SECOND LOVE

SECOND LOVE
Terlambat



Setelah mendengar kondisi Aurora dari Delanna, Arcelio tak memikirkan hal lain lagi. Dia langsung memesan tiket menuju Puerto Rico. Arcelio juga mengajak Samantha dan Chrissy pergi bersama.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh dua jam, mereka bertiga akhirnya dapat menginjakkan kaki di Kota San Juan yang merupakan ibukota negara itu.


Dari bandara, Arcelio langsung membawa Samantha dan Chrissy ke hotel yang telah mereka masukkan ke dalam daftar akomodasi perjalanan. Setelah beristirahat beberapa saat untuk melepas penat akibat perjalanan jauh, Arcelio langsung menghubungi Delanna.


“Aku sudah menyuruh seseorang untuk menjemput ke sana. Tunggulah di di luar hotel tempat kalian menginap,” ucap Delanna, sebelum Arcelio mengakhiri panggilan itu.


“Apa kalian sudah siap?” tanya Arcelio seraya merapikan jaket kulit kesayangannya.


“Kami sudah siap,” sahut Samantha.


“Apa kita akan menemui Aurora, Papa?” tanya Chrissy semringah.


“Iya, Sayang. Kita akan menemui Aurora dan Ollie sekarang. Apa kau senang?” Arcelio mencubit gemas pipi Chrissy yang tampak sangat bahagia.


“Aku suka, Papa!” Chrissy melonjak kegirangan. Dia bernyanyi-nyanyi kecil, bahkan hingga mereka berada di luar hotel untuk menunggu jemputan.


Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depan mereka. Seorang pria berkulit eksotis dengan rambut ikal potongan cepak, keluar dari sana. Dia berjalan menghampiri Arcelio dan Samantha, yang melihat ke arahnya dengan tatapan penasaran. “Tuan Arcelio Lazzaro?” sapa pria tadi dalam Bahasa Inggris.


“Ya, aku,” balas Arcelio.


“Perkenalkan. Namaku Miguel Alano. Aku diminta untuk menjemputmu kemari oleh Delanna Verratti.” Pria yang mengaku bernama Miguel itu mengulurkan tangan. Dia bersalaman dengan Arcelio dan Samantha secara bergantian.


“Oh, ya. Terima kasih. Kami sudah menunggu sejak tadi,” ujar Arcelio ramah, tapi tetap terlihat kalem. “Bisakah kita langsung berangkat?" Arcelio terlihat sudah tak sabar, untuk segera melihat kondisi Aurora.


“Tentu. Silakan masuk. Perjalanan kita hanya akan memakan waktu sekitar lima belas menit.” Miguel mengarahkan tangannya ke mobil yang terparkir. Dia sendiri langsung kembali ke pintu pengemudi.


“Masuklah, Sayang.” Arcelio membukakan pintu belakang untuk Samantha dan Chrissy. Sedangkan, dirinya duduk di jok depan sebelah sopir. Tanpa berlama-lama lagi, Miguel segera melajukan kendaraannya menembus jalan raya Kota San Juan.


Seperti yang telah Miguel katakan tadi, kurang lebih lima belas menit kemudian mereka telah tiba depan rumah dua lantai dengan desain khas negara itu. Mobil yang dikendarai Miguel, berhenti di luar halaman berumput. Pria dengan postur hampir sama dengan Arcelio tersebut bahkan memarkirkannya di sana.


“Mari masuk,” ajak Miguel, pada Arcelio yang berdiri terpaku sambil menggendong Chrissy. Sementara, Samantha berada di sebelahnya.


Arcelio mengangguk. Dia mengikuti Miguel yang berjalan ke halaman berumput dengan beberapa tanaman hias yang memperindahnya. Setelah melewati sekitar empat undakan anak tangga, mereka tiba di teras, lalu berdiri beberapa saat hingga pintu dibuka dari dalam.


“Nyonya Bonifacio,” sapa Miguel ramah, pada wanita paruh baya yang tadi membuka pintu.


“Hai, Miguel. Kau kembali dengan cepat,” balas wanita yang tak lain merupakan ibunda Delanna, Caterina Bonifacio. “Masuklah,” ajaknya. Dia membuka pintu sedikit lebih lebar, mempersilakan Arcelio dan Samantha agar masuk.


“Apakah gadis cantik ini putrimu juga, Tuan Lazzaro?” tanya Caterina dalam Bahasa Italia. Dia mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada Arcelio. Ini adalah kali pertama Caterina melihat ayah dari cucunya secara langsung.


“Ya, Nyonya. Namanya Beatrice Chrislaure. Namun, Anda bisa memanggil dia Chrissy,” jawab Arcelio seraya menurunkan sang putri di sofa. “Ini istriku, Samantha Lazzaro.” Arcelio menoleh kepada wanita cantik berambut pirang di sebelahnya.


“Hallo, Nyonya Lazzaro,” sapa Caterina. “Aku ibunya Delanna. Caterina Bonifacio. Senang sekali karena kalian bisa berkunjung kemari.” Caterina tersenyum ramah. “Sebentar. Akan kupanggilkan Delanna.” Dia membalikkan badan, kemudian berlalu dari ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Delanna muncul di sana.


“Sayangku.” Miguel yang sedari tadi hanya menyimak, langsung menyambut Delanna. Dia bahkan mengecup lembut bibir ibunda Aurora tersebut. “Aku sudah melaksanakan tugas darimu,” ucapnya dalam Bahasa Spanyol, yang merupakan bahasa resmi negara itu selain Bahasa Inggris.


“Terima kasih, Sayang,” balas Delanna seraya tersenyum manis. Dia lalu mengarahkan perhatian kepada Arcelio dan Samantha. “Selamat datang untuk kalian. Ini Miguel Alano. Dia adalah calon suamiku.” Delanna menggandeng lengan pria berkulit eksotis tadi.


“Selamat, Delanna. Semoga kalian selalu berbahagia hingga menuju pernikahan nanti,” ucap Samantha tulus. Segala rasa cemburunya sirna seketika, melihat kemesraan antara Delanna dengan Miguel.


"Terima kasih, Samantha. Kuharap, tidak ada lagi perselisihan antara kita. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kau dan Arcelio memang ditakdirkan untuk bersama. Aku juga ingin memulai lembaran baru. Miguel adalah pria yang tepat untukku." Delanna tersenyum manis kepada pria yang menatap penuh cinta padanya.


“Kami ikut bahagia, Delanna," ucap Arcelio tulus. "Lalu, di mana Aurora?” tanyanya. Dia sudah benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan putri kecilnya tersebut.


“Aurora ada di kamarnya. Mari,” ajak Delanna. Dia dan Miguel melangkah terlebih dahulu, diikuti oleh Arcelio dan Samantha.


Setibanya di dalam kamar yang ditempati Aurora, tampaklah gadis kecil itu tengah tertidur dengan ditemani Caterina. Alat kompres penurun demam masih menempel di keningnya. Aurora membuka mata, saat merasakan sentuhan tangan Arcelio dan mendengar suara Chrissy.


“Papa? Kau di sini?” tanyanya lemah seperti orang mengigau.


“Iya, Sayang. Aku, Ibu peri Samantha, dan Chrissy datang kemari untuk melihat keadaanmu,” jawab Arcelio lembut.


Mata Aurora seketika membulat. Wajah dan tatapan mata yang sayu, langsung berganti dengan sorot ceria. “Kalian akan menjemputku pulang, ‘kan?” tanya Aurora penuh harap. Dia bahkan langsung bangun dan duduk.


Aurora menoleh ke arah Delanna. “Aku ingin ke taman bermain bersama papa dan Chrissy,” sahutnya lirih dengan mata berkaca-kaca. “Papa, bawa aku pulang. Aku rindu kamarku. Aku tidak mau di sini,” isak Aurora seraya mengalihkan pandangan kepada Arcelio.


“Sayang." Arcelio sempat melirik ke arah Delanna yang tampak menahan tangis. Dia merasa tak enak. Sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati, Delanna akan merawat Aurora selama beberapa minggu.


“Bukankah rumah ini jauh lebih bagus dari apartemen papa yang sempit? Lihatlah, Ibu Delanna membelikan banyak mainan dan boneka untukmu.” Arcelio mengarahkan tangannya ke rak kayu yang tertempel di salah satu sisi dinding.


“Papa ….” Tangis Aurora semakin kencang. Dia tak dapat ditenangkan, walau Delanna sudah berusaha menggendongnya.


“Oh, Sayangku. Kemarilah.” Arcelio meraih Aurora dari gendongan Delanna. Dia memeluk erat putri yang tak ditemuinya selama berhari-hari. Aurora juga tampak nyaman melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher sang ayah. Beberapa saat kemudian, Aurora mulai tenang. Arcelio kemudian membaringkan anak itu di ranjang dengan hati-hati.


“Di sini saja, Papa." Tiba-tiba, Aurora meraih tangan Arcelio, ketika pria itu bermaksud untuk bangkit dari tepi ranjang.


“Izinkan aku bicara berdua dengan Ibu Delanna, Sayang,” pinta Arcelio lembut.


Samantha segera memahami maksud Arcelio. Dia berjalan mendekat ke tepi ranjang Aurora. “Hei, lepaskan tangan papamu, Nak. Ada Chrissy di sini. Kalian bisa bermain bersama,” bujuknya lembut.


Aurora langsung menggeleng kencang. “Papa harus di sini,” ucapnya.


“Beristirahatlah sebentar. Aku akan segera kembali.” Arcelio melepaskan tangan Aurora yang masih melingkar di pergelangannya.


“Kau harus berjanji untuk segera kembali kemari, Papa?” pinta Aurora memelas.


“Aku berjanji, Sayang,” sahut Arcelio yakin. Dia lalu mengecup kening Aurora, sebelum meninggalkan kamar bersama Delanna.


“Kita bicara di teras samping saja,” ajak Delanna pelan. Dia seakan sudah mengetahui apa yang akan Arcelio bahas dengannya.


Arcelio mengangguk setuju. Mereka berjalan melintasi koridor, lalu berhenti di teras berlantai pualam. Ada beberapa kursi kayu bercat putih di sana. Arcelio duduk di salah satu kursi yang berada dekat pagar, diikuti oleh Delanna.


“Sebenarnya, aku sangat ingin menjalin hubungan yang dekat dan akrab bersama putriku,” ungkap Delanna. Mantan wedding planner itu tampak sangat menyesalkan situasi yang membuatnya merasa tak nyaman.


“Aku mohon, Delanna. Jangan paksakan keadaan ini,” ucap Arcelio. “Kau melihat sendiri bahwa Aurora tidak betah di sini. Iklim, suasana rumah, dan lingkungan yang jauh berbeda dengan Italia, membuat putriku sangat tidak nyaman. Perubahan ini terjadi secara tiba-tiba, Aurora belum siap menghadapinya.”


“Begitukah?” Delanna tersenyum getir. Dia terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Seharusnya, dulu aku tidak meninggalkan Aurora. Seharusnya aku tetap bersamanya, meskipun saat itu kau tak memedulikanku. Ah! Kenapa aku bodoh sekali? Bodoh dan egois!” Delanna memukul-mukul keningnya pelan menggunakan telapak tangan.


“Sudahlah. Tak ada gunanya menyesali yang telah berlalu,” ujar Arcelio. “Wajar jika Aurora masih menolak, karena dia baru bertemu denganmu. Saranku, jalinlah kedekatan dengan Aurora secara perlahan. Sering-seringlah datang ke Italia dan mengajaknya bertemu. Aku yakin, lama-kelamaan Aurora akan mengerti. Dia pasti bisa merasakan kasih sayangmu."


Delanna sempat tercenung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memusatkan perhatian pada Arcelio. “Itu artinya, aku tak boleh tinggal di sini. Aku harus pindah ke Italia supaya dekat dengan Aurora,” cetusnya tiba-tiba.


“Aku tak berani menanggapinya, Delanna. Kau harus membicarakan hal penting ini bersama calon suamimu,” saran Arcelio.


“Aku akan memaksanya." Delanna mengepalkan tangan, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Arcelio.


Sementara, Arcelio hanya mengembuskan napas dalam-dalam. Ayah dua anak tersebut berdiri mematung di tempatnya. Dia tak tahu harus melakukan apa. Akhirnya, Arcelio memilih kembali ke kamar Aurora.


Ternyata, Chrissy masih berada di sana bersama Samantha. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Aurora tampak jauh lebih bersemangat. Arcelio terus memperhatikan dari ambang pintu, interaksi manis keluarga kecilnya itu.


“Menginaplah di sini. Biar aku yang mengganti seluruh biaya hotelmu,” ujar Delanna. Dia tiba-tiba sudah berdiri di belakang Arcelio.


“Delanna?” Arcelio mengernyitkan kening, sembari menatap heran pada ibunda Aurora tersebut.


“Jika kau kembali ke hotel, Aurora pasti akan memaksa untuk ikut. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya, selagi kalian masih berada di sini,” ujar Delanna.


Arcelio tak langsung menanggapi. Dia mengusap-usap tengkuk, lalu menoleh pada Samantha yang ternyata juga tengah memandang ke arahnya. “Sayang." Arcelio tersenyum lembut. Dia menghampiri sang istri yang duduk di tepi ranjang.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Samantha penuh selidik.


Arcelio mengulum senyum. Ternyata, rasa cemburu itu tak sepenuhnya sirna, saat melihat Arcelio dan Delanna bicara berdua. Padahal, Samantha sudah mengetahui dengan jelas bahwa Delanna akan segera menikah.


“Begini, Sayang." Arcelio menuturkan apa yang Delanna katakan tadi dengan hati-hati. Dia tak boleh salah berucap, jika tak ingin menimbulkan rasa curiga di hati Samantha.


Tanpa pasangan suami istri itu sadari, Delanna memperhatikan mereka dari ambang pintu. Sikap manis Arcelio hanya ditunjukkan pada Samantha. Sesuatu yang tak pernah diberikan Arcelio padanya, meskipun dulu pernah terjadi sesuatu yang di luar batas antara mereka berdua.