SECOND LOVE

SECOND LOVE
Kedamaian Sesungguhnya



Arcelio kembali ke apartemennya dengan perasaan tak menentu, meski rasa penasarannya telah terjawab. Entah bagaimana cara yang paling tepat, agar dapat menghilangkan perasaan tak nyaman seperti tadi. Setiap kali berhadapan dengan Samantha dan kekasihnya, Arcelio pasti selalu kehilangan kata-kata dan merasa bodoh. Dia sadar bahwa melupakan masa lalu tak semudah yang diucapkan.


Seandainya dia tak tergoda dan mengkhianati Samantha, Arcelio kini pasti sudah membangun rumah tangga yang bahagia bersama pujaan hatinya. Dia juga pasti dapat mencurahkan kasih sayang sepenuhnya sebagai seorang ayah terhadap Chrissy, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.


Namun, Arcelio tak sepenuhnya menyesal, apalagi merutuki segala kesalahan masa lalu yang telah dilakukannya. Dari kesalahan itulah, dia memiliki bidadari kecil secantik Aurora. Anak itu menjadi teman setia, serta memiliki ketertarikan yang sama terhadap seni lukis.


Sambil mengembangkan senyuman lembut, Arcelio membuka resleting tenda. Dua gadis kecil yang tengah bercengkerama dalam bahasa yang berbeda, cukup menjadi hiburan menyenangkan untuknya.


“Apa kau belum mengantuk, Chrissy?” tanya Arcelio.


“Sedikit, tapi aku masih ingin bermain bersama Aurora,” jawab Chrissy.


“Apa kau mau kubacakan dongeng?” Arcelio masuk ke tenda, lalu duduk di antara dua gadis kecil itu.


“Papa, aku tidak mengerti,” bisik Aurora yang beringsut mendekat, lalu merebahkan kepalanya di dada bidang Arcelio.


“Aku akan menceritakan dongeng yang menyenangkan,” ucap Arcelio. Dia terpaksa harus mengulangi kalimatnya dua kali, agar Chrissy dan Aurora sama-sama mengerti.


“Ini tentang seorang putri yang disembunyikan di dalam menara. Dia memiliki rambut yang teramat panjang,” lanjutnya.


Arcelio terus bercerita, sampai Aurora tertidur lebih dulu. Gadis kecil itu menggunakan bahu sang ayah sebagai bantal. Sementara mata bulat Chrissy masih terbuka lebar, menunggu kelanjutan cerita darinya.


“Sebentar, Nak. Aku harus membaringkan Aurora terlebih dulu." Arcelio menjeda ceritanya, lalu menidurkan Aurora. Dengan sangat hati-hati, dia meletakkan kepala Aurora di bantal yang sudah disediakan, lalu mengecup keningnya.


Arcelio kemudian beralih pada Chrissy. “Apa kau tidak mengantuk, Sayang? Kau bisa tidur di samping Aurora,” ucapnya kemudian.


Chrissy menggeleng cepat. “Aku tidak mengantuk, Paman,” sahut gadis kecil itu.


“Ah, tentu saja. Kau harus minum susu sambil kugaruki punggungmu." Arcelio tertawa pelan.


“Bagaimana Paman tahu?” Chrissy terbelalak tak percaya. Wajahnya tampak begitu menggemaskan. Sekilas, Arcelio melihat wajah cantik Samantha di sana.


“Kau begitu mirip dengan ibumu,” gumam Arcelio pelan.


“Itu benar sekali, Paman. Kakek dan nenekku juga berkata demikian,” sahut Chrissy sambil mengangguk-angguk lucu.


“Oh, ya? Apakah kau sering bermain ke rumah kakek dan nenekmu?” pancing Arcelio.


Chrissy menggeleng cepat. “Ibuku mengatakan bahwa dia takut naik pesawat. Jadi, kami tidak pernah ke mana-mana. Kakek dan neneklah yang menjengukku kemari,” celotehnya. Gadis kecil itu sudah dapat bercerita dengan jelas dan terperinci. Arcelio dapat menilai bahwa putrinya dari Samantha tersebut merupakan anak yang cerdas.


“Ibumu tidak takut ketinggian,” celetuk Arcelio. Namun, seketika dia mengulum bibirnya. Arcelio sadar bahwa dirinya telah kelepasan bicara.


Chrissy mengangkat bahunya dengan lucu. “Aku tidak tahu. Ibuku yang berkata seperti itu. Mungkin ibu berbohong. Ibu juga sering menangis,” celotehnya lagi.


“Menangis?” Arcelio mengernyitkan kening.


“Apakah kau bersikap nakal, Nak?” tanyanya.


“Tidak, Paman! Bukan Aku!” Chrissy membela diri. Dia berseru nyaring, tapi segera menutup mulutnya rapat-rapat, ketika menyadari bahwa Aurora sedang tertidur lelap. Teman baru Chrissy itu bahkan menggeliat pelan gara-gara suara kencangnya.


“Baiklah. Aku percaya.” Arcelio terkekeh. “Aku tahu bahwa kau adalah anak yang sangat pintar,” sanjungnya.


“Ibuku sering menangis sendiri saat malam. Aku pernah melihatnya. Waktu itu, aku pura-pura tidur,” ungkap Chrissy.


“Begitukah?” Mata Arcelio menerawang. Penyesalan itu hadir kembali. Namun, segera ditepiskannya.


“Oh, iya. Tentu. Tunggulah di sini. Aku akan membuatkanmu susu.” Arcelio mengecup lembut kening Chrissy sebelum keluar dari tenda.


Dia bergegas ke dapur dan membuatkan segelas susu. Setelah selesai, dia kembali ke tenda lalu menyodorkan gelas bergambar panda kepada Chrissy. “Minumlah, Nak.”


Akan tetapi, Chrissy langsung menggeleng pelan sambil beringsut mundur.


“Kenapa? Ini adalah susu yang biasa Aurora minum. Namun, akhir-akhir ini dia sudah jarang meminumnya,” terang Arcelio lembut.


“Itu bukan gelasku,” ujar Chrissy lirih.


“Astaga. Kau mau kuambilkan gelasmu?” tawar Arcelio.


Chrissy segera mengangguk. “Aku punya botol sendiri, Paman,” ucapnya pelan.


“Baiklah. Tunggu sebentar.” Arcelio membelai pucuk kepala Chrissy penuh kasih sayang. Dia lalu menuangkan susu tadi ke mangkuk Ollie. Anjing berbulu lebat yang sudah tidur di tempatnya itu langsung membuka mata dan berlari ke arah mangkuk tadi.


Arcelio berjalan keluar dari apartemen. Lagi-lagi, dirinya harus mengetuk pintu apartemen Samantha. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, ketika Samantha membuka pintu apartemennya. Wanita yang kecantikannya semakin terpancar itu, sudah mengenakan kimono tidur dengan rambut dikepang ke samping. Kebiasaan seperti dulu.


“Apakah Chrissy rewel?” tanya Samantha, sebelum Arcelio sempat membuka mulut.


“Tidak. Dia manis sekali dan banyak bercerita banyak hal." Senyuman Arcelio kembali terkembang, saat membayangkan putri kecilnya itu.


“Lalu, kenapa kau kemari?” Nada bicara Samantha mulai terdengar ketus.


“Chrissy memintaku untuk mengambilkan botol susunya,” jawab Arcelio kalem.


“Astaga! Tentu saja. Aku sampai lupa." Samantha menepuk keningnya pelan. Dia membalikkan badan dan segera berlalu menuju dapur. Samantha meninggalkan pintu apartemen dalam keadaan terbuka lebar, sehingga Arcelio dapat mengamati dengan jelas isi ruangan yang tertata sangat rapi.


Dari kejauhan, Arcelio memperhatikan beberapa bingkai foto yang terpajang di atas rak perapian. Namun, dirinya tidak menemukan sosok Pierre. Mungkin sahabatnya itu sudah pulang.


“Botol ini sudah kuisi penuh dengan susu kesukaannya,” ucap Samantha, sambil berjalan dari arah dapur. Arcelio seketika tersadar.


“Terima kasih, Nona Bellucci." Arcelio mengangguk seraya mengangkat botol susu itu. Dia sudah hendak berbalik ke ruang apartemennya, saat Samantha tiba-tiba memanggil.


“Bolehkah aku menjenguk putriku nanti?” tanya Samantha ragu.


“Tentu saja. Aku tidak akan mengunci pintunya. Masuklah kapanpun kau mau,” jawab Arcelio diiringi senyuman kalem. Dia tak ingin membuang waktu lagi, untuk memberikan susu hangat itu pada Chrissy. Untungnya ketika sampai di dalam tenda, gadis kecil itu masih asyik membolak-balik buku cerita milik Aurora.


“Apa kau sudah bisa membaca?” Arcelio mendekat, lalu mendudukkan Chrissy di pangkuannya.


“Tidak, Paman. Aku hanya suka melihat gambarnya,” jawab Chrissy polos.


“Kau boleh meminjam buku itu. Bacalah besok pagi, karena sekarang kau harus tidur." Arcelio menurunkan Chrissy dari pangkuan, lalu membaringkannya di matras tenda. Hati-hati, dia meletakkan kepala Chrissy di lengannya. Tak lupa Arcelio juga mengusap-usap lembut punggung Chrissy. “Tidurlah. Pejamkan matamu,” ucap Arcelio.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Chrissy untuk terbang ke alam mimpi. Sesaat setelah susu dalam botolnya habis, dia menelusupkan kepalanya di ketiak Arcelio. Dengkuran halus terdengar beberapa menit kemudian.


“Anak-anakku." Wajah tampan Arcelio tampak berseri. Tangan kirinya yang bebas, berusaha meraih tubuh Aurora, kemudian merengkuhnya erat. Sama seperti Chrissy yang terbaring di dada kanan Arcelio, Aurora pun kini tidur di dada kirinya.


Waktu seakan berjalan begitu pelan. Arcelio tak pernah merasakan hidup sedamai saat itu. Bisa merengkuh kedua putrinya di kiri dan kanan, adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi pria tiga puluh lima tahun tersebut. Sesaat kemudian, Arcelio ikut menyusul kedua putrinya ke alam mimpi.


Di saat Arcelio terlelap, pintu apartemen terbuka pelan. Samantha masuk ke sana. Diam-diam dia melongok ke dalam tenda dan mendapati pemandangan yang sangat menyentuh hati.


Arcelio tertidur pulas di antara Chrissy dan Aurora. Dua tangan pria itu mendekap kedua gadis kecil tersebut. Membuat Samantha tak kuasa untuk menahan rasa pilu di dalam dada. Wanita cantik itu segera menutup pintu tenda, lalu berlari keluar. Dia kembali ke apartemennya sambil berurai air mata.