SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 18 – Truth and Forgiveness (2)



Siang ini kami dalam perjalanan menuju kafe Gerald. Tidak seperti biasanya, suasana dalam mobil terasa sedikit tegang. Di antara kami tidak ada yang memulai pembicaraan, bahkan Anya sekali pun. Dia hanya diam sejak masuk mobil dan matanya fokus memandang ke arah luar jendela. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Tujuan kami ke kafe Gerald kali ini bukan untuk bersenang-senang seperti sebelumnya. Kami ke sana untuk bertemu dengan Alan. Seperti saran Mas Beny, aku ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin dengan Alan. Jadi, dua hari lalu aku menghubungi Gerald, meminta tolong padanya untuk mengatur pertemuanku dengan Alan hari ini.


~Flashback: On~


Setelah memastikan anak-anak tidur dengan lelap, kuambil ponsel dan keluar dari kamar. Aku menuju ruang keluarga dan di sana sudah ada Mas Beny yang menungguku.


Aku sudah menjelaskan semuanya pada Mas Beny, tentang pertanyaan Anya tadi siang dan rencanaku untuk bertemu dengan Alan. Dia berkata akan menghormati apa pun keputusanku. Dia juga berjanji akan terus menemaniku. Maka dari itu, saat ini aku akan menghubungi Gerald untuk meminta tolong padanya.


“Kamu sudah yakin?”


Aku menarik napas, lalu menghembuskannya, “Ya.”


Lalu aku menekan tombol telepon pada nomor Gerald. Menunggu beberapa detik, akhirnya dia menerima panggilanku.


“Halo?”


“Halo. Irene, bagaimana kabarmu?” dari suaranya, Gerald seperti agak terkejut. Mungkin karena aku belum menghubunginya lagi sejak kejadian kemarin.


“Aku sudah baik-baik saja. Terima kasih,” aku tertawa kecil untuk meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.


“Aku minta maaf, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu kemarin.”


“Hei, tidak perlu dipikirkan. Justru aku yang harusnya meminta maaf sudah membuat keributan di kafemu.”


“Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, ada perlu apa, Irene?”


“Gerald, aku butuh bantuanmu,” aku kembali melirik Mas Beny yang ada di sampingku. Dia hanya tersenyum lalu mencium tanganku lembut, mencoba menguatkanku, “tolong kabari Alan, aku ingin bertemu dengannya sekali lagi.”


“A-Apa?! Kau yakin, Irene?” Seperti dugaanku, dia pasti terkejut mendengarku tiba-tiba ingin bertemu Alan.


“Iya. Beri tahu dia, jika ingin dimaafkan, dia harus mengakui semua kesalahannya pada Anya.”


“Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku akan memberi tahu Alan.”


“Terima kasih, Gerald.”


Aku langsung menutup panggilan. Setelah aku meletakkan ponselku di meja, aku langsung memeluk Mas Beny. Dia pun balas memelukku.


“Mas, aku takut.”


Aku merasakan napas hangatnya di atas kepalaku. Sebelah tangannya kemudian mengelus punggungku dengan perlahan. Membuatku semakin nyaman.


“Aku pasti akan menemanimu.”


~Flashback: Off~


Tidak butuh lama untuk sampai di lokasi. Tanpa sadar aku menahan napas ketika Mas Beny memarkirkan mobilnya. Tekad yang sudah kukumpulkan sejak kemarin tiba-tiba menciut. Rasanya aku tidak ingin keluar dari mobil.


“Irene?”


Aku menoleh ke arah Mas Beny yang ternyata sudah berada di luar bersama Anya dalam gendongannya. Dia menatapku dengan khawatir.


“Kamu ingin kembali?” tanya Mas Beny seolah dia membaca pikiranku.


Aku tertegun sejenak. Lalu pandanganku tertuju pada Anya yang menatapku dengan pandangan bertanya. Bukankah aku ke sini demi Anya? Sekarang sudah terlambat untuk kembali. Aku harus bisa melakukannya. Lagi pula aku tidak sendirian sekarang.


Aku lalu tersenyum tipis, menggeleng, “Tidak, Mas. Ayo kita masuk.”


Saat memasuki kafe, suasananya masih sangat sepi karena kafe belum buka. Hanya ada beberapa pegawai yang sedang bersiap-siap. Lalu Gerald datang bersama Lisa menyambut kami.


“Alan sudah menunggu di lantai dua,” dia pun mengajak kami untuk naik ke lantai dua. Hanya aku, Anya, dan Mas Beny yang ke sana. Sedangkan Eric kutitipkan pada Lisa.


Setiap anak tangga yang kunaiki terasa semakin berat. Membuatku sulit bernapas dan berkeringat dingin. Namun tiba-tiba kurasakan tepukan di punggungku. Aku menoleh pada Mas Beny, dia tersenyum dan mengangguk padaku. Melihat perangainya yang tenang, membuatku ikut tenang. Semua pasti akan baik-baik saja.


Akhirnya kami sampai di lantai dua. Rupanya lantai ini difungsikan sebagai rumah. Di bagian depan ada beberapa sofa dan meja kecil yang kuasumsikan sebagai ruang tamu. Di sanalah aku melihat Alan sedang duduk menunggu kami. Wajahnya tampak tegang melihat kami.


Tiba-tiba dia berdiri, hendak mendekati kami.


“Tidak! Tetaplah duduk,” untungnya Gerald menyuruh Alan untuk kembali duduk. Untungnya dia mau menurut.


Kami kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Alan. Kami hanya diam beberapa saat. Sesekali aku melihat ke arah Alan. Beberapa kali dia tertangkap olehku sedang mencoba tersenyum pada Anya.


“Kau ingin menyampaikan sesuatu pada Anya?”


Alan terkejut mendengarku yang tiba-tiba membuka pembicaraan. Dia masih tampak ragu dan canggung.


“Umm... A-Anya...”


Mata Alan tampak berkaca-kaca, wajahnya memerah menahan tangis haru mendengar Anya memanggilnya Papa, “Iya, nak. Ini Papa. Papa Alan.”


“Tapi kenapa Papa nggak sama-sama sama Anya dan Mama dulu?”


Akhirnya pertanyaan itu kembali diutarakan oleh Anya. Kali ini ia tanyakan langsung pada Alan. Alan sendiri wajahnya langsung pucat. Dia berdiri dan mendekati Anya, kemudian berlutut di hadapannya.


“Anya, maafkan Papa. Papa sudah jahat pada Mama dan Anya. Papa sering membuat Mama dan Anya menangis,” Alan sudah tidak sanggup menahan air matanya, begitu juga denganku, “Papa tidak pernah mau menggendong Anya. Tidak pernah bermain dengan Anya. Bahkan Papa marah saat Anya menangis. Papa selalu mencoba menolak keberadaan Anya.”


Entah karena melihatku dan Alan yang menangis atau karena Anya mengerti dengan perkataan Alan, dia pun ikut menangis. Kedua tangan kecilnya bergantian mengusap air matanya.


“Kenapa, hiks, kenapa Papa seperti itu? Apa karena Anya nakal?”


Tangisku pecah mendengarnya. Anya bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas perlakuan Alan padanya. Aku tak menyangka Anya sampai memiliki pemikiran seperti itu.


“Irene, tenangkan dirimu,” Mas Beny mencoba menenangkanku dengan memelukku erat. Dia mengelus rambutku lembut dan membisikkan kata-kata yang menenangkan.


“Tidak, sayang. Ini bukan salah Anya. Anya bukan anak nakal. Papa yang nakal. Papa yang jahat. Makanya Mama pergi membawa Anya meninggalkan Papa,” Alan meraih kedua tangan Anya dan menciuminya, “awalnya Papa pikir Papa akan baik-baik saja. Tapi Papa salah. Hidup Papa hancur tanpa kalian. Setelah kalian pergi, Papa baru sadar betapa berharganya kalian dalam hidup Papa.”


“Papa mungkin tak pantas memintanya, tapi apa Anya mau memaafkan Papa?”


Anya terdiam sejenak, mencerna kalimat Alan. Lalu dia menoleh ke arahku. Seolah meminta izin. Aku berusaha tersenyum walau air mataku masih berlinang, “Terserah Anya,” hanya itu yang sanggup kukatakan.


Anya kembali menghadap Alan yang masih memegang kedua tangannya, menatapnya dengan pandangan memohon. Anya kemudian menganggukkan kepalanya kaku.


Alan kembali menangis tapi kali ini dia tersenyum lebar, seakan beban berat yang selama ini ia pikul telah lepas dengan sebuah kata maaf dari Anya. Wajahnya tampak semringah dan bahagia, sama seperti saat aku berkata 'iya' ketika ia melamarku beberapa tahun lalu.


Dia kemudian meminta izin padaku, “Irene, bolehkah aku memeluk Anya?”


Awalnya aku enggan mengiyakan. Tapi jika Anya bisa memaafkan, maka aku juga harus bisa. Mau bagaimana pun Alan selamanya tetap ayah kandung Anya. Dia masih memiliki hak atas Anya. Anya juga masih berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Aku pun memberikannya izin untuk memeluk Anya.


Tanpa menunggu lama, Alan merengkuh tubuh kecil Anya dalam pelukannya. Ini adalah pertama kalinya Alan memeluk Anya.


“Anya... Putriku...” Tak hanya memeluk, Alan juga menciumi pipi dan kepala Anya. Lalu dia mengangkat tubuh Anya dan menggendongnya.


Tangisku kembali pecah melihat mereka. Sebuah pemandangan yang ingin sekali kulihat di masa lalu. Dulu aku hanya bisa berandai-andai kapan hari itu datang. Ketika Alan dengan besar hati menerima Anya dan menyayanginya. Kini harapanku akhirnya terkabul walaupun dengan situasi yang sudah berbeda.


Mas Beny kembali memelukku. Dia membisikkan kalimat “Kamu hebat” dan “Kamu sudah berjuang” berulang kali di telingaku. Tangisanku pun berangsur mereda.


“Papa tahu? Anya selalu ingin punya papa seperti yang lain. Tapi Anya diam saja, Anya nggak mau buat Mama sedih,” samar-sama aku mendengar Anya bercerita pada Alan, “Lalu Papa Beny datang dan mau jadi papanya Anya. Anya senang sekali akhirnya Anya punya papa.”


“Tapi Anya juga sedih ternyata Papa Alan nggak mau sama Anya dan nggak sayang sama Anya.”


“Enggak, sayang,” Alan memeluknya lagi, “Papa selalu sayang Anya. Hanya saja waktu itu Papa belum sadar. Sampai kapan pun Anya akan menjadi anak kesayangan Papa.”


Anya mengangguk. Kemudian sebelah tangannya menghapus jejak air mata di pipi Alan.


“Papa Alan jangan menangis, Anya sudah memaafkan Papa. Tapi Papa harus janji untuk jadi orang yang baik, ya?” dia menyodorkan jari kelingkingnya pada Alan untuk membuat janji.


Senyum Alan semakin melebar, ia menautkan kelingkingnya pada kelingking Anya, “Iya, Papa janji, sayang. Papa akan berubah jadi orang lebih baik. Terima kasih, Anya.”


Perasaan haru sekaligus bangga melihat Anya yang tumbuh dengan hati yang besar. Anya dengan tulu menerima dan memaafkan Alan atas apa yang telah dia lakukan padanya. Berbeda denganku yang masih terjebak dalam kebencian dan sulit memaafkannya.


Bukannya ingin merusak momen kebersamaan ayah dan anak yang baru bertemu. Tapi kurasa ini sudah cukup. Urusan kami sudah selesai dengan Alan. Kami harus kembali.


“Anya. Kemari, nak.”


Kulihat Alan tampak berat hati menurunkan Anya dari gendongannya. Anya pun langsung kembali ke pelukanku.


“Sudah selesai bicaranya dengan Papa?” Dia hanya mengangguk.


“Kalau begitu kita pulang, ya? Kasihan adik Eric menunggu lama,” tanpa menunggu respons Anya aku langsung menggendongnya dan hendak meninggalkan tempat itu.


“Irene!”


Tapi panggilan Alan menghentikan langkahku.


“Kita perlu bicara juga.”


.


.


.


Bab 18 ((END))