Sanubari

Sanubari
Jalan-jalan



Sanu mengeryitkan dahi. "Kenapa harus tanya sama Kak Bari?"


"Karena hanya Kak Bari yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri di kamar." Rina langsung menjauh dari Sanu sebelum Sanu menutup mulutnya.


Budhe sedikit terganggu melihat tingkah Sanu dan Rina yang seperti anak kecil.


"Hey kalian, Jangan buat gaduh di sini, nanti tetangga bisa marah," ucap Budhe dengan wajah dinginnya.


Sanu dan Rina langsung terdiam saling lirik satu sama lain.


"Kelihatannya seru nie, aku boleh bergabung?" Bari datang mengagetkan Sanu dan Rina.


"Eh, Kak Bari ... Kita sedang membicarakan ..."


Dengan sigap Sanu menutup mulut Rina sebelum Rina berbicara yang tidak-tidak. Sanu menyunggingkan senyum kepada Bari.


"Kita tadi sedang belajar sistem, Kak. kita pulang dulu ya, Kak?" Sanu berjalan cepat meninggalkan Bari sambil menutup mulutnya Rina.


Bari belum mengerti apa yang terjadi, dia hanya bisa mengangkat bahu sambil menatap Sanu dan Rina beranjak dari warung Budhe.


...***...


Hari sudah pagi Sanu dan Rina bersiap berangkat ke kantor sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari tenggelam. Seperti Biasa pak Nazar menyambut anak-anak kantor dengan tos tangan. Sanu mulai terbiasa dengan aktifitas kantor.


Di lantai tiga Sanu dan Rina belajar menghapalkan sistem, baca goal dan melakukan atmosfer. Semua itu adalah aktifitas kantor yang harus dijalani setiap anak pitcing.


Saat selesai atmosfer Sanu dipanggil maju kedepan oleh moderator untuk menerima hadiah dari para trainer karena berhasil menjawab tantangan. sebagian besar trainer memberi uang, ada juga yang memberi pakaian dan tas. Contohnya Bari, yang memberi pakaian sesuai janjinya kepada Sanu.


Sanu jelas senang tapi juga terkejut menerima hadiah sebanyak ini. Sanu menitipkan hadiahnya kepada pak Nazar.


"Nanti kamu pitcing sama Kak muna dan Rina ya, Sanu."


"Memang Pak Nazar mau pitcing dengan siapa?"


" Aku hari ini tidak pitcing, ada perlu di kantor."


Sanu mengangguk lalu menghampiri Muna minta izin untuk ikut pitcing dengannya. Muna dengan senang hati menyetujuinya. Kali ini Sanu naik angutan umum menuju selatan Jakarta duduk berhadap-hadapan dengan penumpang lain.


"Rambut kamu indah Sanu, berwarna emas. Itu asli?"


Sanu mengangguk. "Iya kak, dari lahir. mungkin karena aku lahir di lereng gunung merapi."


"Ngarang kamu, Sanu. Mungkin orang tua kamu bule." sahut Rina.


Sanu menggeleng. "Orang tuaku asli jawa, Rina."


"Terus kenapa rambut kamu pirang?"


"Aku juga tidak tau, sudah dari lahir seperti ini."


Sanu dan Rina terus saja berdebat yang memang tidak penting untuk di perdebatkan.


Sore hari Sanu sudah tiba di kantor, hari ini Sanu berhasil membuktikan sistem lagi. Sanu menghampiri pak Nazar yang ada di lantai dua bercerita bagaimana hari ini dia kelapangan.


Pak Nazar antusias mendengar cerita Sanu. Apalagi saat Rina marah-marah kepada castamer. Mereka berdua tertawa lepas membayangkan orang bertubuh kecil dan berbadan kurus seperti Rina memarahi castamer.


"Sanu, ayo evaluasi sebentar." ajak Muna ke lantai tiga.


"Iya, Kak." Sanu mengikuti langkah Muna.


Muna sebagai leader memberi pengarahan kepada Sanu dan Rina. Tak berselang lama Bari datang duduk disamping Sanu.


"Eh." Sanu terkaget dengan kedatangan Bari.


Rina menahan tawa karena melihat wajah Sanu yang bersemu merah. Sanu menunduk sambil memainkan ujung bajunya sampai selesai evaluasi.


"Besok jalan, yuk?" ajak Bari kepada semua.


"Jalan kemana, aku ke kost saja. pengen nonton drakor," ucap Muna sambil meluruskan kakinya.


"Kita jalan ke ragunan."


"Kita bertiga. kan?" Mata Rina melirik Sanu dengan tatapan nakal.


Sanu hanya terdiam lalu mengangguk dengan pelan mengiyakan ajakan Bari.


"Kalau begitu jam delapan pagi aku tunggu di depan kantor."


...***...


Pagi hari di hari libur. Bari, Sanu dan Rina sudah berada di depan kantor hendak menaiki angutan umum menuju ragunan. Mereka bertiga melewati orang-orang yang berjualan di pasar menaiki angkutan berwarna merah.


Sesampainya disana di Ragunan, Bari menempelkan kartu trip ke pintu masuk di ikuti Sanu dan Rina. Pemandangan pertama Sanu dan Rina di perlihatkan banyaknya burung bangau yang bermain di tepian sungai buatan.


Ada juga bunga berwarna-warni yang memanjakan mata. Sanu jadi teringat kampung halamannya yang penuh dengan bunga di tanam di setiap rumah warga.


"Kita lihat burung, yuk?" ajak Rina melihat berbagai macam burung.


Sanu mengikuti langkah Rina disusul Bari dari belakang. Mata Sanu tidak lepas dari seekor burung kakak tua hijau yang memiliki bulu yang indah.


"Sepertinya kamu suka burung kakatua itu?" tanya Bari yang ada di samping Sanu.


"Warna bulunya Indah."


"Itu karena kamu suka warna hijau, kan?"


Sanu sedikit terkejut, dari mana Bari tau kalau Sanu suka warna hijau.


Bari tersenyum menatap Sanu. "Kamu tidak perlu heran, Sanu? Aku tau kamu suka warna hijau karena saat kamu masuk ruang observasi. Kamu terus melihat dinding ruangan yang berwarna hijau itu."


Sanu mengangguk.


Mereka bertiga melanjutkan melihat harimau. Sanu sedih begitu melihat harimau yang bertubuh kurus.


"Apa harimau disini tidak diberi makan?" tanya Sanu.


"Pasti diberi makan setiap hari, cuma mungkin makanannya kurang," balas Rina.


"Kenapa harimau itu tidak di lepaskan saja biar mereka cari makan sendiri?"


"Kalau di lepaskan, nanti bisa makan orang, Sanu." jawab Bari sambil terkekeh.


Sanu terlarut dalam lamunan, tiba-tiba harimau kurus itu meraung sangat keras yang membuat tubuh Sanu kehilangan kesimbangan. Bari dengan sigap menangkap tubuh Sanu. Sejenak waktu seolah berhenti. Bari dan Sanu saling menatap hingga mereka berdua tersadar saat Rina memanggil nama Sanu.


"Kamu tidak apa-apa, Sanu?" Rina mematung saat tangan Sanu bergelantungan di area pundak Bari. Sanu dan Bari segera memperbaiki posisinya. Mereka berdua salah tingkah. Bari mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah siang, kita istirahat dulu di Masjid." Bari langsung berjalan menuju Masjid.


Rina menyeringai melihat Sanu, seperti tidak tahan untuk menggodanya. Dia mencoba berjalan beriringan dengan Sanu. Tapi Sanu langsung berlari meninggalkan teman satu kostnya itu. Rina terkekeh melihat kelakar Sanu yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Setelah setengah harian berjalan, mereka memutuskan untuk pulang.


Di kamar Rina seperti sudah tidak sabar ingin menggoda Sanu.


"Cieee ... Sanu, mesra sekali tadi."


"Itu tidak sengaja, Rina."


Rina mendekati Sanu lalu berbisik." Tapi kamu suka, kan?"


Sanu langsung mengambil bantal hendak memukulkan ke tubuh Rina. Rina berlari sambil saling melempar bantal satu sama lain.


"Hey jangan berisik!" Sumber suara itu datang dari luar kost.


Rina segera menempel jari telunjuknya ke mulutnya. "Itu suara ibu kost."


Sanu menghela napas lalu berbaring di tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya yang lelah.