SECOND LOVE

SECOND LOVE
Bab 11 - Past



Kami menikah karena saling mencintai. Kehidupan pernikahan kami selalu indah setiap harinya. Walau bertempat tinggal di sepetak apartemen sederhana, kami bahagia. Alan, suamiku, berprofesi sebagai pemain band. Sedangkan aku bekerja paruh waktu di sebuah minimarket.


Pekerjaan Alan membuatnya sibuk dan tak jarang dia tidak pulang untuk beberapa hari. Tapi saat ada waktu luang, dia menyempatkan waktunya untuk bersamaku. Begitu pun denganku, sebisa mungkin aku selalu hadir saat dia dan bandnya tampil.


Pada tanggal sebelas di setiap bulan kami selalu merayakan ulang bulang pernikahan kami. Hingga pada bulan keenam pernikahan kami, aku memberinya sebuah hadiah.


“Apa ini?” Tanya Alan heran melihat benda asing ditangannya.


“Ini... Alat tes kehamilan. Aku hamil, Alan! Kita akan menjadi orang tua!” Aku tersenyum lebar membayangkan tawa bahagia atau tangisan haru dari Alan menyambut buah hati kami.


“...”


Namun yang kudapat hanya lah keheningan dan ekspresi hampa. Alan bahkan tak bergerak, masih memandangi benda itu di tangannya.


Senyumku seketika menghilang bersamaan dengan kebahagiaan di hatiku. Digantikan dengan rasa takut. Takut jika Alan tidak menyukai berita ini dan meninggalkanku. Namun aku mencoba menepis perasaan itu.


Aku meraih tangannya dan mengarahkannya untuk menyentuh perut datarku, “Kau tahu? Saat ini dia masih sangat kecil karena usianya masih sekitar empat minggu.”


Raut wajahnya masih belum menunjukkan reaksi. Alan justru menarik tangannya dari perutku.


“Kamu tidak suka dengan kehamilanku?” aku sudah tak bisa membendung rasa cemasku. Sedetik kemudian aku menyesal telah bertanya. Bertanya tentang jawaban yang tak ingin kudengar.


Alan masih diam, tapi matanya mengarah padaku. Tak sanggup menatap matanya yang dingin, aku menundukkan kepalaku. Sekuat tenaga kutahan kedua tanganku untuk tidak menutup telingaku, tidak ingin mendengar jawaban Alan.


Kemudian Alan berdiri dari duduknya, “Aku ingin mencari angin sebentar.”


Aku ingin memanggil namanya, mencegahnya untuk pergi. Tapi lidahku terlanjur keluh. Seluruh tubuhku terasa lemas. Begitu mendengar suara pintu tertutup kembali, air mataku jatuh.


Meski demikian, aku tetap yakin bahwa Alan tidak benar-benar pergi. Dia pasti pulang. Dia pasti kembali. Maka aku berusaha untuk tetap terjaga, menunggu Alan pulang.


Namun hingga lewat tengah malam, Alan tak kunjung pulang. Dengan berat hati aku masuk ke kamar dan meringkuk di ranjang kecil kami. Aku kembali menangis sambil memeluk perutku.


Alan meninggalkan kami.


Saat pagi pun tak menjadi lebih baik. Aku kembali menangis melihat sisi ranjang yang biasa ditempati Alan masih kosong dan terasa dingin. Apa ini benar-benar sudah berakhir?


Tangisku berhenti ketika kudengar pintu depan terbuka. Itu pasti Alan. Karena yang bisa membuka pintu dari luar hanya aku dan Alan.


Dengan langkah tergesa aku menuju ruang tamu. Tanpa memedulikan rambutku yang berantakan atau wajahku yang masih berlinang air mata. Benar saja, di sana Alan sedang melepas sepatu dan menyimpannya di rak.


Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Tangisku kembali pecah. Aku lega bahwa Alan tidak benar-benar meninggalkan kami.


Sayangnya sikap Alan banyak berubah sejak hari itu. Sikapnya jadi lebih dingin dan acuh terhadapku. Dia juga semakin jarang pulang ke rumah.


Alan tak pernah sekali pun menanyakan keadaanku. Walau pun dia tahu setiap pagi aku selalu merasa mual dan bahkan muntah-muntah. Dia dengan tenang menghabiskan sarapannya di saat aku tak sanggup menelan sesendok nasi.


Dia juga tak pernah menemaniku untuk periksa kandungan ke klinik. Aku selalu pergi sendiri. Sampai dokter pun menyuruhku sesekali mengajak suamiku untuk periksa, supaya dia juga tahu perkembangan bayinya.


Tapi aku tak punya nyali untuk menanyakannya. Aku takut itu akan membuat Alan marah. Tak penting perhatian lebih darinya, walau aku butuh. Yang terpenting dia masih di sampingku sekarang. Itu cukup.


Pernah suatu malam aku memberanikan diri untuk membangunkannya. Tiba-tiba aku ingin sekali makan puding karamel yang biasa dijual di minimarket. Kata orang, keinginan ibu hamil harus dipenuhi, kalau tidak anaknya bisa ileran.


Aku pun mencoba membangunkan Alan yang sudah tertidur sejak sore tadi. Aku bermaksud menyuruhnya untuk membeli puding di minimarket. Karena tidak memungkinkan aku pergi sendiri.


“Alan, bangun...”


“Hmm... Ada apa?” akhirnya setelah beberapa kali mencoba membangunkannya, akhirnya dia merespons walau masih dengan mata tertutup.


“Ck, ini sudah malam, Irene. Besok saja,” tolaknya dengan nada sebal. Alan justru mengubah posisi tidurnya, kini dia memunggungiku.


“Tapi aku mau sekarang,” aku juga masih bersikeras dengan keinginanku.


“Jangan egois, Irene! Kau bukan anak kecil!” kali ini dia meninggikan suaranya. Nyaliku menciut seketika mendengar Alan membentakku.


Aku tak berani berkata apa pun lagi setelah itu. Tapi aku mencoba memaklumi sikap Alan. Kali ini memang aku yang salah telah membangunkannya saat tengah malam.


Terlebih baru tadi sore Alan pulang ke rumah setelah tiga hari dia tidak pulang. Pasti saat ini dia membutuhkan banyak istirahat. Tapi justru aku memintanya untuk melakukan hal yang tidak penting.


Tingkah laku Alan masih berlanjut bahkan setelah Anya lahir. Saat aku berjuang hidup dan mati untuk melahirkan bayi kami, Alan tidak ada di sampingku. Aku sudah mengiriminya pesan bahwa aku akan melahirkan tapi dia tak membacanya.


Tapi untungnya Alan datang saat kami akan pulang dari rumah sakit. Dia menghampiriku yang sedang menimang Anya.


“Anya, lihat! Papa datang menjemput kita,” kukira sikap Alan akan berubah ketika dia melihat Anya. Ternyata aku salah.


Dia masih mempertahankan ekspresi dinginnya. Bahkan ketika aku memintanya untuk menggendong Anya, dia menolak.


“Kau saja. Aku akan bawakan barang-barangnya.”


Tanpa menoleh lagi, dia mendahului kami keluar dari ruangan.


Usia Anya baru tiga bulan waktu itu. Pola tidurnya yang belum teratur membuatnya sering terbangun saat malam. Hampir setiap hari aku harus begadang menemani Anya yang selalu menangis. Aku tak pernah mengeluh walau pun harus mengatasinya sendiri.


Tapi saat Alan berada di rumah, dia akan marah besar karena waktu istirahatnya terganggu oleh tangisan Anya.


“LAKUKAN SESUATU PADA ANAK ITU! TANGISANNYA MEMBUAT KEPALAKU SAKIT!”


Bukannya tenang, teriakan Alan justru membuat tangis Anya semakin kencang. Buru-buru aku membawanya keluar menuju taman yang berada tak jauh dari tempat tinggal kami. Semoga tangisan Anya tidak terdengar di sana dan tidak mengganggu Alan atau pun tetangga yang lain.


Hampir satu jam, Anya mulai tenang. Walau pun tangisnya sudah reda, tapi dia masih menolak untuk memejamkan mata. Aku menciumi wajahnya dengan lembut, agar dia tahu bahwa aku akan selalu menyayanginya.


“Maafkan Papa ya, sayang. Papa juga sayang pada Anya, kok. Sekarang dia hanya sedang lelah saja,” aku tahu Anya belum mengerti apa yang kukatakan, tapi hanya itu yang bisa kulakukan.


Walau pun putriku belum bisa bicara atau memahami pembicaraan tapi aku yakin dia pasti mengerti bahwa ayahnya menolak keberadaannya, bahkan sejak dia dalam kandungan.


Aku selalu menjadi pihak yang mengalah dalam hubungan kami. Aku tak tahu mengapa Alan berubah hingga sejauh ini sejak Anya hadir dalam hidup kami. Tapi aku berusaha menahannya dan tidak pernah mengeluh pada Alan atas sikapnya ini. Demi Anya. Demi diriku.


Aku ingin Anya tumbuh seperti anak lainnya. Tumbuh dengan sehat dan dipenuhi cinta oleh orang tuanya.


Hari demi hari aku jalani berdua dengan Anya. Alan semakin jarang pulang, hingga kami terbiasa tanpanya. Mungkin dalam hidup Anya, akulah satu-satunya orang tuanya. Karena Alan sama sekali tak mau andil sedikit pun dalam hidup Anya. Dia bahkan tak pernah menyebut nama Anya.


Hingga pada kejadian di kafe itu, aku tahu bahwa Alan sudah tidak menginginkan kami lagi. Semua air mataku, kesabaranku, pengorbananku sudah tidak ada artinya lagi. Aku memang terlalu bodoh untuk menyadarinya. Terlalu takut kehilangannya hingga aku tak sadar dia memang tak pernah bersama kami sejak awal.


Aku hancur, terpuruk, dan ingin menyerah saja jika tak ingat Anya. Putri kecilku ini lah yang menjadi satu-satunya sumber kekuatanku waktu itu. Demi Anya aku punya keberanian untuk meninggalkan kenangan penuh luka ini dan memulai hidup baru bersamanya.


.


.


.


Bab 11 ((END))