SECOND LOVE

SECOND LOVE
Kejutan Besar



Arcelio tertegun menyaksikan adegan itu. Dalam hati, dia ingin sekali menarik tubuh Pierre agar menjauh dari Samantha. Namun, kenyataannya Arcelio tak dapat melakukan apapun selain membuang muka.


Sementara, gemuruh dalam dada begitu besar dan tak dapat dirinya kendalikan. Arcelio berusaha mengatur emosi agar lebih terkendali. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Hal itu dilakukannya sebanyak dua sampai tiga kali, hingga dirinya merasa tenang kembali.


Pria itu harus belajar mengesampingkan rasa cemburu yang memenuhi relung hatinya. Hal seperti itu akan terus menjadi pemandangan yang selalu dia saksikan, selama Samantha masih tetap bersama Pierre.


“Ah! Bagaimana jika kita rayakan penampilan terbaik kekasihmu tadi dengan satu atau dua gelas anggur?” tawar Arcelio, ketika Samantha sudah turun dari panggung dan berganti kostum. Perhatian Arcelio tertuju pada dua sejoli tadi. Dia memasang wajah sumringah, seakan dirinya tengah baik-baik saja.


“Itu ide yang sangat bagus,” sahut Pierre setuju.


“Kuharap jangan sampai terlalu malam. Aku tidak bisa tenang karena meninggalkan Chrissy,” ujar Samantha resah.


“Tenanglah, Sayang.” Pierre merengkuh mesra pundak Samantha. Dia mencium pipi wanita itu.


“Hentikan, Pierre. Jangan berlebihan,” tegur Samantha. Dia berusaha menghindar, agar Pierre tak terus-menerus menghujaninya dengan ciuman. Selain karena merasa risi, Samantha juga tak suka dengan sorot mata Arcelio yang memancarkan rasa cemburu luar biasa.


“Bagaimana jika kita berangkat sekarang?” tawar Arcelio lagi.


“Tentu. Kita cari bar terdekat dari sini. Dengan begitu, aku bisa meninggalkan mobil di tempat parkir gedung ini,” ujar Pierre.


“Setahuku ada bar kecil beberapa meter dari sini,” ucap Samantha. Tatap matanya sesekali mengarah kepada Arcelio, yang juga melihat padanya secara diam-diam.


Setelah sepakat, mereka bertiga berjalan bersama menyusuri suasana malam Kota Paris. Samantha berjalan dengan diapit oleh Pierre di sebelah kiri, dan Arcelio di sebelah kanan. Sambil melangkah tenang di trotoar berlapis paving block, ketiganya berbincang ringan. Pierre dan Arcelio saling melempar candaan ringan. Sementara, Samantha hanya menyimak. Namun, tak jarang wanita cantik itu menanggapi dengan tawa pelan.


Dalam perjalanan itu, sesekali tangan Arcelio menyentuh pinggul Samantha sambil terus melangkah. Samantha yang tengah memegang clutch bag di depan tubuh, tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya. Wanita itu hanya menunduk, lalu tersenyum. Satu sentuhan kecil dari Arcelio, ternyata jauh lebih menyenangkan perasaannya, dibanding puluhan ciuman yang dilayangkan oleh Pierre. Kedengarannya memang tidak adil dan jahat. Akan tetapi Samantha tidak dapat mengingkari hati sendiri.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit. ketiganya tiba di bar yang dimaksud. Pierre segera memilih meja untuk mereka. Perbincangan ringan dan hangat kembali hadir mengisi kebersamaan itu.


“Bersulang! Ini untuk penampilan Samantha yang sukses menyihir semua penonton,” ucap Pierre seraya mengangkat gelasnya.


“Bersulang!” balas Arcelio. Dia ikut mengangkat gelasnya, begitu juga dengan Samantha.


“Aktingmu benar-benar luar biasa, Sayang,” sanjung Pierre setelah meletakkan kembali gelas yang digenggamnya di meja. “Sayang sekali karena aku belum pernah melihat film-film yang kau bintangi saat dirimu menjadi aktris di Italia dulu. Kau tahu bahwa aku bukan pecinta film,” sesal Pierre.


“Ya. Kau lebih suka menulis dan membaca,” ujar Samantha. Dia meletakkan tangan kiri di atas meja. Sedangkan, tangan kanan di pangkuannya.


“Kenapa kau tidak kembali ke dunia seni peran, Sayangku?” Pierre menyentuh punggung tangan Samantha yang ada di atas meja.


“Kekasihmu mungkin sama sepertiku, yang memilih beralih profesi. Ah, sebenarnya tidak. Nona Bellucci tetap berakting hingga saat ini.” Arcelio meralat kata-katanya. Dia sempat melirik sesaat kepada Samantha, yang juga menoleh sekilas padanya.


“Kau juga pasti masih mencintai profesi sebagai pelukis,” ucap Samantha menanggapi.


“Aku selalu mencintai apapun yang sudah hadir dan menjadi bagian dari hidupku, Nona Bellucci,” balas Arcelio seraya terus menatap Samantha penuh arti.


Samantha tersenyum kikuk. Debaran jantungnya kian tak beraturan. Teringat kembali olehnya adegan percintaan kemarin malam. Itu merupakan kegilaan pertama yang pernah dilakukannya seumur hidup. “Kau benar, Tuan Lazzaro. Sangat sulit untuk melepaskan diri, apalagi sampai membuang jauh sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita. Seburuk apapun itu.” Samantha tersenyum kelu di akhir kalimatnya.


Sementara, Pierre hanya memicingkan mata saat menyimak obrolan Samantha bersama Arcelio. Dia tidak melihat rasa canggung dalam bahasa tubuh atau tutur kata Samantha, yang dilontarkan kepada Arcelio. Namun, bukannya merasa curiga. Pierre justru tersenyum lebar karenanya. Dokter spesialis anak tersebut berpikir bahwa Samantha sudah mulai membuka diri dalam pergaulan.


“Aku tidak tahu ilmu apa yang kau miliki, Arcelio,” ucap Pierre setelah meneguk minumannya.


“Maksudnya?” Arcelio menaikkan sebelah alis. Dia juga belum melepaskan genggaman tangannya dari Samantha.


“Maksudku, kau bisa langsung akrab dengan Chrissy. Entah karena pengaruh Aurora atau bukan, tapi anak itu terlihat menyukaimu juga. Sedangkan aku … astaga, maaf, Sayang.” Pierre mengalihkan perhatiannya kepada Samantha. “Putrimu sangat sulit untuk ditaklukan,” decaknya pelan.


Samantha tertawa renyah. “Ini merupakan sesuatu yang konyol untuk seorang dokter anak,” ujar Samantha setengah meledek.


“Ayolah. Jangan membuat nyaliku semakin menciut.” Pierre memasang wajah memelas. Membuat Samantha kembali tertawa.


“Kau memang selalu bisa membuatku tertawa, Pierre,” ucap Samantha menanggapi.


Ucapan yang sederhana dan biasa, tapi terdengar sangat mengganggu bagi Arcelio. Rasa cemburu dan tak terima itu kembali hadir. Dia tak suka jika Samantha mengatakan hal seremeh itu kepada pria lain. Arcelio segera berusaha menguasai diri. Dia harus melepaskan kebodohan yang telah membuatnya terpuruk. Pria itu mengembuskan napas panjang demi menghalau kegundahan hatinya.


“Kurasa, ini sudah terlalu malam. Kasihan Nona Colbert yang jika harus pulang larut,” ucap Arcelio setelah melihat arloji di pergelangan kirinya.


“Ya, sudah. Kita pulang saja sekarang. Lagi pula, aku juga sangat lelah,” timpal Samantha. Dia berusaha menarik tangannya yang masih dalam genggaman Arcelio. Samantha sempat mendelik kepada pria tampan berambut gondrong itu, sebagai isyarat agar tidak berbuat macam-macam di depan Pierre.


Arcelio hanya menanggapi lirikan tajam Samantha dengan senyum kalem. Akhirnya, dia mengalah. Pria itu melepaskan genggaman tangannya meski terpaksa. Setelah membayar minuman yang mereka pesan, ketiganya keluar dari bar tadi. Perbincangan ringan kembali hadir, hingga langkah mereka terhenti ketika ada seorang wanita yang menyapa Samantha.


“Samantha Bellucci? Astaga! Aku penggemar beratmu!” Wanita yang berbicara dalam Bahasa Italia itu tiba-tiba memeluk erat Samantha, bahkan membuat sang mantan aktris terkenal Italia tersebut tak dapat bergerak.


“Sejujurnya bahwa aku dan para penggemar yang lain sangat merindukan aktingmu. Sayangnya, kau memutuskan pensiun dari dunia perfilman. Kau juga lama menghilang, dan ternyata berada di sini," celotehnya.


Sesaat kemudian, wanita yang mengaku sebagai fans berat Samantha tersebut mengalihkan perhatian kepada Arcelio. "Hey! Kau juga bersama Arcelio Lazzaro! Jangan katakan jika kalian kembali bersama, setelah dulu batal menikah."