SECOND LOVE

SECOND LOVE
Applause Meriah



“Arcelio ….” Samantha semakin berada dalam kebimbangan, saat ayah kandung Chrissy dan Aurora tersebut mengungkapkan segenap perasaan dan berniat untuk menikahinya. Rasa bersalah untuk Pierre menutupi segala sikap romantis Arcelio.


“Aku harus kembali ke apartemen dan bersiap-siap. Sekarang waktunya gladi bersih untuk pentas nanti malam. Aku akan berada di sana seharian,” ujar Samantha sambil berusaha melepaskan pelukan lengan kekar Arcelio.


“Bagaimana dengan tawaranku tadi, Sam?” Arcelio memandang Samantha dengan raut memohon.


“Ayolah." Samantha menangkup paras rupawan Arcelio menggunakan kedua tangan. “Aku buru-buru dan kau juga begitu. Nanti kita bahas lagi," ujarnya seraya mencium mesra bibir tipis pelukis tampan tersebut.


Samantha meninggalkan Arcelio di kamar mandi, lalu masuk ke kamar dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia berpakaian dengan terburu-buru, lalu merapikan tempat tidur Arcelio yang berantakan, setelah mereka berdua gunakan tadi malam.


Sesaat kemudian, Samantha menghampiri dua gadis kecil yang asyik menyantap menu sarapan. Saat itu, Aurora dan Chrissy ditemani oleh Brigitte. Samantha awalnya hanya mencium pipi Chrissy. Namun, setelah melihat ekspresi Aurora yang menyiratkan seakan ingin diperlakukan sama, akhirnya Samantha menghadiahi ciuman lembut di pipi dan kening gadis kecil itu.


Samantha mulai berusaha berdamai dengan masa lalunya. Dia menepiskan kenyataan bahwa Aurora adalah anak hasil dari perselingkuhan sang mantan tunangan dengan Delanna. Berkali-kali, Samantha menekankan dalam hatinya bahwa Aurora tak tahu apa-apa. Anak itu hanya kebetulan saja dilahirkan dari rahim Delanna. Namun, tak sepantasnya dia menjadikannya sebagai musuh. Terlebih, karena Chrissy pun sangat menyukai Aurora.


“Kalian berdua jangan nakal, ya. Aku pergi dulu, dan mungkin sampai nanti malam,” pesan Samantha.


“Ibu peri mau ke mana?” tanya Aurora sebelum Chrissy sempat membuka mulutnya.


Samantha tergelak mendengar kalimat itu. “Aku hendak pergi bekerja,” jawabnya lembut seraya mengusap pucuk kepala Aurora.


Brigitte yang berada di sana, turut memperhatikan secara detail sikap wanita cantik itu terhadap putri Arcelio tersebut.


“Maaf, merepotkanmu, Nona Colbert. Aku jadi sering menitipkan Chrissy di sini. Nanti aku akan meminta pada Arcelio agar memberi bonus lebih untukmu,” ujar Samantha sebelum berlalu dari sana.


“Tidak usah, Nyonya. Aku senang menjaga Nona Chrissy. Selain cantik dan lucu, dia juga anak yang cerdas,” balas Brigitte.


Samantha yang sudah hendak berlalu dari dekat meja makan, mengurungkan niatnya. Dia kembali mengarahkan perhatian kepada Brigitte. “Terima kasih atas sanjunganmu. Namun, aku tetap akan memberikan bonus,” ucapnya sembari tersenyum lebar.


Samantha tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, karena takut terlambat. Dia bergegas membuka pintu untuk kembali ke ruang apartemennya. Namun, baru saja daun pintu itu terbuka lebar, Pierre ternyata sudah berdiri gagah di baliknya.


“Apa yang kau lakukan di apartemen Arcelio, Samantha?” tanya Pierre dengan penuh rasa curiga. Tatapan lekatnya seakan memindai sang kekasih dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Ah, aku … Chrissy ….” Samantha begitu gugup, sehingga dia menjawab dengan terbata.


“Chrissy meminta menginap di rumahku tadi malam. Dia ingin bermalam bersama Aurora,” sahut Arcelio yang sudah dalam keadaan rapi. “Samantha kemari untuk menitipkan putrinya sebelum berangkat ke teater,” lanjut pria itu.


“Oh. Jadi begitu." Pierre manggut-manggut. “Pantas saja aku mengetuk pintu apartemenmu sampai pegal. Lalu, tetangga sebelah yang memberitahukan padaku bahwa Samantha berada di sini,” jelasnya.


“Maafkan aku, Pierre. Aku ….” Samantha semakin merasa tak nyaman saat itu. “Aku akan bersiap-siap sebentar. Kau tunggulah,” ujarnya seraya berlalu dengan terburu-buru, meninggalkan Arcelio dan Pierre yang saling pandang.


“Memangnya kau mau ke mana?” Ekor mata Pierre terus mengikuti langkah Arcelio yang berjalan keluar.


“Bekerja. Memangnya mau ke mana lagi?" Arcelio tersenyum lebar, lalu melambaikan tangan pada Pierre sebelum dirinya memasuki lift. Arcelio terus memperlihatkan senyumnya, sampai pintu lift tertutup dan bergerak turun. Barulah senyuman itu memudar.


Tak berbeda dengan Samantha. Arcelio juga terlihat gelisah. Bukan karena dia takut ketahuan, melainkan membayangkan apa yang mungkin akan dilakukan oleh Pierre dan Samantha. Sisi posesifnya muncul kembali, sama seperti dulu. Sesuatu yang berakibat fatal dalam hubungannya bersama Samantha.


Namun kini, Arcelio sudah bisa bersikap lebih dewasa dibanding dulu. Apalagi, dirinya sudah menjadi seorang ayah. Hidup Arcelio sudah ditempa selama sekian tahun, sehingga menghasilkan pribadi seperti sekarang. Arcelio mengembuskan napas pelan dan mencoba fokus.


Beruntung, Arcelio berhasil mengendalikan diri. Proses mengajar dapat dia lalui dengan lancar, sampai tiba waktunya pulang. Arcelio bergegas kembali ke apartemen. Dia ingin bercengkrama bersama dua gadis kecilnya.


Sayang, rencana itu terancam gagal saat Pierre tiba-tiba menghubunginya lewat aplikasi pesan.


Ingatlah. Kau sudah bersedia hadir dalam pertunjukan Samantha nanti malam. Kutunggu di teater pukul tujuh.


“Ya, ampun." Arcelio tak dapat berlama-lama di apartemen. Dia hanya bisa bermain bersama Aurora dan Chrissy selama dua jam, sebelum bersiap-siap membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa dia berpesan pada Brigitte untuk menjaga dua bocah itu sampai malam nanti. “Aku akan memberikan bonus yang besar untukmu, Nona Brigitte,” ucap Arcelio diiringi senyuman kalem


“Jangan pikirkan itu, Tuan Lazzaro. Aku senang bisa menemani Aurora dan Chrissy,” balas Brigitte ramah.


“Terima kasih, Nona Colbert. Entah apa yang harus kulakukan jika tak ada dirimu,” ucap Arcelio tulus. Saat itu dirinya tampak berbeda. Rambut gondrongnya diikat rapi ke belakang. Arcelio juga mengenakan kemeja putih polos, dipadu dengan celana bahan dan dilengkapi dengan blazer bermotif kotak-kotak. Namun, dia tidak menyemprotkan parfume ke tubuhnya.


“Hati-hati di jalan, Tuan,” pesan Brigitte. Hanya kalimat itu yang dapat dia katakan. Padahal, ada begitu banyak yang ingin diungkapkan dari hatinya yang terdalam.


Setengah jam perjalanan dihabiskan Arcelio hingga tiba di lokasi teater. Di sana, Pierre sudah menunggu di pintu masuk. Dokter spesialis anak itu menjabat akrab tangan Arcelio, lalu mengajaknya masuk ke gedung pertunjukan.


Pierre sudah menyediakan satu tempat duduk untuk Arcelio di kelas VIP, sehingga mereka dapat menonton pertunjukan dengan jelas, tanpa terhalang.


Selama pertunjukan berlangsung, Arcelio tak dapat berkedip menyaksikan penampilan Samantha yang begitu memukau. Selain berakting, Samantha juga piawai dalam mengolah vokal. Suara begitu merdu saat bernyanyi.


Hal itu kembali membuka segala kenangan indah bertahun-tahun lalu, ketika Arcelio pertama kali bertemu dengan wanita cantik tersebut. Arcelio jatuh cinta pada pandangan pertama. Awal pertemuan, dirinya sudah terpikat oleh senyuman manis Samantha.


Lamunan Arcelio buyar seketika, saat terdengar gemuruh tepuk tangan sebagai pertanda berakhirnya pertunjukan. Seluruh penonton memberikan apresiasi yang luar biasa untuk akting Samantha. Arcelio langsung berdiri sambil memberikan applause meriah untuk ibu dari putrinya tersebut.


Tindakan dari Arcelio itu, diikuti oleh semua penonton yang berada di dekatnya. Pierre yang duduk di sampingnya juga ikut berdiri. Pria tampan berambut pirang itu telah menyiapkan seikat bunga mawar, yang terlihat begitu mewah.


Tanpa canggung, Pierre berjalan naik ke panggung, diiringi oleh tepuk tangan kru dan para pemain lainnya. Di hadapan ratusan penonton yang memadati gedung opera, sang dokter tampan berambut pirang tersebut merengkuh pinggang Samantha. Dia lalu mencium lembut bibir wanita itu.