
Bari mengajak Sanu menaiki delman, berjalan pelan mengelilingi Kota Tua. Udara panas tidak membuat Kota Tua sepi pengunjung, justru semakin banyak pengunjung baik dari dalam maupun luar daerah. mereka berfoto ria, makan jajanan, membeli pernak-pernik buat cindera mata.
Bari dan Sanu masih menaiki delman, melihat orang berlalu-lalang di sekitaran Kota Tua. Suasananya terlihat berbeda, mungkin karena ada Bari disamping Sanu.. Mereka berdua hanya diam sambil sesekali melemparkan senyum. Sanu mulai bercerita tentang petualangannya kepada Bari. Banyak hambatan yang dilalui Sanu, sampai sempat kehilangan Dara, tapi Sanu berhasil menyakinkan buleknya Dara. Hingga akhirnya mereka bekerja sama membangun banyak crew. Bari mendengarkan cerita Sanu dengan seksama.
"Hebat sekali kamu, Sanu. bisa sampai ke titik ini."
Sanu mengangguk, "Aku juga tidak menyangka, Kak. Bisa jadi manager secepat ini."
"Itu karena kamu berbakat di lapangan."
"Kak Bari dulu juga berbakat, hampir setiap hari maju ke depan." Sanu mengingatkan Bari tentang masa-masa dia pitcing.
Bari tertawa lepas.
Di tepi Jalan, Sanu melihat sepasang ondel-ondel lengkap dengan pakaian betawi nya menari-nari berdampingan.
"Hey, Sanu. Kamu suka dengan ondel-ondel itu?" tanya Bari
Sanu mengangguk sambi melempar senyum.
"Bagaimana kalau kita kesana," ajak Bari.
"Boleh."
Mereka berdua turun dari delman hendak berfoto dengan sepasang ondel-ondel itu. Sanu bergaya dua jari sedangkan Bari melipatkan kedua tangan di dada saat foto. Dua meter dari ondel-ondel ada seorang pedagang kerak telur. Sanu menghampiri hendak membelinya. Sudah lama Sanu tidak memakan kerak telur. Bari juga ingin mencicipinya.
"Memang Kak Bari mau?" tanya Sanu.
Bari mengangguk, "Dulu papa sering mengajak kesini membeli kerak telur."
"Papanya Kak Bari? Sanu seakan tidak percaya.
"Dulu papaku orang yang sayang dengan keluarga. Namun, entah mengapa sikapnya tiba-tiba berubah setelah mengenal Glenca."
"Aku dua kali melihat Glenca bermesraan dengan seorang pria yang sama."
"Dimana?" Bari tampak terkejut.
"Di Sebuah Mall yang berbeda."
Bari mendengus kesal mendengar cerita Sanu. Dua Kerak telur sudah siap, Sanu memberikan satu untuk Bari sambil memegang lembut bahunya. Bari tiba-tiba tersenyum melihat Sanu.
"Kita naik delman lagi, yuk!" ajak Sanu.
Bari mengangguk memegang tangan Sanu. Mereka berdua kembali melihat pemandangan Kota Tua.
Semakin Sore semakin banyak pengunjung yang datang. Bari memutuskan untuk mengajak Sanu pulang. Sanu mengiyakan ajakan Bari. Sanu nanti malam juga akan memberi pengarahan kepada anak kantor selaku manager baru.
"Kita Naik kereta listrik lagi?" tanya Sanu.
"Tidak, Sanu. Jam sore seperti ini banyak orang yang menggunakan kereta listrik pulang kerja. Kita akan berdesakan kalau naik kereta listrik," jawab Bari.
Bari memesan Mobil online untuk mengantar Sanu menuju pasar minggu. Suasana Sore Ibu Kota begitu ramai dengan kendaraan. Begitu macet dan bising. Butuh kesabaran extra untuk melewati kemacetan ini. Jarak tempuh yang biasanya hanya tiga puluh menit bisa menjadi satu jam perjalanan karena macet.
Hari ini begitu menyenangkan untuk Sanu, mungkin juga Bari.
"Kapan Kak Bari ada waktu lagi?"
"Tugasku di Surabaya sudah selesai, Sanu. Sekarang aku sudah menetap di sini. Kapan pun kamu mau aku selalu siap untukmu."
Sanu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Bagaimana kalau setiap week end kita jalan," usul Bari.
Bari pun pulang menarik motornya yang terparkir di dekat terminal Pasar Minggu. Sanu melihat Bari pergi hingga penglihatannya tidak mampu menjangkaunya.
...***...
Di tempat lain, Atmaja mulai curiga dengan Glenca yang selalu pulang malam dalam keadaan mabuk. Atmaja selama ini sudah memberikan semuanya kepada Glenca. Hingga perusahaannya terlilit utang yang besar. Kini Atmaja mulai panik karena keuangan perusahaannya sedang tidak sehat. Bank sudah tidak mau memberi utang kepada perusaahaan Atmaja sebelum dia melunasi utangnya yang terdahulu.
Seperti biasa Glenca pulang dengan bau alkohol yang ada di mulutnya.
Atmaja menatap Glenca tajam. "Dari mana saja kamu!"
"Biasa, party sama teman."
Glenca berjalan ke atas, Atmaja mengikutinya.
"Hey! Aku belum selesai bicara." Atmaja mencengkram lengan Glenca.
"Apa, sih! Aku capek, mau istirahat." Glenca mencoba melepas cakalan suaminya.
"Kamu itu sudah punya suami, seharusnya kamu bilang mau pergi kemana!"
"Tadi kan aku sudah bilang. Aku party dengan teman," jelas Glenca.
Mereka terus melanjutkan perdebatannya di kamar.
"Aku tau kamu bohong padaku. Kamu selalu pulang dalam keadaan mabuk. Kamu pergi ke diskotik, kan?"
"Kalau iya memang kenapa, aku bosan di rumah terus. Aku juga butuh hiburan, jalan bersama teman sosialitaku."
"Aku tidak melarangmu berteman dengan siapapun! Tapi kamu juga harus tau kewajibanmu sebagai seorang istri! Aku sudah memberikan apa yang kamu mau, Glenca!"
Glenca tersenyum sinis. "Kamu bilang kamu sudah memberi apa yang aku mau. Kamu tau, di kalangan sosialita aku selalu dihina karena tidak memiliki tas Hernes keluaran terbaru."
"Bukankah aku selalu memberikan uang belanja yang Banyak kepadamu, Glenca. Bahkan aku mengambil kas perusahaan untuk gaya hidupmu itu. Kamu kemanakan uang itu!"
"Aku pakai foya-foya. Kamu tau kan risiko menikah denganku, harus memenuhi kebutuhan hidupku. Apa kamu lupa ucapan yang pernah kamu katakan kepadaku, Atmaja."
Atmaja benar-benar frustasi dengan kelakuan istrinya. Ditambah lagi perusahaan Atmaja yang sedang terlilit utang. Atmaja menaikan dan melebarkan tangan hendak menampar Glenca. Tapi, dengan sigap Glenca menangkis pukulan Atmaja lalu mendorongnya hingga terjatuh. Pria lima puluh tahun itu tersungkur di lantai hingga tidak sadarkan diri. Clenca mulai panik, dia mengecek saluran pernapasan Atmaja. Ternyata Atmaja hanya pingsan. dengan sedikit akting panik, Glenca meminta pertolongan kepada satpam penjaga.
"Pak Satpam ... tolong suami saya."
"Kenapa suami Nyonya?" tanya satpam penjaga.
"Suami saya terjatuh, cepat bawa suami saya ke rumah sakit terdekat."
Satpam penjaga itu segera melakukan perintah tuannya. Bagaimanapun juga, harta Atmaja masih banyak yang belum di kuras. Kali ini Glenca ingin membalikan harta warisan yang ditujukan kepada Bari.
Glenca hanya butuh membujuk Atmaja dengan rayuan manisnya. Supaya dia mau menandatangani surat waris yang ditujukan kepadanya. Setelah itu dia akan menendang Atmaja dari hidupnya.
Esok harinya Glenca menjenguk suaminya yang ada dirumah sakit. Dia terlihat menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada Atmaja.
"Sayang, maaf atas perbuatanku semalam. Aku refleks, aku takut kehilanganmu sayang." Glenca memegang tangan Atmaja sambil pura-pura menangis.
Atmaja yang nampak terbaring lemas, hanya bisa memandang istrinya dengan tatapan tajam.
Dokter datang hendak memeriksa keadaan Atmaja.
"Maaf, Bu. Bisa keluar sebentar." ucap Dokter.
"Tolong suami saya, Dok?" Glenca menangis sambil memohon kepada dokter itu.
Bersambung ...