SECOND LOVE

SECOND LOVE
Pengasuh Baru



“Mereka akan menginap di tempatmu?” ulang Arcelio ragu. Dia tak dapat menyembunyikan rasa kecewa, yang tergambar jelas di paras tampannya.


“Aku juga sangat terkejut. Sebelumnya, Sam tak pernah memiliki ide seperti ini. Baru sekarang dia berpikir untuk bermalam di rumahku. Ini luar biasa," sahut Pierre. Berbeda dengan Arcelio, pria berambut pirang itu terlihat begitu bahagia.


“Sebentar. Akan segera kupanggilkan Chrissy." Arcelio memaksakan senyum. Dia berbalik ke ruang tamu, setelah mempersilakan Pierre masuk dan duduk. Tak berselang lama, Arcelio kembali sambil menuntun Chrissy.


Gadis kecil itu cemberut. Raut cerianya saat bercanda dengan Aurora dan Arcelio sudah menghilang, berganti dengan sikap merajuk dan bibir melengkung.


“Besok kita bertemu lagi, ya,” ajak Aurora dalam Bahasa Italia. Arcelio yang menerjemahkannya dalam Bahasa Perancis.


“Aku ingin menginap di sini,” gerutu Chrissy bersungut-sungut. Tingkah anak itu tampak begitu menggemaskan, ketika dirinya melipat kedua tangan di dada.


“Hei, cantik. Dengarkan aku." Arcelio menurunkan tubuh di hadapan Chrissy, seraya membelai lembut pipi gembul gadis kecil itu. “Paman Pierre sangat berharap agar kau ikut dengannya. Begitu pula ibumu. Kau tentu tak ingin mengecewakan dia, bukan?” bujuk Arcelio.


“Iya, tapi lebih aku suka menginap di sini bersama Aurora. Aku juga menyukainya,” sahut Chrissy seraya menghentakkan kaki dengan kencang ke lantai.


“Bagaimana jika sepulang dari sana, kita memasang tenda di ruang tamu ini?” cetus Arcelio. “Di sini tidak terlalu banyak barang, sehingga cukup untuk dipasangi tenda,” ujarnya.


“Benarkah, Paman?” Mata bulat menggemaskan Chrissy terbelalak tak percaya. “Hore! Aku akan berkemah!” seru gadis kecil itu girang.


“Ya, tapi dengan satu syarat,” ucap Arcelio lagi. “Kau harus menginap lebih dulu di rumah Paman Pierre,” tegasnya.


“Hm.” Chrissy menggembungkan pipinya hingga semakin bulat. Namun, akhirnya dia mengangguk setuju. “Baiklah. Aku akan menginap di rumah Paman Octopus,” putus Chrissy sambil berbisik.


Arcelio mengernyitkan kening. "Kenapa kau memanggilnya begitu?"


"Karena dia suka memegang pinggang ibuku. Tangannya sangat banyak, Paman," jawab Chrissy polos.


Arcelio mengulum senyumnya mendengar jawaban tadi.


“Sampai jumpa besok, Paman. Dah, Aurora,” ujar Chrissy seraya mengulirkan tangannya kepada Pierre untuk dituntun.


“Terima kasih. Kau telah berhasil membujuknya,” ucap Pierre dengan ekspresi tak percaya. “Kau memang hebat, karena berhasil menaklukkan Chrissy dalam waktu kurang dari dua belas jam.”


“Mungkin itu karena Aurora. Dia terlihat sangat menyukai putriku,” dalih Arcelio.


“Apapun itu … terima kasih,” ulang Pierre sekali lagi. Dia menjabat erat tangan Arcelio, sebelum berlalu bersama Chrissy.


Arcelio mengiringi kepergian mereka berdua dengan senyuman getir. Dia lalu menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Masih terngiang di telinganya, apa Pierre ucapkan tadi. “Samantha ingin menginap di rumahku.”


“Ah.” Arcelio menghela napas panjang. Sekuat tenaga, dia berusaha meredam perasaan berkecamuk yang mulai menguasai diri. Akan tetapi, Arcelio harus sadar. Dia dan Samantha sudah tak memiliki hubungan lagi. Samantha berhak melakukan apapun yang dia inginkan bersama Pierre.


“Ya, Tuhan.” Arcelio mengacak-acak rambut, demi menghalau bayangan kebersamaan serta keintiman antara Samantha dan Pierre yang tiba-tiba muncul di benaknya.


“Kenapa? Apa kau pusing, Papa?” tanya Aurora polos.


“Tidak apa-apa, Sayang,” jawab Arcelio tertawa pelan mendengar pertanyaan lucu putrinya. “Ini sudah malam. Cuci kaki dan gosok gigimu. Setelah itu kita segera tidur.”


“Apa besok Chrissy akan datang kemari?” tanya Aurora lagi sambil melompat-lompat kecil menuju kamar.


“Iya, Sayang,” jawab Arcelio singkat. Dia berdiri bersebelahan dengan Aurora, sambil menghadap cermin wastafel. Keduanya asyik menggosok gigi.


Setelah itu, Arcelio mengganti baju Aurora dengan piyama. Dia juga menyisir rambut panjang gadis kecil tersebut sebelum menidurkannya. Tak lupa, Arcelio membacakan buku cerita bergambar favorit Aurora. Dalam hati, dia ingin sekali melakukan hal yang sama pada Chrissy. Arcelio akan memberikan dunia beserta segala isinya, untuk putri yang baru dia temukan keberadaannya.


Tak terasa, Arcelio sudah sampai pada halaman terakhir buku cerita. Dilihatnya Aurora sudah tertidur lelap. Pelan dan hati-hati, dia meletakkan buku itu ke atas nakas, kemudian turun dari ranjang. Arcelio berjalan perlahan keluar dari kamar Aurora. Dia berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun, baru menutup pintu.


Tadinya, Arcelio ingin segera berbaring dan beristirahat. Namun, bayangan Samantha yang tengah berada di tempat Pierre, kembali mengusiknya. Arcelio memilih duduk di kursi balkon. Dia tak melakukan apapun di sana, selain mendongak memandangi langit gelap.


Arcelio mulai mencatat poin-poin penting, lalu menyimpannya ke dalam file presentasi di laptop. Dia terus berkutat dengan aktivitasnya hingga tak terasa waktu sudah beranjak pagi. Arcelio baru sadar bahwa dirinya tidak tidur semalaman, ketika cahaya matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela. "Astaga," keluh pria itu.


Arcelio merentangkan tangan. Dia melakukan peregangan ringan untuk melonggarkan otot-otot yang kaku, karena duduk di belakang meja semalam suntuk. Arcelio lalu membuka tirai dan membiarkan cahaya matahari masuk menghangatkan seisi ruangan, bersamaan dengan suara Aurora yang memanggil namanya.


Arcelio bergegas masuk ke kamar sang putri, untuk memberinya ciuman selamat pagi. Lagi-lagi, saat itu dirinya teringat pada Chrissy. Apakah Pierre bisa memberikan kehangatan dan kasih sayang seorang ayah untuk gadis kecil itu?


Lamunan arcelio seketika buyar, saat mendengar seseorang mengetuk pintu apartemennya. “Siapa yang datang sepagi ini?” pikir sang pelukis tampan tersebut. Sambil menggendong Aurora, dia membuka pintu depan.


“Selamat pagi, Monsieur Lazarro. Aku yang menghubungi Anda kemarin. Anda mengatakan bahwa aku boleh datang pagi-pagi sekali,” sapa seorang wanita muda, yang berdiri anggun di hadapannya. Arcelio memperkirakan gadis itu berusia sekitar dua puluhan.


“Manquer (nona) Brigitte Colbert?” balas Arcelio ragu.


“Benar sekali." Wanita muda berambut coklat dengan mata hazel bercahaya itu, mengembangkan senyum menawan. “Salam kenal, Monsieur,” sapanya sopan.


“Panggil Arcelio saja,” ralat Arcelio, seraya menjabat tangan wanita bernama Brigitte tadi. "Ini Aurora. Putriku,” Arcelio mengarahkan putrinya untuk bersalaman dengan Brigitte.


“Silakan masuk dulu. Kita bicara di dalam." Arcelio mempersilakan Brigitte agar masuk. "Aku memintamu datang hanya jika ada jadwal mengajar.” Arcelio meraih selembar kertas berisi jadwal yang sudah disiapkan di atas meja tadi malam. Dia menyerahkannya kepada Brigitte. “Kau bisa menghafalkan jadwalku,” ujar Arcelio.


“Baik, Tuan.” Brigitte membaca dengan saksama tulisan yang ada di sana, lalu mengangguk. “Hanya tiga kali seminggu, Tuan?” tanyanya memastikan.


“Iya,” jawab Arcelio singkat. “Baiklah, kita mulai saja dengan rutinitas Aurora.”


Pria yang memutuskan untuk terus melajang itu menjelaskan beberapa hal kepada Brigitte, terkait dengan kegiatan serta kebiasaannua dalam merawat serta menjaga Aurora, dari pagi hingga sore. Rutinitas itu dimulai dengan membersihkan diri sampai menyiapkan makanan. Sepertinya, Brigitte wanita muda yang cukup cerdas, sehingga dia dapat memahami dengan mudah penjelasan Arcelio.


“Apakah ada yang tidak kau mengerti, Nona? Kau bisa bertanya sekarang, sebelum aku bersiap-siap dan berangkat."


“Aku sudah memahami semuanya, Tuan,” jawab Brigitte yakin.


“Kalau begitu, kuserahkan Aurora padamu.” Arcelio menciumi pipi gadis kecil itu berkali-kali sebelum menurunkannya. “Untuk hari ini, Bibi Brigitte yang akan menemanimu bermain, ya." Dia menangkup paras mungil Aurora, kemudian mencium keningnya.


“Aurora belum fasih berbahasa Perancis,” ucap Arcelio seraya menegakkan tubuh. Dia mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Brigitte.


“Anda sudah mengatakannya kemarin, Tuan. Untuk itulah aku berani melamar pekerjaan ini. Ibuku berasal dari Roma. Aku bisa berbicara bahasa Italia,” terang Brigitte percaya diri.


“Astaga. Aku lupa." Arcelio menepuk keningnya pelan seraya tertawa.


Sejenak, Brigitte terpana memandang raut tampan yang terlihat sedikit acak-acakan itu.


“Maaf, aku tidak tidur semalaman. Dampaknya jadi kurang berkonsentrasi,” jelas Arcelio. “Baiklah, kalau begitu. Aku bersiap-siap dulu," pamitnya sebelum berlalu ke kamar mandi, meninggalkan Aurora dan Brigitte berdua di ruang tamu.


“Ciao, Aurora,” sapa Brigitte ramah sembari mencondongkan tubuh.


“Ciao,” balas Aurora pelan. Ragu, dia mengulurkan tangan kepada Brigitte.


Brigitte langsung mengecup punggung tangan Aurora, sehingga gadis kecil itu tergelak. “Kita akan bersenang-senang hari ini. Kuharap kau tidak keberatan, karena aku yang akan menemanimu?” ujar Brigitte lembut.


Aurora mengangguk malu-malu, lalu tersenyum. Tak membutuhkan waktu lama bagi pengasuh muda itu, sehingga bisa langsung dekat dan akrab dengan Aurora. Saat Arcelio hendak berangkat kerja, Aurora sudah berceloteh tentang banyak hal kepada Brigitte.


“Sampai jumpa nanti sore, Sayang.” Arcelio mencium pipi Aurora, lalu membuka pintu depan.


Brigitte dan Aurora mengikuti dari belakang. Mereka mengantar kepergian Arcelio yang sudah tampan dan lebih rapi dari biasanya. Pria bermata abu-abu itu terlihat sangat gagah dalam balutan blazer coklat.


Tepat pada saat Arcelio membalikkan badan dan beranjak ke arah lift, saat itu pula dia berpapasan dengan Samantha. Dia berjalan menuju apartemennya sambil menggendong Chrissy.


Dua anak manusia itu saling pandang tanpa mengatakan apapun. Sesaat kemudian, ekor mata Samantha mengarah pada Brigitte, yang berdiri di ambang pintu. Pengasuh baru itu melambaikan tangan pada Arcelio sambil memamerkan senyumnya.