SECOND LOVE

SECOND LOVE
Sepenggal Cerita



Malam telah tiba, menghadirkan keheningan yang tak biasa di hati Samantha. Setelah menidurkan Aurora dan Chrissy, Samantha berdiri di balkon apartemen dengan tatapan menerawang. Pikiran wanita itu melayang pada kejadian tadi siang, ketika dirinya diusir oleh sang ayah.


Setitik air mata jatuh di sudut bibir Samantha, mengiringi kepedihan hatinya yang tengah berada dalam kebimbangan. Saat dia dapat kembali bersama Arcelio, Samantha justru terusir dari keluarganya. Harga yang teramat mahal untuk memperoleh kebahagiaan, yang selama ini dia inginkan.


“Sayang,” sapa Arcelio seraya memeluk Samantha dari belakang. “Jangan terus dipikirkan,” bisik Arcelio. Pria itu mengecup pundak Samantha beberapa kali, berharap agar kegundahan yang dirasakan sang kekasih dapat segera menghilang.


“Bagaimana tidak dipikirkan, Arcelio? Ayah mengusirku dengan begitu kasar,” ujar Samantha penuh penyesalan.


“Astaga, Sayang. Siapa yang mengusir dengan lemah lembut? Tentu saja tidak ada.” Arcelio tertawa pelan, mencoba memberikan sedikit bumbu gurauan pada ucapannya. Namun, hal itu tidak berhasil membuat Samantha teralihkan.


Arcelio mengembuskan napas panjang dan dalam. Dia mengeratkan dekapannya kepada Samantha. Pria tampan itu meletakkan dagu di atas pundak ibunda Chrissy tersebut. “Kau tahu apa yang terjadi lima tahun yang lalu, saat dirimu pergi tanpa pamit?” Tatapan Arcelio menerawang, menembus pekat malam yang menyelimuti Kota Milan.


“Apakan paman benar-benar mengusirmu?” tanya Samantha memastikan ucapan Paolo, yang tadi siang dia dengar saat terjadi adu argumen panas.


“Ya,” jawab Arcelio diiringi anggukan. “Ayah mengusirku, setelah membuat diriku babak belur. Aku mengalami sejumlah luka saat itu. Namun, rasa sakitnya tidak sebanding dengan saat ayah mengatakan bahwa dia tak sudi memiliki anak seperti diriku,” tutur Arcelio pelan.


“Jadi, itu memang terjadi?” Samantha memasang raut tak percaya.


“Ya, Sayang. Itu memang benar,” sahut Arcelio. “Betapa besar harga yang harus kubayar, karena kesalahan yang telah diriku lakukan bersama Delanna. Lima tahun aku menjalani hari-hari, tanpa mengetahui seperti apa kabar ayah. Dia tak ingin lagi bertemu, atau sekadar membalas pesan dariku,” tutur Arcelio lagi.


“Satu-satunya yang selalu menjadi teman serta penyemangatku saat itu adalah Aurora. Dia … dia masih sangat kecil. Aku selalu membawanya ke manapun. Terlebih, setelah Adelina memutuskan berhenti bekerja. Semuanya memang terasa berat. Akan tetapi, aku sangat menikmatinya. Karena itulah, aku tak mungkin melepaskan Aurora.” Arcelio melonggarkan pelukannya. Pria itu kemudian berpindah ke sisi Samantha.


“Terkadang, aku berpikir bahwa hidup ini benar-benar tidak adil. Di satu sisi, aku telah berbuat dosa dengan mengkhianati semua yang kusayangi. Bukan hanya kau, Samantha. Ayahku, kedua orang tuamu, juga ketenangan dalam hidupku yang seketika sirna. Sejak saat itu, aku tak lagi merasakan hal lain, selain kegundahan dan gelisah berkepanjangan."


"Di sisi lain, kesalahan itu kulakukan karena rasa cinta yang terlalu besar terhadapmu. Kau tahu bahwa aku sangat cemburu. Aku benar-benar takut kehilangan wanita cantik ini. Namun, karena perasaan takut tersebut, diriku justru menjadi sangat bodoh.”


“Arcelio.” Samantha berbalik menghadap kepada sang kekasih, kemudian menangkup paras rupawan pria itu. “Maafkan aku yang terlalu egois. Aku juga hanya memikirkan perasaan sakit karena dikhianati, tanpa mempertimbangkan hal lain. Pikiranku pun sangat kacau saat itu. Terlebih, saat mengetahui bahwa diriku tengah hamil. Aku bahkan sempat akan menggugurkan kandungan. Akan tetapi, Tuhan selalu menyadarkanku.”


“Ya. Anak-anak itu yang kembali menyatukan kita, Sayang,” ucap Arcelio pelan. “Jika dulu aku benar-benar sendiri saat ayah mengusirku dari hidupnya, maka kali ini kau memiliki diriku beserta kedua putri kita. Terima kasih karena bersedia menerima Aurora. Kau memang wanita berhati malaikat.” Arcelio menggenggam erat kedua tangan Samantha, lalu menciumnya.


“Aku mencintaimu, Arcelio. Kita akan tetap menikah, apapun yang terjadi. Semua yang sudah menjadi keputusan Samantha, akan selalu dia lakukan dengan baik.” Samantha mendekap erat Arcelio yang juga balas memeluknya.


Sejak hari itu, Arcelio dan Samantha disibukan dengan rencana pernikahan mereka. Keduanya sepakat untuk tidak mengadakan pesta yang terlalu meriah. Samantha dan Arcelio hanya akan mengundang beberapa kenalan dekat.


“Aku tidak ingin gaun pengantin yang terlalu banyak pernak-pernik” ujar Samantha, ketika mereka berencana untuk mencari gaun pengantin. Dalam persiapan kali ini, Samantha dan Arcelio memilih tidak lagi memakai jasa wedding planner.


“Oh, baiklah. Tidak masalah. Tanpa gaun pengantin pun kau tetap terlihat paling cantik. Apalagi, jika tanpa pakaian sama sekali,” gurau Arcelio seraya menyodorkan helm kepada Samantha.


Samantha tidak menanggapi dengan kata-kata. Dia hanya menepuk helm yang dikenakan Arcelio. Keduanya akan pergi menggunakan motor, berhubung Aurora dan Chrissy tengah berada di kediaman Paolo.


Beberapa saat kemudian, sepasang kekasih itu telah tiba di depan butik khusus yang menyediakan segala pernak-pernik pernikahan. Samantha mulai memilih model gaun yang sesuai dengan keinginannya, sebelum melakukan pengukuran.


Setelah urusan dengan gaun pengantin selesai, kedua sejoli tersebut beralih ke tempat lain. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Selain itu, Aurora juga minta dibelikan pizza dari langganan mereka.


Menjelang sore, Arcelio dan Samantha baru memutuskan pulang. Rencananya, mereka akan langsung ke kediaman Paolo, karena pria itu mengundang untuk makan malam bersama. Namun, belum sempat Samantha menaiki motor Arcelio, terdengar suara seseorang memanggil namanya. Samantha mengurungkan niat tersebut, kemudian menoleh. Seketika, mantan aktris terkenal Italia tadi membelalakan mata.


“Sara!” Samantha membalas panggilan tadi. Dia melepas helm yang sudah dikenakannya, lalu merentangkan tangan untuk menyambut Sara yang menghambur ke dalam pelukan. Mereka berdua, melepas rindu karena tak bertemu sekian lama.


“Bagaimana kabarmu? Keterlaluan! Kau tak pernah menghubungiku lagi dalam satu tahun terakhir.” Sara melayangkan protes keras kepada Samantha.


“Astaga, maafkan aku.” Samantha tertawa renyah.


“Kapan kau kembali dari Paris? Lalu bagaima ….” Sara tak melanjutkan kata-katanya, ketika menyadari bahwa pria yang tengah duduk di motor adalah Arcelio. Dia menatap pria yang tak menoleh sama sekali kepadanya.


“Kami memutuskan untuk kembali menjalin hubungan,” ucap Samantha, yang seakan memahami makna tatapan aneh Sara terhadap Acelio.


“Apa? Kau tidak sedang bercanda, kan?” tanya Sara memastikan.


“Tentu saja tidak. Aku dan Arcelio sudah bertekad untuk memulai semua dari awal. Kami melakukan ini demi Chrissy dan Aurora. Mereka berdua membutuhkan sosok orang tua yang lengkap,” terang Samantha diiringi senyum penuh harap.


Namun, tidak dengan Sara. Wanita itu terlihat tak percaya. “Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?”


“Kami sedang mempersiapkan pernikahan,” jawab Samantha.