
Rina kembali ke ruang observasi duduk sambil menggerutu tidak jelas. Sanu yang melihatnya penasaran ingin bertanya.
"Kamu kenapa, Rina?" wajahmu terlihat masam?"
"Aku lelah, Sanu? Seharian aku dimarahi kak Muna?"
Sanu menahan tawa. "Jadi karena itu kamu menggerutu?"
"Salah satunya?"
Ceklak ... Bari membuka pintu hendak menemui Sanu dan Rina.
"Gimana hari ini, masih semangat."
"Yah begitulah, belum ada perubahan," ucap Rina dengan nada malas.
"Ayo kita evaluasi, pak Nazar sudah menunggu di lantai tiga."
Sanu dan Rina pun beranjak dari tempatnya menuju lantai tiga. mereka berdua tos tangan sebelum melakukan evaluasi.
"Gimana hari ini bawa orang baru?"
"Gugup Pak Nazar," jawab Sanu.
"Wajar, nanti kalau kamu sering bawa orang baru juga akan terbiasa."
"Siap Pak Nazar?"
"Hari ini ada yang maju ke depan?"
Bari mengangkat tangannya.
"Standart kamu itu bagus, Bari. Tapi sayang, tidak mau bawa rekrutan," cibir pak Nazar.
Bari hanya tersenyum simpul.
"Pengen jualan," sahut Muna.
Pak Nazar terkekeh. Sanu dan Rina terlihat tidak suka dengan sikap Muna yang memojokan Bari. Muna sepertinya memusuhi tim nya sendiri kecuali Rina. wajar saja, karena Rina adalah crew sendiri, itu pun Rina sering sekali berpikiran buruk tentang perangainya Muna.
Jam malam sudah selesai, Bari, Sanu dan Rina hendak makan ke warung Budhe.
"Hari minggu kita jalan, yuk?"
"Ayo, jalan kemana, Kak?" tanya Sanu.
"Ke taman mini, gimana?"
"Ayo Kak, kebetulan aku belum pernah kesana?"
"Kalau begitu, aku tunggu di depan kantor jam delapan pagi."
"Aku tidak ikut," keluh Rina.
"Kenapa, Rina?"
"Minggu ini standartku jeblok, aku harus pitcing hari minggu untuk menutupi hutangku di buku tabungannya mbak dian."
Sanu mengangguk, "Kalau begitu, aku juga mau menemanimu pitcing, Rina."
"Jangan Sanu ... lebih baik kamu jalan saja dengan Kak Bari. Kamu sudah mengiyakannya. jangan suka merubah perkataan, Sanu."
Sanu mengangguk pelan. Perasaan Sanu bercampur sekarang, entah senang, takut, gugup, Sanu tidak tau. Harusnya tadi Sanu tidak mengiyakan dulu ajakan Bari. Tapi, ya sudahlah, anggap saja Ini latihan membawa orang baru. Tapi kan Bari bukan orang baru. Sanu bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Hey Sanu, kenapa kamu tiba-tiba melamun?" tanya Bari.
"Gak pa-pa, Kak?"
"Kalau kamu keberatan, bilang saja, Sanu. aku tidak mempermasalahkannya."
"Bukan begitu, Kak. Soalnya ... nganu~~"
"Sudah lah Sanu, jangan gugup seperti itu. Aku tau apa yang ada dipikiranmu," ucap Rina menyringai.
"Eh." Sanu terkejut. Kenapa Rina bisa bilang seperti itu. Seolah dia mendukung Sanu jalan berdua dengan Bari.
"Ya sudahlah ayo jalan, perutku sudah lapar," ucap Rina.
"Aku mau makan di kost saja?"
"Kenapa Sanu?" Tanya Rina.
"Aku kurang terlalu suka makan di tempat ramai," alasan Sanu.
"Ya sudahlah, aku akan menemanimu makan di kost."
Minggu pagi yang cerah, Rina terlihat sudah siap berangkat pitcing.
"Pitcing sama siapa, Rina?" tanya Sanu yang masih tiduran.
Sanu melanjutkan tidurnya.
"Hey Sanu ... Bukankah nanti kamu mau jalan dengan dengan kak Bari, kenapa kamu belum siap?"
"Baru juga setengah tujuh, Rina?"
"Kamu itu mandinya lama, Sanu. Kalau kamu mandi jam tujuh, nanti kasihan kak Bari menunggu terlalu lama."
"Iya, Rina." Sanu langsung melepas selimutnya bergegas untuk mandi.
"Aku berangkat, Sanu. Jangan lupa pintu kost dikunci!"
"Iya ...!" teriak Sanu dari dalam kamar mandi.
Dari tadi Sanu belum mengguyur badannya, dia hanya menyalakan kran yang sudah penuh dengan air.
Sanu seperti sedang berpikir keras. Padahal, dia hanya tidak tau saja, bagaimana bersikap di depan Bari.
Gemericik air menyadarkan Sanu untuk segera mandi. Dari tadi Sanu melamun tidak tau apa yang dia pikirkan.
Selesai mandi Sanu bergegas menuju kantor menemui Bari. Kali ini Sanu memakai kaos sederhana dipadukan dengan celana skinny yang ujungnya dilipat memperlihatkan mata kaki Sanu.
Bari tidak ada di area kantor, Sanu sudah mencarinya kemana-mana. Apa Bari belum datang? Atau Sanu yang terlambat hingga Bari memilih untuk pulang? Kenapa Sanu tampak gelisah menunggu Bari. Selalu saja Sanu bergelut dengan pikirannya jika berhubungan dengan Bari.
"Sanu ...!" Panggil seseorang dari kejauhan.
Sanu tersenyum melihat Bari membawa tas punggung berisi entah apa itu, Sanu tidak tahu.
Bari menghampiri Sanu. "Kamu sudah lama menunggu, Sanu. Maaf ya tadi aku ke pasar sebentar membeli beberapa camilan."
"Tidak apa-apa, Kak." Selalu itu yang dikatakan Sanu ke Bari.
"Ayo kita berangkat, Sanu."
Sanu dan Bari berjalan beriringan hendak naik angkutan umum menuju Taman Mini. Sanu dan Bari duduk dikursi paling belakang.
"Minggu ini kamu berapa pcs, Sanu?" tanya Bari.
"Enam, Kak?"
"Baguslah, Itu artinya kamu memang pandai dilapangan, Sanu."
Sanu terdiam sejenak. "Kenapa Kak Bari tidak mau bangun orang, apa Kak Bari tidak mau jadi Manager?" Sanu memberanikan diri bertanya kepada Bari.
"Aku hanya takut tidak bisa membayar uang kost," jawab Bari sambil tertawa.
"Kenapa Kak Bari tidak kost dengan teman trainer yang lain?"
"Aku punya kebiasaan buruk yang kalau mereka tau, pasti akan menertawakanku," alasan Bari.
Akhirnya Sanu bisa sedikit tau sifat misteriusnya Bari. Walaupun jawaban dari Bari tidak memuaskan Sanu.
"Di sini kalau ingin mengirim uang dimana, Kak?"
"Banyak Sanu, kamu bisa ke kantor post dekat kantor kita atau melalui Bank."
"Aku ingin ke kantor post saja? Aku belum punya rekening. Aku ingin mengirim uang untuk ibuku yang ada di kampung."
"Bagus, Sanu. Mau aku antar?"
"Boleh." Sanu mengangguk sambil tersenyum kepada Bari."
Tak terasa perbincangan Sanu dan Bari angkutan umum berhenti di tujuan terakhir. Taman Mini Indonesia Indah. Sanu dan Bari masuk setelah membayar tiket.
"Kita sewa sepeda saja, Sanu. Kalau jalan kaki kita pasti pegal."
Sanu mengangguk menyerahkan hal ini kepada Bari. Bari menyewa sepeda tandem yang bisa di kayuh untuk dua orang. Sanu duduk di belakang sedang Bari duduk di depan.
Mata Sanu begitu termanjakan dengan Bangunan Miniatur Indonesia ini. Bari memberhentikan sepeda tandemnya di sebuah kolam yang luas. Banyak orang bersantai di pinggiran kolam itu.
"Kita istirahat dulu, Sanu." Bari membuka tas berisi camilan yang di belinya di pasar tadi pagi.
Sanu dan Bari duduk di kursi panjang menikmati pemandangan di sekitar sambil memakan camilan.
"Waktu kecil aku sering kesini," ucap Bari yang tiba-tiba menceritakan masa kecilnya.
"Kalau aku waktu kecil, ingin sekali kesini," ucap Sanu terkekeh.
Bari hanya tersenyum menanggapi celetukan Sanu.
"Kita ke taman bunga, Yuk?" ajak Bari.
Sanu mengangguk.
Mereka berdua menaiki sepeda tandem mengayuh pedal secara bersamaan menuju Taman bunga.