SECOND LOVE

SECOND LOVE
SL- 37



Mendapati sang ibu yang masuk ke rumah tanpa perasaan bersalah, Nadine merasa bertanggung jawab atas perilaku orang tuanya yang telah menghina Vivi—bahkan membuang kue yang telah susah payah dibawakan sang wanita. Nadine pun langsung mendekati Vivi, hendak mengucapkan kalimat penghiburan, namun terhenti tatkala Nero datang menghampiri kedua perempuan tersebut.


“Ada apa ini? Kenapa kalian di luar rumah? Dan kenapa ... pintunya tertutup?”


Nero yang baru saja datang merasa ada yang aneh dengan keberadaan Vivi dan Nadine. Terlebih Nero juga menyadari raut kesedihan yang terpancar di wajah Vivi, menyebabkan dirinya langsung mendekati pujaan hatinya itu, memasang wajah khawatir.


“Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak ada?”


Bukannya menjawab, Nadine justru langsung menatap lekat kakaknya.


“Aku akan masuk ke dalam untuk menenangkan Ibu. Karena itu, tolong Kak Nero tenangkan Kak Vivi di sini.”


Tanpa menunggu respons Nero, Nadine segera masuk ke dalam rumah dan mendekati ibunya yang masih memancarkan amarah di wajahnya. Sebelum sempat Nadine mengatakan apa pun, wanita paruh baya itu menyadari keberadaan putri bungsunya. Mengerti maksud kedatangan Nadine, sang ibu langsung mencercanya.


“Apa pun yang akan kamu katakan, Ibu tidak akan mengubah pendapat Ibu, Nadine. Ibu tidak ingin wanita gila itu menjadi pasangan anakku. Sampai kapan pun!”


Ledakan amarah sang ibu didapati Nadine, namun sekali pun ketakutan tidak terpancar di wajah adik Nero tersebut. Sebaliknya, ia justru mendekati ibunya dengan perlahan, lalu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat. Memang benar jika Nadine sempat mendapat penolakan, namun genggamannya jauh lebih erat dari upaya ibunya untuk melepaskan diri.


“Ibu, tidak seharusnya Ibu bertindak kasar seperti itu. Kak Vivi tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu karena telah ditetapkan takdir. Kak Vivi yang sekarang bukanlah yang dulu. Tidak seharusnya Ibu mengungkit masa lalu, kan?”


Meski sekilas, kilatan amarah yang sempat terlihat di mata ibunya mulai luntur. Namun, hal tersebut belum cukup untuk menghentikan Nadine berbicara.


“Ibu bisa lihat sendiri sebelumnya, kan? Kak Nero begitu sangat mencintai Kak Vivi. Ia pun terlihat bahagia seperti saat Kak Azzura bersamanya. Bukankah kebahagiaan Kak Nero lebih penting dari apa pun?”


Tidak seperti sebelumnya, kali ini sang ibu langsung melebarkan kedua mata, terkejut. Barulah ketika putri bungsunya berucap demikian ia teringat tentang apa yang lebih penting. Jika Nero benar-benar bahagia bersama Vivi, bukankah itu sudah cukup? Untuk apa membahas masa lalu yang ada di belakang?


“Ibu juga pasti sadar. Sejak Kak Nero mengenal Kak Vivi dalam kehidupannya, ia tidak lagi putus asa saat kematian istri dan anaknya dulu. Tolong, Bu, tolong biarkan Kak Nero menjalani takdir yang telah dibuatnya sendiri itu. Aku ... aku hanya ingin Kak Nero kembali bahagia. Bukankah itu juga yang Ibu mau?”


Saat itulah wanita paruh baya itu tertampar oleh kenyataan yang hampir dilupakannya. Ia mulai menyalahkan diri sendiri karena mengungkit masa lalu Vivi yang tidak ada hubungannya dengan masa depan mereka berdua nantinya.


“...kamu benar, Nadine. Terima kasih sudah mengingatkan Ibu.”


Kini, amarah tidak lagi tersisa di wajah wanita paruh baya itu. Hanya ada senyum hangat yang merekah di wajah, melepas genggaman tangan Nadine dab mengusap kepalanya.


“Ibu bersyukur karena ada kamu yang mengingatkan Ibu. Sekarang, Ibu akan meminta maaf kepada Vivi. Bagaimanapun, kebahagiaan Nero-lah yang menjadi hal utama di sini, bukan yang lain.”


Mendengar ucapan ibunya, tersenyumlah Nadine hingga ia mengangguk penuh semangat.


Di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda, terdapat Vivi dan Nero yang duduk di bangku taman terdekat. Di saat Vivi hanyut dalam kesedihan yang berlinang air mata, Nero ada di sisinya, mengusap punggungnya lembut dan berulang kali mengucapkan kalimat penghiburan.


“Maafkan aku, Vivi.”


Nero tahu jika apa yang terjadi bukan sepenuhnya salahnya. Namun, yang melakukan adalah orang tuanya, tentu Nero memiliki tanggung jawab atas hal tersebut.


“Hiks ... tidak apa-apa. Seharusnya aku mengerti jika semuanya tidak akan baik-baik saja ketika ibumu mengetahui masa laluku.”


Ucapan Vivi membuat Nero terperanjat hingga melebarkan kedua mata. Memang benar jika masa lalu Vivi tidak akan bisa dirubah. Namun, bagi Nero, masa lalu Vivi tidak seharusnya membuat wanita itu merasa bersalah.


“Vivi, aku—”


Sebelum Nero berucap, kedua insan itu menyadari tiga sosok familiar dari kejauhan yang berjalan mendekati mereka. Mengetahui siapa sosok tersebut, Vivi segera menyeka air mata di pelupuk matanya. Ia juga segera bangkit, menyambut kedatangan kedua orang tua Nero dan Nadine dengan senyum nanar.


“Ma-maafkan aku. Aku akan—”


Belum sempat Vivi menyelesaikan ucapannya, ia terhenti karena pelukan erat yang diterimanya dari ibu Nero. Merasakan hal tersebut, Vivi melebarkan kedua matanya, terkejut. Ia pun juga tidak mengerti dengan maksud senyum Nadine dengan pemandangan tersebut, mengakibatkan Vivi semakin kebingungan, tidak tahu harus merespons apa.


“Tidak seharusnya kamu yang meminta maaf, Vivi. Kamilah yang harusnya berkata begitu. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”


Masih dalam pelukan, Vivi masih kehabisan kata-kata, tidak mampu menanggapi permintaan maaf ibu Nero. Karena bagaimana pun juga, Vivi merasa masa lalunya tidak akan dapat dimaafkan semudah itu.


“Maaf karena kami menghakimi masa lalumu, kami sadar jika itu salah. Dan semua itu berkat Nadine yang mengingatkan kami bahwa kebahagiaan Nero adalah prioritas terpenting bagi kami.”


Usai berkata demikian, ibu Nero melepas pelukannya. Kini senyum lembut di wajahnya ditujukan kepada Vivi yang mulai meneteskan air mata kembali, merasa terharu.


“Demi kebahagiaan Nero, kami menerimamu, Vivi. Jika Nero menerimamu dan masa lalumu, kami juga akan melakukan hal serupa. Karena itu, kuucapkan selamat datang dalam keluarga kami. Terima kasih sudah membawakan kebahagiaan kembali dalam hidup Nero yang sempat suram.”


Keharuan membuncah dalam batin Vivi saat ini. Ia pun langsung mengarahkan pandangannya kepada Nero yang ikut tersenyum, bahagia karena mereka mendapatkan restu orang tuanya semudah itu. Gelombang masalah yang sempat mereka hadapi kini telah reda, tergantikan dengan penyelesaian indah yang membahagiakan semua orang. Terlebih Vivi dengan masa lalu yang tidak dapat diubah kembali.


“Terima kasih, Ibu.”


Dengan sisa keberaniannya, Vivi langsung memeluk kembali wanita paruh baya di hadapannya itu. Saat ini, dirinya begitu sangat bahagia karena berhasil mendapatkan restu. Terlebih kedua orang tua Nero juga mengakui salah atas perbuatan mengungkit masa lalu Vivi. Bagi Vivi, itu adalah salah satu hari berbahagianya selain hari pernikahannya dengan Nero di hari depan. Dan Vivi akan mengingat semua itu, mengukir dalam hati dan tidak akan pernah melupakannya.