
“Anya, ambil seperlunya saja. Jangan dibawa semua!” seruku ketika melihat Anya hendak memasukkan sestoples permen ke dalam keranjang piknik.
Dengan berat hati, Anya meletakkan kembali stoplesnya, “Iya, Ma.”
Setelah mengambil beberapa permen, dia berlari menuju ruang keluarga di mana Mas Beny dan Eric berada. Aku kembali meneruskan kegiatanku menyiapkan bekal makanan untuk kami bawa nanti. Aku membuat roti isi, nasi kepal, ayam goreng, kentang goreng, dan beberapa makanan ringan lainnya.
Hari ini untungnya cuaca sedang bagus. Mengingat beberapa hari lalu sempat hujan deras. Jadi kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di luar rumah. Lebih tepatnya pergi piknik di taman kota. Di sana adalah tempat bermain kesukaan Anya. Dulu aku sering mengajaknya ke sana jika aku sedang tidak bekerja.
Bukan tanpa alasan kami merencanakan piknik kali ini. Sejak kemarin Anya terlihat murung. Dia yang biasanya ceria dan tak bisa diam, belakangan jadi sering melamun dan banyak diam. Bahkan saat di mobil sepulang dari kafe Gerald, Anya menangis lagi.
Pertemuannya dengan Alan mungkin masih sulit untuk dia mengerti. Tapi pasti Anya merasa sedih mengetahui kenyataan bahwa ayah kandungnya yang selama ini dia rindukan pernah menolak keberadaannya.
Saat itu yang bisa kulakukan hanya memeluknya dan berkata bahwa aku sangat menyayanginya. Tak pernah sedetik pun aku tidak menyayanginya. Bahkan sejak dia dalam kandunganku. Aku terus membisikkan kata-kata itu hingga dia tenang.
Kondisi Anya yang seperti itu membuatku dan Mas Beny khawatir. Kami ingin melihat Anya kembali tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Hingga sebuah ide terlintas di kepalaku. Aku ingat Anya sangat senang jika aku mengajaknya bermain di taman kota. Dan kami sudah lama tidak ke sana, mungkin dengan piknik di sana, akan membuat suasana hati Anya lebih baik.
Mas Beny pun menyetujui ide tersebut. Keesokan harinya aku memberi tahu Anya bahwa kita berempat akan piknik di taman kota. Mendengarnya, dia langsung tersenyum lebar dan melompat bahagia. Baru memberitahunya saja sudah membuat Anya sebahagia ini. Syukurlah.
Karena direncanakan secara mendadak, kami hanya mempersiapkan bekal seadanya. Tapi Anya tetap antusias membantuku membuat bekal dan menatanya di keranjang. Setelah memastikan semua persiapan selesai, kami pun berangkat menuju taman kota.
...
Sesampainya di sana, kami disambut hamparan rumput yang hijau dan pepohonan yang rindang. Suasana taman hari ini cukup ramai karena sudah masuk akhir pekan. Banyak keluarga yang memutuskan untuk menghabiskan waktu di sini.
Kami berkeliling taman untuk berjalan-jalan sekaligus mencari spot yang kosong untuk ditempati. Melihat sekelompok anak perempuan yang sedang bermain lompat tali, Anya ingin bergabung.
“Ma, Anya boleh ikut main di sana?”
Aku senang melihat Anya sudah mulai kembali seperti biasa, “Boleh. Tapi jangan nakal, ya?”
“Oke!” dia melepaskan genggaman tanganku lalu berlari ke arah anak-anak itu.
Aku masih mengawasinya dari jauh. Anya terlihat mengajak berbicara salah satu anak, lalu mereka bersalaman. Syukurlah keputusanku membawa Anya kemari adalah keputusan yang tepat.
“Syukurlah.”
Aku menoleh pada Mas Beny. Dia rupanya juga tengah melihat Anya. Senyum kecil tersungging di bibirnya.
“Ya.”
Kami akhirnya memutuskan untuk menggelar tikar di sekitar situ agar tetap bisa mengawasi Anya. Setelah tikar tergelar, aku mengeluarkan isi keranjang dan menatanya. Eric juga terlihat sangat senang saat turun dari gendongan ayahnya. Dia langsung merangkak menuju rerumputan. Di rumah pun Eric memang senang bermain di rumput.
Untungnya Mas Beny dengan sigap menangkapnya agar tidak merangkak lebih jauh. Tapi tampaknya Eric masih ingin melanjutkan petualangannya, jadi Mas Beny memegang kedua tangannya dan menuntunnya untuk berjalan ke arah tempat Anya bermain.
Kini aku sendirian duduk di sini. Melihat Anya yang tertawa senang melihat kedatangan Eric. Dia sepertinya memperkenalkan Eric pada teman-teman barunya. Beberapa anak memutuskan untuk berhenti bermain lompat tali dan lebih memilih bermain bersama Eric.
Aku memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Mataku tertuju pada langit yang begitu bersih dan biru hari ini. Matahari bersinar cukup terik, untungnya aku sudah memakaikan sunblock pada anak-anak sebelum berangkat tadi.
Walau pun suasana di sini cukup ramai, tapi hatiku terasa tenang. Biasanya aku tidak terlalu nyaman berada di keramaian. Tapi kali ini tidak ada rasa khawatir ataupun cemas. Mungkin karena semua masalah yang selama ini membebani pikiranku telah berakhir. Setidaknya untuk sekarang.
“Mamma... Mamma...”
Suara Eric mengalihkan perhatianku dari sang cakrawala. Kulihat Eric sedang berjalan ke arahku, tentu saja masih dipegangi oleh ayahnya. Aku tersenyum dan merentangkan tanganku, “Kemari, sayang!”
Eric tertawa kemudian mempercepat langkahnya. Aku memajukan tubuhku dan menangkap tubuh kecilnya dengan kedua tanganku.
“Sudah puas mainnya dengan kakak?”
“Maamma!”
“Dari tadi dia memanggilmu, jadi aku membawanya kembali,” Mas Beny menimpali.
“Benarkah itu, Eric? Eric sudah kangen Mama?” aku pun menciumi pipi gembul Eric.
Mengingat Eric belum meminum susunya sejak berangkat tadi, aku pun mengeluarkan botol susunya dari tas bayi. Dia dengan tak sabar meminum susunya. Mungkin dia sangat haus setelah bermain dengan Anya tadi.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Aku memiringkan kepalaku, tak paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh pria di sampingku ini, “Aku baik-baik saja, seperti yang terlihat.”
“Maksudku bukan secara fisik. Kamu pasti lelah dengan apa yang terjadi belakangan ini. Tapi kamu hanya mementingkan perasaan Anya,” matanya memandangku dengan khawatir.
“Ya, pastinya. Tapi sekarang sudah lebih baik. Itu semua berkat Mas Beny.”
“Berkatku?” kali ini dia yang tampak heran mendengar perkataanku.
“Benar. Karena Mas Beny selalu ada di sampingku. Melindungiku, mau mendengar ceritaku, memeluk dan mengusap air mataku saat aku menangis,” jelasku padanya, “mungkin itu bukan apa-apa bagi Mas Beny. Tapi bagiku itu sangat berarti karena kini aku tidak berjuang sendirian. Ada Mas Beny yang menyokongku sehingga aku tidak hancur sepenuhnya.”
Wajahnya tiba-tiba memerah ketika mendengar ucapanku. Dia berusaha menyembunyikannya dengan menoleh ke arah lain agar tidak terlihat olehku. Tapi terlambat, aku sudah melihat semua. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu.
“Bu-Bukankah itu memang kewajibanku? Sudah seharusnya suami istri saling mendukung,” katanya tanpa menoleh padaku.
“Ya, benar.”
Kami kembali terdiam satu sama lain. Hanya menikmati semilir angin dan gemeresik daun yang bergoyang tertiup angin. Aku menoleh pada Mas Beny yang kini kembali fokus pada Anya.
Kuperhatikan wajahnya dari samping. Rambutnya sedikit bergoyang tertiup angin. Dilihat dari sisi mana pun dia terlihat tampan. Hidungnya mancung, bibir tipisnya dan garis rahangnya yang tegas. Aku bertanya-tanya apakah Eric ketika dewasa akan terlihat seperti ini?
Dulu aku tak terlalu memperhatikan penampilan Mas Beny. Aku bahkan sedikit takut padanya. Perawakannya yang tinggi besar dan pembawaannya yang pendiam terasa mengintimidasi diriku yang bertubuh jauh lebih kecil darinya. Namun semakin aku mengenalnya, ternyata dia orang yang lembut dan penuh perhatian.
“Oh, sepertinya dia sudah selesai bermain.”
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke depan. Rupanya Anya berlari ke arah kami. Keringat membasahi wajah dan rambutnya. Tapi wajahnya sangat semringah.
“Sudah selesai mainnya, sayang?” tanyaku padanya setelah dia duduk di antara kami.
“Iya. Tapi nanti Anya mau main lagi.”
“Kalau begitu kita makan siang dulu, ya?” Anya mengangguk dan duduk manis untuk menyantap makanannya.
Kami makan dengan santai sambil mengobrol. Lebih tepatnya Anya yang bercerita, sedangkan aku dan Mas Beny hanya mendengarkan. Dia bercerita tentang pengalamannya bermain dengan teman-teman barunya tadi. Terkadang aku iri dengan Anya yang dengan mudahnya bisa akrab dengan orang baru.
Lalu perhatiannya teralih pada seorang anak laki-laki yang usianya mungkin tak jauh dari Anya sedang belajar menaiki sepeda bersama ayahnya. Anak itu tampak bersemangat mengayuh sepedanya walau sering kali dia terjatuh, tapi dia terus mencobanya lagi dan lagi.
“Dia hebat sekali. Belajar naik sepeda sampai bisa,” ujar Anya melihat kesungguhan anak itu.
“Anya sudah bisa naik sepeda?” tanya Mas Beny pada Anya.
“Belum. Anya belum pernah coba.”
“Anya mau belajar dengan Papa?”
“Mau!” seru Anya antusias, tapi kemudian dia kembali murung, “tapi Anya tidak punya sepeda.”
“Besok kita beli sepedanya,” aku memelototinya, dia tahu kalau aku paling tidak suka jika dia terlalu memanjakan Anya, “atau nanti.”
“Mas!” kata-kata terakhirnya membuatku semakin kesal padanya.
Tampaknya Mas Beny sengaja melakukan itu. Setelah melihat wajah kesalku dia malah tertawa bersama Anya.
.
.
.
Bab 20 ((END))