SECOND LOVE

SECOND LOVE
Pizza di Kala Senja



“Papa!” seru Aurora yang kembali ke galeri tadi sambil berlari. Dia memeluk Arcelio dari belakang. “Apa kau sudah selesai?” tanyanya. “Dengarlah. Perutku berbunyi sejak tadi.” Gadis kecil bermata abu-abu itu mengusap perutnya.


Arcelio yang tengah berdiri, tidak segera menanggapi. Dia hanya memperhatikan Aurora dengan alis yang terangkat sebelah. “Benarkah? Kenapa aku tak mendengarnya?” tanya Arcelio seraya menurunkan tubuh, hingga menjadi sejajar dengan gadis kecil itu.


Aurora tertawa riang.”Dekatkan telingamu ke perutku,” suruhnya seraya memajukan perutnya yang bulat.


“Oh, baiklah. Akan kuperiksa.” Arcelio menurut. Dia menempelkan telinganya di perut Aurora selama beberapa saat. Tak lama kemudian, pria itu membelalakkan mata sambil menatap tak percaya kepada sang putri. “Astaga!” ucapnya.


“Apa kau mendengar sesuatu, Papa?” tanya Aurora dengan raut menggemaskan.


“Ya. Aku mendengarnya dengan sangat jelas,” jawab Arcelio seraya memainkan mimik wajahnya.


“Apa yang kau dengar?” tanya Aurora lagi.


“Pizza,” jawab Arcelio diiringi desisan pelan.


Sepasang mata abu-abu milik Aurora berbinar indah. Dia melonjak kegirangan sambil bertepuk tangan saat mendengar kata ‘pizza’. Itu merupakan makanan kesukaannya sejak dulu, karena Arcelio kerap mengajak gadis kecil tersebut menyantap makanan khas Italia tersebut setiap kali mereka bermain dan menghabiskan waktu saat senja di taman.


“Aku mau pizza!” seru Aurora tak sabar.


“Keinginanmu adalah perintah bagiku, Principessa,” balas Arcelio. Dia menuntun Aurora keluar dari galeri tadi, setelah mematikan lampu. Arcelio juga menutup pintu rapat-rapat.


Beberapa saat, ayah dan anak tadi bersiap-siap untuk pergi ke kedai pizza langganan mereka.


Keduanya hanya perlu berjalan kaki sekitar seratus meter dari studio hingga tiba di sana. Beruntung, saat itu suasana tidak terlalu ramai. Di dalam kedai hanya ada beberapa pembeli yang tampak mengantri. Arcelio langsung memesan, atas pilihan Aurora tentunya.


“Kita akan makan di mana?” tanya Arcelio sembari mengajak Aurora duduk di bangku kayu yang sudah disediakan.


“Bagaimana jika di stasiun kereta api?” jawab Aurora sambil mengangkat telunjuknya tinggi-tinggi.


Arcelio mengernyitkan kening saat mendengar jawaban sang anak. Pria tampan bermata abu-abu itu menggeleng tak setuju. “Tidak, Sayang,” tolaknya. “Stasiun kereta bukan tempat makan pizza yang nyaman,” ujar pria itu seraya berdecak pelan.


Aurora berlagak sok berpikir. Gadis kecil itu mengetuk-ngetukkan telunjuk ke dagu. “Hmmm.” Dia menggumam diiringi gerakan bola mata ke kiri dan kanan. “Baiklah. Aku punya ide bagus,” ujarnya setengah berseru sambil turun dari bangku kayu tempatnya duduk tadi. Aurora berdiri dengan kedua lengan bertumpu pada paha sang ayah. “Bagaimana kalau kita makan di taman saja?” cetusnya.


Arcelio mengulum senyum saat menanggapi tingkah anak itu. Dia menaikkan sepasang alisnya. “Ah! Itu ide yang sangat brilian sayang,” sanjungnya.


“Ideku memang bagus, Papa,” ujar Aurora bangga, bersamaan dengan pesanannya yang sudah selesai.


Setelah membayar, mereka kembali berjalan menuju taman. Arcelio menuntun putri kecilnya yang sesekali melompat-lompat riang di trotoar. Sekitar sepuluh menit kemudian, ayah dan anak tadi tiba di taman yang dituju. Arcelio langsung memilih salah satu kursi taman untuk tempat mereka duduk sambil menikmati pizza.


“Kapan Papa akan mengajakku jalan-jalan?” tanya Aurora.


“Memangnya kau ingin pergi ke mana?” tanya Arcelio.


“Aku ingin naik pesawat,” sahut Aurora dengan mulut penuh oleh makanan. “Aku ingin terbang dan melihat awan,” celoteh gadis kecil itu lagi. Dia lalu menyedot minumannya.


Beruntung, saat itu Adelina masih bekerja padanya. Namun, sekitar satu tahun yang lalu, wanita yang sudah mengabdi sekian lama kepada Arcelio tersebut telah mengundurkan diri. Faktor usia dan kesehatan menjadi pertimbangan bagi Adelina. Itu artinya, Arcelio menjalani banyak peran dalam satu tahun terakhir.


Lelah, tentu saja. Dia harus merawat anak usia lima tahun sendirian. Selain itu, Arcelio juga dituntut untuk pintar-pintar mencari penghasilan tambahan, seiring dengan bertambahnya usia Aurora. Namun, itu bukan berarti dia harus menjadi pelit. Berlibur selama beberapa hari demi menyenangkan sang anak, sepertinya akan menjadi ide yang sangat bagus.


“Bagaimana jika nanti malam kita mengadakan rapat?” tawar Arcelio. “Rapat untuk membahas tujuan berlibur kau dan aku.”


Aurora yang sudah menghabiskan beberapa potong pizza, menoleh kepada sang ayah dengan mata terbelalak. “Aku setuju, Papa!” serunya riang. Dia bahkan hampir tersedak, karena mulutnya dipenuhi makanan.


“Baiklah. Kalau begitu, habiskan dulu pizza-mu. Setelah ini kita akan pulang,” ujar Arcelio. Diam-diam, dia mengambil sepotong pizza. Namun, baru saja Arcelio hendak memakannya, Aurora lebih dulu menoleh.


“Kau mengambil pizza-ku tanpa izin, Papa?”


Arcelio menghentikan gerakannya, padahal ujung lancip pizza tadi sudah hampir masuk ke mulut. Pelukis tampan itu melirik Aurora dengan wajah memelas. “Maaf. Bolehkah kuminta sepotong?” tanyanya.


“Ambillah,” sahut Aurora seraya kembali mengarahkan pandangan ke depan. Gadis kecil itu kembali menikmati pizza-nya dengan wajah ceria. Hal sederhana seperti itu, selalu bisa membuat hati Aurora terlihat sangat bahagia.


“Apakah mama-ku ada di awan itu, Papa?” tunjuk Aurora ke langit. Tiba-tiba, dia menanyakan keberadaan Delanna.


“Ya. Mama-mu terbang tinggi dan sangat jauh,” jawab Arcelio pelan. Dia lalu mengembuskan napas berat. “Sudahlah. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Sebaiknya kita segera pulang,” ajak Arcelio. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Aurora tak bertanya lebih jauh lagi tentang Delanna. Itulah yang selalu Arcelio lakukan, demi menghindari agar dirinya tak harus memberikan penjelasan apapun kepada Aurora.


“Baiklah.” Aurora turun dari kursi taman. Dia mengelapkan tangannya yang kotor ke pinggiran baju.


“Jangan begitu, Sayang,” tegur Arcelio seraya menurunkan tubuh. “Kau adalah anak gadis. Seorang gadis tidak boleh bersikap jorok. Jika kau jorok, maka ….”


“Arcelio?” Suara sapaan seorang wanita, telah berhasil membuat Arcelio menjeda kata-katanya. Pelukis tampan tersebut sangat mengenal si pemilik suara tadi.


Perlahan, Arcelio menoleh. Dia kembali menegakkan tubuh.


“Jadi, inikah anak dari hasil perselingkuhanmu? Di mana ibunya? Jangan katakan jika dia sedang sibuk menggoda calon suami wanita lain.” Si pemilik suara yang tak lain adalah Sara, tersenyum sinis kepada Arcelio. Dia juga menatap tak suka kepada Aurora.


Arcelio maju beberapa langkah ke hadapan Sara. Sekian lama dirinya tidak bertemu dengan sahabat dekat Samantha, yang juga merupakan mantan kekasihnya tersebut. “Padahal aku sudah bersyukur, karena dalam beberapa tahun terakhir tak lagi melihat wajahmu,” balas Arcelio tak kalah sinis. Dia lalu meraih tangan Aurora. Arcelio segera membalikkan badan, bermaksud pergi dari hadapan Sara.


“Aku tidak bisa membayangkan seandainya Sam melihat ini. Dia pasti akan sangat terkejut melihatmu merawat anak Delanna dengan penuh cinta,” ledek Sara, yang seketika membuat Arcelio langsung berbalik ke arahnya.


“Apa kau sudah berhasil menemukan Samantha? Di mana dia sekarang?” tanya Arcelio lirih.


"Untuk apa aku memberitahumu? Tak menguntungkanku sama sekali," jawab Sara masih dengan senyumannya yang sinis.


"Baiklah." Arcelio tersenyum kalem. Dia kembali membalikkan badan, lalu menuntun Aurora pergi dari sana.


"Kembalilah padaku, Arcelio!" pinta Sara setengah berseru.