
“Paman,” sapa Samantha diiringi senyuman lembut. Dia berdiri di ambang pintu.
“Samantha, kau ….” Belum sempat Paolo melanjutkan kata-katanya, pria paruh baya itu dibuat terkejut dengan munculnya gadis kecil dari balik dinding dekat pintu.
“Hallo,” sapa gadis kecil yang tak lain adalah Chrissy. Dia menoleh kepada Samantha, kemudian beralih pada Arcelio dan Aurora. “Siapa kakek itu, Bu?” tanyanya dalam Bahasa Perancis.
Samantha dan Arcelio mengulum senyumnya mendengar pertanyaan polos Chrissy. Sementara, Aurora melambaikan tangan, mengajak gadis kecil itu agar masuk. Namun, Chrissy lebih dulu menoleh kepada sang ibu, seakan meminta izin.
“Masuklah, Sayang,” ucap Arcelio. Rona bahagia terpancar jelas dari paras tampan pria tiga puluh lima tahun tersebut. Arcelio tak henti menyunggingkan senyuman, sebagai pertanda bahwa dirinya tengah benar-benar bahagia.
Sementara, Paolo masih terpaku dengan sorot tak mengerti. Pria itu menatap Samantha yang melangkah ke arahnya sambil menuntun Chrissy. “Samantha.” Sekali lagi, ayahanda Arcelio tersebut menyebut nama wanita yang dulu akan menjadi menantunya tersebut.
“Apa kabar, Paman,” sapa Samantha. Sebelum mengucapkan kata-kata lain, air mata lebih dulu menetes, membuat Samantha lupa akan semua yang hendak dirinya utarakan. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Paolo, yang menyambutnya dengan tangan terbuka.
“Samantha. Putriku.” Paolo memeluk erat ibunda Chrissy tersebut. Dia juga meneteskan air mata, saat bertemu kembali dengan wanita itu. Wajar bila Paolo bersikap demikian, berhubung Samantha sudah dianggap seperti putrinya.
Selain karena Samantha yang memiliki hubungan cinta dalam waktu lama bersama Arcelio, persahabatan antara Paolo dengan Gilberto Bellucci pun sudah terjalin selama bertahun-tahun. Setelah kasus yang menimpa Arcelio dan Samantha mencuat ke permukaan, persahabatan antara dua orang ternama Italia tersebut masih terjalin baik, meski tak sehangat dulu.
“Maafkan aku, Paman,” ucap Samantha sambil berurai air mata.
“Maafkan aku juga, Nak,” balas Paolo. “Astaga. Kupikir kau tak akan pernah kembali dan tidak sudi lagi bertemu denganku.” Paolo mengurai pelukannya. Dia bahkan menyeka air mata yang membasahi pipi wanita tiga puluh tahun tersebut.
“Jangan berkata begitu, Paman. Bagaimana mungkin aku tidak sudi bertemu denganmu? Kau sudah seperti ayah kandungku,” sanggah Samantha. Dia lalu mengarahkan perhatiannya kepada Chrissy yang asyik berbisik-bisik dengan Aurora.
“Namanya Beatrice Chrislaure Lazzaro. Dia adalah putriku, Ayah. Putriku yang terlahir dari Samantha,” ucap Arcelio memperkenalkan Chrissy. “Chrissy, kemarilah,” panggil Arcelio pelan.
Chrissy yang tengah asyik cekikikan bersama Aurora, langsung menoleh. Dia menghampiri Arcelio. “Ada apa, Paman?” tanyaya.
Arcelio tersenyum kalem seraya menurunkan tubuhnya. Dia menangkup paras cantik gadis kecil tersebut. “Kuharap, kau mengizinkanku untuk memiliki ibumu. Aku sangat menyayanginya. Sama seperti rasa sayangmu selama ini. Aku berjanji tak akan membuat dia menangis.” Arcelio meminta izin kepada putrinya untuk meminang Samantha.
“Kau tidak akan membuat ibuku sakit kepala, Paman? Ibu sering menangis dan mengeluh pusing,” celoteh Chrissy polos.
“Tentu saja tidak, Sayang. Aku justru akan membuat ibumu selalu tersenyum. Itu janjiku,” ucap Arcelio meyakinkan Chrissy.
Arcelio mengarahkan pandangan kepada Samantha. “Lihatlah, Nak. Dia ibu peri yang pernah kita bicarakan dulu. Aku yakin bahwa ibu peri itu tak hanya menyayangiku. Dia juga akan memberikan cinta kasihnya padamu. Sama seperti kepada Chrissy.” Arcelio mulai membujuk Aurora agar memberikannya izin untuk mempersunting Samantha.
Aurora tidak segera menanggapi. Gadis kecil itu menatap lekat Samantha, yang tersenyum lembut padanya. Aurora terlihat ragu. Namun, setelah dia menoleh kepada Chrissy, barulah putri Delanna tersebut mengangguk pelan.
“Kau yakin, Sayang?” tanya Arcelio memastikan.
“Iya, Papa,” jawab Aurora, “tapi, ibu peri tidak akan melotot lagi padaku, kan?” tanyanya polos dan terkesan sungkan untuk mengatakan itu.
Bukannya tersinggung, Samantha justru tertawa renyah, mendengar pertanyaan menggelikan dari Aurora. Tanpa ada beban apapun, wanita berambut pirang tersebut menghampiri gadis kecil itu. “Bagaimana mungkin aku akan melotot atau memarahi gadis secantik dirimu. Kau juga calon pelukis andal seperti papamu, Sayang,” bantah Samantha. Tanpa diduga, dia memeluk erat Aurora.
Tak terkira betapa lega perasaan Arcelio menyaksikan adegan mengharukan tadi. Namun, sebisa mungkin dirinya menahan air mata agar tidak menetes. Arcelio mengalihkan rasa yang campur aduk tersebut, dengan berbicara kepada Paolo.
“Aku sudah tidak bekerja di Paris lagi, Ayah. Sepertinya, aku akan kembali menekuni bidangku atau mungkin … lihatlah apa yang kudapatkan. Diriku sudah berhasil membawa Samantha kembali ke Italia. Apakah kau tidak ingin mengucapkan apapun padaku?” Kata-kata Arcelio terdengar penuh isyarat bagi Paolo.
Paolo tersenyum simpul. Dia menepuk pundak putra semata wayangnya. Pria paruh baya tersebut mengembuskan napas pendek. “Aku tidak pernah menarik restuku untuk kalian berdua. Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang kau inginkan, Arcelio?” tanya Paolo. Dia sudah dapat menangkap maksud putranya tersebut.
Arcelio tak langsung menjawab. Dia terlebih dulu mengalihkan perhatiannya kepada Samantha. “Ajaklah anak-anak bermain di taman, Sayang. Mereka pasti akan lebih senang berada di sana, dibanding ruang kerja ini,” suruhnya lembut kepada Samantha.
Samantha mengangguk. Dia paham bahwa Arcelio ingin bicara berdua dengan Paolo. Samantha menggiring kedua gadis kecil itu keluar. Tak lupa, mereka juga membawa Ollie.
Sepeninggal Samantha beserta kedua putrinya, Arcelio dan Paolo memilih duduk bersama. Terakhir kali keduanya melakukan hal itu adalah, ketika Arcelio berpamitan saat akan pergi ke Paris beberapa waktu lalu.
“Seperti inilah perjalanan hubungan cintaku dengan Samantha. Aku tak pernah menyangka bahwa Tuhan akan mempertemukan dan menyatukan kami kembali. Aku seperti mendapat mukjizat luar biasa,” tutur Arcelio tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
“Kami sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal. Karena itulah, aku datang kemari untuk meminta restu sekaligus bantuan darimu,” ucap Arcelio lagi. Tatap matanya menyiratkan harapan yang sangat besar, agar sang ayah bersedia memberikan apa yang dirinya inginkan.
“Tidak usah berbelit-belit, Arcelio,” ujar Paolo dengan gaya bicaranya yang khas. Tegas dan sangat lugas. “Kau mungkin lihai dalam merayu serta bermain kata-kata di depan para wanita. Namun, hal itu tak akan berlaku bagiku. Jadi, langsung saja pada intinya.”
Arcelio tersenyum mendengar ucapan sang ayah. “Baiklah.” Arcelio mengembuskan napas dalam-dalam, demi menghalau rasa ragu yang membuatnya sungkan. Namun, dia harus mengutarakan maksudnya. “Aku ingin kau menemaniku menemui Paman Gilberto. Aku akan melamar Samantha.”