu ke dekat pintu keluar.
“Aku lupa. Hari ini, Aurora akan mengajakku melihat Ollie membuang kotorannya. Ah, Ibu! Kenapa kau mengajakku menginap di rumah Paman Octopus. Aku jadi terlambat. Jam berapa sekarang?” Seperti itulah lagak Chrissy. Usianya baru lima tahun, tapi dia sudah sok dewasa. Padahal, mengenal huruf dan angka pun belum terlalu paham.
Samantha memijat keningnya. Dia mengembuskan napas pelan. “Ini baru jam sembilan. Memangnya, jam berapa Ollie biasa membuang kotoran?” Samantha merasa konyol saat bertanya demikian
“Hmm, jam berapa ya? Aku lupa.” Chrissy kembali ke dekat pintu. “Aku akan bertanya kepada Aurora!” serunya sambil berlari keluar.
“Hey, Chrissy!” panggil Samantha. Mau tak mau, dia harus mengikuti anak itu hingga ke apartemen yang ditempati Arcelio. Samantha, melihat putrinya sudah berdiri di depan pintu.
Sesaat kemudian, pintu ruang apartemen sang pelukis terbuka. Wanita muda yang tadi dilihat Samantha lah yang membukanya. Wanita muda itu tersenyum hangat, seraya menurunkan tubuh di hadapan Chrissy.
Melihat kesempatan itu, Samantha bergegas mendekat. Dia berpura-pura menegur sang anak. “Kau hanya akan mengganggu, Chrissy,” ucap Samantha, yang membuat wanita tadi langsung menoleh ke arahnya.
“Oh, tidak apa-apa. Aku dan Aurora sedang belajar Bahasa Perancis,” ujar wanita yang tak lain adalah Brigitte.
“Oh, begitu?” Samantha terlihat agak kikuk. “Putriku memaksa ingin bermain di sini. Katanya dia sudah membuat ….” Belum sempat Samantha menyelesaikan kata-katanya, Aurora lebih dulu muncul dan menyambut Chrissy dengan riang. Seketika, Samantha tertegun. Wajah anak itu kembali mengingatkannya pada sosok Delanna. Namun, dengan segera dia menepiskan perasaan tak nyaman tersebut.
“Aku hanya takut jika kalian sedang sibuk,” ucap Samantha lagi. “Perkenalkan. Namaku Samantha Bellucci. Aku tinggal di ruangan sebelah, hanya terhalang satu ruangan dari sini.” Samantha tersenyum ramah setelah memperkenalkan diri.
“Namaku Brigitte Colbert. Aku pengasuh baru di sini. Tuan Lazzaro memintaku menjaga putrinya selama dia bekerja.” Brigitte balas memperkenalkan diri.
“Bekerja?” ulang Samantha. Wanita itu berpikir sejenak. “Memangnya ke mana istri Tuan Lazzaro sehingga harus menggunakan jasa pengasuh?” tanya Samantha.
“Entahlah, Nyonya. Aku tidak berani bertanya macam-macam. Tuan Lazzaro hanya berdua dengan putrinya … ah, maksudku bertiga dengan Ollie.” Brigitte tertawa renyah setelah berkata demikian. “Tuan Lazzaro mengajar di universitas. Aurora mengatakan bahwa ayahnya adalah pelukis yang sangat hebat di Italia,” terang wanita berambut cokelat itu lagi.
Samantha tersenyum penuh arti. Dia tahu betul siapa pria yang sedang mereka bahas. Arcelio memang pelukis yang hebat. Dia juga pria yang baik dan penyayang. Andai saja dirinya tidak jatuh ke dalam pelukan Delanna, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi.
Sayup-sayup, terdengar tawa riang Aurora dan Chrissy dari dalam. Kedua anak itu memang tidak terlalu banyak berkomunikasi, meskipun Aurora sudah mulai mengerti sedikit Bahasa Perancis. Namun, gadis kecil itu masih canggung untuk mengutarakannya.
“Jangan khawatir, Nyonya. Putri Anda akan baik-baik saja di sini,” ucap Brigitte setelah beberapa saat terdiam.
Rasa penasaran, tiba-tiba mengusik dan menggelitik hati Samantha. Wanita itu merasa gelisah karena hal yang seharusnya bukan lagi menjadi urusannya. Jika dia sudah menutup pintu maaf untuk Arcelio dan membuka lembaran baru bersama Pierre, lantas mengapa dirinya masih peduli dengan apa yang mengganggu pikirannya kali ini?
“Argh!” Samantha menjadi pusing sendiri. Dia memilih mengalihkan perhatian dengan membuat sesuatu di dapur untuk menu makan siang.
Sekitar pukul dua siang, Arcelio sudah kembali. Hari pertamanya mengajar sungguh luar biasa. Kebahagiaan itu bertambah, saat melihat dua gadis kecil yang sedang bermain bersama. “Bagaimana Aurora hari ini?” tanya Acelio seraya meletakkan blazernya di sandaran sofa.
“Aurora anak yang sangat luar biasa. Dia cepat tanggap dengan semua hal yang kuajarkan, Tuan,” jawab Brigitte antusias. “Senang sekali bisa menjadi pengasuhnya. Seharian ini, dia juga bersikap tenang dan baik. Terlebih, karena ada yang menemaninya bermain.”
Arcelio tersenyum kalem diiringi anggukan pelan. Dia mengalihkan perhatian kepada dua gadis kecil yang tengah asyik bermain bersama Ollie. Pria yang terlihat makin tampan dan matang di usia tiga puluh lima tahun tersebut, menghampiri kedua anak tadi. “Hallo, Gadis-gadis,” sapanya. “Apa ada sesuatu yang menyenangkan?” tanya Arcelio.
“Hai, Papa,” sapa Aurora. Dia langsung memeluk Arcelio. Sementara, Chrissy hanya berdiri memperhatikan.
Melihat hal itu, Arcelio segera merentangkan tangan ke arah Chrissy. “Kemarilah, Nak,” ajaknya.
Tanpa ragu, Chrissy ikut menghambur ke dalam pelukan Arcelio. Mereka berdua bahkan digendong di tangan kiri dan kanan pria itu menuju sofa, lalu duduk di pangkuan Arcelio. Itulah kebahagiaan sesungguhnya bagi Arcelio. Menjadi ayah dari dua gadis kecil, adalah anugerah luar biasa yang didapatnya. “Bagaimana jika setelah ini kita belajar menggambar?” cetus Arcelio.
“Aku mau!” seru Aurora. Sementara, Chrissy hanya terdiam, karena dia tak mengerti Bahasa Italia. Arcelio mengulangi pertanyaannya menggunakan Bahasa Perancis.
“Aku tidak bisa menggambar, Paman. Aku lebih suka menyanyi. Ibu sering melakukannya setiap hari,” ujar Chrissy.
“Oh, tidak apa-apa. Sesuai dengan janjiku kemarin. Malam ini, kita akan berkemah. Kau bernyanyi dan Aurora menggambar. Dengan begitu, kita bertiga tetap bisa bersenang-senang,” ucap Arcelio. Dia pusing sendiri, karena harus berbicara dalam dua bahasa.
Brigitte yang menyaksikan hal itu, tersenyum manis. Dia memberanikan diri mengajukan ide kepada Arcelio. “Jika Anda berkenan, aku bisa memberikan les privat untuk Aurora. Aku akan mengajarkannya Bahasa Perancis, hingga putri Anda benar-benar menguasai dan fasih dalam melafalkan setiap katanya.”
“Ya, itu bukan ide yang buruk,” balas Arcelio setuju.
“Untuk jadwalnya terserah Anda. Jika mau, aku bisa datang setiap hari dan memberikan les privat untuk putri Anda. Dengan begitu, Aurora akan lebih cepat memahami,” usul Brigitte lagi.
“Ya. Aku tidak masalah dengan itu. Kau atur saja, Nona Colbert. Nanti kita bahas masalah upah dan lainnya,” sahut Arcelio menanggapi. Dia kembali pada dua gadis kecilnya. Arcelio membuat kedua gadis kecil tadi tertawa cekikikan, saat mendengar suara perutnya yang keroncongan. “Aku belum sempat makan siang, Nona-nona,” ujar Arcelio menahan malu.
“Makanlah dulu, Papa.” Aurora turun dari pangkuan sang ayah. Walaupun tidak mengerti, Chrissy mengikutinya turun. Dia juga ikut berlari kecil ke ruang makan, ketika Aurora menuntun Arcelio menuju ke sana.
“Apa kalian sudah makan siang?” tanya Arcelio sambil duduk di salah satu kursi.
“Anak-anak sudah makan, Tuan,” jawab Brigitte yang juga turut ke ruang makan. Dia hendak berpamitan kepada Arcelio. “Aku tadi akan membuatkan mereka makan siang, tapi tidak jadi,” tuturnya.
“Lalu, kedua gadis ini makan apa?” tanya Arcelio memandang Aurora dan Chrissy secara bergantian.
“Ibunya Chrissy mengirimkan makanan ini, Tuan,” tunjuk Brigitte.