
Tanpa terasa, seminggu lamanya telah berlalu sejak percintaan panas Nero dengan calon istrinya. Mereka berani meluapkan nafsu yang telah lama disimpan satu sama lain karena tahu cepat atau lambat mereka akan menjadi sepasang suami istri. Dan benar saja, Nero benar-benar tidak membuang waktu sama sekali. Dengan pernikahannya dulu, tentu Nero telah memiliki pengalaman lebih dalam melangsungkan pernikahan dibanding Vivi. Segala persiapan acara pernikahan, makanan, undangan untuk tamu, hingga fitting baju pengantin Vivi telah dipersiapkan Nero dengan tepat. Sebelumnya Nero juga sudah meminta izin di rumah sakit tempatnya bekerja untuk cuti, karena Nero tidak ingin ada masalah di pernikahan keduanya tersebut.
Tidak hanya Nero, Vivi pun juga memberikan beberapa bantuan kecil kepada calon suaminya itu. Ia tidak pernah lelah menemani Nero ke manapun untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Bagaimana pun juga, Vivi ingin menjadikan pernikahan itu yang pertama dan terakhir kali baginya. Ia juga tidak pernah lelah memanjatkan doa kepada Sang Kuasa agar memperlancar persiapan pernikahan mereka.
Setelah menyebar undangan dan persiapan-persiapan lainnya, kini telah tiba hari yang dinantikan Nero dan Vivi. Hari pernikahan, hari di mana mereka melepas masa lajang mereka dan mengganti status sebagai suami istri.
Di dalam gereja, kini telah berdiri sepasang pengantin pria dan wanita yang berdiri berhadapan satu sama lain. Tidak lupa pula seorang pendeta di tengah mereka yang akan memimpin pernikahan pasangan itu. Suasana syahdu gereja yang diiringi alunan musik serta keluarga inti yang menyaksikan menambah keteduhan pernikahan Nero dan Vivi.
“Sekarang, mempelai pria dapat membuka tudung mempelai wanita.”
Usai sang pendeta berucap, Nero melakukan perintahnya. Perlahan ia membuka tudung putih tipis yang menyembunyikan wajah Vivi. Dan kini, Nero dapat melihat semuanya dengan jelas. Wajah cantik nan rupawan seorang wanita yang telah dipoles dengan make-up. Kedua mata yang tersembunyi di balik kelopak mata kini terbuka, menampakkan tatapan bahagia Vivi dengan hari spesialnya itu. Senyum bahagia yang terukir di wajah Vivi juga menulari Nero untuk melakukan hal serupa. Kedua insan itu menatap satu sama lain dengan lekat, seakan dunia hanya milik berdua.
Selang beberapa detik, sang pendeta melantunkan janji pernikahan yang nantinya harus diikuti Nero dan Vivi. Setelah berlatih untuk beberapa menit, keduanya pun dapat mengucapkan janji pernikahan dengan baik.
“Apakah kamu, Nero Ardiaz, bersedia menerima Vianli Caroline sebagai istrimu dalam keadaan suka dan duka, sehat dan sakit?”
Setelah mengucapkan janji pernikahan, sang pendeta mengajukan pertanyaan kepada Nero dan dibalas dengan, “ya, saya bersedia,” dengan yakin. Hal serupa dilakukan pendeta kepada Vivi, mengajukan pertanyaan yang memastikan dirinya bersedia menjadi pendamping hidup Nero dan dibalas dengan jawaban yang sama.
“Dengan demikian, saya nikahkan dan kawinkan Nero Ardiaz dengan Vianli Caroline.”
Usai sang pendeta berkata demikian, telah berakhir pernikahan Nero dan Vivi. Keluarga inti yang menyaksikan langsung memberikan sambutan dengan tepukan tangan keras.
***
Setelahnya, resepsi pesta Nero dan Vivi dilakukan di ballroom hotel bintang lima yang sebelumnya telah disiapkan oleh ayah Vivi. Masih mengenakan jas dan gaun pengantin yang sama saat di gereja, sepasang suami istri itu diberikan duduk di depan ruang pesta itu, menyambut kedatangan para tamu yang memberikan pemberkatan mereka.
Tentunya tidak sedikit tamu yang telah diundang Nero dan Vivi. Nero mengundang seluruh kolega kerjanya, begitu pula Vivi yang juga mengundang teman-temannya. Tidak hanya dari kedua pengantin, kedua orang tua juga mengundang teman-teman mereka untuk menghadiri hari berbahagia tersebut.
“Selamat untuk pernikahanmu, ya, Vivi. Akhirnya kamu bisa bahagia juga.”
Salah satu teman Vivi datang untuk memberikan selamat kepadanya. Vivi ingat jika temannya itu juga pernah ia undang di pernikahannya dengan Azzam dulu, namun harus dibatalkan karena takdir yang menyedihkan. Namun, sekarang semua sudah berubah. Ada Nero di sisi Vivi sekarang, dan Vivi tidak perlu merasa kesepian seperti dulu.
“Wah, wah, akhirnya kamu benar-benar menikah dengan Vivi, ya. Selamat, ya, Nero!”
Hal serupa juga diterima Nero dari teman kerjanya. Memang benar jika beberapa dari teman kerjanya sempat meragukan keputusan Nero untuk dekat dan menjalin hubungan lebih dengan Vivi. Namun, itu semua di masa lalu. Sekarang, Nero telah membuktikan keseriusannya dengan Vivi, dan semua rekan kerjanya mengetahui dan memberikan doa pemberkatan kepada mereka.
Tanpa terasa, Nero dan Vivi disirami ucapan selamat dan doa pemberkatan hingga sore hari. Dan hingga detik ini, belum ada tanda-tanda tamu yang berkunjung akan berakhir. Hal tersebut menyebabkan Vivi terduduk di kursi yang disediakan, merasa lelah. Nero yang menyadarinya langsung khawatir.
“Maaf, aku hanya ... sedikit lelah.”
Tidak ingin mengkhawatirkan Nero, Vivi berbohong tentang kelelahan yang dirasakannya. Saat ini adalah hari berbahagia mereka, dan Vivi tidak ingin menghancurkannya hanya karena ia merasa sedikit lelah.
Namun, bukannya menerima alasan Vivi begitu saja, Nero justru semakin intens menatap istrinya. Saat itulah Vivi tahu jika kebohongannya diketahui Nero.
“Sedikit lelah, ya?”
Tanpa aba-aba, Nero langsung menggendong Vivi ala bridal style. Hal tersebut menyebabkan Vivi langsung memekik, terkejut. Begitu juga dengan para tamu dan keluarga yang melihat pemandangan tersebut.
“Ne-Nero!”
“Maaf, para hadirin sekalian. Namun istri saya telah merasa lelah. Karena itu, kami mohon undur diri.”
Mengabaikan Vivi yang masih terkejut, Nero membungkukkan badannya tanda hormat, sebelum akhirnya ia pergi bersama Vivi ke kamar hotel yang telah dipesan sebelumnya.
***
“Astaga, Nero! Kamu benar-benar membuatku terkejut! Bagaimana jika yang lain protes dengan perbuatanmu tadi?”
Di dalam kamar, Vivi akhirnya menyuarakan protesnya. Memang benar jika ia sedikit merasa senang dengan perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan Nero di depan umum tadi. Namun, di saat yang sama Vivi juga merasa khawatir dengan keluarganya nanti.
“Untuk apa mengkhawatirkan mereka? Jika kamu khawatir dengan orang tua kita, mereka pasti akan mengerti betapa lelahnya pernikahan itu.”
Pembelaan Nero yang telah melakukan pernikahan sebelumnya membuat Vivi kalah argumen, dan menghembuskan napas panjang.
“Dibanding memikirkan itu, bukankah lebih baik jika kita memikirkan malam pertama kita, sayang?”
Tanpa Vivi sadari, Nero ternyata sudah membuka jas pernikahannya. Ia mendekati Vivi, bahkan membawa sang wanita ke kasur yang empuk. Dalam keadaan masih mengenakan gaun pengantin, Vivi sempat merasa sedikit malu. Namun, ia juga bergairah untuk melakukannya dengan Nero.
Kini, keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Tidak ada larangan yang dapat menghentikan mereka sekarang untuk bercinta dan menyalurkan seluruh nafsu birahi kepada satu sama lain. Karena saat ini, mereka dimabuk cinta dan tidak akan memedulikan hal yang lain. Dan di sela aksi panas mereka, Nero menyempatkan bisikan manis di telinga istrinya.
“Aku mencintaimu, Vivi.”