SECOND LOVE

SECOND LOVE
SL- 27



Nero menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia merapikan kerah kemejanya, menatap untuk kedua kalinya lalu mengembuskan napas. Entah, Nero harus merasa lega atau malah sebaliknya. 


Ia telah melakukan berbagai cara agar bisa mendapat maaf dari Vivi. Namun rupanya wanita itu kekeuh menganggap dirinya sebagai dalang dari kematian tunangannya. Semakin Nero memaksa Vivi memaafkan dirinya, bukankah semakin terluka bagi mereka berdua? Nero merasa tersiksa karena tidak kunjung mendapat jawaban jelas—kecuali fakta yang telah ia dengar sewaktu menyusul Vivi di makam Azzam. Sedangkan Vivi sangat tersiksa setiap bertatap muka dengan Nero. Karena sampai kapan pun, Vivi akan tetap menganggap dirinya sebagai malaikat maut—perenggut nyawa Azzam dua tahun lalu. 


Nero menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. Di atas ranjang terdapat jaket yang telah ia siapkan. Nero selesai merapikan pakaiannya, menenteng tas beserta jaketnya. 


Ini adalah hari pertama Nero kembali bekerja setelah satu minggu lebih mengurung diri di kamar. Satu minggu yang lalu Nero menghabiskan hari-harinya di kamar saja, hanya akan keluar ketika dipanggil makan oleh Nadine. 


Ia keluar kamar, dan melihat Nadine sedang menyiapkan sarapan sendirian di meja. Adik perempuannya itu keluar-masuk dapur sembari membawa hidangan makan pagi mereka hari ini. 


Nadine menatap Kakak laki-lakinya. Wanita itu melirik Nero sepintas. Melihat Nero berpakaian rapi dan wangi, Nadine pikir kakaknya akan pergi bekerja. 


"Kenapa? Ada yang salah dengan penampilanku? Atau bau parfumku terlalu mencolok?" Nero menarik lengan bajunya, menghirup aroma tubuhnya sendiri. "Tidak ada yang aneh. Aku memakai parfum yang biasanya." 


Nadine memiringkan kepalanya. "Kakak akan pergi hari ini?" Wanita itu mendongak, menatap jam yang menggantung di dinding. 


"Hm, tentu saja." Nero meneguk air di gelasnya. "Memangnya ada mal yang buka pagi-pagi begini? Lagipula kamu tahu sendiri, aku jarang keluyuran. Aku tidak akan pergi kecuali bila ada keperluan." 


"Oh," gumam Nadine pendek. 


Nero tersenyum kepada Nadine. Entah kenapa wanita itu malah heran melihat kakaknya berubah lagi hanya dalam semalam saja. 


Baru kemarin ia melihat Nero seperti mayat hidup. Hari ini tahu-tahu kembali ceria seperti hari-hari sebelumnya. Nadine bergidik, kakaknya tidak memiliki dua kepribadian sekaligus, kan? Bagi Nadine ini terlalu mendadak saja. 


Nero mengunyah nasinya pelan. Ia melirik Nadine, lantas menegur sang adik. "Kaki kamu nggak pegal berdiri terus? Ayo, cepat duduk, lalu kita makan sama-sama." 


"Hah? Oh, iya, Kak." Nadine tersadar. "Aku taruh ini dulu. Kakak sarapan saja, sebentar lagi aku kembali." 


"Hm," angguknya. "Jangan lama-lama." 


*** 


"Selamat pagi." 


"Pagi, dok," sapa sekumpulan perawat. 


Kemunculan Nero di rumah sakit setelah satu minggu penuh tidak masuk bekerja, menarik perhatian para perawat yang baru saja disapa pria itu. 


Mereka bertanya-tanya ke mana saja Nero selama ini. Bahkan ketika salah satu dari mereka bertanya kepada Ronald—selaku orang terdekat Nero di sini, menjawab tidak tahu menahu. Alhasil, Nero menjadi bahan gunjingan beberapa orang selama dirinya tidak ada. 


Nero tampak baik-baik saja. Seperti orang pada umumnya. Ia datang ke tempat kerja lalu menyapa para rekan kerja yang berpapasan dengannya. Nero tidak lupa untuk tersenyum saat menyapa orang-orang. 


Ronald mendengar Nero telah masuk bekerja, segera mencari sosok Nero. Pria itu melihat temannya masuk ke dalam ruangannya sembari menenteng tas kerjanya. 


Ronald tidak sempat mengetuk pintu ruangan Nero. Ia menerobos masuk, melihat Nero menggantungkan jaket, lantas menggantinya dengan jas putihnya. 


"Astaga, setelah sekian lama aku tidak melihatmu, ternyata kamu masih hidup!" seru Ronald menjejalkan satu tangan ke saku jasnya. 


Nero menengok sepintas sembari tersenyum tipis. "Kalau kamu mendengarku sudah tidak di dunia ini lagi, maka yang kamu lihat sekarang adalah arwahku." 


Kedua pria itu kompak tertawa. "Aku senang kamu baik-baik saja." 


"Wah, manis sekali sambutanmu. Aku jadi merinding," ejek Nero. 


Ronald pura-pura akan melayangkan tinjunya. "Aku serius," sahutnya. "Kamu pasti merindukan mendiang istri dan anakmu, kan? Maaf, jika aku menyinggung keluargamu. Tapi kalau kamu membutuhkan teman bercerita ... kamu bisa mencariku." 


Nero tersenyum lagi. "Terima kasih. Kamu baik sekali," lanjutnya. 


Nero ingin menata hidupnya kembali sekali lagi. Ia sedih karena harus kehilangan Vivi akibat fakta kecelakaan yang mereka alami. Nero berusaha berlapang dada menerima takdirnya. Ia akan menganggap jika Vivi adalah anugerah terindah yang pernah mampir ke dalam kehidupannya. Dan sekarang, Nero akan menjalani kehidupannya dengan sebaik mungkin. Walau Nero tahu, untuk berdiri lagi setelah jatuh dua kali, akan sedikit lebih sulit daripada sebelumnya. 


Ronald mengangkat sebelah tangannya, menatap arloji di tangan kirinya. "Masih ada sisa waktu sebelum memeriksa pasien." Nero menatap Ronald. "Bagaimana kalau kita pergi ke kantin untuk minum kopi?" ajaknya. 


Nero lantas mengiyakan. "Boleh. Kamu yang traktir?" candanya. 


Tidak diduga, pria itu setuju. "Baiklah. Ayo," serunya. 


*** 


Lagi-lagi Nadine pergi mencari Vivi ke rumahnya. Ia telah mengantongi alamat rumah wanita itu. Segera setelah mendapatkan alamatnya, Nadine mendatangi kediaman Vivi. 


Nadine mengangkat sebelah tangan, menekan bel yang ada di depannya. Tidak lama, seorang satpam membukakan gerbang rumah Vivi. 


"Mau cari siapa, Mbak?" tanya seorang satpam. 


"Vivi, Pak," jawab Nadine sembari celingukkan ke dalam halaman rumah Vivi yang luas. "Apa saya bisa bertemu dengan Vivi? Dia ada di rumah?" 


"Oh, Nona Vivi." Satpam diam setelahnya. "Maaf, Mbak. Nona Vivi sedang tidak ada di rumah." 


"Kalau boleh tahu, Vivi ke mana ya, Pak?" tanya Nadine lagi. Berusaha mengorek informasi lebih dalam tentang wanita itu. 


"Kalau soal itu saya kurang tahu Nona Vivi ke mana." 


"Ah, begitu." Nadine kecewa. "Ya sudah, Pak. Terima kasih. Saya pamit," ujarnya. 


Hari pertama Nadine tidak dapat bertemu dengan Vivi di rumahnya. Namun hari-hari berikutnya Nadine mendatangi kediaman Vivi lagi. 


Nadine turun dari sebuah taksi. Ia menatap rumah kedua orang tua Vivi sembari memijat keningnya perlahan. Nadine berharap kali ini ia dapat bertatap muka secara langsung dengan Vivi. 


"Sore, Pak," sapa Nadine kepada dua orang satpam di rumah Vivi. 


"Mbak ... yang waktu itu, kan?" tanya satpam. 


"Benar, Pak," jawab Nadine. 


"Mau cari Nona Vivi ya, Mbak?" tebak satpam satunya lagi. 


"Iya, Pak. Apa Vivi sudah kembali ke rumah? Saya ada keperluan sama Vivi." 


Satpam bertubuh jangkung itu lantas menjawab, "Nona Vivi sudah tidak tinggal di sini lagi, Mbak." 


Nadine berdecak dalam hatinya. "Pindah ke mana ya, Pak?" tanyanya lagi. 


Ia tidak ingin usahanya agar bisa bertemu Vivi menjadi sia-sia. Ia datang kemari jauh-jauh demi bertemu dengan Vivi. Namun jawaban yang Nadine dapatkan lagi-lagi membuat dirinya sangat kecewa. 


Nadine memutar otak. Ia harus mendapatkan alamat Vivi yang baru. "Di mana ya, Pak?" ulang Nadine. 


Dua satpam itu menatap Nadine curiga. Wanita itu datang kemari akhir-akhir ini dan mencari keberadaan Nona mereka. 


"Bapak tenang saja, saya bukan orang jahat, kok. Saya temannya Vivi. Sebelumnya saya tinggal di kota ini, tapi tidak lama pindah. Ponsel saya yang lama juga rusak, nomor teman-teman jadi hilang termasuk nomor ponselnya Vivi." 


Kedua satpam itu saling memandang satu sama lain. Nadine mencoba meyakinkan dua orang satpam di depannya.