SECOND LOVE

SECOND LOVE
Omong Kosong



“Apa yang Sara katakan padamu?” Insting Arcelio bekerja dengan cepat. Dia tak memiliki pikiran lain. Kecurigaannya langsung tertuju pada sang mantan pacar, yang memang berharap untuk kembali menjalin hubungan.


“Sara? Oh, jadi kau sudah merasa bahwa dia akan mengatakan sesuatu padaku?” Samantha tersenyum sinis. Ibunda Chrissy tersebut melipat kedua tangan di dada, seakan menantang Arcelio. "Apa karena itu juga sehingga kau terus bungkam dan menolak menjawab pertanyaanku kemarin?" pancing Samantha.


Arcelio terpaku sesaat. Dia merasa bodoh. Pria itu merasa seperti sudah masuk jebakan, dan tak mungkin lagi melarikan diri. Namun, putra Paolo Lazzaro tersebut tak ingin langsung terlihat kalah. “Bukankah kau baru menemui Sara? Tiba-tiba, dirimu mengatakan sesuatu yang membuatku terusik. Apa lagi jika bukan karena omongan yang kau dengar dari wanita itu,” tukas Arcelio.


Samantha tersenyum kecut. Dia memalingkan wajah, seakan tak ingin melihat paras tampan sang kekasih yang mendekat padanya.


“Katakan, Sayang,” pinta Arcelio. Intonasinya terdengar begitu dalam. Arcelio menyentuh wajah Samantha, lalu membalikkan agar kembali menoleh padanya. “Jangan berpikir macam-macam,” ucap pria itu lagi.


“Bagaimana diriku tidak berpikir macam-macam, jika aku tahu bahwa kau dan Sara adalah mantan kekasih di masa lalu!” protes Samantha tegas, yang seketika membuat Arcelio tercengang. Sorot mata wanita cantik berambut pirang teraebut menyiratkan rasa kecewa yang sangat besar.


“Aku tidak mempermasalahkan jika kalian pernah menjalin asmara yang indah dan juga … aku menghormati masa lalumu, Arcelio. Namun, diriku merasa seperti orang bodoh karena ternyata kalian berdua merahasiakan hal itu!" Telunjuk Samantha lurus tertuju kepada Arcelio.


"Kau! Kau bahkan berkali-kali mengingatkan Sara, agar dirinya tidak mengatakan apapun padaku! Astaga, Arcelio! Apa yang ada dalam pikiranmu? Kalian sering berinteraksi di belakangku! Entah apa yang kau dan Sara lakukan jika kalian bertemu, mengingat hubunganmu dan dia yang katanya sangat intens!” Samantha mulai hilang kendali. Rasa cemburu membuat ketenangan yang sudah dirasakan, kembali sirna dari pikiran wanita itu.


“Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengatakan apapun kepada Sara. Aku juga tidak menemuinya secara diam-diam. Memang benar bahwa Sara adalah mantan kekasihku, beberapa tahun sebelum kita menjalin hubungan. Setelah itu, aku mengurangi intensitas pertemuan, tegur sapa, bahkan tidak berkomunikasi lagi dengannya!” Arcelio membantah tudingan yang dialamatkan Samantha, terhadap dirinya dengan sangat tegas.


“Dengan apa yang sudah kau lakukan bersama Delanna, aku tidak akan merasa heran jika itu memang benar terjadi. Kau dan Sara bahkan menjalin hubungan kembali saat aku berada di Perancis! Kau berbohong lagi padaku, Arcelio!" Samantha masih terpancing emosi karena ucapan Sara.


"Kau mengatakan bahwa dirimu sudah menutup hati dari wanita manapun, dan hanya fokus kepada Aurora. Akan tetapi, kenyataannya kau kembali menjalin cinta yang sudah lama terpisah dengan Sara!” Samantha memukuli dada Arcelio, saat pria itu merangkul dan mencoba menenangkannya.


“Omong kosong apa lagi itu?” protes Arcelio. Dia kembali melayangkan bantahannya dengan tegas. “Aku tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun selama kau menghilang, Sayang. Itu memang kebenaran yang sesungguhnya! Tidak juga dengan Sara! Astaga. Dia itu wanita gila tidak berotak! Karena itulah ayahku tak pernah menyukainya!" Arcelio terus berusaha menenangkan Samantha yang terus memberontak.


“Kau pembohong, Arcelio! Bagaimana caranya agar diriku bisa kembali percaya padamu? Aku rela meninggalkan Pierre demi kembali menjalin cinta denganmu. Baru beberapa hari berada di Italia, kau kembali memberikan kejutan yang membuat otakku seperti akan meledak!” Samantha mulai menangis. Luka hati karena pengusiran yang dilakukan oleh sang ayah bahkan masih menganga lebar. Kali ini, ditambah perih dengan pengakuan Sara yang sangat mengejutkan.


“Tidak! Tidak!” bantah Arcelio keras. “Semua yang dikatakan Sara adalah dusta!” Arcelio berusaha keras menahan amarah agar tidak meledak. Paras tampan pria itu sudah memerah, karena emosi yang telah berada di ubun-ubun.


“Kau juga seorang pengkhianat, Arcelio! Sulit bagiku untuk mengembalikan rasa percaya seperti dulu terhadapmu!” bantah Samantha sambil berlinang air mata. “Kau tahu bahwa saat ini hidupku sedang kacau. Aku belum bisa berpikir jernih.” Samantha kebingungan. Dia tak tahu harus berkata apa lagi. Ibunda Chrissy tersebut memilih berlalu dari hadapan Arcelio. Dia masuk ke kamar tanpa menoleh sedikit pun.


Arcelio memperhatikan tubuh indah sang kekasih, hingga menghilang di balik dinding koridor menuju kamar. Tak ada yang bisa dirinya lakukan, selain membiarkan serta menunggu hingga Samantha kembali tenang dengan sendirinya. Namun, dia juga tak akan tinggal diam atas apa yang telah Sara lakukan. Provokasi yang ditujukan mantan kekasihnya tersebut kepada Samantha, sudah sangat keterlaluan.


Sang pelukis tampan tersebut akan membuat perhitungan dengan Sara. Dia tak ingin diam dan membiarkan keadaan mengombang-ambing hubungan, yang baru dibangunnya kembali dengan Samantha. Pria itu berdiri dengan kedua tangan terkepal sempurna. Namun, untungnya akal sehat masih ayah dua anak tersebut masih bekerja dengan baik.


Arcelio menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dia harus tetap tenang agar dapat berpikir jernih dan tidak membuat kesalahan seperti yang sudah-sudah. Sang pelukis tampan itu melangkah sambil melipat lengan kemeja. Tujuannya adalah kamar Aurora dan Chrissy. Namun, Arcelio tak menemukan kedua putrinya di sana. Akhirnya, dia beralih ke ruang bermain. Di sana, Arcelio mendapati Aurora dan Chrissy yang tengah asyik bermain.


“Hallo, Gadis-gadis,” sapa Arcelio, sembari mendekat kepada Aurora yang tengah bermain boneka.


“Hallo, Papa,” balas Aurora. Dia menoleh kepada sang ayah yang duduk tak jauh darinya “Apa kau ingin ikut minum teh bersama teman-temanku?” tanya gadis kecil itu seraya mengarahkan tangan pada beberapa boneka, yang duduk di kursi kayu kecil dengan meja berukuran sama.


“Bukannya tidak ingin, Sayang. Akan tetapi, aku masih memiliki sedikit urusan. Mungkin lain kali,” tolak Arcelio halus. Dia mengusap lembut pucuk kepala Aurora, sebelum mengalihkan perhatian kepada Chrissy yang tengah asyik bermain lego. “Apa kau sedang sibuk, Chrissy?” tanyanya.


“Ya, Paman. Aku sedang fokus dan tidak bisa diganggu,” sahut Chrissy tanpa menoleh kepada Arcelio. Anak itu memang tengah fokus pada apa yang sedang dilakukannya.


Arcelio mengembuskan napas pelan. “Baiklah. Kalian berdua tetaplah di sini. Aku akan keluar sebentar. Kuharap kalian tidak berulah macam-macam, karena Ibu Samantha sedang tidak enak badan,” pesannya lembut.


“Apa ibuku sakit? Tadi dia tidak apa-apa, Paman.” Chrissy yang awalnya tak bisa diganggu, mengalihkan sekilas perhatian kepada Arcelio.


“Begitulah, Sayang," balas Arcelio. Dia mencium kening serta pipi kedua putrinya secara bergantian, sebelum keluar dari ruang bermain. Arcelio lalu beranjak ke dekat pintu.


Akan tetapi, sebelum Arcelio benar-benar meninggalkan kedua gadis kecil tadi, dia kembali berpesan kepada mereka. “Apa kalian masih ingat kata-kataku, Nona-nona?” tanyanya memastikan. “Jangan ke manapun sampai aku kembali. Kalian boleh melihat keadaan Ibu Samantha, tapi jangan mengganggunya. Biarkan dia beristirahat,” pesan Arcelio lagi seraya membuka pintu, lalu keluar dari sana.