
Mira kemudian membawa Sanu ke luar ruangan.
"Saya ingatkan kamu ya, jangan ungkit-ungkit lagi hubunganmu dengan Brian."
"Tapi, Ma ..."
"Jangan panggil aku mama lagi, kamu harus memanggilku, Nyonya."
Sanu menatap nanar Mira. "Baik, Nyonya."
"Bagus ... kamu tau 'kan alasannya kenapa?"
Sanu mengangguk pelan, lalu memutar kursi roda menuju ruangannya, menutup kamarnya rapat-rapat. Sanu terlihat murung, matanya berkaca-kaca, menggenang di sudutnya, lalu menetes melewati pipinya.
Ini adalah kesedihan yang paling dalam setelah kehilangan ayahnya. Sanu akan kehilangan Bari? Ingin rasanya berteriak sekuat-kuatnya, tapi ini ruangan IGD. Sanu hanya bisa meratapi nasibnya.
Satu bulan yang lalu, dia masih bercanda riang dengan Bari. Mira masih mendukung hubungannya dengan Bari. Tapi kini semua berubah, Tuhan sepertinya tidak sedang menguji Sanu? Tuhan sedang menghukum Sanu. Itu yang ada dipikirannya.
Malam harinya, Sanu keluar dari kamarnya, hendak melihat perkembangan dari Bari. Suasana di rumah sakit lengang. Sanu hendak masuk ke ruangan Bari. Tapi pintu dikunci. Sanu hanya melihat dari jendela mengintip Bari yang masih terbaring.
Dokter datang membuka pintu, hendak memeriksa Bari. Sanu dengan sekuat tenaga memutar kursi rodanya ikut masuk ke ruangan Bari.
"Maaf Sanu, selain bu Mira tidak satupun orang boleh masuk." Dokter membawa Sanu keluar.
"Tapi Dokter, aku ingin bertemu dengan Bari. Tolonglah Dokter!" Sanu memberontak mengetuk-ngetuk pintu kamar.
Dokter menyuruh perawat membawa Sanu ke ruangannya.
"Siapa di luar, Dok. Berisik sekali," ucap Bari lirih.
"Bukan siapa-siapa, hanya anak kecil yang sedang bermain."
Bari terbangun, menyandarkan punggungnya sambil dokter memeriksanya.
"Kondisi anda jauh lebih baik. Minggu ini mungkin anda bisa pulang," ucap dokter yang merawat Bari.
Dokter itu keluar dari ruangan, lalu kembali mengunci pintunya. Bari menggeliyat badannya terasa pegal. Entah berapa lama dirinya tidur di tempat ini.
Sudut mata Bari melihat kertas yang disisipkan di tempat tidur. Bari membuka kertas itu, lalu membacanya. Disana tertera nama Sanu yang selalu mencintainya.
Sejenak dia berpikir. "Sanu, bukankah dia ..."
Bari tiba-tiba memegang kepalanya, rasanya berputar putar. Bari belum bisa berpikir terlalu jauh. Sakit kepalanya tak tertahankan, Bari menekan tombol berwarna merah tanda ada pasien yang sedang membutuhkan bantuan.
Dokter yang mendengar bunyi seperti sirene di ruangannya bergegas menuju kamar Bari.
"Ada apa?"
"Kepalaku terasa pusing, Dok," jawab Bari sekuat tenaga.
Dokter segera memberikan obat suntikan. Beberapa menit kemudian Bari mulai tenang, napasnya tersengal. Dokter melihat sebuah kertas yang ada di genggaman Bari. Dokter yang memeriksa Bari mengambil kertas itu. Ternyata ini surat dari Sanu.
"Mungkin ini yang membuat Bari pusing, dia belum saatnya memikirkan hal yang memberatkannya." batin dokter itu.
"Kenapa kepalaku bisa pusing hanya karena membaca surat dari Sanu, siapa itu Sanu?" tanya Bari.
"Sudahlah, kamu tidak usah berpikir terlalu keras dulu. kondisimu masih lemah, lebih baik kamu istirahat dulu saja," ucap dokter.
Bari mengangguk mengiyakan ucapan sang dokter.
Mira tiba-tiba datang, melihat wajah anaknya yang terlihat pucat.
"Ada apa, Dok?" tanya Mira penasaran.
"Lebih baik kita ke ruangan saya, nanti saya jelaskan. Kondisi Bari sudah membaik."
Mira mengikuti sang dokter ke ruangannya.
"Tadi anak ibu memaksakan ingatannya lagi. Saya sarankan anak Bu mira jangan terlalu berpikir terlalu keras terlebih dahulu." Dokter memberikan kertas yang di tulis Sanu.
"Anak itu, dari mana Brian bisa dapat kertas ini," ucap Mira saat membaca surat itu.
"Mungkin, Sanu diam-diam menyelipkannya dan dibaca oleh Brian," ucap dokter itu.
Mira mengeluarkan napas secara kasar, bola matanya tajam ke bawah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Dok?" Mira bersalaman dan beranjak dari tempat duduknya.
Mira berjalan berjalan dengan cepat, dia menuju ke ruangan Sanu. Disana Sanu duduk di kursi rodanya, terlihat Murung.
"Sanu!" panggil Mira.
Sanu tersenyum menghampiri Mira.
"Kali ini saya minta tolong dengamu. Tolong jauhi anak saya. Brian butuh istirahat total untuk sembuh."
Sanu hanya terdiam menatap nanar, bibirnya mengecil, wajahnya terlihat sedih.
"Kamu paham 'kan apa yang saya maksud. Hal kecil seperti ini bisa membuat nyawa Brian terancam." Mira menunjukan surat yang ditulis Sanu untuk Bari.
Sanu mengambil surat itu, lalu kembali menunduk. Mira dengan tatapan sinis pergi dari ruangan itu. Sanu mendekap surat itu merindukan Bari.
Mira menemui dokter yang merawat Bari untuk meminta izin merawat Bari di rumah saja. Dokter mengizinkannya dengan beberapa syarat. Mira menyetujui syarat itu.
Esok harinya Sanu melihat Bari dibawa seorang perawat. Bondan dan Jaka mendampinginya. Sanu dengan sekuat tenaga menggerakan kursi roda berusaha mengimbangi gerakan perawat itu. Tidak peduli mengganggu pasien lain, tidak peduli banyak orang melihat Sanu.
"Tunggu ...!" teriak Sanu.
Perawat itu sejenak berhenti, tapi Bondan dan Jaka menyuruh untuk jangan menghiraukan Sanu. Bondan dan Jaka ikut mendorong tempat tidurnya Bari semakin cepat. Sanu semakin tertinggal jauh.
"Mau dibawa kemana kak Bari," ucap Sanu lirih.
Sanu menghentikan gerakan kursi rodanya, matanya sayu. Perlahan Sanu berbalik menuju kamarnya, merenung. Apakah Sanu harus melepaskan Bari? Sanu ingin membantu Bari mengingat semuanya. Kalaupun Bari sudah mengingat semuanya. apakah Bari akan menerimanya dengan kondisi Sanu saat ini. Hidup tanpa kaki hanya mengandalkan kursi roda untuk berjalan. Sanu mulai berpikir yang tidak-tidak.
Mungkin ini saatnya Sanu harus kembali ke rumah. Sanu tidak bisa lagi pergi ke kantor Pasar Minggu. Dia akan menjadi beban kalau masih disana.
Sanu pun menelpone Aida untuk menjemputnya ke rumah sakit. Aida mengiyakan ucapan Sanu. Dia bergegas menuju rumah sakit.
Lima belas menit menunggu Aida datang menghampiri Sanu.
"Ada apa tiba-tiba kamu memanggilku, Sanu."
Sanu tersenyum simpul, Aida tetap tidak berubah, selalu riang.
"Aku ingin pulang, Aida. Kamu bisa membantuku?"
Aida membawa Sanu berbincang ke taman. "Bisa saja? Kebetulan dua hari lagi aku juga mau pulang. Kita naik travel saja," ucap Aida.
Sanu mengangguk menyunggingkan senyum.
"Kamu tidak pamit kepada teman-temanmu di Pasar Minggu?"tanya Aida.
Sanu mendongak, ini yang membuat Sanu dilema. Sanu tidak kuat mengucap kata pisah kepada crew nya. Biarlah ini menjadi rahasianya. Sanu kini sudah pasrah dengan hidupnya.
"Hey, Sanu. Kenapa kamu malah melamun?" tanya Aida.
Sanu menggeleng, "Tidak apa-apa, Aida."
"Dua hari lagi aku akan menjemputmu, Sanu."
Sanu mengangguk. Aida mendorong Sanu ke kamarnya lalu pergi saat menutup pintu kamar.
Sanu kembali menangis. Sanu harus meninggalkan semuanya. Teman-temannya, Bari, dan kenangan yang ada di Ibu kota. Ini sudah menjadi keputusannya. Sanu harus kuat.