
“Bagaimana?” tanya seseorang yang tiba-tiba menepuk pundak Delanna, menyadarkan wanita cantik berambut gelap tersebut dari lamunannya.
Delanna segera menoleh. Dia tersenyum pada pria yang tak lain adalah Miguel. “Entahlah. Mereka masih berdiskusi,” jawab Delanna sambil tersenyum kaku.
Beberapa saat kemudian, Arcelio sudah selesai berbicara dengan Samantha. Dia kembali menghampiri Delanna, yang masih berdiri di ambang pintu bersama Miguel.
“Istriku dan Chrissy setuju. Kami akan menginap di sini sampai Aurora sembuh,” ucap Arcelio.
“Syukurlah." Delanna begitu bahagia mendengar keputusan Arcelio. “Aku akan membantu memindahkan barang-barang kalian dari hotel."
Ucapan Delanna bukan sekadar basa-basi. Hari itu juga, Adolf menyewa beberapa pelayan hotel untuk membawakan barang-barang Arcelio ke rumahnya. Arcelio dan Samantha, menempati kamar tamu berukuran luas yang terletak di lantai dua.
Kepindahan Arcelio, ternyata memberi pengaruh positif bagi Aurora. Dalam waktu kurang dari dua hari, gadis kecil itu sembuh dan kembali aktif seperti biasa. Terlihat jelas bahwa sakit yang diderita Aurora, hanya karena dirinya merindukan kehadiran sang ayah.
“Untuk merayakan kesembuhan Aurora, aku ingin mengajak kalian berjalan-jalan ke pantai,” ucap Delanna saat makan malam bersama.
“Pantai?” ulang Chrissy yang mulai lancar berbahasa Italia.
“Iya, Nak. Kau suka pantai, ‘kan?” tanya Delanna hangat.
“Tentu saja! Aku ingin pergi ke pantai bersama Aurora!” jawab Chrissy antusias.
“Baiklah. Persiapkan diri kalian. Besok pagi, kita akan berangkat ke sana." Delanna tak menunggu persetujuan dari Arcelio atau Samantha. Dia langsung memutuskan, karena dirinya yakin bahwa pasangan suami istri tersebut pasti tak akan menolak.
Tidak terkira senangnya dua gadis kecil itu. Mereka turun dari kursi sambil bertepuk tangan dan melompat-lompat. Keceriaan yang tak terlihat dalam diri Aurora, pada beberapa hari ke belakang sebelum Arcelio datang mengunjunginya.
Sesuai rencana semalam, Delanna sudah mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pergi ke pantai. Sebuah mobil mini bus milik sang ayah telah menunggu di luar garasi. Sementara, dirinya akan pergi bersama Miguel.
Dua kendaraan itu berjalan beriringan menuju Flamenco Beach, pantai indah dengan air berwarna biru yang jernih. Berpadu sempurna dengan pasir putih yang terhampar luas. Pantai tersebut berada di Pulau Culebra. Mereka harus menempuh tiga jam perjalanan dari San Juan, agar bisa tiba di sana.
Setelah menyeberang menggunakan kapal feri, mereka tiba di pantai yang menjadi destinasi wisata nomor satu negara itu. Aurora dan Chrissy tak dapat menyembunyikan kebahagiaan yang terpancar dari paras cantik keduanya. Begitu pintu mobil dibuka, mereka langsung melompat keluar.
“Hati-hati!" Samantha terlihat panik. Dia bergegas menyusul dua gadis kecil tadi. Sedangkan, Arcelio sibuk dengan barang bawaan. Dia tak membiarkan istrinya membawa apapun. Samantha hanya bertugas mengawasi kedua gadis kecil yang asyik berlarian di bibir pantai. Ini adalah kali pertama mereka bermain dan merasakan ombak serta air laut.
“Aku harus belajar banyak tentang bagaimana caranya memperlakukan seorang istri,” ujar Miguel dalam Bahasa Inggris. Dia membuka pembicaraan, saat Arcelio sibuk menggelar tikar serta meletakkan tas berisi perlengkapan renang dan snorkeling. Arcelio juga menyewa dua buah payung pantai untuk istri beserta kedua putrinya.
"Ada banyak hal yang telah terjadi antara aku dengan Samantha. Semuanya terlalu pelik jika harus dijabarkan. Liburan ini pasti tak akan menyenangkan lagi, jika kau mendengarkan ceritaku," ujar Arcelio seraya tersenyum kalem. Dia menoleh sesaat kepada Miguel yang terlihat penasaran.
"Kau tidak perlu bersikap terlalu berlebihan kepada pasanganmu. Cukup dengan memperlakukan mereka sebaik mungkin. Menghargai perasaan, serta selalu ingat dengan komitmen yang sudah terjalin. Cinta bisa datang dengan sangat cepat, bahkan dalam sekali lirikan. Akan tetapi, butuh waktu dan proses yang tidak sebentar untuk memupuk kekuatan serta ikatan batin di dalamnya. Kurasa, dengan mengingat setiap proses yang telah dilalui bersama ...." Arcelio terdiam sesaat.
"Kenapa?" tanya Miguel penasaran.
Arcelio kembali tersenyum. "Tidak apa-apa. Jalinlah kepercayaan yang kuat. Jangan pernah meragukan pasanganmu. Satu lagi, hindarilah bertindak bodoh saat kau sedang marah. Apalagi sampai melakukan sesuatu di luar akal sehatmu. Kupastikan kau akan menyesalinya." Arcelio menepuk akrab lengan Miguel. Dia kembali tersenyum, sebelum berlalu dari hadapan pria berambut ikal tersebut.
Kebetulan Delanna berada tak jauh dari kedua pria tadi, sehingga dia dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka. Namun, wanita itu tak ikut berkomentar, karena tingkah Aurora yang lucu dan menggemaskan jauh lebih menarik perhatiannya.
Delanna segera berlari mendekat kepada Aurora. Wanita cantik berkulit eksotis itu sempat bermain sebentar bersama sang putri, sebelum pergi dari sana karena Miguel mengajaknya kencan berdua di sisi lain pantai.
Sepeninggal Delanna dan Miguel, Arcelio menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya di pantai yang indah itu. Dia menghampiri kedua putrinya yang sibuk membuat istana pasir, dengan dibantu oleh Samantha. “Kalian sedang membangun apa?” tanya Arcelio iseng.
“Kastilnya harus besar, agar semua orang bisa masuk ke sana,” sahut Chrissy riang. "Ibu akan bermain opera di dalam," celoteh gadis kecil itu lagi tanpa mengalihkan perhatian dari aktivitasnya. Itulah ciri khas Chrissy. Jika dia sedang melakukan satu kegiatan, maka dirinya tak akan terganggu apalagi teralihkan dengan hal lain.
“Memangnya siapa saja yang kalian ajak?” tanya Samantha.
“Ibu dan papa," jawab Chrissy yakin. “Setelah kalian berdua masuk, aku dan Aurora akan mengunci pagarnya,” imbuh gadis kecil itu, membuat Samantha tertawa.
“Memangnya, kenapa harus dikunci?” tanya Arcelio seraya menautkan alis.
“Agar kita tidak berjauhan lagi,” jawab Chrissy, yang membuat Arcelio tersentuh.
“Kalian tidak perlu mengunci pagar. Sampai kapanpun, kita akan selalu bersama,” tegas Arcelio. Sebisa mungkin, dia menahan rasa haru dalam dada. “Aku menyayangi kalian.”
“Kami juga menyayangimu, Papa." Aurora dan Chrissy menghambur bersamaan ke pelukan Arcelio.
Sementara, Samantha hanya memperhatikan adegan itu dengan senyum penuh haru. Perjalanan berat dan berliku, telah dia lalui hingga berada di titik seperti saat ini. Satu hal yang Samantha sesalkan adalah, perpisahannya dengan kedua orang tua yang tak jua memberi restu.
Namun, Samantha yakin bahwa semua pasti akan kembali membaik, meski tak tahu kapan. Sama seperti jalinan asmaranya bersama Arcelio. Dia tak pernah membayangkan bisa kembali merajut kasih, dengan pria yang selalu menjadi penguasa segala angan terindahnya.
“Apa yang kau pikirkan, Sayang?" Pertanyaan Arcelio, seketika membuyarkan lamunan Samantha. Wanita itu menoleh, lalu tersenyum.
"Tak ada hal lain yang selalu mengganggu pikiranku selain Tuan Arcelio Lazzaro," jawab Samantha bernada gurauan, meski itu jawaban yang sesungguhnya.
"Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Nyonya Samantha Lazzaro,” ucap Arcelio seraya duduk berdua di pasir, dengan wanita yang akan selalu menjadi pujaan hatinya. Mereka menikmati panorama pantai itu, sambil terus mengawasi kedua gadis kecil yang tengah asyik bermain.
Arcelio menggenggam erat tangan Samantha, lalu mengecupnya mesra. Dia tersenyum kalem, saat wanita itu menoleh padanya.
"Kau sedang merayuku?" Samantha tertawa renyah.
"Aku tak perlu merayumu. Kau selalu terbuai olehku," sahut Arcelio penuh percaya diri.
"Itulah dirimu, Arcelio. Kau sangat indah. Sama seperti goresan kuas di permukaan kanvas. Kau adalah mahakarya Tuhan yang akan selalu membuat diriku tergila-gila. Bukan hanya aku. Mungkin wanita lain yang melihatmu akan merasakan hal sama," ujar Samantha. Dia menatap penuh kekaguman, pada pria tampan dengan gaya rambut man bun di dekatnya.
Samantha menyandarkan kepala di pundak Arcelio. Dia mengarahkan pandangan ke laut lepas. "Apakah kita sedang berbulan madu saat ini?"
Arcelio menggumam pelan. Sesekali, dia melihat Aurora dan Chrissy yang masih asyik bermain, sebelum mengarahkan pandangan ke laut lepas. "Kau bukan wanita pertama dalam hidupku. Namun, dirimu adalah cinta pertama yang selalu terukir indah di lubuk hati. Kupikir, aku tak akan jatuh cinta lagi. Maaf, ternyata aku memiliki cinta kedua selain dirimu, Sayangku. Aurora dan Chrissy."
...● The End ●...
Terima kasih bagi semua yang sudah mengikuti novel ini hingga selesai. Semoga bisa membuat para pembaca terhibur. Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk memberikan dukungan pada karya ini. Silakan tinggalkan jejak, dengan memberikan penilaian (harapannya sih diberi bintang lima🤭).
Bagi yang masih setia mengikuti, jangan beranjak dulu ya, karena ada judul baru yang bisa dijadikan teman di waktu senggang. Masih ada yang ingat dengan Ludwig Stegen? Sudah kenal dia? Bagi yang belum tahu, bisa baca novel berjudul Since I Found You.
Kali ini, Ludwig hadir dalam novel berjudul Mr. Stegen : A Man with Hidden Identity. Dijamin pasti seru untuk diikuti.