
“Irene, kita perlu bicara juga.”
Sebenarnya aku sudah tidak ingin berlama-lama di sini. Tapi Alan masih menahanku untuk bicara.
“Apa lagi yang perlu dibicarakan?” aku berusaha menahan nada bicaraku agar tidak terdengar ketus, terutama di depan Anya.
“Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Termasuk... Kejadian di kafe itu.”
“Untuk apa? Bukankah Anya sudah memaafkanmu?” bohong jika aku berkata tidak ingin tahu. Tapi walau pun aku mengetahui kebenarannya, itu tidak akan mengubah apa pun.
“Tapi kamu belum.”
Perkataan Alan membuatku terdiam. Memang benar aku belum memaafkan Alan sepenuhnya. Aku mungkin bisa menerimanya kembali sebagai ayah kandung Anya. Tapi sebagian hatiku masih menolak untuk memaafkannya.
Namun tidak baik juga jika aku terus menunjukkan sikap penolakan pada Alan. Anya akan berpikir Alan adalah orang yang pantas dibenci. Aku tidak ingin hal itu terjadi.
“Baiklah.”
mengiyakan ajakan Alan, Mas Beny menatapku khawatir. Ia tahu betapa kejadian itu membuatku trauma. Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk. Mencoba meyakinkannya.
“Kamu ingin kutemani?” tanyanya masih meragukanku. Aku senang dia mengkhawatirkanku, tapi kali ini aku pasti bisa mengatasinya.
“Tidak perlu. Mas Beny jaga anak-anak saja,” aku melirik Anya yang menatapku dan Mas Beny bergantian dengan bingung.
Dia akhirnya menghela napas. Ia kemudian menggendong Anya, mengalah. Tiba-tiba dia menarik tanganku, lalu mencium kepalaku. Aku yang terkejut hanya bisa mematung sesaat.
Apa yang dia lakukan barusan? Di depan Alan, Gerald, dan Anya pula. Tidak biasanya Mas Beny bersikap seperti ini. Apa dia sudah kehilangan akal?
Aku sudah membuka mulutku untuk protes, tapi kuurungkan melihat tatapan mata Mas Beny padaku. Begitu lembut tetapi juga tegas secara bersamaan. Menunjukkan bahwa dia serius kali ini. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu.
“Jika butuh sesuatu, panggil aku. Aku akan menunggu di bawah.”
Tanpa sadar, aku mengangguk tanpa perlawanan. Setelah itu Beny turun dengan Anya diikuti oleh Gerald.
Kini tinggal aku dan Alan di ruangan ini. Dengan canggung, kami kembali duduk berhadapan di sofa. Beberapa menit berlalu tapi Alan tak kunjung membuka percakapan, membuatku mulai geram.
“Hei–”
“Dia pasti sangat mencintaimu.”
Kalimat Alan membuatku melupakan kekesalanku. Dia pasti menyinggung kejadian tadi. Semua orang yang melihatnya juga pasti berpikir seperti itu. Walau tak sepenuhnya salah juga.
“Ya, memang,” kurasakan pipiku memanas mengingat saat Mas Beny menyatakan perasaannya padaku, “dia juga sangat menyayangi Anya seperti putrinya sendiri.”
“Apa kau juga mencintainya?” dari nada bicaranya di seperti agak tidak suka.
“Entah lah. Aku hanya... Masih berpikir.”
Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi sekilas wajah Alan tampak lega yang saat aku berkata demikian.
“Irene,” tiba-tiba suasana jadi berubah, yang tadinya terasa canggung kini mendadak jadi serius, “sebenarnya aku masih mencintaimu. Aku datang mencarimu berharap kita bisa kembali seperti dulu.”
“Apa?!” ini bukan kali pertama aku mendengarnya, ternyata Alan masih keras kepala. Dia bahkan tidak tahu malu dengan menyebut kata cinta.
“Aku serius. Hatiku sangat hancur begitu tahu kau sudah menikah dengan laki-laki lain,” ekspresinya tergambar jelas bahwa dia terluka.
Aku berusaha untuk mengontrol emosiku. Memangnya siapa di sini yang lebih terluka? “Kau lupa siapa yang membuangku? Siapa yang mengkhianatiku?”
“A-Aku tahu aku salah. Tapi aku tak pernah bermaksud seperti itu. Demi Tuhan, Irene!” Alan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dengan panik dia menjelaskan.
“Itu terjadi di luar kesadaranku. Aku di bawah pengaruh alkohol. Wanita itu bukan siapa-siapa! Aku baru tersadar saat kau menamparku,” setelah menggebu-gebu, suaranya semakin melemah, “dan saat aku sadar, aku tahu semua sudah terlambat. Kau pasti semakin membenciku.”
Aku memalingkan wajahku, tak ingin melihat matanya yang menatapku dengan tatapan penuh luka. Memoriku langsung mengingat kejadian itu. Wajah terkejut Alan ketika aku menamparnya masih tergambar jelas dalam ingatanku. Ekspresinya seperti melihat kehancuran dunia di hadapannya. Tapi aku mengabaikannya dan berlari keluar dari kafe tanpa menoleh ke belakang. Dia pun tak menghentikan atau mengejarku.
“Tidak. Bukan itu yang kuinginkan,” Alan menggeleng cepat, air matanya mulai menggenang kembali, “tak pernah sedikit pun aku berpikir bisa hidup tanpa kalian. Karena aku tahu seberapa lama atau seberapa jauh aku pergi, kalian akan selalu menyambutku ketika aku pulang. Namun setelah kejadian itu, hanya kehampaan yang menyambutku.”
Memang benar. Dulu aku selalu mencoba bertahan dengan terus meyakini bahwa Alan pasti pulang tak peduli ke mana pun dia pergi. Tak peduli sedingin apa pun sikapnya padaku dan Anya, aku hanya ingin terus bersamanya. Tapi aku pun punya batasnya, dan Alan telah melampaui batasan itu.
“Aku memang bodoh. Kupikir mungkin seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa hidup dalam kehampaan ini. Tapi aku salah. Aku semakin hancur, Irene,” air matanya kini mengucur deras, bahunya bergetar hebat, “setiap hari aku hanya bergantung pada alkohol untuk melupakan rasa sakitku. Aku menutup diri dari teman-temanku, dari dunia.”
Alan menunduk, mencoba menyembunyikan air matanya dariku. Kedua tangannya mencengkeram lututnya. Ini pertama kalinya aku melihat Alan sehancur ini. Alan, pria dengan harga diri selangit itu menangis pilu di hadapanku.
“Sampai ketika wanita itu datang lagi di hadapanku. Aku sangat marah padanya. Dialah penyebab semua ini. Kalau bukan karena dia, mungkin kau masih bersamaku. Hingga tanpa sadar tanganku sudah berlumur darah dan wanita itu tergeletak dengan pecahan kaca di sekitarnya. Aku memukulnya dengan botol minuman,” lanjutnya masih dengan suara bergetar.
Jujur, aku sebenarnya sudah tidak peduli siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Alan. Aku hanya diam dan mendengarkannya melanjutkan cerita.
“Karena tindakanku, aku harus mendekam di penjara. Namun selama di sana, aku terus merenungkan semua perbuatanku di masa lalu. Aku teringat pada Anya,” tiba-tiba hatiku ikut perih ketika nama Anya disebut, “putri kecilku yang selama ini kuabaikan. Aku sangat merindukannya. Aku selalu membayangkan sudah sebesar apa dia sekarang? Apakah dia makan dengan baik? Apakah dia tumbuh menjadi gadis cantik dan lembut seperti ibunya?”
Pada akhirnya aku juga tak kuasa menahan tangis. Hatiku sakit membayangkan jika aku berada di posisi Alan. Tak bisa kubayangkan aku harus hidup jauh dari putri semata wayangku tanpa bisa melihatnya tumbuh besar. Aku tak peduli perasaan Alan padaku. Tapi aku berharap perasaan Alan pada Anya benar adanya. Mau bagaimana pun Alan tetap ayah kandung Anya sampai kapan pun.
Matanya yang memerah karena terlalu banyak menangis kembali menatapku, “Aku ingin sekali memeluk kalian. Ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah kuperbuat. Maka dari itu, saat menyelesaikan hukuman ini, aku bertekad untuk mencari kalian. Aku ingin kita bersama lagi, menjadi keluarga yang utuh.”
Alan berusaha meraih tanganku untuk digenggamnya, tapi aku menghindar. Dengan canggung dia menarik kembali tangannya. Aku tak ingin dia salah mengartikan simpatiku untuknya sebagai pertanda aku telah bisa menerimanya kembali.
“Bukankah aku sudah memberimu jawaban atas ini sebelumnya? Kita sudah tidak bisa kembali lagi. Aku dan Anya sudah menemukan keluarga baru. Kalaupun seandainya kami kembali padamu, semua tidak akan sama seperti dulu lagi,” tolakku dengan tegas.
Alan tak bisa menutupi rasa kecewanya saat aku berkata demikian. Aku mengerti perasaan Alan. Dia pasti sangat kecewa dan putus asa saat melihat harapannya untuk kembali bersama orang-orang dicintainya hancur di depan mata. Karena aku juga mengalaminya dulu.
“Terima kasih telah bersedia menjelaskan semua padaku. Aku menghargai kejujuranmu untuk bercerita semua hal tadi. Tapi maaf, aku tidak bisa mengubah keputusanku. Kita tidak bisa bersama lagi. Tolong hargai keputusanku.”
Bahunya melemas, Alan hanya tertunduk lesu. Dia sepertinya sudah kehabisan akal untuk membujukku.
Aku berdiri dari dudukku, namun sebelum meninggalkan tempat itu, aku kembali menoleh pada Alan, “Tapi sebagai gantinya, aku mengizinkanmu jika kau ingin bertemu Anya. Jadi kau tidak perlu mengikuti kami diam-diam seperti sebelumnya.”
Seketika dia menegakkan tubuhnya dan matanya membelalak menatapku tidak percaya.
“Be-Benarkah, Irene? Sungguh?!”
“Ya, tapi kau harus izin padaku terlebih dulu. Dan jangan terlalu sering mengajaknya bertemu.”
“Oh ya, kau bisa meminta kontakku pada Gerald.”
“Terima kasih banyak, Irene!”
Aku hanya melambaikan tangan padanya dan berbalik. Kakiku terasa lemas saat menuruni tangga. Tak hanya kakiku sebenarnya, seluruh tubuhku terasa lelah luar biasa. Tapi hatiku terasa lega. Semua masalah akhirnya bisa terselesaikan.
Hampir mencapai lantai bawah, aku melihat Mas Beny berdiri di ujung anak tangga. Dia menatapku dengan lega sekaligus khawatir. Dia menungguku rupanya.
Senyum tersungging di bibirku tanpa bisa kucegah. Mengapa pria ini selalu tahu saat aku membutuhkannya? Padahal aku selalu berusaha untuk menyembunyikan kelemahanku, tapi dia selalu berhasil menemukannya. Seakan sedikit demi sedikit dia merobohkan tembok yang kubangun selama ini untuk mengintip isi hatiku.
Mungkin dia adalah orang pertama yang kuizinkan untuk melawati tembok itu. Bahkan Alan tak pernah bisa menyentuhnya. Aku tak pernah menampakkan kelemahanku di hadapan Alan. Tapi saat bersama Mas Beny, aku merasa bebas untuk menumpahkan segala kelemahanku.
Masih dengan senyum yang melekat, aku berlari menuruni tangga. Kulihat wajahnya berubah menjadi panik. Kedua tangannya direntangkan, bersiap untuk menangkapku. Namun aku justru dengan sengaja menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya dan tertawa.
“Irene, apa yang lucu? Itu tadi berbahaya!”
“Aku tidak khawatir, karena aku tahu Mas Beny pasti akan menangkapku.”
.
.
.
Bab 19 ((END))