
"Nero belum pulang, Ma?" tanya Ayah Nero kepada sang istri.
Ibu Nero baru keluar dari kamarnya. Wanita setengah baya itu mengganti pakaiannya dengan daster bermotif batik—berlengan pendek.
Wanita itu duduk di samping suaminya. "Belum. Dia ke mana, ya? Apa masih di rumah sakit?" tanyanya.
"Atau jangan-jangan, dia bermain ke rumah Vivi?" celetuk Ayah Nero.
Mendengar nama Vivi disebut suaminya, Ibu Nero seketika kesal. Saking kesalnya Ibu Nero, wanita itu sesekali mengucapkan kalimat kasar yang ditujukan pada sosok Vivi.
Sebelum kedua orang tua Nero tahu kondisi Vivi di masa lalu dari mulut Ronald—akibat tidak sengaja, pandangan Ayah, dan Ibu Nero seketika berubah. Semula sangat hangat, kini menjadi dingin, serta tidak bersahabat. Mereka menyesal memperlakukan mantan orang gila itu dengan baik. Kalau mereka tahu Vivi adalah mantan pasien Nero di rumah sakit jiwa, mereka sudah mengusir Vivi sebelum masuk ke dalam rumah mereka.
"Nero sudah tidak waras." Ibunya mengomel. "Di dunia ini masih banyak gadis cantik, dan waras! Kenapa dia malah mengajak seorang wanita gila untuk dikenalkan sebagai pasangannya? Mama tidak bisa membiarkan ini, Pa. Papa jangan diam saja, bantu Mama bicara dengan Nero! Sampai kapan pun, Mama tidak akan mau memberi restu kepada hubungan mereka!" Suara Ibu Nero terdengar ketus. "Bayangkan saja kalau suatu hari kita punya cucu, tapi terlahir dari wanita seperti Vivi. Papa mau punya cucu yang lahir dari mantan pasien dari rumah sakit jiwa? Mama sih tidak mau, Pa!" oceh ibunya lagi.
"Bukan cuma Mama saja. Papa pun sama halnya." Ayah Nero ikut-ikutan. "Kita tunggu Nero pulang, nanti kita bicarakan sama-sama dengannya."
Suasana hati Ibu Nero berubah menjadi buruk karena suaminya tiba-tiba membahas Vivi. Wanita itu kesal. Ia merasa dibohongi oleh Nero serta Vivi karena dari awal, mereka berdua tidak bicara jujur.
"Pokoknya Mama tidak akan setuju, Pa. Mau dipaksa seperti apa pun, Mama tidak akan mau mempunyai menantu gila! Tidak waras!" umpat Ibu Nero menggebu-gebu.
***
Nero melepas sabuk pengamannya. Ia menarik kunci mobilnya sebelum keluar dari mobil.
Ia baru saja tiba di rumah setelah berkunjung ke apartemen Vivi, serta bertemu dengan orang tua Vivi. Perasaan Nero lebih lega sekarang. Keluarga Vivi memperlakukan Nero, menerima Nero dengan baik saat datang menemui mereka. Apa lagi Ayah Vivi. Nero banyak berbincang dengan pria setengah baya itu.
Nero mengantongi kunci mobilnya ke dalam saku celana. Nero melepas sepasang sepatu lalu menggantinya dengan sandal rumahan yang telah tersedia di rak.
"Ma, Pa," panggil Nero sembari melangkah ke dalam rumah.
Samar-samar ia mendengar suara kedua orang tuanya, dan suara TV dengan volume cukup tinggi.
Ayah dan ibunya yang tadi sedang mengobrol seketika berhenti, dan menatap Nero dengan kompak. "Dari mana saja kamu, Nero?" tanya Ayah Nero tanpa basa-basi.
Ibunya menatap sang putra dengan waspada. "Jangan bilang ... kamu baru saja bertemu dengan Vivi, ya?" tuduh ibunya.
"Memang," jawab Nero, jujur. "Bahkan aku baru bertemu dengan keluarganya. Mereka sangat baik Ma, Pa. Mereka menerima kedatanganku dengan hangat."
Ibu Nero mendengus. Wanita setengah baya itu tersenyum sinis. "Jelas saja keluarga Vivi menerima kamu dengan baik di rumahnya. Karena mereka sadar, tidak akan ada pria yang mau dengan mantan orang gila! Kamu saja yang bodoh, Nero," sahut ibunya, pedas. "Mereka sengaja memperlakukan kamu dengan baik karena ada maunya."
"Mama bilang apa, sih?" tegur Nero.
"Mama bicara fakta. Bahkan kamu dulunya adalah Dokter yang menangani Vivi. Harusnya kamu lebih tahu dari Mama dan Papa, kan? Apa sih yang kamu lihat? Mama rasa, alasan cantik bukan satu-satunya. Masih ada banyak wanita waras di kota ini. Yang lebih cantik juga banyak!"
"Ma," sela Nero. Suaranya mendadak sedih. "Benar, Vivi memang pernah mengalami masalah kejiwaan, sampai dia dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi Mama dan Papa harus tahu. Vivi sudah sembuh. Dia sudah tidak sakit lagi. Vivi sama seperti manusia normal lainnya. Seperti kini ini."
Ibu Nero mendelik. "Kita? Jangan samakan kami dengan Vivi! Karena anggota keluarga kita di rumah, tidak ada yang pernah menjadi alumni rumah sakit jiwa! Dengar itu, Nero."
Nero mengepalkan tangannya. Kedua orang tua Nero sudah sangat keterlaluan menyebut Vivi sebagai orang gila. Padahal Vivi sudah sembuh. Sudah bisa beraktivitas seperti orang lain.
"Terserah Mama dan Papa bilang apa tentang Vivi. Tapi Ma, Pa, aku terlanjur mencintai Vivi. Dia yang sudah membuatku sadar kalau hidup terus berjalan. Vivi juga yang membuatku kembali bersemangat dalam menjalani hidup. Seharusnya kalian berterima kasih kepada Vivi. Bukannya malah menyudutkan, apa lagi menghina Vivi terlalu kasar."
"Nero—"
Nero buru-buru menyela ucapan sang Ibu. "Sudah malam, Ma, Pa. Aku pamit ke kamar dulu. Selamat malam."
***
Vivi mengetuk pintu di depannya beberapa kali. Ia menahan kotak kue dengan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang bebas mengetuk pintu lebih dari satu kali.
Hari ini Vivi sengaja datang ke rumah orang tua Nero. Selain ingin mengantarkan kue ke rumah untuk Ayah dan Ibu kekasihnya, Vivi juga ingin mengabarkan kalau ia akan pindah ke rumah ayahnya lagi.
Vivi berjalan agak mundur ke belakang. Ia mendengar suara kunci pintu yang diputar dari dalam.
Tidak lama pintu pun terbuka. Vivi menyapa ibunya Nero dengan senyuman lebar. "Malam, Tante. Saya—"
"Pergi kamu dari sini!" bentak ibunya Nero.
"Tante?" gumam Vivi bingung.
Ibunya Nero tahu-tahu mengusir dirinya. Padahal baru beberapa hari lalu ia datang kemari dan bertemu dengan keluarga sang kekasih. Mereka memperlakukan Vivi dengan baik. Kedua orang tua Nero tampak senang. Tapi, kenapa ... Vivi terlalu terkejut. Apa lagi saat wanita setengah baya itu mengeluarkan kata-kata makian yang menyakiti hatinya.
Ibunya Nero, mengungkit masa lalu Vivi.
"Bawa kue kamu pergi dari rumah saya! Jangan pernah datang kemari lagi!" usir ibunya Nero.
"Tante, saya salah apa? Bukannya kemarin—"
"Sebelum saya tahu kamu mantan orang sakit jiwa, saya memang hendak menerima kamu sebagai calon istri Nero. Tapi setelah saya tahu semuanya, saya, dan papanya Nero tidak sudi! Jauhi Nero sekarang juga! Karena sampai kapan pun, saya enggan menerima kamu!"
Ibu Nero terus mengolok Vivi sebagai mantan orang gila. Bahkan kue yang ia bawakan khusus, malah dibuang oleh Ibu Nero.
Nadine baru saja tiba, ia mendengar suara berisik di luar pintu rumah. Nadine awalnya hanya ingin memeriksa. Namun setelah melihat ibunya memaki Vivi, wanita itu langsung membantu calon Kakak iparnya.
"Vi, kamu tidak apa-apa?" Nadine membantu menenangkan Vivi. Ia menatap ibunya. "Ma, berhenti mengungkit masa lalu Vivi. Ucapan Mama sudah keterlaluan."
"Diam kamu, Nadine. Kamu tidak usah ikut campur!"
"Aku bukannya ikut campur. Tapi Mama—"
"Sudahlah, Nadine. Mama malas melihat wanita ini. Bawa dia pergi dari sini," perintah ibunya Nero, lantas masuk ke dalam rumah meninggalkan Vivi dan Nadine berdua.