
Pagi ini lebih sibuk dari biasanya. Anak-anak juga bangun lebih pagi. Jika biasanya mereka bangun pukul delapan atau sembilan. Hari ini mereka bangun sejak pukul tujuh. Itu karena hari ini adalah hari pertama Anya masuk sekolah.
Ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Anya. Bahkan dia sampai susah tidur karena tak sabar menunggu pagi datang. Tapi herannya dia sudah bangun sebelum alarmku berbunyi. Sungguh semangat yang luar biasa.
Saat ini aku sedang membantu Anya untuk memakaikan seragamnya. Awal ya dia bersikeras untuk memakainya sendiri, tapi aku tak bisa membiarkannya memakai seragamnya sendiri. Bisa-bisa penampilannya jadi kurang rapi di hari pertamanya ini.
“Anya nanti tidak perlu ditunggu. Mama sama Papa pulang aja,” ujar Anya saat aku memakaikan dasinya.
“Untuk hari ini saja, ya? Mama ingin melihat Anya sekolah. Besok Mama akan langsung pulang. Mama janji!”
Jika biasanya sang anak yang meminta ibunya untuk tetap tinggal saat hari pertama di sekolah, tapi sekarang justru aku yang memohon pada putriku untuk melihatnya sekolah. Hal ini sudah kami bicarakan sejak malam kemarin. Anya tidak ingin kami menungguinya di sekolah. Sebaliknya, aku justru ingin sekali melihat kegiatannya di sekolah. Aku ingin tahu apa saja yang dia lakukan di sana bersama geman-temannya.
Bukan tanpa alasan aku ingin melakukan ini. Aku tahu Anya pasti akan cepat bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi sebagai ibu aku masih belum rela melepas Anya. Aku ingin tahu lingkungan seperti apa yang akan Anya hadapi dan bagaimana perlakuan anak-anak yang lain terhadap Anya. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itu sangat mengusik pikiranku.
Terlebih selama ini Anya tidak pernah jauh dariku untuk waktu yang lama. Membayangkan harus berpisah dengannya dalam waktu tiga sampai empat jam sudah membuatku merasa sangat kesepian.
“Anya bilang tidak usah. Nanti Mama dimarahi Bu Guru!”
“Mama sudah minta ijin, dan Bu Guru bilang boleh!” aku tidak bohong. Kemarin aku sudah minta ijin pada kepala sekolah untuk menemani Anya di hari pertamanya. Beliau pun mengijinkan.
“Tapi Anya malu, Ma...”
“Ya, Anya nggak perlu pedulikan Mama dan Papa. Mama cuma ingin lihat saja, kok. Mama dan Papa nggak akan ikut campur.”
Aku tidak menyalahkan Anya jika dia bersikap seperti itu. Karena bagi teman-temannya, ini bukan hari pertama masuk sekolah. Sedangkan Anya memang agak terlambat memulai sekolah. Dia pasti malu dan takut dianggap anak manja oleh yang lain, karena dia satu-satunya yang ditemani oleh orang tuanya.
Sejujurnya hatiku agak sakit saat Anya bilang dia merasa malu kutemani. Tapi aku sadar, Anya sekarang memang sudah besar. Dia sudah bisa melakukan banyak hal sendiri. Aku saja yang terlalu protektif padanya, selalu menganggapnya masih bayi.
Karena memang hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tak bisa memberikan semua yang dia inginkan. Baju bagus, sepeda, mainan yang banyak, sepatu baru. Aku tak sanggup memberikan itu semua padanya. Maka yang bisa kulakukan adalah menghujaninya dengan semua cinta dan kasih sayang yang kupunya.
“Mama tahu Anya sekarang sudah besar. Mungkin sebentar lagi Anya sudah tidak butuh Mama. Mama Cuma ingin melihat putri Mama tumbuh, mengenal lingkungan baru, punya banyak teman, itu saja. Selama ini Anya selalu bersama Mama, jadi Mama ingin tahu bagaimana Anya jika bergaul dengan orang lain,” wajahnya yang tadi cemberut, berubah jadi sedih setelah mendengarku.
“Kalau Anya merasa malu, Mama minta maaf, ya? Untuk hari ini saja. Mama janji.” Aku menyodorkan jari kelingkingku padanya, sebagai bukti janji.
“Uh-uh...” bukan menautkan kelingking, Anya justru menangis. Kedua tangannya menutupi wajahnya.
Hatiku terenyuh melihatnya. Aku tak bermaksud membuat Anya menangis. Buru-buru aku memeluknya, “Shhh... Kok Anya nangis? Nanti jadi nggak cantik, loh.”
Kubiarkan dia menangis untuk beberapa saat. Ketika kurasakan napasnya mulai teratur, aku melepas pelukanku. Kuusap dengan lembut air matanya, lalu kucium kedua pipi dan keningnya.
“Anya sudah nggak marah sama Mama, kan?” Anya hanya menggeleng sebagai jawaban. Aku tersenyum dan kembali mencium pipinya.
“Maaf mengganggu waktu kalian, tapi sarapan sudah siap.”
Mas Beny tiba-tiba menginterupsi dari balik pintu kamar. Melihat kemunculan papanya, Anya langsung menyembunyikan wajahnya kembali dengan memelukku. Mungkin dia malu terlihat menangis di depan orang lain. Aku dan Mas Beny tertawa melihat tingkahnya.
Kami kemudian menuju ruang makan untuk sarapan.
...
Mobil kami berhenti di halaman depan sekolah Anya. Di sana sudah ada beberapa guru yang menyambut siswa-siswi yang datang. Ada beberapa orang tua yang mengantar anaknya juga. Tapi mereka langsung kembali setelah memastikan anaknya masuk ke dalam kelas.
Kami pun turun dan menghampiri guru yang sedang berdiri di depan kelas. Ada dua guru yang berdiri di depan kelas Anya. Guru yang pertama merupakan wanita paruh baya yang tampak berpengalaman. Sedangkan yang satunya lebih muda, mungkin tiga atau empat tahun lebih muda dariku. Mereka berdua tersenyum ramah pada kami.
“Selamat pagi, Bu. Saya Irene, ibunya Anya. Kemarin saya sudah ijin pada kepala sekolah untuk menemani Anya hari ini,” aku pun memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan maksud kami di sini.
“Oh iya, Bu Irene. Kami sudah diberitahu oleh beliau. Bapak dan Ibu boleh ikut masuk ke dalam kelas,” kali ini guru yang lebih tua yang meresponsku, “saya Mira, salah satu guru yang bertanggung jawab di kelas ini. Lalu itu Bu Fiona yang akan menemani saya.”
“Tidak perlu, Bu Mira. Saya dan suami lihat dari luar saja. Lagi pula saya juga membawa bayi. Takutnya nanti mengganggu anak-anak yang sedang belajar,” tolakku dengan halus.
Kedua guru itu tersenyum maklum padaku. Lalu mengajak Anya untuk masuk. Sebelum masuk kelas, aku memberi Anya ciuman di pipinya. Begitu juga Mas Beny. Dia juga melambai dengan riang pada kami saat memasuki kelas.
Mas Beny kemudian mengajakku untuk duduk di bangku yang ada di depan kelas. Tapi sebelum itu, mataku kembali beredar ke dalam kelas melalui jendela. Kulihat Anya duduk dikelilingi beberapa anak. Dia tampak senang. Begitu pun dengan teman-temannya menyambut Anya dengan ramah. Hatiku lega melihatnya. Aku pun bergabung dengan Mas Beny.
“Sudah lega?” tanyanya padaku.
Aku tertawa kecil mendengarnya “Ya, sedikit.”
Kemarin aku memang bercerita tentang kekhawatiranku ini pada Mas Beny. Makanya dia menyetujuiku untuk menemani Anya hari ini.
Tak lama kemudian, pembelajaran dimulai. Aku pun kembali berdiri dari dudukku, diikuti Mas Beny dengan menggendong Eric. Kami melihat Anya yang sedang memperkenalkan diri di depan kelas. Dia tersenyum riang sambil bercerita tentang dirinya. Ketika hendak kembali ke tempat duduknya, dia melambai pada kami.
Masih melihat dari balik jendela, aku bahagia melihatnya tumbuh sehat dan ceria seperti anak pada umumnya. Mengingat sudah banyak sekali penderitaan yang harus dia lalui karena kedua orang tuanya. Tanpa kusadari dia tumbuh menjadi anak yang kuat. Dia lah yang menjadi sumber kekuatanku selama ini. Menjadi matahariku.
Aku tak pernah menganggap Anya sebagai beban. Justru aku lah yang selama ini menjadi beban bagi Anya. Dia sudah banyak berkorban demi aku dengan caranya sendiri. Anya hampir tak pernah egois dan bersikap manja seperti anak seusianya. Aku selalu bangga sekaligus merasa bersalah padanya karena hal itu.
Namun semenjak bertemu Mas Beny, perlahan Anya mulai bersikap seperti anak seusianya. Suka digendong, manja, ingin ini itu. Terkadang aku memarahinya karena terlalu manja. Tapi Mas Beny selalu menuruti semua keinginannya.
Mungkin bagi Anya, Mas Beny lebih berarti daripada Alan yang merupakan ayah kandungnya. Begitu pun dengan Mas Beny yang sangat menyayangi Anya seperti putrinya sendiri. Dia lah yang membuat Anya kembali ke zona nyamannya sebagai anak-anak.
“Terima kasih, Mas.”
“Hmm?” dia heran dengan perkataanku yang tiba-tiba.
Kini aku menoleh padanya, “Anya punya kepercayaan diri seperti ini karena dia punya Mas Beny sebagai papanya.”
Mas Beny terdiam. Matanya kembali melihat ke arah Anya. Tapi hanya sebentar. Laku dia kembali menoleh padaku.
“Kukira kamu salah, Irene. Anya tumbuh dengan melihat kamu. Dia melihat mamanya adalah wanita yang kuat. Maka dia juga ingin seperti kamu,” dia tersenyum dengan lembut, “sebelum bertemu denganku pun aku yakin dia memang anak yang luar biasa.”
Perkataan Mas Beny tiba-tiba membangkitkan ingatanku, ketika aku masih hidup berdua dengan Anya, “Dulu aku terlalu sibuk bekerja hingga tanpa sepengetahuanku Anya tumbuh jadi anak yang mandiri. Rasanya jika sekejap saja aku lengah, dia akan benar-benar menjadi dewasa dan meninggalkanku.”
“Tapi sekarang belum terlambat untuk memulai lagi. Kamu tidak perlu khawatir dengan hal lain. Sekarang kamu hanya perlu fokus pada anak-anak dan menemani mereka hingga mereka benar-benar siap untuk memulai hidup mereka sendiri.”
“Ya. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan itu.”
.
.
.
Bab 21 ((END))