
Arcelio seakan melayang, saat dapat menyentuh bibir Samantha lagi seperti dulu. Pria itu menikmati sepenuh hati, lembut dan manisnya bibir wanita yang hingga saat ini sulit dia lupakan. Arcelio berharap waktu berhenti berputar, agar dirinya dapat merasakan lebih lama keindahan yang memabukkan tersebut.
Lu•matan demi lu•matan nyatanya tak membuat Arcelio puas. Bagaikan candu, dia menginginkan lebih. Begitu pula Samantha, yang sejatinya sudah mengenal dekat pria tampan tersebut. Akal sehat mantan aktris ternama Italia tersebut, seketika lumpuh saat Arcelio menciumnya. Terlebih, tubuh mereka merekat erat satu sama lain. Membuat Samantha lupa akan segalanya.
Samantha tak dapat memikirkan yang lain lagi.
Kebencian yang dibawa sejak beberapa tahun silam langsung luruh begitu saja, ketika Arcelio memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta. Sentuhan, helaan napas, serta sorot matanya merasuk ke dalam hati dan jiwa Samantha.
Benarlah apa kata Arcelio tadi. Tatapan Samantha terhadapnya, masih seperti dulu. Rasa cinta itu hanya tertutupi oleh kabut kekecewaan dan rasa sakit hati yang teramat dalam, sehingga mengaburkan pandangan Samantha.
“Tak ada yang berubah, Sam. Dulu ataupun sekarang, kau tetap yang terbaik,” bisik Arcelio lirih. “Aku mencintaimu." Deru napas Arcelio, menghangat di dekat telinga Samantha. Membawa segala angan indah beberapa tahun silam. Arcelio bermaksu untuk kembali mencium ibunda Chrissy tersebut.
“Hentikan,” tolak Samantha yang tersadar atas kesalahannya. Dia menggeleng pelan seraya mendorong tubuh Arcelio agar menjauh. “Aku memiliki kekasih. Kami akan segera menikah,” ujarnya.
“Apa kau mencintainya, Sam? Apa kau mencintai Pierre?” tanya Arcelio. Raut wajah pria itu, menyiratkan agar Samantha memberikan jawaban sesuai dengan yang diinginkannya.
“Aku ….” Tenggorokan Samantha seperti tercekat. Dia membisu sambil menatap lekat paras tampan Arcelio. Godaan dalam diri Samantha terlalu besar. Arcelio masih penuh pesona. Dia seakan menjadi yang paling sempurna di mata Samantha.
Wanita cantik berambut pirang itu tak kuasa melawan gejolak batinnya. Samantha bahkan tak mampu mengatakan apapun, untuk menjawab pertanyaan tadi. Dia malah menangkup paras rupawan di hadapannya. Samantha kembali mencium bibir Arcelio sekali lagi. Kali ini, ciumannya dipenuhi gairah dan hasrat membara.
Bagi Arcelio, itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui isi hati Samantha yang terdalam. Namun, sayangnya adegan itu harus terhenti, ketika pintu apartemen tiba-tiba dibuka dari luar, bersamaan dengan suara seorang pria yang tak lain adalah Pierre.
“Sayang, apa kau belum tidur? Kunci alarm mobilku tertinggal,” ujar sahabat lama Arcelio tersebut.
Sontak Arcelio langsung melepaskan Samantha. Dia bergerak refleks bersembunyi di belakang pintu yang setengah terbuka. Sementara, Samantha segera maju ke ambang pintu, seolah menghalangi Pierre agar tak masuk. “Aku tak mengingat ada yang tertinggal di sini tadi,” balas Samantha. Wanita itu berusaha tetap terlihat tenang.
“Aku meletakkannya di situ,” ucap Pierre lagi. Telunjuknya terarah lurus pada meja ruang tamu.
“Oh! Ya, ampun. Aku tak melihatnya." Samantha bergerak cepat mengambil kunci itu, lalu memberikannya pada Pierre. Dia tak memberi kesempatan pada Pierre untuk melangkah masuk.
“Ada apa ini, Sayang?” Rasa curiga mulai menjalari hati Pierre. “Tidak biasanya kau tak mengizinkanku masuk.”
“Ah, tidak ada apa-apa, Pierre. Aku hanya merasa lelah dan mengantuk. Jika kuizinkan dirimu masuk, maka kau pasti akan berlama-lama di sini. Aku akan kebingungan bagaimana caranya mengusirmu," dalih Samantha diiringi senyum lembut. Dia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga, demi menghalau rasa gugup yang mulai mendera.
“Baiklah.” Pierre tak dapat menyembunyikan rasa curiga. Dia memandang ke arah Samantha penuh arti. Meski demikian, dia tidak memaksa untuk masuk ke apartemen. Pierre akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. "Kalau begitu, selama malam. Selamat beristirahat, Sayang." Pierre mengecup kening dan bibir Samantha sekilas, karena wanita pura-pura menguap.
Samantha dan Arcelio akhirnya dapat sama-sama menghela napas lega. Terlebih Arcelio yang sudah bisa keluar dari persembunyiannya. Pria rupawan itu tertawa pelan, sambil berusaha mencium Samantha lagi.
Namun, kali ini wanita cantik itu menolak.
Dia memukul lengan Arcelio cukup kencang. “Kau memang kurang ajar!” umpat Samantha.
“Hei, kenapa aku?” protes Arcelio tak terima.
“Kau menciumku seenaknya!” protes Samantha tak suka.
“Kau juga tak menolak,” balas Arcelio tak mau kalah. Membuat Samantha terdiam, lalu menunduk. “Kenapa kau tak menolak ciumanku, Sayang?” Pria tampan itu berjalan mendekat, hingga tak ada lagi jarak antara keduanya.
“Katakan, kenapa kau tak menolak?” ulang Arcelio.
“Kau memang perayu ulung. Gadis-gadis muda itu bahkan dengan mudahnya terjebak dalam pesonamu. Mereka mengelilingi dirimu dan menganggap seakan-akan kau ini adalah piala. Dasar tukang cari perhatian para gadis! Apa kau tak sadar bahwa kau kini sudah menjadi seorang ayah dan memiliki dua anak?” omel Samantha saat bibir Arcelio hampir saja menyentuh bibirnya.
Mendengar apa yang Samantha ucapkan, Arcelio hanya mengernyitkan kening karena tak mengerti. “Apa maksudmu, Sayang?” tanyanya.
“Ah, sudahlah!” Samantha menjauhkan wajahnya dari sang mantan. “Pulanglah. ini sudah malam. Aurora sendirian. Dia anak kesayanganmu bersama Delanna,” imbuh Samantha sambil memasang raut muram.
“Sudahlah. Jangan mulai lagi, Sam. Harus berapa kali kujelaskan padamu?” Arcelio mengembuskan napas pelan.
“Pulanglah,” usir Samantha lagi. “Sudah cukup aku mengkhianati Pierre malam ini. Aku tidak mau menyakitinya lebih jauh lagi. Aku paham benar bagaimana rasanya dikhianati,” sindirnya. Nada bicara Samantha terdengar penuh penekanan.
Arcelio tercenung untuk sesaat, lalu tersenyum. “Jadi, kau akan tetap melanjutkan hubunganmu bersama Pierre?” tanyanya kecewa.
“Memangnya apa yang kau harapkan? Apa yang kita lakukan tadi hanyalah spontanitas,” bantah Samantha. Dia memalingkan wajah karena tak berani bersitatap langsung dengan Arcelio.
“Aku mencintaimu, Samantha Bellucci. Kutahu bahwa kau juga masih merasakan hal yang sama. Aku bisa melihat serta merasakannya dengan jelas,” ucap Arcelio.
“Cinta saja tak cukup, Tuan Lazzaro. Kau dulu selalu bicara cinta padaku. Akan tetapi, lihatlah kenyataannya kini!” Samantha kembali menyanggah ucapan Arcelio. Matanya mulai berkaca-kaca. “Biarlah aku menikah dengan Pierre. Setidaknya, dia tidak akan mengkhianatiku,” lanjut wanita itu.
“Bagaimana kau bisa yakin bahwa Pierre tak akan mengkhianatimu? Kita tidak tahu akan seperti apa masa depan,” balas Arcelio seraya menaikkan sepasang alisnya.
“Aku tahu itu, karena … Pierre bukanlah dirimu,” jawab Samantha. Kata-katanya memang pelan, tapi terdengar menyakitkan bagi Arcelio.
“Aku memang telah membuat kesalahan besar. Namun, aku menyadari dan merasa sangat menyesal. Seandainya diriku bisa menukar kesalahan dengan nyawa, maka aku rela mati sesaat setelah mengakui segalanya padamu, Sam.” Mata abu-abu Arcelio menatap sendu kepada Samantha yang juga tengah memandang ke arahnya.
“Aku rela mati demi satu kata maaf darimu. Tak ada lagi yang kuharapkan. Namun, jika aku benar-benar mati saat itu, maka dosaku yang lain tidak akan sempat terhapuskan. Aku tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri." Kata-kata Arcelio terdengar begitu dalam.
Setitik air mata menetes, membasahi sudut bibir Samantha. “Pulanglah." Hanya itu yang dia katakan kepada Arcelio.
“Baiklah. Namun, bolehkah aku mengucapkan selamat malam untuk putri kita?” tanya Arcelio penuh harap, setelah beberapa saat terdiam. “Kami memang baru bertemu, tapi aku sudah sangat menyayanginya.”
Samantha berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Baiklah,” ucapnya seraya mengajak Arcelio masuk ke kamar Chrissy.
Tak seperti kamar Aurora yang bernuansa pink, ruangan Chrissy didominasi oleh wallpaper bergambar bintang-bintang serta pesawat ulang alik. Rak-raknya juga dipenuhi oleh mainan robot.
“Astaga.” Arcelio terkekeh melihat kesukaan unik putrinya itu. “Chrissy." Mata Arcelio menangkap tubuh mungil yang meringkuk di bawah selimut. Gadis kecil itu terlihat begitu damai dalam tidurnya. “Selamat malam, Sayangku. Mimpi indah." Arcelio mengecup kening dan pipi Chrissy berkali-kali.
“Semoga suatu saat nanti, aku bisa menunjukkan pada dunia bahwa kau adalah putriku. Dengan begitu, kau tak akan lagi memanggilku dengan sebutan 'paman'. Seluruh dunia akan tahu bahwa kita memiliki hubungan darah," ucap Arcelio.
Samantha terenyuh mendengar keinginan Arcelio. Rasanya seperti ada ribuan sembilu yang menyayat hati. Terlebih, saat Arcelio berbalik menghadap kepadanya untuk berpamitan. “Terima kasih, Sam. Beristirahatlah. Semoga esok lebih baik." Arcelio tersenyum kelu.
Pria bertubuh tinggi tegap itu berdiri beberapa saat di hadapan Samantha, sebelum kembali menghadiahi wanita cantik itu dengan ciuman hangat dan mesra yang lagi-lagi tak kuasa untuk ditolak. Tak seperti ucapannya tadi, yang mengatakan tak ingin mengkhianati Pierre.