Sanubari

Sanubari
Kalung.



Sanu dan Rina akhirnya membeli dua nasi bungkus untuk dimakan di kost saja.


"Besok kamu pitcing tidak, Rina."


"Pitcing, Sanu. Minggu ini standartku jatuh, kalau tidak pitcing mau makan apa."


"Kalau besok zero lagi, gimana?


"Kamu jangan berkata seperti itu, Sanu. Kamu mau aku zero lagi." Rina agak kesal dengan ucapan Sanu.


Sanu tertawa menutup mulutnya. "Maaf, Rina. Aku hanya bercanda."


"Memang kamu besok tidak pitcing?"


"Tidak, Rina. Aku ingin istirahat satu hari saja, untuk melenturkan otot-otot yang kaku."


"Kamu mah enak, Sanu. Hampir setiap hari prestasi. Tidak pitcing hari minggu pun tidak masalah."


Suara pesan berbunyi dari handphone Sanu. Aida teman satu kampungnya mengajak jalan-jalan. Sanu masih ragu mengatakan iya atau tidak. Sebab, sebagai asisten rumah tangga. Aida jarang sekali dapat jatah libur dari majikannya.


"Pesan dari siapa, Sanu. Kenapa wajahmu tiba-tiba cemas?" tanya Rina.


"Aida teman satu kampungku, mengajak jalan besok."


"Ya sudah, seharus kamu senang, Sanu."


Sanu sejenak menatap Rina lalu mengiyakan ajakan Aida. Sanu berdiri dari posisinya mengambil handuk yang tergantung dibalik pintu.


"Tunggu Sanu, biarkan aku mandi dulu." Rina segera mencegah Sanu masuk ke kamar mandi. Tapi, usaha Rina sia-sia. Sanu sudah terlebih dulu masuk kamar mandi dan menutup pintu.


"Aku beri waktu lima belas menit, Sanu. Kalau dalam waktu lima belas menit tidak keluar, aku kunci kamar mandi dari luar," ancam Rina.


Sanu tidak mempedulikan ancaman Rina, dia malah bernyanyi seakan sedang mengejek Rina.


Pagi hari di minggu yang sibuk, Sanu menunggu Aida di stasiun Manggarai. Katanya pukul delapan dia datang, tapi ini sudah pukul sembilan Aida belum menampakan batang hidungnya.


Seorang wanita berkulit coklat melambaikan tangan. Itu Aida, menghampiri Sanu.


"Kamu terlambat, Aida ...."


"Maaf Sanu, tadi anak majikanku merengek minta makan. Jadi aku buatkan makan dulu untuknya."


Sanu menghela napas. "Ya sudah, ayo kita berangkat, Aida. Sebelum cuaca semakin terik," ucap Sanu.


"Menurut ramalan cuaca, hari ini akan turun hujan, Sanu."


"Kamu percaya?"


Aida mengangguk.


Kereta listrik arah Jakarta Kota tiba di stasiun Manggarai. Sanu dan Aida segera menaikinya. Bangku tampak lenggang, maklum ini hari libur, Sanu dan Aida duduk berdampingan.


"Bagaimana keadaan ibu kamu, Sanu."


"Alhamdulillah, beliau sudah sehat."


"Syukurlah kalau begitu."


"Tumben kamu mengajakku jalan-jalan, Aida. Biasanya kamu sibuk."


"Aku sudah izin sama majikanku," ucap Aida tersenyum.


"Baik sekali majikanmu, Aida."


"Ya ... begitulah, Sanu. Kadang kalau sedang marah juga bikin sakit hati. Omongannya nyelekit."


"Orang kaya memang begitu, seenaknya saja bicara tanpa mempedulikan perasaan orang lain."


"Kamu mendramatisir sekali, Sanu. Apa majikanmu kemarin galak, sehingga kamu harus keluar tanpa izin aku?"


Sanu mengangguk pelan.


"Kenapa kamu tidak ke tempatku?"


"Aku tidak tau jalan, Aida. Kebetulan saja waktu itu kak Bari menawarkanku lowongan pekerjaan. Dari pada aku tidak punya tempat tinggal, aku ikut saja dengannya."


"Siapa itu kak Bari?"


Sanu menceritakan semua yang dia tau tentang Bari. Wajahnya bersemu merah sambil membayangkan wajahnya Bari.


"Kamu suka ya sama kak Bari itu," tebak Aida.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu, Aida."


"Kamu terlihat bersemangat dan gembira saat menceritakan nama Bari. Tanda-tanda orang jatuh cinta itu, dia sangat suka menceritakan pria yang disukainya kepada wanita lain."


Kereta listrik sampai ke tujuan terakhir, stasiun Jakarta Kota. Sanu dan Aida berjalan menuju Kota Tua melihat-lihat pemandangan disana.


Berfoto ria, masuk ke museum Fatahillah dan juga menikmati kuliner yang ada di Kota Tua.


Awan mulai mendung pekat, tenyata benar apa yang dikatakan Aida. Mungkin akan turun hujan.


"Lebih baik kita pulang, Aida. Sebelum hujan turun."


"Kenapa kamu buru-buru, Sanu? Ini masih siang. Kita kan bisa berteduh."


Sanu mengiyakan ucapan Aida. Tak berselang lama, rintik hujan turun membasahi bumi Ibu Kota. Sanu dan Aida berteduh di gedung tua. Sayup-sayup mata Sanu memandang seorang pria tinggi kekar berteduh dibalik hujan. Samar mata Sanu memandang tanpa berkedip.


"Hey Sanu, kamu kenapa? seperti sedang mencari sesuatu saja?"


Sanu tidak menjawab pertanyaan Aida, dia terus menatap pria yang memakai kaos biru dan celana levis memastikan pandangannya itu tidak salah.


Sanu merekahkan bibirnya hingga terlihat gigi nya yang rapi.


"Kak Bari ...!" teriak Sanu.


"Kamu memanggil siapa, Sanu?" Aida belum mengerti.


Pria itu menoleh dan ikut tersenyum lebar saat melihat Sanu. Dengan langkah berani pria tinggi bertubuh kekar itu menerobos hujan yang memghalangi pandangannya.


"Kamu di sini juga, Sanu."


Sanu mengangguk, " kenalkan, ini teman satu kampungku, namanya Aida."


Aida dengan senang hati bersalaman dengan Bari.


"Oh ... jadi ini yang namanya ..." Sanu dengan cepat nenyumpal mulut Aida memakai telapak tangannya.


Sanu meyungggingkan senyum kepada Bari. Bari sedikit heran melihat tingkah Sanu.


"Kak Bari, kesini sedang apa?"


"Aku sedang ambil pesanan?"


"Pesanan apa?" Sanu penasaran.


"Nanti juga kamu tau?"


Hujan yang turun seperti tidak dirasakan oleh Sanu saat melihat Bari ada di depannya. Hujan bukan hanya memberi kehidupan di alam ini, hujan juga memberi pertemuan yang tidak disengaja dengan Bari.


Sanu, Aida dan Bari melanjutkan petualangan mereka mengelilingi Kota Tua saat hujan reda. Mereka bertiga menaiki andong. Kali ini ada warna yang berkesan menghiasi hati Sanu. Warna seperti pelangi setelah hujan reda.


Langit berwarna ke emasan telah tiba, Aida berpisah dengan Sanu di stasiun Manggarai. Sanu dan Bari melanjutkan jarak tempuhnya menuju stasiun pasar Minggu.


Bari yang sedari tadi menjaga jarak dengan Sanu karena ada Aida, kini mencoba duduk berdampingan dengan Sanu. Sanu tidak menolak, justru ini yang ditunggu Sanu. Bisa berdekatan dengan Bari.


"Habis ini kita makan dulu," ajak Bari.


"Makan dimana, Kak."


"Dekat stasiun saja."


Sesampainya turun di stasiun, mereka berdua makan bakso yang ramai pelanggan. Bari menatap Sanu lekat. Sanu merasa malu, karena dilihat banyak orang.


"kak Bari kenapa melihatku seperti itu."


Bari tersenyum merapikan rambut Sanu.


"Aku punya hadiah untukmu, Sanu."


"Hadiah apa."


Bari mengeluarkan dua kalung berwarna silver dari saku celananya bertuliskan 'SanuBari.'


"Ini Aku pesan dari pedagang kalung di Kota Tua."


"Untukku ...?"


Bari mengangguk, "Nanti biar aku yang memakaikan kalung ini di lehermu."


Sanu mengangguk.


Sanu dan Bari berjalan menuju jembatan penyebrangan. Dengan romsntis, Bari memakai kalung itu ke leher Sanu.


"Terima kasih, Kak." ucap Sanu lirih.


Bari tersenyum menatap lekat Sanu, lalu mencondongkan tubuhnya mencium kening Sanu.


Sanu sejenak mematung, mencoba mengartikan keadaan hatinya yang bergemuruh seperti ombak.