SECOND LOVE

SECOND LOVE
Ayah Terbaik



Keesokan harinya, Paolo menemani Arcelio menemui kedua orang tua Samantha di kediaman mereka. Samantha beserta kedua putrinya pun turut ke sana. Kebersamaan mereka membuat Gilberto dan Lucrezia Bellucci sangat terkejut, pasalnya Samantha tidak mengatakan apapun sebelumnya, bahwa dia dan Arcelio telah bertemu kembali


“Samantha dan Arcelio sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama. Segala hal yang terjadi di masa lalu, ternyata tidak membuat mereka tetap saling membenci atau tak ingin bersinggungan lagi. Keduanya justru memutuskan untuk memperbaiki semuanya dan memulai lagi dari awal,” ucap Paolo. Dia berbicara dengan nada dan bahasa tubuh yang terlihat penuh wibawa.


“Mudah sekali kau memberikan maaf, Sam,” sindir Lucrezia sinis. “Aku sangat menyesalkan semua yang terjadi antara Samantha dan Arcelio. Aku ataupun Gilberto akan selalu mendukung semua keputusan putri kami, selama itu yang terbaik baginya. Akan tetapi, apakah ini tidak terlalu dipaksakan?” Ibunda Samantha seakan kurang menyukai keputusan putrinya, yang memilih kembali pada Arcelio.


“Aku mencintai Samantha, Bibi. Kalian berdua sudah mengetahui hal itu dengan jelas. Setelah Samantha pergi, aku bahkan berkali-kali datang kemari dan memohon pada kalian untuk ….”


“Apa itu cinta jika hanya berakhir dengan pengkhianatan. Terlebih, kecuranganmu terhadap putriku membuahkan anak!” sergah Gilberto. Telunjuknya lurus tertuju kepada Aurora yang duduk di dekat Chrissy.


Melihat raut wajah Gilberto yang dipenuhi kebencian saat menunjuk ke arahnya, membuat Aurora yang memiliki perasaan lembut dan sensitif menjadi terdiam membeku. Anak itu menatap ayahanda Samantha dengan sorot tak dapat diartikan.


“Ayahmu benar, Sam,” timpal Lucrezia. “Sekuat apa dirimu, sehingga bersedia menerima anak dari hasil perselingkuhan Arcelio dengan wanita tidak tahu malu itu? Saat ini, kau mungkin masih dibutakan oleh perasaan yang indah terhadap Arcelio. Namun, setelah kau merasa tersakiti, maka kehadiran anak ini akan semakin menambah luka hatimu. Lihatlah dia.” Tunjuk Lucrezia kepada Aurora.


“Bukan tidak mungkin jika anak itu akan mewarisi watak ibunya, wanita penggoda yang telah membuatmu harus mengasingkan diri selama bertahun-tahun. Kau bahkan menjalani segala hal seorang diri saat mengandung dan melahirkan Chrissy," lanjut Lucrezia.


“Jangan berkata seperti itu, Bibi. Aurora adalah putriku!” protes Arcelio penuh penekanan. “Walaupun dia mewarisi beberapa hal dari Delanna, tapi dalam tubuhnya juga mengalir darahku ….”


“Ya, darah seorang pengkhianat,” sela Gilberto dengan segera.


“Paman!” sergah Arcelio tak terima. “Kalian boleh menghinaku dengan kata-kata paling kotor sekalipun. Akan tetapi, tolong jangan alamatkan itu pada Aurora! Dia hanya anak berusia lima tahun yang suci dan tidak tahu apa-apa!" Sekali lagi, Arcelio membuktikan bahwa tak ada siapa pun yang dapat mengusik kedua putrinya. Tidak Pierre yang merupakan sahabat lamanya, tidak juga kedua orang tua Samantha yang sedang berusaha dia taklukan.


“Apa yang Acelio katakan memang benar adanya,” ucap Paolo menengahi. “Kita sudah semakin tua, Sobat. Aku, kau, dan istrimu. Apa lagi yang kita cari dan butuhkan. Harta, kedudukan, semua sudah didapat dengan terbilang mudah. Berikan kesempatan kepada Arcelio dan Samantha untuk meraih kebahagiaan mereka. Kita lihat, akan seberapa sanggup keduanya menaklukan ketidakyakinan kalian dengan kesungguhan Arcelio,” ucap pria paruh baya itu, dengan sikap dan nada bicara yang belum berubah.


“Aku berkata seperti ini bukan karena Arcelio adalah putraku. Namun, kalian jangan melupakan satu hal bahwa Aurora merupakan cucu dari Keluarga Lazzaro. Dengan cara bagaimana atau dari siapa anak ini terlahir, itu bukanlah pilihannya. Kurasa, tidak etis jika orang-orang bermartabat seperti kalian menghakimi anak sekecil ini.” Paolo mengembuskan napas dalam-dalam diiringi gelengan pelan.


“Ini tidak sesederhana seperti apa yang kau katakan, Paolo,” bantah Gilberto. “Dia mungkin cucumu, tapi … astaga tolong mengertilah.”


“Jika Samantha saja tidak keberatan untuk menerima Aurora, lalu kenapa kalian harus menjadikannya sebagai alasan?” protes Arcelio. Dia berani memperjuangkan niat baiknya yang ingin mempersunting Samantha.


“Kenapa kau masih mempertanyakan hal itu, Arcelio?” Lucrezia tersenyum sinis dan tampak setengah mencibir. “Kami adalah keluarga terhormat,” ucapnya lagi dengan bangga.


Dari mana karakter itu Arcelio dapatkan? Sang pelukis tampan patut berbangga hati memiliki ayah seperti Paolo, meskipun pria paruh baya tersebut berwatak sangat keras dan selalu berbicara blak-blakan, seakan tak memikirkan perasaan orang lain.


Gilberto dan Lucrezia saling pandang. Mereka sepertinya tengah berkomunikasi melalui telepati. Entah apa yang kedua orang tua Samantha itu perbincangkan dalam kebisuan tersebut.


Dalam situasi seperti itu, Chrissy turun dari sofa. Dia menghampiri kakek dan neneknya. Chrissy bercerita bahwa dia sering bermain dan ingin dibelikan anjing seperti Ollie, agar sama dengan Aurora sahabat yang disayanginya.


“Dengarlah, Bu. Aku sangat tersentuh dengan kedekatan antara Chrissy dan Aurora. Keduanya langsung akrab dari pertama kali mereka bertemu. Itu sesuatu yang jarang terjadi kepada putriku.” Samantha yang tadi hanya terdiam menyimak, kali ini ikut bersuara. Dia yang sudah mulai menyayangi Aurora, ikut tak terima saat kedua orang tuanya mempermasalahkan keberadaan anak itu.


“Awalnya, aku juga memang berpikiran seperti kalian. Sulit sekali melihat anak itu secara langsung, karena selalu mengingatkanku akan sosok Delanna. Namun, sedikit kedewasaan dalam diriku menegaskan bahwa semuanya salah. Aku akan sangat berdosa jika sampai memusuhi Aurora. Astaga, Bu. Dia sangat manis dan pintar. Dia ….”


“Kau dibutakan rasa cinta terhadap Arcelio!” sela Lucrezia. Wanita itu memberikan teguran keras kepada Samantha, seakan ingin menyadarkan sang putri dari keputusan keliru yang diambilnya. “Berpikirlah secara logis, Sam. Tak ada manfaatnya jika kau menjadi ibu sambung, dari anak hasil perselingkuhan calon suamimu dengan wanita lain,” ujar Lucrezia tetap menolak.


“Astaga, Lucrezia. Kau ini seperti bukan seorang wanita dan seorang ibu saja,” sindir Paolo tak percaya.


“Justru karena aku merupakan wanita dan seorang ibu. Rasanya tak sudi jika harus satu atap dengan segala sesuatu yang telah membuat hidupku menjadi hancur berkeping-keping!” sanggah Lucrezia tegas. Dia menatap tajam kepada Paolo.


“Itu artinya, Samantha berpikir selangkah lebih maju darimu sebagai ibunya. Akuilah hal itu,” sindir Paolo lagi. Jika untuk seseorang yang tak mengenal seperti apa karakter ayahanda Arcelio tersebut, maka pasti sudah terjadi pertengkaran luar biasa di antara mereka, akibat semua kata-kata yang dilontarkan oleh banker terkenal Italia tersebut.


Paolo mengembuskan napas panjang. Dia masih duduk penuh wibawa dengan menyilangkan kaki. “Kenapa kalian harus mempersulit sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana? Anak-anak kita hanya membutuhkan restu, bukan sokongan dana ratusan juta euro yang akan membuat kalian bangkrut dalam seketika. Seandainya dalam perjalanan rumah tangga mereka nanti Samantha merasa terbebani dengan pernikahan itu akibat kehadiran Aurora, aku rasa putri kalian sudah lebih dari dewasa untuk mengambil sikap."


"Kalian bisa mengolok-oloknya hingga puas jika memang tega. Aku juga melakukan hal yang sama terhadap Arcelio beberapa tahun silam. Aku bahkan tak mengakuinya sebagai bagian dari Keluarga Lazzaro. Namun, lihatlah seberapa dewasanya putraku saat ini.”


Paolo tersenyum bangga, saat melihat Arcelio mengangkat ibu jari dengan sembunyi-sembunyi. Pria paruh baya yang sangat mencintai cerutu tersebut, memang tidak mengada-ada dengan apa yang diucapkan tadi. Lima tahun lamanya, dia tak menjalin komunikasi dengan Arcelio. Padahal, Paolo tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini selain putra semata wayangnya tersebut.


“Bagaimana, Paman?” tanya Arcelio memastikan keputusan Gilberto tentang lamaran yang dilayangkan untuk Samantha. “Aku ingin jawaban hari ini juga,” ucap Arcelio lagi setengah mendesak kedua orang tua wanita pujaan hatinya.


Gilberto menatap lekat Arcelio, kemudian mengembuskan napas dalam-dalam. “Baiklah, Arcelio. Kami akan menerima lamaranmu, jika kau mengembalikan anak itu pada ibunya.”