Sanubari

Sanubari
Teringat lagi.



Satu minggu berlalu, hari ini pengangkatan Ilham sebagai MD baru. Sanu begitu senang karena hari ini dia resmi punya MD. Ilham akan dapat baju dari Sanu kalau bisa membuktikan hukum rata-rata. Ilham pun semangat dan bertekad membuktkan hukum rata-rata. Rambut Ilham yang dulu dikuncir kini telah di potong rapi.


Sanu seperti biasa pitcing di temani oleh Rina. Bosan juga sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Aturan ketat terhadap Bari dan Sanu masih berlaku. Entah sampai kapan, Sanu tidak tahu.


"Kita lanjutkan gang kemarin, nanti sore kita kumpul di Masjid ini lagi," ucap Sanu.


"Siap bu leader," canda Rina.


Sanu pun merasa malu disebut leader oleh Rina.


Mereka bertiga pitcing sampai sore mengetuk pintu rumah satu ke pintu rumah yang lain. Saling berebut castamer. hasilnya, hanya Sanu yang bisa membuktikan hukum rata-rata.


Wajah Ilham tampak lesu karena gagal membuktikan hukum rata-rata. Sanu berusaha menyemangatinya.


"Jangan patah semangat Mas Ilham, masih banyak waktu untuk belajar."


Nasehat dari Sanu membuat Ilham seperti mendapat semangat baru. Dari tingkah lakunya, Ilham memang suka dengan Sanu. Tapi disini Sanu berusaha profesional, hanya menganggap Ilham sebagai crew tidak lebih dari itu.


Setiba di kantor, Ilham mendapat evaluasi dari Sanu. Ini pertama kalinya Sanu mengevaluasi. Sanu terlihat belum terbiasa, masih terbata-bata. Bari datang tersenyum menatap Sanu.


"Gimana hari ini Mas Ilham?" tanya Bari.


"Gatot Kak, alatnya tidak laku."


Bari tertawa lepas. "Semangat ya Mas Ilham."


Sanu merasa malu dengan jawaban dari crew nya itu. Memgingatkan Sanu dulu saat masih menjadi MD baru.


Jam malam di mulai, Bari lagi-lagi maju ke depan. Standartnya di lapangan sangat tinggi, hampir tiap hari Bari maju ke depan. Setiap minggu, namanya selalu masuk deretan teratas top guys. Namun, Bari selalu beralasan jika disuruh pak Nazar bawa orang baru. Itu yang membuat pak Nazar geram dengan Bari.


Malam hari Sanu hendak pergi ke fotocopy karena kertas castamer listnya sudah habis. Dari belakang Bari menepuk pundak Sanu yang membuat Sanu terperanjat.


"Kak Bari?"


Bari tersenyum, senyum itu yang menjadi candu bagi Sanu. "Mau kemana?"


"Mau fotocopy, Kak."


"Mari aku antar?" pinta Bari.


Sanu berjalan beriringan dengan Bari.


"Bukannya kata pak Nazar kita tidak boleh berdekatan."


"Itu kalau di kantor, kalau jam bebas ya boleh."


"Kak Bari percaya tidak, tentang pantangan anak pitcing yang Pacaran tidak bisa jadi manager.'


"Tergantung?"


"Kok tergantung."


"Kalau pacarannya saling memotivasi justru menurutku bagus untuk perkembangan karir, tapi kalau pacarannya pake nafsu mungkin akan gagal."


"Pacaran pakai nafsu itu seperti apa?" tanya Sanu polos.


"Pacaran seperti nafsu itu seperti ini." Bari memajukan mulutnya di hadapan Sanu. hendak mencium Sanu. Sanu segera menjauh melihat expresi wajah Bari.


Bari tertawa, karena dia hanya bercanda.


"Kak Bari, ihh!" Wajah Sanu bersemu merah.


Sudah satu minggu ini Sanu tidak bercanda seperti ini dengan Bari. Malam yang menyenangkan bagi Sanu bisa berjalan-jalan dengan Bari.


"Hari minggu kamu mau kemana, Sanu?" tanya Bari saat sudah berada di tempat fotocopy.


"Aku mau pitcing sama Rina, Kak?"


Bari mengangguk.


"Kalau Kak Bari?"


"Aku mau istirahat di kost saja?"


"Tidak jalan-jalan lagi?"


Bari menggelengkan kepala. "Jalan-jalan kemana, tidak ada temannya."


"Aku lebih suka jalan dengan kamu, Sanu? Hanya kamu yang membuat hatiku berwarna?"


Sanu menunduk menutupi rasa malunya.


"Tapi kenapa Kak Bari enggan bawa orang baru. Apa Kak Bari tidak mau jadi manager?"


"Kamu ingin aku jadi manager, atau ingin aku sukses di manapun aku berada?" Bari seolah memberi pengharapan kepada Sanu.


Sanu memilih yang kedua.


"Itu akan aku lakukan, Sanu?"


"Kenapa Kak Bari begitu yakin kalau bisa sukses di luar sana, terus kenapa Kak Bari malah proses di sini kalau pikiran Kak Bari terfokus kepekerjaan yang lain." Sanu bertanya dengan serius.


"Suatu saat nanti aku akan mengatakan kepada kamu, Sanu."


Sanu percaya dengan Bari. Bagi Sanu, Bari adalah anak yang pintar. mungkin saja Bari ingin mendirikan usaha yang lain.


"Ayo kita pulang, Sanu. Jangan melamun di pinggir jalan seperti ini."


Sanu tersadar lalu menghampiri Bari berjalan beriringan.


...***...


Di kost, Rina terlihat sudah rapi dengan pakaian tidurnya sambil menonton drakor kesukaannya.


"Dari mana saja kamu, Sanu?" Rina masih fokus dengan handphone nya.


"Aku habis dari fotocopy." Sanu meletakan di sudut dinding bersiap untuk mandi.


"Oya Rina, besok kita mau pitcing kemana?" tanya Sanu dari dalam kamar mandi.


"Daerah Matraman."


"Daerah mana itu, aku baru dengar."


"Lebih baik kamu mandi dulu, Sanu.?"


Sanu mengangguk bergegas ke kamar mandi. Suara guyuran air menandakan Sanu sedang mandi.


setengah jam Sanu selesai mandi. Sanu melihat Rina sudah tertidur pulas. Sanu juga mengantuk, seharian dia mencoba membuat mood Ilham senang. Kalau dipikir-pikir ternyata tidak gampang punya crew. Pantas saja Muna sering marah-marah, mungkin karena pusing memikirkan Rina. Sanu tersenyum sendiri jika melihat Rina.


Pagi hari, Sanu dan Rina sudah memakai pakaian rapi lengkap dengan blazer yang membalut tubuhnya.


"Blazer kamu baru, Rina."


Rina mengangguk, "Kemarin aku dipaksa beli sama kak Muna. Padahal uang tabunganku yang ada di mbak Dian sedang menipis. Ditambah beli blazer ini, jadi minus."


"Sanu tertawa, "Gak pa-pa, yang penting hari ini semangat."


Kali ini Rina mengajak Sanu naik bus way. ini pertama kalinya Sanu naik bus way. Hari minggu pun Ibu Kota tidak lepas dari kemacetan. Butuh waktu satu jam untuk sampai di teritory.


Sanu seperti mengenal kawasan ini.


"Kamu kenapa, Sanu. Menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu," ucap Rina.


"Aku seperti pernah kesini, Rina."


"Ahh ... itu hanya perasaanmu saja, Sanu?"


"Tidak, Rina?" Sanu teringat saat dia pertama kali Kerja jadi Asisten rumah tangga.


Sanu berlari mencari perumahan tempat dia bekerja dulu. Rina mengejar Sanu. Rina belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan Sanu. Kenapa tiba-tiba dia begitu panik.


Sanu berhenti di Gapura perumahan, matanya kosong menatap ke depan. Ingatan itu muncul lagi ketika mantan majikan Sanu hendak memperkosanya. Sanu berlari menjauhi tempat itu sambil mengeluarkan air mata. Rina yang melihatnya, memanggil-manggil Sanu. Namun, Sanu tidak memperdulikannya. Sanu terus berlari menjauhi kompleks itu. Hingga dia berhenti di perempatan jembatan layang. Rina tampak kelelahan mengejar Sanu, nafasnya terlihat tersengal.


"Kamu kenapa, Sanu?"


"Aku tidak mau pitcing disana." Sanu menangis memeluk tubuh mungil Rina. Tubuh Sanu tampak bergetar hebat.


Rina masih belum mengerti apa yang terjadi.


Bersambung ...