
“Ayah!” Samantha melayangkan tatapan protes, dengan nada setengah berseru. Dia langsung menoleh kepada Aurora, yang sudah beringsut sambil mere•mas celana Arcelio.
“Papa, apa kakek itu menyuruhku pergi ke awan untuk menjemput ibu?” tanya Aurora lirih. Raut ketakutan terlihat jelas dari paras mungilnya yang cantik.
“Tidak, Nak. Tak ada siapa pun yang akan membuatmu jauh dariku. Kau akan tetap berada di sini, Sayang." Arcelio langsung memeluk tubuh Aurora yang hampir menangis.
“Kau dengar itu, Samantha? Arcelio lebih memilih anak dari selingkuhannya dibandingkan dirimu,” cibir Gilberto.
“Jika Arcelio bersikap demikian, maka aku bisa memahami hal itu dengan baik. Aku juga seorang ibu. Sudah sepatutnya aku menempatkan anak-anakku di atas segalanya,” sahut Samantha pelan.
“Anda salah, Paman. Anak bukanlah pilihan. Apapun yang terjadi dan sejauh apapun kami terpisah, Aurora tetaplah putriku. Namun, Samantha … dia adalah segalanya." Tatapan Arcelio langsung tertuju pada sang kekasih. Sorot matanya tampak penuh cinta.
“Aku memang egois, tapi aku tidak ingin kehilangan Samantha lagi. Aku tetap akan berjuang meraih restu kalian dengan cara lain,” tegas Arcelio.
“Sayang sekali, hanya itu satu-satunya cara agar kau mendapat restu kami. Buang anak itu!” sentak Gilberto tak kalah tegas.
“Ayah!” Samantha tak dapat menahan rasa kecewa. “Selama ini aku menjadikanmu sebagai panutan. Bagiku, kau adalah ayah terbaik dengan karakter luar biasa. Akan tetapi ….” Wanita cantik itu menggigit bibirnya demi menahan gejolak rasa yang sulit diungkapkan. Namun, Samantha tetap harus memberikan teguran pada kedua orang tuanya.
“Aku tak menyangka kau akan bersikap seperti ini,” ucap Samantha seraya menggeleng lemah. Dia mendekat kepada Aurora, lalu menggendong gadis kecil itu.
“Anak ini tidak bersalah. Dia tidak bisa memilih dari rahim siapa dirinya dilahirkan. Lalu, kenapa kalian melimpahkan semua kesalahan kepadanya? Aurora tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Sama seperti Chrissy yang tak tahu seperti apa rasanya memiliki ayah. Aku dan Arcelio hanya ingin memberikan apa yang kedua gadis kecil ini belum pernah dapatkan dalam hidup mereka," tutur Samantha begitu emosional.
“Selama ini, Arcelio hanya mencoba untuk bertanggung jawab atas segala kesalahan yang diperbuatnya, yaitu dengan merawat anak ini,” lanjut Samantha, membuat semua orang di ruangan luas itu terdiam. "Apa lagi yang kalian inginkan? Jika aku saja yang merasa tersakiti secara langsung olehnya bisa memberikan maaf dan kesempatan kedua, lalu kenapa kalian bersikap seperti ini?"
“Aku tak akan pernah menghilangkan jasa kalian, yang selama ini selalu menemaniku di masa-masa paling kelam dalam hidupku. Kalian terus mendukung dan memberi semangat hingga diriku mampu bangkit kembali. Namun, aku juga ingin melangkah lebih jauh untuk menata masa depan bersama Arcelio. Jika memang kalian mengatakan akan mendukung apapun keputusanku, lalu kenapa bersikap seperti ini?” protes Samantha.
“Alasannya adalah karena kami masih belum bisa melupakan pengkhianatan, serta rasa sakit yang dia berikan padamu, Samantha Bellucci!” sahut Lucrezia dengan nada tinggi.
“Kau adalah putriku! Seperti yang kau katakan tadi, orang tua akan melakukan apapun demi anaknya! Termasuk melindungi mereka dari sumber penyakit yang merugikan serta menghancurkan!”
Jantung Arcelio seakan tertusuk berkali-kali, mendengar perkataan Lucrezia. Namun, dia memilih untuk tidak menanggapi. Arcelio tak hendak membela diri, karena pada kenyataannya pria itu memang pernah menorehkan luka yang teramat dalam pada Samantha dan keluarganya.
“Aku mencintai Arcelio, Bu. Mungkin ini terdengar memalukan bagi kalian, tapi aku benar-benar tak bisa berpisah dengannya. Tolong, mengertilah,” pinta Samantha memelas.
“Dengan segala kerendahan hati, aku hanya bisa memohon pada kalian. Berikanlah kesempatan kedua padaku, untuk membuktikan segala rasa cinta dan kesungguhan terhadap Samantha,” ucap Arcelio setelah beberapa saat terdiam.
“Kalian!” Gilberto mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan, Lucrezia hanya dapat menarik napas panjang, karena tak mengerti dengan sikap putrinya.
“Baiklah, kalau memang itu maumu, Samantha,” ujar Gilberto pada akhirnya.
Samantha yang masih dalam posisi menggendong Aurora, segera memusatkan perhatian pada sang ayah dengan mata berbinar. “Ayah,” gumamnya.
“Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku dan ibumu tidak akan peduli lagi." Gilberto membalas tatapan Samantha dengan tajam. “Kau sudah memilih jalanmu bersama Arcelio. Itu artinya, kau sudah tak memiliki hubungan dengan kami lagi!”
“Gilberto!” seru Lucrezia seakan hendak melakukan protes.
“Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali. Apapun yang akan terjadi pada hidupmu nanti, hadapilah sendiri. Tidak usah datang kemari, apalagi meminta bantuan kami lagi!" usir Gilberto. Dia sudah mengambil keputusan. Pria itu bahkan tak mengindahkan raut keberatan dari sang istri.
“Ayah." Samantha tidak pernah menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.
"Kau sudah bertindak sangat keterlaluan, Sobat. Aku dulu pernah memberikan hukuman seperti ini kepada Arcelio, Namun, itu karena dia telah melakukan kesalahan yang teramat fatal. Akan tetapi, untuk kali ini aku benar-benar tidak setuju. Menurutku kau terlalu berlebihan, Gilberto," tegur Paolo yang langsung berdiri dari duduknya.
Lain halnya dengan Lucrezia. Wanita itu juga sangat terkejut dengan keputusan suaminya. Ibunda Samantha tersebut menatap penuh arti kepada Paolo, seakan meminta ayahanda Arcelio agar melakukan sesuatu.
"Gilberto, tolong pertimbangkan lagi," pinta Lucrezia dengan mata berkaca-kaca.
"Apa lagi yang harus kupertimbangkan?" balas Gilberto tegas. Kemarahan sudah melumpuhkan akal sehatnya. "Kau tahu sendiri bahwa Samantha sudah dewasa. Dia bisa dan tahu bagaimana mengatur hidupnya. Seperti saat ini. Dia pasti sudah mempertimbangkan segala risiko yang akan dirinya hadapi."
Gilberto kembali menatap tajam kepada Samantha. "Ingat satu hal, Sam. Sekali seorang pria tergoda dengan wanita lain yang bukan pasangannya, bukan tidak mungkin dia akan mengulangnya lagi."
"Paman!" protes Arcelio.
"Kau sudah menghina putraku dengan sangat keterlaluan, Gilberto!" sentak Paolo. "Tak kusangka pikiranmu ternyata benat-benar picik!" Paolo berbalik meninggalkan ruangan itu.
“Aku mengerti, Ayah." Samantha memaksakan senyum. Sambil menggendong Aurora di sebelah kanan, dia meraih tangan Chrissy lalu menuntunnya keluar dari kediaman megah Keluarga Bellucci. Dia tak memedulikan apapun lagi.
Sementara, tak ada yang dapat Arcelio lakukan, selain ikut berlalu dari hadapan kedua orang tua Samantha.
“Tunggu, Samantha!” Arcelio bergegas mengejar sang kekasih yang terus berjalan menuju mobil Paolo terparkir.
“Semoga mereka tidak menyesali keputusan bodoh ini,” ucap Paolo sebelum membukakan pintu untuk Samantha. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang modern seperti Gilberto. "Masuklah. Kita pulang," suruh Paolo pada Arcelio.
Tanpa disangka, Lucrezia menyusul mereka. Dia mencegah Paolo yang hendak masuk ke mobil. “Kau tahu sendiri sifat Gilberto yang keras dan kaku,” sesal ibunda Samantha tersebut.
“Sudahlah, Lucrezia. Kembalilah pada suamimu sebelum dia semakin meradang." Paolo berdecak pelan. Dia berniat untuk melanjutkan kembali langkahnya.
“Tunggu!” cegah Lucrezia. “Aku tahu kau dapat diandalkan. Tolong, titip putriku. Jagalah dia,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.
“Tentu. Tanpa kau minta pun aku akan menjaga Samantha. Sejak dulu, dia sudah kuanggap seperti putri kandungku,” balas Paolo tersenyum samar. Dia mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan Lucrezia yang terus memperhatikan kendaraan Paolo hingga menghilang dari pandangan.
Di dalam mobil, Samantha tak dapat menahan sesak di dadanya lebih lama lagi. Wanita itu menangis sambil memeluk erat tubuh mungil Aurora. "Maafkan orang tuaku, Aurora. Maafkan mereka,” ulang Samantha berkali-kali.
“Sudahlah, Sam. Aurora tidak apa-apa.” Arcelio yang sudah berada di samping sang kekasih, meminta sopir agar berhenti sejenak. Dia segera memindah Aurora ke kursi khusus di jok belakang. Arcelio juga membantu Chrissy agar duduk nyaman di samping Aurora. Sementara, Paolo berada di kursi paling depan dekat sopir.
"Apakah kita langsung ke kediaman Anda, Tuan?" tanya sang sopir kepada Paolo yang hanya terdiam.
“Antarkan kami pulang ke apartemenku, Franco,” sahut Arcelio.
“Baik, Tuan." Sopir keluarga yang telah mengabdi puluhan tahun itu mengangguk, lalu kembali melajukan kendaraan menuju apartemen milik Arcelio.
Beberapa saat kemudian, mobil milik Paolo berhenti tepat di depan gedung apartemen.
Tanpa banyak bicara, Arcelio menurunkan Aurora dan Chrissy dengan dibantu oleh sang ayah. Sedangkan, Samantha tidak banyak bicara. Wajah cantiknya terlihat begitu murung. Hal itu terus berlangsung sampai mereka tiba di ruangan apartemen Arcelio yang mewah.
“Ibu peri, aku sudah berjanji padamu,” ucap Aurora tiba-tiba.
“Berjanji apa?” tanya Samantha memaksakan senyum sembari menyeka air matanya.
“Aku akan menunjukkan lukisanmu di galeri papa. Di studio-nya jauh lebih banyak," jawab Aurora begitu antusias.