SECOND LOVE

SECOND LOVE
Ayah Dua Putri



“Pierre? Sejak kapan kau ada di situ?” tanya Samantha. Dia menyembunyikan rasa was-was dalam hatinya. Ekor mata wanita cantik berambut pirang tersebut sesekali mengarah kepada Arcelio, seakan memberi isyarat agar pria itu bersiap untuk sandiwara hebat.


Arcelio membalikkan badan, menoleh kepada Pierre yang tengah berjalan ke arahnya dan Samantha. Pelukis tampan itu langsung memasang senyuman kalem, seraya mengulurkan tangan. “Hey, Kawan,” sapanya hangat. Mereka juga berpelukan khas para pria. Arcelio menepuk pelan lengan Pierre sebagai tanda keakraban.


“Aku baru keluar dari lift, dan sangat terkejut melihat Arcelio ada di depan pintu ruang apartemenmu, Sayang,” ujar Pierre dengan tatapan terarah kepada Samantha, yang masih berdiri di ambang pintu.


“Ya. Aku sengaja menemui Nyonya Bellucci, untuk meminta izin padanya. Malam ini, Chrissy akan berkemah di tempatku bersama Aurora dan Ollie,” jelas Arcelio tanpa menimbulkan rasa curiga sama sekali. Selain menjadi pelukis dan dosen, Arcelio ternyata berbakat dalam hal berakting.


“Oh, benarkah?” Pierre kembali mengalihkan perhatian kepada sahabat lamanya itu.


“Begitulah,” sahut Arcelio seraya menaikkan sepasang alisnya. “Aku baru pulang mengajar. Kudapati dua gadis cantik di dalam apartemenku. Kau sudah tahu tentang rencana itu, kan?”


“Ah, ya! Aku lupa. Kemarin kau sudah membahasnya bersama Chrissy,” ujar Pierre diiringi senyum. Dia kembali mengalihkan perhatian kepada Samantha. “Apa kau sudah memberinya izin, Sayang?”


“Tidak!” jawab Samantha tegas. Namun, dengan segera dia menyadari nada bicaranya yang berlebihan. “Um, maksudku … belum. Kau tahu bahwa Chrissy tidak terbiasa menginap di tempat siapa pun,” kilah Samantha.


“Mungkin putrimu ingin sesuatu yang berbeda, Sayang. Hal wajar jika anak seusianya memiliki rasa penasaran, serta ingin mencoba pengalaman baru,” balas Pierre.


“Usianya baru lima tahun, Pierre!” tegas Samantha. Namun, lagi-lagi wanita itu seakan menyesali gaya bicaranya yang terdengar agak keras. “Aku yang tidak terbiasa,” ucapnya kemudian, dengan intonasi lebih tenang.


Pierre dan Arcelio saling pandang. Kedua pria itu sudah mengenal watak asli Samantha yang lembut, tapi tegas dan sulit dikendalikan orang lain. Samantha selalu memiliki keputusan sendiri, yang tak jarang diambilnya tanpa berdiskusi terlebih dulu. Dua sahabat lama berbeda negara tadi, sama-sama mengembuskan napas pendek.


“Baiklah, kalau begitu. Dengan terpaksa, aku akan menyuruh Chrissy pulang meskipun sebenarnya tak tega,” ucap Arcelio terlihat kecewa. Dia menepuk pundak Pierre, lalu mengangguk kepada Samantha. Arcelio bermaksud untuk kembali ke ruang apartemennya. Dia sengaja berjalan selambat mungkin.


“Jangan egois, Sayang. Kulihat, Chrissy sangat bahagia bermain dengan putri Arcelio. Dia bahkan jadi bersikap baik padaku,” tegur Pierre yang sayup-sayup terdengar oleh Arcelio. “Berikan Chrissy izin. Lagi pula, dengan begitu kita bisa lebih leluasa berduaan. Kau tahu ‘kan? Selama ini, putrimu seperti jebakan laser yang sulit dilewati olehku."


Arcelio mengulum senyumnya mendengar ucapan Pierre. Setidaknya, dia tahu bahwa Chrissy telah menjadi pelindung bagi Samantha.


“Iya, tapi …." Samantha terlihat ragu. Sesaat kemudian, wanita itu menoleh kepada Arcelio yang baru tiba di depan pintu ruang apartemennya. “Tuan Lazzaro!” panggil Samantha.


Arcelio langsung menoleh. “Ya, Nyonya Bellucci?” balas pria itu.


“Hanya malam ini. Kuizinkan Chrissy berkemah di tempatmu, tapi hanya malam ini,” putus Samantha.


Arcelio tersenyum kalem. Senyuman yang selalu terlihat menawan, dan tak berubah sedikit pun dari dulu. Harus Samantha akui, bahwa mantan tunangannya tersebut merupakan pria yang sangat memesona. Tak salah jika Delanna jatuh cinta, sampai tak peduli bahwa Arcelio telah memiliki calon istri.


Arcelio terlihat cemas. Dia memeriksa setiap ruangan di dalam apartemennya. Namun, Aurora dan Chrissy tak ada di manapun. Satu-satunya ruangan yang belum dia periksa, hanyalah kamar mandi dalam kamarnya.


Dugaan Arcelio tidak keliru. Dia mendengar tawa cekikikan dua gadis kecil itu di dalam sana. Arcelio bergegas memeriksa. Begitu pintu kamar mandi terbuka, pria tampan tiga puluh lima tahun tersebut harus menahan napasnya.


“Astaga.” Arcelio berdecak pelan. Dia mendapati Aurora, Chrissy, dan Ollie, tengah berendam dalam bathub. sementara, busa sabun berceceran di mana-mana. Kedua gadis kecil itu telah menghabiskan sabun mandi dan beberapa botol shampo.


“Apa-apaan ini? Bagaimana jika kalian terpeleset?” tegur Arcelio seraya masuk dengan hati-hati, karena hampir seluruh lantai kamar mandi berukuran tidak terlalu luas itu dipenuhi busa sabun.


“Apa kau ingin ikut berenang di sini, Papa?” tawar Aurora polos, tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Tidak usah. Aku tidak boleh mandi bersama para gadis,” sahut Arcelio sambil membersihkan lantai serta dinding secara bertahap, hingga semuanya kembali seperti semula.


“Kami kedinginan, Paman berambut gondrong,” ujar Chrissy sambil berdiri. Rambut serta pakaian anak itu dipenuhi busa. Hanya bagian wajah yang masih bersih. Melihat Chrissy berdiri, Aurora pun melakukan hal yang sama sambil menggendong Ollie.


Arcelio mengembuskan napas panjang. Pekerjaannya belum selesai. Dia sadar bahwa tak seharusnya meninggalkan anak kecil tanpa pengawasan. Sepertinya, dia tidak akan sempat makan siang kali ini.


Beberapa saat telah berlalu. Kedua gadis kecil tadi sudah duduk manis di tepian tempat tidur, dengan handuk yang melilit tubuh mereka. Arcelio baru selesai mengeringkan rambut keduanya, lalu menyisir rapi. Sementara, Ollie duduk di lantai menyaksikan itu.


Aurora dan Chrissy duduk dengan kaki menjuntai. Keduanya kompak memainkan kaki mungil mereka yang belum menapak ke lantai. Aurora dan Chrissy tersenyum sambil memperhatikan Arcelio, yang berdiri sambil bertolak pinggang di hadapan kedua gadis kecil itu.


Arcelio yang tadinya ingin marah atas tingkah kedua gadis kecilnya, lama-kelamaan menjadi tak tega. Kedua putrinya terlihat begitu lucu dan menggemaskan. “Baiklah, Chrissy. Aku akan ke tempat ibumu untuk mengambil baju ganti. Kuharap, kali ini kau tetap duduk di tempatmu,” pesan Arcelio tegas. “Kau juga, Aurora. Aku tidak suka jika kau membantah ucapanku.” Arcelio mengalihkan perhatiannya kepada Aurora yang langsung mengangguk.


Akan tetapi, Arcelio terlihat ragu untuk meninggalkan mereka berdua. Pria itu lalu menoleh kepada Ollie. “Kau juga, Ollie. Seharusnya kau menjaga mereka, bukannya malah ikut melakukan kenakalan!”


Ollie menurunkan tubuh. Anjing itu menatap sayu kepada Arcelio.


“Sekarang menjadi tugasmu, untuk memastikan agar Aurora dan Chrissy tetap di tempat mereka,” pesan Arcelio. Terpaksa, dia harus meninggalkan kedua gadis kecil itu. Arcelio kembali ke tempat Samantha, dengan membawa pakaian basah milik Chrissy.


Arcelio berdiri di depan pintu ruang apartemen Samantha. Ragu, dia hendak mengetuk. Namun, Arcelio ingat bahwa dirinya tidak boleh membuang waktu, karena bisa saja terjadi kekacauan lain di apartemennya.


Arcelio kemudian mengetuk pintu beberapa kali. Namun, Samantha tidak segera membukanya. Pikiran Arcelio sudah ke mana-mana. Terbayang olehnya apa yang sedang Samantha dan Pierre lakukan di dalam sana. “Astaga,” keluh pria itu seraya menggeleng pelan. Dia tak harus peduli lagi dengan semua urusan Samantha.


Sesaat kemudian, terdengar suara kunci yang dibuka. Paras cantik Samantha muncul di balik pintu, sambil merapikan bagian atas pakaiannya. Seketika, Arcelio terpaku melihatnya.