SECOND LOVE

SECOND LOVE
Pertemuan Pertama



Arcelio dan Samantha tertegun tak percaya, melihat sosok wanita yang datang bersama Gilberto. Terlebih, Samantha. Wanita itu refleks memeluk Chrissy dan Aurora.


Sementara, Arcelio hanya memicingkan mata.


“Delanna? Sedang apa kau di sini?” tanyanya penuh penekanan.


“Aku kemari untuk menemuimu, Arcelio,” jawab Delanna seraya maju beberapa langkah. Dia melihat dua gadis kecil yang berdiri di sisi kiri dan kanan Samantha. “Aurora,” sebut Delanna pelan. Dia tak yakin yang mana putrinya, di antara dua gadis kecil tadi. Namun, Delanna akhirnya mendapat jawaban, ketika melihat salah seorang dari mereka ada yang bereaksi. ”Apa kau Aurora?” tanya wanita itu seraya mengarahkan pandangan lurus, pada gadis kecil yang menanggapi dengan anggukan pelan.


“Astaga. Putriku,” gumam Delanna lirih. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca.


Mendengar Delanna menyebutkan kata ‘putriku’, membuat Arcelio segera mundur. Dia berdiri di depan Aurora, seakan menghalangi gadis kecil itu dari tatapan wanita tersebut.


“Minggir, Arcelio!” Delanna semakin mendekat. Dia bermaksud menggeser tubuh tegap pria itu agar tidak menghalanginya.


Akan tetapi, Arcelio bergeming. “Untuk apa kau kembali, Delanna?” tanya ayah dua anak tersebut penuh penekanan.


“Aku kemari untuk Aurora. Kembalikan dia padaku, seandainya kalian tidak menghendaki kehadirannya di sini. Aku masih sanggup memberikan kasih sayang. Selama ini, kuberikan dia padamu bukan untuk kau terlantarkan, Arcelio!” Nada bicara Delanna mulai meninggi.


“Apa maksudmu? Tidak ada yang menelantarkan Aurora. Kau salah besar jika berpikir demikian! Aku merawatnya dengan baik!” bantah Arcelio tegas.


“Tidak setelah kau menikahi Samantha! Aku tahu bahwa keluarga istrimu tak mengharapkan Aurora ada di antara kalian. Tuan Bellucci sendiri mengatakan kebenaran itu!” Delanna tak kalah tegas.


Seketika, tatapan tajam Arcelio dan Samantha tertuju kepada Gilberto. Pria paruh baya tersebut hanya tersenyum sinis, menanggapi sorot protes dari putri dan menantunya.


“Apa yang kau lakukan, Ayah?” Samantha menggeleng tak mengerti dengan sikap Gilberto.


“Anda benar-benar sudah bertindak keterlaluan, Paman,” desis Arcelio tak suka.


Sedangkan, Gilberto masih terlihat tenang. Dia menatap Arcelio dan Samantha secara bergantian. “Aku memang mengatakan pada wanita ini, agar mengambil kembali anak yang ditinggalkannya denganmu, Arcelio. Bagaimanapun juga, Samantha adalah putri tunggal di Keluarga Bellucci. Namun, lihat kenyataannya sekarang. Kalian bahkan menikah tanpa mengundangku dan Lucrezia.”


“Kau tidak menghendaki pernikahanku dengan Arcelio, Ayah,” bantah Samantha tegas.


“Alasannya hanya karena anak itu!” tunjuk Gilberto ada Aurora yang sudah hampir menangis.


“Jangan membentak Aurora, Tuan!” lawan Delanna tegas.


“Kalau begitu, bawa dia bersamamu. Rawat dan besarkan anak itu. Semoga dia tidak mengikuti jejakmu menjadi seorang penggoda,” cibir Gilberto.


“Paman!” sergah Arcelio. Dia hampir kehilangan kontrol emosinya. Namun, dengan segera Arcelio menguasai diri. Pria itu menoleh kepada Samantha. “Bawa anak-anak ke kamar mereka, Sayang,” suruhnya. Tanpa banyak membantah, Samantha menuruti perkataan Arcelio. Dia menuntun Aurora dan Chrissy menuju ke kamar mereka.


Sepeninggal Samantha beserta kedua putrinya, Arcelio kembali mengarahkan perhatian kepada Gilberto. “Aku dan Samantha sudah memulai hidup baru. Kenapa Anda masih mengusik kami dan mempermasalahkan keberadaan Aurora, Paman?”


“Jawabannya sudah kau ketahui, Arcelio. Samantha adalah putriku satu-satunya,” tegas Gilberto. “Bagaimanapun juga, dia tetap membutuhkan restu dariku dan Lucrezia. Kau tidak bisa mengabaikan hal itu. Kedua orang tua Samantha masih hidup.”


“Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa Samantha bebas mengambil keputusan apapun, karena dia bukan putrimu lagi?”


“Ayolah, Arcelio. Jangan berpikir sebodoh itu.”


“Ya. Kau tinggal memilih antara Samantha atau anak dari hasil perselingkuhanmu,” ujar Gilberto enteng.


Arcelio tertawa pelan seraya menggeleng tak percaya. “Untuk apa aku harus memilih lagi? Samantha sudah menikah denganku. Putrimu telah resmi menjadi istriku,” ujar Arcelio diiringi senyum penuh kemenangan. “Aku bukan dirimu yang dengan mudah membuang anak hanya karena suatu masalah,” sindirnya.


“Kau!” Gilberto mengepalkan tangannya. Namun, dia tak melakukan apapun selain mendengkus kesal.


Arcelio tak ingin menanggapi sikap menyebalkan Gilberto. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Delanna. “Semua sudah jelas, Delanna. Aku tidak akan pernah menyerahkan Aurora padamu. Dia sudah terdaftar dalam silsilah Keluarga Lazzaro. Bukankah kau sendiri yang menyerahkan Aurora, sejak dia baru berumur kurang dari dua bulan?”


“Aku menyerahkannya padamu karena aku yakin kau bisa merawat dan menyayangi anakku, Arcelio. Namun, aku tak akan terima jika putriku diperlakukan seperti itu!” protes Delanna.


“Seperti apa?” tanya Arcelio seakan menantang wanita di hadapannya. “Apa yang kau ketahui tentang kehidupan Aurora di sini? Kau berada jauh di Puerto Rico. Aku yang mengetahui kapan Aurora mulai bisa mengucapkan kata ‘papa’. Kau pikir selama ini dia menderita bersamaku?”


“Lihat sendiri penolakan dari keluarga Samantha!” tunjuk Delanna pada Gilberto.


“Aku tidak peduli dengan siapa pun, Delanna! Akan kuhadapi siapa saja yang berani mengusik kehidupanku dengan Aurora atau Samantha. Tak peduli meski orang itu adalah Tuan Gilberto Bellucci sekalipun.”


Arcelio kembali mengarahkan tatapan tajam kepada ayahanda Samantha. “Istri dan anak bukanlah sesuatu yang harus dipilih. Keduanya merupakan prioritas dalam hidupku. Aku tak akan mengambil satu, untuk melepaskan yang lain.”


Arcelio kembali menatap Delanna. “Jangan khawatirkan Aurora. Dia akan lebih aman bersamaku,” tegasnya.


Delanna masih berdiri terpaku. Tak berselang lama, matanya terlihat berkaca-kaca. “Kalau begitu, izinkan aku bertemu dan memeluk Aurora,” pintanya.


“Apa-apaan kau? Sara mengatakan bahwa dirimu datang ke Italia untuk menjemput anak itu. Jika begini ceritanya, sia-sia saja kuluangkan waktu menemanimu kemari!” protes Gilberto. Pria itu mendengkus kesal, lalu berbalik menuju lift. Dia pergi dari hadapan Arcelio dan Delanna dengan membawa kemarahannya.


Sepeninggal Gilberto, Arcelio kembali menatap Delanna yang masih berharap dipertemukan dengan Aurora. Kembali terbayang dalam benak pria itu, adegan perpisahan antara Delanna dengan bayinya. Arcelio bukan seseorang yang tanpa hati. Dia mengangguk samar, lalu berbalik meninggalkan ibunda Aurora tersebut.


Tak berselang lama, Arcelio kembali bersama Samantha dan kedua putrinya. Dia menurunkan tubuh di hadapan Aurora, lalu membisikkan sesuatu pada anak itu. Namun, Aurora menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Nak,” ucap Arcelio lembut.


“Aku tidak mengenalnya, Papa,” tolak Aurora.


“Karena itu, berkenalanlah,” ujar Arcelio lagi. Dia menuntun Aurora ke hadapan Delanna, yang hanya berdiri mematung karena rasa tak percaya.


Delanna menurunkan tubuh di hadapan Aurora yang menatap heran padanya. Wanita itu tersenyum sambil berurai air mata. “Apa kabar, Aurora?” sapanya.


“Baik, Bibi,” jawab Aurora pelan. Dia bergelayut di kaki sang ayah, bahkan sampai menyembunyikan diri di baliknya.


Teriris hati Delanna, saat mendengar Aurora memanggilnya dengan sebutan ‘bibi’. Namun, itu merupakan konsekuensi yang harus diterima. “Namaku Delanna Verratti. Apa kau bisa mengingat itu, Nak?”


Aurora tidak menjawab. Dia hanya menatap Delanna. Sesaat kemudian, anak itu mengangguk pelan. “Bibi Delanna,” ucapnya.


Air mata kian deras membasahi pipi Delanna. Mantan wedding planner tersebut tak kuasa menyembunyikan rasa sedihnya. Sebagai seorang ibu, dia begitu tersakiti dengan keadaan yang harus diterima. Keputusan untuk memberikan Aurora kepada Arcelio, memang bukan sesuatu yang mudah. Namun, itu merupakan cara terbaik bagi dirinya, yang memang belum siap secara mental maupun materi.


“Bolehkah aku memelukmu, Aurora?” tanya Delana.